Kisah Rumah Tangga: Bukan Soal Selingkuh Biasa, Struk DANA Ini Ungkap Pengkhianatan yang Menghancurkan Hati

Kisah Rumah Tangga: Bukan Soal Selingkuh Biasa, Struk DANA Ini Ungkap Pengkhianatan yang Menghancurkan Hati

CERITA PENDEK

Kisah Rumah Tangga: Bukan Soal Selingkuh Biasa, Struk DANA Ini Ungkap Pengkhianatan yang Menghancurkan Hati

Babak 1 — Senja yang Terlalu Tenang

Pradipta mengerutkan kening, jemarinya yang biasanya sigap mengetuk keyboard kini terhenti. Ia menatap kosong layar laptopnya yang menampilkan spreadsheet data penjualan bulan ini. Sesuatu terasa janggal, seperti nada fals dalam sebuah simfoni yang selama ini ia anggap sempurna. Suara ketukan halus dari arah pintu ruang kerja menyadarkannya. Ia menoleh, menemukan Laksmi berdiri di ambang pintu, senyum tipis tersungging di bibirnya yang sedikit kering. Biasanya, senyum Laksmi bisa meredakan segala penatnya, namun sore ini, senyum itu terasa… asing. Ada keraguan yang tak bisa ia baca dari sorot mata istrinya.

“Mas, nanti malam jadi ya?” tanya Laksmi, suaranya lembut namun terdengar sedikit tergesa. “Aku sudah janji sama Mbak Wulan untuk nonton teater di TIM.”

Pradipta mengangguk pelan, mencoba mengembalikan fokusnya pada angka-angka yang berjejer rapi di layar. “Iya, jadi. Kamu berangkat jam berapa? Mau aku antar?” Ia selalu menawarkan diri mengantar Laksmi jika istrinya ada acara di luar rumah, sebuah kebiasaan kecil yang ia harap bisa menjadi penyeimbang dari kesibukannya yang kadang membuat Laksmi merasa kesepian. Ia ingat betul, tiga tahun lalu, saat pertama kali Laksmi mengajaknya menonton pertunjukan seni, ia merasa dunia mereka begitu berbeda. Laksmi dengan segala apresiasinya pada seni pertunjukan, dan ia yang terpaku pada data dan angka.

“Nggak usah, Mas. Nanti aku naik taksi online saja. Mbak Wulan sudah mau jemput di depan kantornya,” jawab Laksmi, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia terlihat seperti mencari sesuatu di meja kerja Pradipta. “Dompetmu yang warna cokelat itu… di mana ya?”

Pradipta menunjuk ke laci kecil di sisi kanan mejanya. “Ada di sana. Kenapa? Mau ambil uang?” Ia melihat Laksmi membuka laci itu dengan hati-hati. Laksmi tidak pernah asal mengambil barang milik Pradipta. Semua harus atas izin, atau setidaknya pemberitahuan. Kebiasaan Laksmi yang selalu menghargai privasinya ini justru membuat Pradipta semakin yakin akan kesempurnaan rumah tangga mereka. Ia memiliki istri yang teliti, perhatian, dan sangat menghormatinya. Apa lagi yang bisa ia minta?

Laksmi mengambil dompet itu, membukanya, lalu terlihat merogoh sesuatu di dalamnya. Ia mengeluarkan selembar kartu dan sebuah struk parkir yang terlipat rapi. “Oh, kartu ATM-ku ketinggalan di rumah. Nggak apa-apa, aku pakai kartu kredit saja nanti,” gumamnya pelan, lalu memasukkan kembali dompet itu ke dalam laci. Pandangannya sempat tertuju pada struk parkir yang ia pegang sebelum mengembalikannya ke dalam dompet. “Ya sudah, Mas. Aku siap-siap dulu.” Ia tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih lebar, lalu keluar dari ruangan Pradipta.

Pradipta kembali menatap layar laptopnya, berusaha mengabaikan getaran halus yang mulai merayap di dadanya. Ia tidak tahu persis apa yang ia rasakan, hanya saja ada bagian dari dirinya yang merasa… tidak nyaman. Seolah ada benang tak terlihat yang tiba-tiba saja kusut. Ia mencoba mengabaikannya, menyalahkan kelelahan dan tekanan pekerjaan. Ia menelan ludah, menarik napas dalam, lalu kembali fokus pada angka-angka itu. Namun, bayangan senyum Laksmi yang asing dan cara Laksmi memegang struk parkir itu terus berkelebat di benaknya.


