Kisah Pilu: Ia Temukan Ini di Kantong Jaket Suaminya, Semua Runtuh Seketika
Babak 1 — Senyum Palsu di Ujung Pagi
Nindya meraih mug keramik biru kesayangannya, aroma kopi tubruk yang pekat mengisi dapur mungil mereka. Pagi ini terasa sedikit lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaannya saja. Ia melirik jam dinding, angka 06.15 terpampang jelas. Seharusnya Mas Wibisono sudah berangkat setengah jam lalu. Biasanya ia akan meninggalkannya sepucuk catatan kecil atau sekadar pesan di meja makan, meski hanya ucapan ‘Selamat Pagi, Sayang’. Tapi pagi ini, hanya keheningan yang menyambut.
“Mas Wibi?” panggil Nindya, suaranya sedikit serak, memecah keheningan. Tak ada jawaban. Ia berjalan perlahan ke kamar mereka. Ranjang masih rapi, bantal guling kesayangannya tergeletak tanpa ada lekukan bekas kepala. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Ini bukan kali pertama suaminya pulang larut atau bahkan menginap di luar, tapi selalu ada kabar. Entah dari rekan kerja atau sekadar pesan singkat, ‘Maaf, ada meeting mendadak’. Kali ini, nihil.
Perlahan, ia melangkah ke ruang tamu. Kaca jendela memantulkan bayangannya yang sedikit kusut. Piyama bermotif bunga matahari yang ia kenakan terasa semakin menekan dada. Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin suaminya terburu-buru pagi ini dan lupa memberi kabar. Mungkin ada sesuatu yang mendesak. Pikiran-pikiran positif ia paksa masuk ke kepala, meski rasa tidak nyaman mulai merayap bagai embun dingin di kulit.
Di sudut ruangan, tergantung jaket denim kesayangan Mas Wibisono. Jaket itu sudah cukup usang, warnanya pudar di beberapa bagian, ada sobekan kecil di bagian siku yang pernah Nindya jahitkan benang warna kontras. Jaket itu selalu jadi saksi bisu perjalanan mereka, dari kencan pertama di kafe pojok Senen hingga liburan dadakan ke Jogja. Nindya mendekatinya, ingin merapikannya sebelum pergi bekerja. Ia meraihnya, merasakan tekstur denim yang kasar di tangannya.
Saat tangannya menyentuh saku samping, ia merasakan sesuatu yang asing. Bukan dompet atau kunci motor. Bentuknya kecil, pipih, dan sedikit kaku. Perasaan tidak enak itu semakin menguat. Tangannya mulai gemetar halus saat merogoh saku itu lebih dalam. Ada secarik kertas terlipat rapi. Jantung Nindya berdegup semakin kencang, seperti genderang perang yang ditabuh tanpa henti. Ia menarik kertas itu keluar. Bukan amplop, bukan struk belanja, hanya selembar kertas putih biasa yang terlipat tiga.
Ia memandangi lipatan kertas itu. Dulu, Mas Wibisono sering melipat kertas seperti ini untuknya, membuat origami burung bangau atau hati kecil sebagai kejutan manis. Tapi ini berbeda. Lipatannya lebih kaku, lebih tergesa-gesa. Jemarinya terasa dingin saat ia mencoba membukanya. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. Kertas itu ia buka perlahan, satu lipatan, dua lipatan. Matanya terbelalak membaca tulisan tangan yang tidak asing di atas kertas itu.
Babak 2 — Teror Diam-Diam di Balik Kertas
Tulisan itu adalah milik Mas Wibisono. Nindya yakin seratus persen. Fontnya sedikit miring, dengan garis ‘t’ yang tegas dan ‘a’ yang selalu ia buat agak melengkung ke bawah. Tulisan yang selalu ia lihat di kartu ucapan ulang tahun, di catatan kecil di kulkas, di daftar belanjaan yang diselipkan di dompetnya. Tapi kali ini, kata-kata yang tertera membuat darahnya serasa berhenti mengalir. Bukan ungkapan cinta, bukan rencana akhir pekan. Ini adalah sesuatu yang… asing.
“Buat ‘Sayangku’ di rumah. Maaf gak sempet pamit. Nanti malam, aku jemput kamu jam 7. Kita makan malam di tempat biasa ya. Jangan lupa pakai dress biru favoritmu. Aku cinta kamu. – Wibi.”
