
Asli deh, kalau ketemu ONIC di fase Upper Bracket, rasanya udah kayak ketemu tembok gede banget. Pertandingan panas melawan sang Robot Merah, RRQ Hoshi, kemarin benar-benar bikin penonton deg-degan dari awal sampai akhir.
Jujur aja, pas nonton pertandingan ini, aku sempat mikir, ‘Ini beneran tim yang sama yang suka ngasih aku mental block di ranked gak ya?’ Wkwk. Performa ONIC yang selalu on-point di momen krusial itu loh yang bikin heran. Kadang suka kesel sendiri ngeliat tim di ranked yang udah ketinggalan gold jauh tapi masih maksa war tanpa objektif.
Kemenangan 3-1 ONIC atas RRQ ini bukan cuma sekadar skor, tapi juga bukti dominasi mereka di MPL ID musim ini. Ini langkah besar buat Kairi dan kawan-kawan menuju Grand Final, sementara RRQ harus berjuang lebih keras di Lower Bracket.
Duel Sengit dari Game Pembuka
Game pertama langsung jadi milik ONIC. Kairi yang pick Fanny benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai Jungler top dunia. Pergerakannya lincah banget, muter-muter map, dan pressure yang dikasih ke RRQ itu parah sih. Ditambah lagi, Bruno dari CW juga bermain apik, ngasih Burst Damage yang bikin hero-hero RRQ kebingungan.
RRQ sebenarnya sudah ngasih perlawanan keras di early game, dengan Irrad yang pakai hero Martis dan Clayyy dengan Novaria-nya. Mereka coba ganggu farming ONIC, tapi strategi Laning ONIC yang rapi bikin mereka kesulitan. Akhirnya, ONIC berhasil mendominasi Teamfight dan mengakhiri Game 1 tanpa banyak drama.
Tapi, jangan salah. RRQ bukan tim yang gampang menyerah. Di Game kedua, mereka langsung tancap gas. Skylar pakai Beatrix-nya yang terkenal mematikan, Clayyy tetap konsisten dengan Novaria, dan Irrad kali ini pakai Martis yang lebih agresif. RRQ berhasil membalikkan keadaan, ngasih pelajaran ke ONIC kalau mereka juga bisa bermain dominan.
Kiboy dan kawan-kawan sempat kesulitan mencari celah di pertahanan RRQ. Draft pick yang lebih solid dari RRQ dan rotasi yang lebih baik membuat ONIC kewalahan. Skor jadi 1-1, dan tensi pertandingan makin tinggi, kayak lagi mabar turnamen kampung pas di Game penentuan.
Momen Kritis dan Strategi Cerdas
Memasuki Game ketiga, ini dia yang bikin aku nahan napas terus. Pertarungan berlangsung ketat. ONIC memilih Ling untuk Kairi, dengan harapan bisa Split Push dan mengancam backline RRQ. Sementara Butsss, sang EXP Laner, pakai Lapu-Lapu yang bisa jadi Initiator sekaligus punya Immune.
RRQ pun nggak mau kalah. Brusko dengan Baxia-nya ngasih crowd control yang nyebelin dan tebal banget. Mereka berusaha keras untuk menahan gempuran ONIC, tapi ada satu momen Teamfight krusial di area Lord. ONIC berhasil memenangkan war itu dan segera push ke arah base dan berhasil memenangkan Game ketiga dengan susah payah. Skor 2-1 untuk ONIC, mereka selangkah lagi menuju Grand Final.
Emangnya kenapa sih ONIC bisa konsisten banget performanya di momen krusial gini? Kayaknya mereka punya mental juara yang udah teruji. Mereka tahu kapan harus agresif, kapan harus main sabar, dan kapan harus fokus objektif.
Di Game keempat, ONIC nggak mau berlama-lama lagi. Mereka gaspol dari awal. Kairi pick Nolan, Jungler Assassin dengan Burst Damage yang auto ngeri. CW pakai Claude, Marksman lincah yang siap farming cepat dan nge-carry di late game. Butsss juga pakai Cici yang fleksibel di EXP lane.
RRQ coba memberikan perlawanan dengan Lancelot dari Irrad, tapi ONIC terlalu kuat. First Blood diamankan oleh ONIC, dan sejak itu, snowballing terjadi. ONIC terus menekan, menguasai map, dan nggak ngasih ruang sedikit pun buat RRQ buat comeback. Pertandingan pun diakhiri dengan kemenangan telak ONIC 3-1.
Opini Tongkrongan Rehat
Sebagai pemain yang udah lama nongkrong di Mythical Glory, aku ngelihat kunci kemenangan ONIC ini ada di dua hal: draft pick yang adaptif dan eksekusi Teamfight yang sempurna. Mereka nggak takut pick hero yang sedang Meta, bahkan saat di-counter, mereka punya plan B. Kairi sebagai Core, punya pool hero yang luas banget, bisa pakai Assassin Burst kayak Fanny atau Nolan, atau bahkan hero-hero sustain. Ini yang bikin lawan pusing pas fase ban-pick.
RRQ di sisi lain, walau punya pemain-pemain hebat, kadang terlihat kurang agresif di momen-momen tertentu, atau mungkin salah membaca Tempo game. Skylar dengan Beatrix-nya memang sakit, tapi kalau rekan timnya nggak bisa sustain damage atau nggak bisa menciptakan ruang, ya jadi susah juga. Menurutku, RRQ perlu lebih fokus lagi sama Teamfight koordinasi dan mungkin perlu adaptasi hero pick yang lebih variatif di Lower Bracket nanti. Jujur, melihat mereka sampai bisa membalikkan keadaan di Game 2 itu udah nunjukkin potensi besar mereka, cuma butuh konsistensi aja.
Pengambilan Lord yang krusial juga jadi pembeda utama. ONIC selalu bisa mengamankan objektif besar di saat yang tepat, bahkan kalaupun mereka sedang di bawah tekanan. Ini bukan cuma soal skill individu, tapi Teamwork yang solid banget.
Menurut Sobat Rehat, strategi apa yang harus disiapin RRQ biar bisa revans lawan ONIC di Grand Final nanti? Share opini kalian di kolom komentar ya!
Tags: mobile legends, mpl id, onic esports, rrq hoshi, turnamen, grand final