Babak 2 — Sebuah Struk yang Bercerita

Malam semakin larut. Laksmi belum pulang. Pradipta sudah beberapa kali melirik jam dinding di ruang keluarga, lalu ke arah pintu. Ia tidak cemas, hanya… gelisah. Seharusnya Laksmi sudah pulang sejak dua jam lalu. Pertunjukan teater di TIM biasanya selesai sekitar pukul sepuluh malam, dan perjalanan pulang menggunakan taksi online dari sana ke apartemen mereka di bilangan Senayan tidak memakan waktu lebih dari satu jam, bahkan jika lalu lintas padat. Ia mencoba menghubungi Laksmi, namun panggilannya selalu dialihkan ke pesan suara. Ia mengirim pesan singkat lewat aplikasi pesan instan, namun centang dua biru yang menandakan pesan sudah terkirim tidak kunjung berubah menjadi centang biru.

Dalam kegelisahannya, Pradipta bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Matanya sesekali tertuju pada meja kecil di dekat pintu masuk, tempat Laksmi biasa meletakkan kunci dan dompetnya jika ia buru-buru. Tak ada apa-apa di sana. Pradipta kembali ke ruang kerja, pikirannya mulai melayang pada hal-hal yang tidak seharusnya. Ia menyibakkan tumpukan kertas di meja kerjanya, berharap menemukan sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya, namun yang ia temukan hanyalah tumpukan struk parkir dari berbagai tempat. Ia mengambil salah satu struk yang terlipat rapi, sebuah struk dari sebuah gedung perkantoran di kawasan Kuningan. Entah kenapa, struk itu terasa familiar.

Tangan Pradipta mulai gemetar saat ia membuka lipatan struk itu. Angka-angkanya buram di matanya. Ia mengerjap, mencoba fokus pada detail yang tercetak di sana. Tanggal, waktu, nama tempat… Dan nominal transaksi yang tertera membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Itu bukan struk parkir biasa. Itu adalah struk pembayaran melalui DANA, dengan detail transaksi yang tertera jelas: ‘Pembayaran Parkir Gedung Aruna Tower, Lantai 15’. Gedung Aruna Tower? Bukankah itu gedung tempat kantor baru Laksmi, kantor yang ia bilang akan ia kunjungi untuk ‘sidang skripsi’ calon karyawannya?

Pradipta membolak-balik struk itu. Di bagian bawah, tertera nama pengguna DANA yang melakukan transaksi. Nama itu bukan nama Laksmi. Itu nama seorang pria, diikuti dengan beberapa angka yang Pradipta kenali sebagai bagian dari nomor telepon… nomor telepon yang entah kenapa terasa sangat dekat.

Ia kembali membuka dompet Laksmi yang masih tergeletak di laci meja kerjanya, tempat ia menemukannya tadi sore. Ia merogoh saku kecil di bagian dalam dompet, tempat Laksmi biasa menyimpan kartu-kartu penting. Di sana, ia menemukan beberapa kartu, tapi bukan struk parkir yang ia ingat. Ia mengingat kembali momen tadi sore. Laksmi memegang sebuah struk… struk yang ia masukkan kembali ke dalam dompetnya. Tapi struk yang ia temukan di meja kerjanya ini jelas berbeda. Struk ini milik siapa? Dan mengapa tertulis nama pria di sini? Pikiran Pradipta berputar cepat. Ia teringat akan perkataan Laksmi tentang ‘sidang skripsi’ calon karyawan. Bukankah itu hanya alasan? Mengapa Laksmi berbohong soal itu? Dan siapa pria di struk DANA ini? Perasaan tidak nyaman yang ia rasakan tadi sore kini berubah menjadi kabut tebal kecemasan yang mencekam.


Babak 3 — Jejak Digital yang Tak Terduga

Pradipta tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang kerjanya, ditemani cahaya redup dari lampu meja. Struk DANA itu tergeletak di hadapannya, menjadi saksi bisu dari keraguannya yang kian membesar. Ia membuka aplikasi DANA di ponselnya, masuk menggunakan akunnya. Ia ingat, Laksmi pernah mengajarinya cara menggunakan aplikasi itu untuk membayar tagihan listrik dan pulsa. Ia mencari riwayat transaksi. Kosong. Tentu saja, ia tidak pernah menggunakan DANA untuk hal-hal seperti parkir atau pembayaran lain yang detailnya tidak begitu penting baginya.