Sebuah pesan. Untuk siapa? Siapa ‘Sayangku’ di rumah? Bukankah ia adalah ‘Sayangku’? Nindya membaca pesan itu lagi, dan lagi. Otaknya berputar, mencoba mencari celah penjelasan yang masuk akal. Mungkin ini pesan untuk ibunya? Tapi kenapa memakai embel-embel ‘Sayangku’ dan ‘jemput jam 7’? Ibunya tidak pernah suka dijemput sepulang kerja, apalagi makan malam di ‘tempat biasa’ yang mereka berdua tahu persis. ‘Tempat biasa’ mereka adalah sebuah restoran Italia sederhana di kawasan Kemang yang mereka kunjungi setiap kali merayakan sesuatu.
Tangannya yang memegang kertas itu mulai gemetar lebih hebat. Ia memejamkan mata, mencoba menghapus tulisan itu dari pandangannya. Tapi kata-kata itu seolah terukir di balik kelopak matanya. ‘Sayangku di rumah’. Jika ia bukan ‘Sayangku’ yang dituju, lalu siapa? Dan kenapa suaminya tidak pamit? Kenapa harus ada pesan rahasia di saku jaketnya yang usang?
Ia melihat jaket itu lagi, lalu ke pesan di tangannya. Ada kontradiksi yang begitu mencolok. Mas Wibisono yang selalu terbuka padanya, yang bahkan tidak punya rahasia kecil sekalipun, kini meninggalkan pesan seperti ini. Pesan yang ditujukan pada wanita lain, dengan rencana kencan di malam yang sama dengan hari ini. Kemarin, suaminya sempat mengatakan akan ada perjalanan dinas mendadak ke Surabaya besok pagi. Ini… ini bukan perjalanan dinas.
Nindya mengabaikan kopi paginya yang mulai dingin. Ia duduk di tepi sofa, memandangi jaket itu seolah ia menyimpan jutaan pertanyaan yang tak terjawab. Pikirannya mulai liar. Mungkinkah ada wanita lain? Mungkinkah selama ini ia hidup dalam kebohongan? Tapi Mas Wibisono… ia terlalu baik, terlalu lembut untuk melakukan itu. Ia selalu jadi pria idaman yang ia impikan, yang selalu ia ceritakan pada teman-temannya di grup chat ‘Geng Kopi Pagi’.
Ia membuka ponselnya, membuka aplikasi Gojek. Tertera status ‘Mas Wibi’ yang sudah tidak aktif sejak pukul 03.00 dini hari. Ia membuka aplikasi Tokopedia, scroll produk-produk yang tidak relevan. Kemudian, dengan jari yang masih sedikit gemetar, ia membuka aplikasi DANA. Ia tidak tahu apa yang ia cari. Mungkin kebiasaan Mas Wibisono untuk mentransfer sejumlah uang sebelum atau sesudah ‘perjalanan dinas’nya. Ia membuka riwayat transaksi suaminya. Semuanya tampak normal. Pembayaran tagihan listrik, transfer ke ibunya, pembelian pulsa. Sampai ia melihat sebuah transaksi yang janggal.
Sebuah transfer dengan nominal yang cukup besar, Rp 1.500.000, ditujukan ke sebuah nomor rekening yang namanya… asing. ‘Laksmi Saraswati’. Nindya mengerutkan kening. Nama itu tidak pernah ia dengar sebelumnya. Kapan suaminya pernah mentransfer uang sebanyak itu ke orang asing?
Babak 3 — Kabut Kemang dan Senyum Misterius
Jam menunjukkan pukul 17.00. Nindya memutuskan untuk tidak masuk kerja. Ia beralasan sakit perut, sebuah kebohongan kecil yang terasa berat di lidahnya. Ia membutuhkan waktu untuk berpikir, untuk menenangkan gejolak di dadanya. Sambil berganti pakaian dengan dress biru tua kesayangannya – dress yang sama persis seperti yang disebutkan dalam pesan itu – ia terus memutar ulang kejadian tadi pagi. Pesan itu. Nama Laksmi Saraswati. Kebohongan tentang perjalanan dinas.