Pikirannya melayang lagi pada percakapan tadi sore. Laksmi yang terlihat sedikit gelisah, senyumnya yang terasa asing. Dan struk parkir yang ia pegang… bukan, itu bukan struk parkir biasa. Itu struk pembayaran DANA. Ia yakin Laksmi memasukkan struk itu ke dalam dompetnya. Tapi kenapa ia tidak menemukannya di sana? Kecuali jika… struk itu bukan milik Laksmi? Tapi bagaimana mungkin struk itu bisa ada di dompet Laksmi?

Ia lalu mencoba mencari nama pengguna yang tertera di struk itu. ‘Adi Nugraha’. Pradipta tidak mengenali nama itu. Ia lalu membuka daftar kontak Laksmi. Ia tidak pernah benar-benar memeriksa isi ponsel Laksmi sebelumnya, baginya itu adalah sebuah pelanggaran privasi. Namun, kali ini, rasa penasaran yang dicampur kepanikan mendorongnya. Ia membuka daftar kontak Laksmi, mencari nama-nama yang terdengar asing atau nama-nama yang tidak memiliki foto profil. Ada beberapa. Ia mulai mencoba mencari nama ‘Adi Nugraha’ di antara kontak itu. Tidak ada.

Namun, saat ia membuka folder ‘Foto’ di ponsel Laksmi—yang ia lakukan dengan rasa bersalah yang mendalam—ia menemukan sebuah folder tersembunyi. Folder itu bernama ‘Kantor Baru’. Ia membukanya. Di dalamnya, ada beberapa foto Laksmi bersama beberapa orang. Sebagian besar adalah foto Laksmi yang sedang berdiskusi dengan beberapa rekan kerjanya. Namun, di antara foto-foto itu, ada satu foto yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang. Foto itu menampilkan Laksmi yang sedang tersenyum bersama seorang pria. Pria itu… ia sangat mirip dengan deskripsi yang ada di struk itu. Dan di belakang mereka, terlihat jelas logo Gedung Aruna Tower.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Laksmi pernah bercerita bahwa beberapa bulan lalu, ia sempat kesulitan mengisi saldo DANA. Sangat kesulitan. Ia sampai bertanya pada Pradipta apakah ia memiliki saldo DANA lebih yang bisa dipinjamkan. Saat itu, Pradipta bertanya kenapa, dan Laksmi hanya menjawab jika ia membutuhkan saldo untuk melakukan pembayaran penting. Ia tidak pernah berpikir lebih jauh saat itu. Kini, sebuah gambaran mengerikan mulai terbentuk di benaknya. Seandainya struk itu benar-benar milik Laksmi, dan nama pengguna di sana adalah ‘Adi Nugraha’—lalu mengapa Laksmi bersikeras mengatakan itu struk parkir miliknya?

Pradipta membuka kembali aplikasi DANA di ponselnya. Kali ini, ia tidak mencari riwayat transaksinya sendiri. Ia teringat sebuah fitur di DANA yang memungkinkan penggunanya untuk mengirimkan ‘permintaan dana’. Ia membuka fitur itu, lalu dengan tangan yang masih gemetar, ia mencoba mencari nama atau nomor telepon yang tertera di struk itu. Ia memasukkan nomor telepon yang tertera di struk itu. Dan… sebuah nama muncul. Nama itu terdaftar di aplikasi DANA sebagai ‘Adi Nugraha’. Di bawah namanya, tertera saldo DANA yang ia miliki. Saldo yang jumlahnya sangat besar.

Jari Pradipta terhenti. Ia mencoba mengingat kembali percakapan tadi sore. Laksmi mencari dompetnya untuk mengambil kartu ATM, namun ternyata kartu ATM-nya tertinggal. Ia lalu berkata akan memakai kartu kredit. Tapi kemudian ia pergi mencari dompet Pradipta, mengambil dompet itu, membuka lacinya, dan seolah mencari sesuatu di dalamnya. Apakah mungkin ia mengambil struk itu? Jika struk itu bukan miliknya, mengapa ia menyimpannya di dompet Pradipta? Apa yang sebenarnya Laksmi sembunyikan dari dirinya?


Babak 4 — Pertemuan yang Tak Terduga

Pagi menjelang. Pradipta tidak tidur sama sekali. Ia memutuskan untuk pergi ke Gedung Aruna Tower. Ia harus tahu kebenarannya. Ia mengendarai mobilnya di bawah langit Jakarta yang masih kelabu. Ia memarkir mobilnya di area parkir, lalu berjalan menuju lobi. Gedung itu megah, kaca-kaca berkilauan memantulkan cahaya pagi. Ia mencari informasi resepsionis. Setelah beberapa kali bertanya, ia mendapatkan informasi bahwa ada sebuah perusahaan konsultan muda yang baru saja pindah ke lantai 15, namanya ‘Aruna Synergy’. Dan salah satu staf di sana bernama Adi Nugraha.

Pradipta memesan taksi online menggunakan aplikasi GoCar. Ia memasukkan tujuan ke Gedung Aruna Tower, lantai 15. Di dalam mobil, ia terus memutar ulang kejadian kemarin. Foto Laksmi dengan pria bernama Adi Nugraha di depan gedung itu. Struk DANA pembayaran parkir yang tertera nama pria itu. Dan Laksmi yang terlihat gelisah. Semua terasa seperti puzzle yang perlahan membentuk gambaran yang mengerikan.

Sesampainya di Gedung Aruna Tower, Pradipta langsung menuju lift. Ia menekan tombol menuju lantai 15. Saat pintu lift terbuka, ia disambut oleh sebuah kantor dengan interior modern dan minimalis. Ada beberapa orang yang sedang sibuk bekerja di meja-meja mereka. Pradipta mendekati meja resepsionis. “Permisi, saya Pradipta. Saya ingin bertemu dengan Bapak Adi Nugraha,” katanya dengan suara yang berusaha dibuat setenang mungkin. Resepsionis yang ramah itu tersenyum, lalu menunjuk ke salah satu ruangan berpintu kaca di ujung koridor. “Silakan, Bapak Adi ada di dalam.”

Pradipta berjalan menuju ruangan itu. Ia bisa melihat sosok seorang pria duduk di balik meja, sedang berbicara di telepon. Pria itu… ia sama persis dengan yang ada di foto Laksmi. Ia pasti Adi Nugraha. Pradipta menunggu dengan sabar di depan pintu kaca itu. Setelah beberapa menit, Adi Nugraha menutup teleponnya. Ia mendongak, dan matanya bertemu dengan Pradipta. Senyum di wajah Adi Nugraha seketika memudar, digantikan oleh ekspresi terkejut.

Pradipta membuka pintu kaca itu perlahan dan masuk ke dalam ruangan. “Bapak Adi Nugraha?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar. Adi Nugraha mengangguk, masih terlihat bingung. “Saya… saya Pradipta. Suami Laksmi.” Pradipta melihat ekspresi Adi Nugraha berubah menjadi sedikit pucat. “Saya di sini untuk mencari tahu… tentang struk DANA yang saya temukan kemarin. Struk pembayaran parkir di sini, atas nama Bapak.”

Adi Nugraha terdiam sejenak, matanya menatap lantai. Ia terlihat tidak nyaman. “Oh… itu…” gumamnya pelan. “Saya… saya tidak tahu Bapak akan datang kemari.” Ia terlihat menghela napas panjang. “Begini, Pak Pradipta. Saya… kami… kami punya… hubungan bisnis yang cukup intens belakangan ini.”

“Hubungan bisnis?” Pradipta mendengus pelan, nada suaranya meninggi. “Atau hubungan yang lebih dari itu? Kenapa istri saya Laksmi harus berbohong kepada saya tentang pertemuannya dengan Anda? Kenapa ia memiliki struk pembayaran Anda di dompet saya?” Pradipta mengeluarkan struk DANA itu dari sakunya, lalu meletakkannya di atas meja Adi Nugraha. “Dan kenapa saya menemukan foto Anda berdua di ponsel Laksmi?”

Adi Nugraha menunduk, tangannya terkepal di atas meja. Ia tidak membantah. Ia hanya diam. Keheningan yang tercipta terasa lebih mencekam daripada ledakan amarah Pradipta. “Saya… saya minta maaf, Pak Pradipta,” ucap Adi Nugraha lirih, suaranya nyaris tak terdengar. “Saya… Laksmi… kami memang… kami memang dekat. Lebih dari sekadar rekan bisnis.” Ia mengangkat wajahnya, matanya terlihat berkaca-kaca. “Tapi… bukan seperti yang Bapak pikirkan. Kami… kami tidak selingkuh dalam artian yang sesungguhnya. Kami punya… masalah yang sama. Laksmi juga merasa terjebak, Pak.”

“Terjebak? Terjebak di mana?” tanya Pradipta, suaranya sedikit melembut, namun matanya masih dipenuhi ketidakpercayaan. “Terjebak dalam kebohongan yang ia bangun sendiri?”