Ia melirik cermin di kamarnya. Wajahnya terlihat pucat, matanya sembab meski ia sudah berusaha membasuhnya dengan air dingin. Ia memaksakan diri untuk terlihat tegar. Ia tidak boleh panik. Ia harus mencari tahu. Pukul 19.00, ia sudah berada di mobil, melaju perlahan menuju Kemang. Ia akan pergi ke ‘tempat biasa’ mereka. Jika Mas Wibisono benar-benar berencana untuk menemui wanita lain, ia akan menunggunya di sana. Ia akan menghadapinya.
Restoran Italia itu masih sama. Cahaya lampu temaram, aroma pasta yang menggoda, dan alunan musik klasik yang menenangkan. Namun, bagi Nindya, suasana itu terasa menusuk. Ia memesan segelas air putih, lalu duduk di sudut ruangan yang paling dekat dengan jendela. Ia ingin bisa melihat siapa saja yang datang dan pergi dari kejauhan. Tangan kanannya secara reflek merogoh saku dressnya. Pesan itu masih ada di sana, terlipat rapi. Ia terus memandangi tulisan tangan suaminya, mencari petunjuk tambahan, mencari arti dari semua ini.
Menit demi menit berlalu. Pelanggan datang dan pergi. Beberapa pasangan tertawa mesra, beberapa keluarga makan malam dengan riang. Nindya merasa seperti terisolasi dalam gelembung kesedihannya sendiri. Pukul 19.45, pintu restoran terbuka. Sesosok pria masuk, lalu terdiam sejenak, memindai ruangan. Nindya menahan napas. Itu Mas Wibisono. Ia terlihat tampan seperti biasa, mengenakan kemeja biru langit yang pas di badannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ada kilatan… gelisah?
Ia melihat Mas Wibisono berjalan mendekat. Tapi bukan ke arah mejanya. Ia berjalan melewati Nindya, lalu berhenti di sebuah meja yang agak tersembunyi di pojok lain. Di meja itu, sudah duduk seorang wanita. Cantik, dengan rambut hitam panjang tergerai dan senyum yang… sulit diartikan. Nindya merasa seperti ditampar. Wanita itu tersenyum pada Mas Wibisono, senyum yang terasa begitu intim, begitu akrab.
Nindya tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada adegan di depannya. Ia melihat suaminya duduk berhadapan dengan wanita itu. Mereka mulai berbicara. Jarak mereka cukup jauh, sehingga Nindya tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan. Tapi ia melihat gestur tangan Mas Wibisono, melihat cara ia memandang wanita itu. Pemandangan itu begitu menyakitkan, begitu menghancurkan. Ia teringat pesan di sakunya: ‘Nanti malam, aku jemput kamu jam 7. Kita makan malam di tempat biasa ya. Jangan lupa pakai dress biru favoritmu.’
Tiba-tiba, wanita itu tertawa. Tawa yang terdengar jelas hingga ke meja Nindya. Tawa itu… terdengar familier. Nindya mengerutkan kening. Ia pernah mendengar tawa itu sebelumnya. Di mana? Di mana? Pikirannya berputar, mencoba menangkap kembali ingatan yang samar. Ia pernah mendengar tawa itu saat ia menonton acara televisi bersama suaminya. Saat ada bintang tamu yang sedang bercerita.
Lalu, ia melihat wanita itu merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sesuatu. Sebuah ponsel. Ia menyalakannya, lalu memperlihatkan sesuatu di layar ponselnya pada Mas Wibisono. Dan di momen itu, Nindya melihat sesuatu yang membuatnya terkesiap. Di layar ponsel wanita itu, terpampang sebuah foto. Foto dirinya, Nindya, sedang tersenyum lebar saat ia memenangkan lomba membuat kue beberapa bulan lalu. Foto itu ia kirimkan ke grup chat ‘Geng Kopi Pagi’ dan ia juga mengirimkannya ke Mas Wibisono.
Tapi di bawah foto itu, ada caption yang ditulis oleh wanita di depan suaminya. Caption yang membuat Nindya merasa dunianya runtuh seketika. Caption itu bertuliskan: “Pesanan untuk Laksmi Saraswati. Semoga suka ya.”
Babak 4 — Bukan Perselingkuhan, Tapi Kehancuran yang Berbeda
Nindya merasa seperti disambar petir di siang bolong. Laksmi Saraswati? Pesanan? Ia memandang wanita di seberang suaminya dengan tatapan nanar. Wanita itu kini sedang menatap layar ponselnya lagi, membalas pesan dari seseorang. Nindya memberanikan diri untuk sedikit menyipitkan mata, berusaha membaca apa yang tertulis di layar ponsel itu. Jantungnya berdegup kencang, namun kali ini bukan karena cemburu, melainkan karena kebingungan yang luar biasa.