Adi Nugraha menggelengkan kepala. “Bukan. Laksmi… Laksmi pernah memberitahu saya tentang… tentang hubungan Bapak dengan… wanita lain. Dulu. Beberapa tahun lalu. Ia menemukannya. Dan sejak saat itu, ia merasa tidak punya pilihan lain selain terus bersama Bapak. Demi reputasi, demi anak-anak… ia tidak mau menghancurkan keluarga. Ia hanya ingin… ia ingin semua ini cepat berakhir. Dan saya… saya mencoba membantunya.”


Babak 5 — Pilihan yang Menyakitkan

Pradipta terdiam. Kata-kata Adi Nugraha menghantamnya seperti pukulan telak. Wanita lain? Dulu? Ia ingat samar-samar, beberapa tahun lalu, ada wanita bernama Rengganis yang pernah dekat dengannya. Namun, ia meyakinkan Laksmi saat itu bahwa itu hanyalah masa lalu, sebuah kesalahan yang tidak akan pernah terulang. Ia bersumpah pada Laksmi bahwa hanya ada dirinya di hatinya.

“Apa maksudmu… wanita lain?” tanya Pradipta, suaranya tercekat. Ia merasakan tubuhnya lemas, lututnya terasa seperti akan roboh. Ia menatap Adi Nugraha, mencari kejujuran di matanya yang berkaca-kaca. “Rengganis? Itu sudah lama sekali. Aku sudah melupakannya. Aku tidak pernah lagi menghubunginya.”

Adi Nugraha hanya diam, membiarkan kesunyian yang menyakitkan mengisi ruangan. Ia tahu, Pradipta benar. Ia hanya mengulang apa yang Laksmi ceritakan padanya. “Laksmi merasa… ia merasa tidak punya kekuatan lagi untuk menghadapi Bapak setelah apa yang ia temukan dulu. Ia merasa Bapak tidak benar-benar berubah. Dan ia mendengar… ia mendengar Bapak masih sesekali menghubungi Rengganis. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia merasa sangat sendirian.” Adi Nugraha berhenti sejenak, menelan ludah. “Struk DANA itu… itu pembayaran parkir saya. Laksmi tidak punya uang tunai, dan ia menggunakan dompet Bapak untuk menyimpan kartu dan beberapa lembar uangnya. Ia tidak sengaja memasukkan struk saya ke dompet Bapak. Ia… ia hanya ingin kita bisa saling mendukung. Ia merasa hanya saya yang memahami situasinya saat ini.”

Pradipta terduduk di kursi tamu di hadapan meja Adi Nugraha. Ia merasa dunianya runtuh. Kebohongan Laksmi tentang gedung perkantoran itu, struk DANA yang aneh, foto mereka berdua… semua itu adalah cara Laksmi untuk berkomunikasi dengannya, sebuah peringatan bahwa ia tidak sendirian dalam kesakitannya. Sebuah cara untuk membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang salah dalam pernikahan mereka. Dan kini, ia baru menyadari betapa dinginnya rumah tangga yang ia jalani selama ini.

“Jadi… selama ini… ia hanya…” Pradipta tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap struk DANA itu lagi. Simbol dari ketidakpercayaan, kesepian, dan keputusasaan. Ia merasa seperti orang paling bodoh di dunia. Ia pikir ia memiliki pernikahan yang sempurna, namun ternyata ia hanya hidup dalam ilusi. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Jika memang benar ia pernah dekat dengan Rengganis, dan Laksmi mengetahuinya, mengapa ia tidak pernah berterus terang? Mengapa membiarkan kesakitan itu merayap dan menghancurkan mereka perlahan?

“Saya… saya harus pergi,” ucap Pradipta, suaranya serak. Ia bangkit dari kursi, meninggalkan struk DANA itu di atas meja. Ia melangkah keluar dari ruangan Adi Nugraha, lalu berjalan keluar dari gedung itu tanpa menoleh ke belakang. Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesinnya, namun tidak bergerak. Ia hanya duduk di sana, menatap kosong ke depan. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Apakah ia harus menghadapi Laksmi? Apakah ia harus mengakui kesalahannya? Atau haruskah ia mencoba memperbaiki apa yang sudah rusak, meskipun retakannya begitu dalam?

Ia teringat pada Laksmi. Istrinya yang selama ini ia anggap sempurna, ternyata menyimpan luka yang begitu dalam. Luka yang ia ciptakan sendiri. Dan kini, ia berdiri di persimpangan jalan. Memilih untuk pergi, atau mencoba menemukan kembali jalan pulang ke hati Laksmi yang mungkin sudah lama hilang. Tapi apakah masih ada jalan pulang?