Wanita itu, Laksmi, sedang mengetik balasan. “Terima kasih banyak, Mas Wibi. Kue pesanan Anda sudah diambil oleh istri Anda. Saya harap Nindya suka dengan kejutan ini.”
Istri Anda? Nindya menarik napas tajam. Suaminya… memesan kue? Dan wanita ini… kurir? Atau pemilik toko kue? Tapi kenapa ia harus membuat pesan tersembunyi di saku jaket suaminya? Kenapa ia harus memberikan nomor rekening asing untuk transfer?
Wanita bernama Laksmi itu mengangkat pandangannya, lalu tersenyum pada Mas Wibisono, senyum yang kali ini terasa sedikit berbeda. Lebih profesional, namun tetap hangat. “Sudah ya, Mas. Pesanannya sudah saya serahkan ke Nindya. Kalau ada apa-apa, jangan ragu hubungi saya lagi.”
Nindya melihat Mas Wibisono mengangguk. Lalu ia melihat suaminya bangkit dari kursi. Ke arah mana ia pergi? Nindya menahan napas. Mas Wibisono berjalan… melewati meja Laksmi, lalu berjalan lurus ke arah mejanya. Nindya merasakan seluruh tubuhnya menegang. Ini dia. Konfrontasi.
Mas Wibisono berdiri di depannya. Wajahnya pucat pasi. Matanya menatap Nindya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada campuran rasa bersalah, takut, dan… sedikit kelegaan? “Nindya…” suaranya serak. “Kamu… kamu tahu?”
Nindya hanya bisa menatapnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha keras untuk tidak menangis di depan suaminya. Ia hanya ingin tahu. “Siapa dia, Mas?” tanyanya lirih, suaranya bergetar. “Dan kenapa kamu membohongiku tentang perjalanan dinas?”
Mas Wibisono menunduk. Ia terlihat seperti anak kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan. “Aku… aku minta maaf, Nindya. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir.” Ia menarik napas dalam. “Laksmi itu… dia pemilik toko kue langgananku. Namanya Laksmi Saraswati. Aku memesan kue ulang tahun untukmu. Ulang tahunmu kan sebentar lagi, sayang. Aku ingin memberimu kejutan.”
Nindya terdiam. Kue ulang tahun? Ulang tahunnya? Ia hampir lupa. Tanggal favoritnya jatuh tiga hari lagi. Mas Wibisono selalu memberinya kejutan istimewa setiap tahun. “Tapi… kenapa pesan itu di saku jaketmu? Kenapa kamu bilang perjalanan dinas? Kenapa transfernya ke nomor rekening asing?”
Mas Wibisono menghela napas panjang. “Itu… itu aku buat agar kamu tidak curiga. Aku tidak ingin kamu tahu aku memesan kue dari Laksmi. Aku ingin semuanya jadi rahasia. Aku bilang perjalanan dinas karena aku ingin mengurus semuanya sendirian tanpa kamu tahu. Dan nomor rekening itu… itu rekening toko kuenya. Aku takut kalau aku transfer ke rekening pribadinya, kamu akan merasa aneh.”
Nindya menatap suaminya lekat-lekat. Mata Mas Wibisono terlihat tulus. Semuanya… hanya kesalahpahaman? Rasa cemburu yang meluap tadi perlahan mereda, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa. Tapi… masih ada satu pertanyaan yang mengganjal. “Lalu… kenapa kamu memanggilnya ‘Sayangku’ di pesan itu?”
Mas Wibisono terdiam. Wajahnya kembali memucat. Kali ini, ia tidak menunduk. Ia menatap Nindya langsung, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. “Nindya,” katanya perlahan, suaranya pecah. “Pesan itu… bukan untukmu.”
Babak 5 — Serpihan Hati yang Berserakan
Udara di dalam restoran terasa semakin dingin, atau mungkin itu hanya perasaannya. Nindya menatap Mas Wibisono, menunggu kelanjutan kalimatnya. Kata-kata ‘bukan untukmu’ terus berulang di kepalanya, menciptakan lubang hitam yang perlahan menelan semua kelegaan yang baru saja ia rasakan. Ia mencoba menarik napas, tapi udara terasa sesak. “Maksudmu, Mas?” tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Mas Wibisono terlihat sangat menderita. Ia mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya. “Aku… aku tidak tahu harus mulai dari mana, Nindya.” Ia berhenti sejenak, mengumpulkan kekuatannya. “Pesan itu… memang untukmu. Untuk kejutan ulang tahunmu. Tapi… itu bukan pesan yang aku tulis pagi ini.”
Nindya mengerjap. ‘Bukan yang aku tulis pagi ini?’ Apa maksudnya? “Lalu… kapan?” tanyanya, penuh harap, mencoba meraih celah kebenaran lain.
“Aku… aku menulis pesan itu beberapa minggu lalu, Nindya. Saat aku merencanakan kejutan ini. Tapi… aku sempat membatalkannya. Aku berubah pikiran. Aku pikir… lebih baik kamu tidak tahu dulu. Aku takut kamu akan curiga jika melihatku memesan kue dari toko yang tidak kamu kenal, apalagi dengan nominal sebesar itu. Jadi aku memutuskan untuk membuat kejutan yang lain saja. Kejutan yang lebih sederhana.”
Nindya membeku. Jadi pesan itu sudah lama ada di jaket suaminya? Ia menemukannya di saku samping, kan? Bukan saku dalam? Mas Wibisono menyadari keraguan di mata istrinya. “Aku… aku tidak sengaja menemukannya pagi ini, Nindya. Aku kira aku sudah membuangnya. Aku lupa kalau aku menyimpannya di saku samping jaket itu. Aku benar-benar lupa.”
Sekarang Nindya mengerti. Suaminya tidak berbohong tentang pesan itu. Ia tidak berbohong tentang toko kue itu. Ia bahkan tidak berbohong tentang perjalanan dinasnya. Tapi… mengapa ia harus menyimpan pesan itu di jaketnya? Kenapa tidak dibuang saja?
“Lalu… wanita itu… Laksmi?” tanya Nindya, matanya beralih ke arah wanita di pojok. “Kenapa dia ada di sini?”
Mas Wibisono mengikuti arah pandang Nindya. Wajahnya sedikit merona. “Oh, Laksmi… Dia tadi mengantarkan kuenya. Aku sudah memintanya untuk mengantarkannya langsung ke rumahku nanti malam. Tapi dia bilang sedang ada urusan di dekat sini, jadi aku minta dia untuk menitipkannya padamu dulu di restoran ini. Agar kamu bisa langsung membawanya pulang tanpa harus repot.” Ia tersenyum kecil. “Dia orang yang sangat baik, Nindya. Dia bahkan mau membantuku untuk menjaga rahasia ini.”
Nindya merasa seluruh tubuhnya lemas. Ia menatap suaminya, lalu beralih ke arah Laksmi yang sedang sibuk dengan ponselnya. Semuanya… kembali normal? Tapi kenapa rasanya tidak? Kenapa hatinya masih terasa perih?
Mas Wibisono meraih tangan Nindya yang dingin. “Nindya, aku… aku benar-benar minta maaf karena membuatmu cemas seperti ini. Aku berjanji, tidak akan ada lagi rahasia di antara kita. Aku akan selalu jujur padamu.” Ia membelai pipi Nindya dengan lembut. “Sekarang, ayo kita pulang. Aku sudah memesan nasi uduk kesukaanmu untuk makan malam.”
Nindya mengangguk pelan. Ia membiarkan Mas Wibisono menuntunnya keluar dari restoran. Saat mereka berjalan melewati meja Laksmi, Laksmi tersenyum pada Nindya dan menyerahkan sebuah kotak kue yang cukup besar. Nindya menerimanya, merasakan kehangatan dari dalam kotak itu. Ia membalas senyum Laksmi. Namun, saat ia menoleh ke arah Mas Wibisono, ia melihat sesuatu yang membuatnya terdiam.
Di mata suaminya, Nindya melihat serpihan kesedihan yang dalam. Sesuatu yang tidak ia mengerti. Sesuatu yang terasa lebih besar dari sekadar pesan yang salah tempat. Sesuatu yang membuat Nindya bertanya-tanya, apakah ini benar-benar akhir dari semua kesalahpahaman ini, atau hanya awal dari kehancuran yang sebenarnya?
