Cerpen: Kuku Palsu di Laci Rahasia Itu Mengubah Segalanya
Babak 1 — Tumpukan Kuku Palsu di Laci Rahasia
Nindya melipat selimut dengan presisi bak tentara menyiapkan barak. Setiap sudut harus tegak lurus, tidak boleh ada yang bergelantung atau terlipat seenaknya. Ia selalu begitu, perfeksionis pada hal-hal kecil yang tak terlalu penting. Suaminya, Pradipta, sering terkekeh melihatnya, menyebutnya ‘ibu rumah tangga terorganisir sedunia’. Ia tak pernah marah, justru merasa sedikit geli. Pradipta adalah kebalikannya; cenderung ceroboh, sering lupa menaruh kunci, dan meninggalkan gelas kosong sembarangan. Tapi justru itulah yang membuat Nindya jatuh cinta, kontras yang membuatnya hidup.
Pagi itu, seperti biasa, Nindya menyiapkan bekal untuk Pradipta. Nasi goreng sisa semalam, ditambah telur ceplok setengah matang yang kuningnya masih menggumpal sempurna. Ia tahu Pradipta menyukai itu. Sambil menunggu Pradipta selesai mandi, Nindya membereskan meja kerja suaminya. Tidak bermaksud menggeledah, hanya sekadar merapikan tumpukan kertas yang mulai menjulang dan beberapa pena yang berserakan. Ia membuka laci paling atas, tempat Pradipta biasa menyimpan alat tulis kantor dan beberapa dokumen penting. Sesuatu yang ganjil menyambutnya. Tumpukan itu… aneh.
Bukan sekadar kertas atau amplop. Ada sebuah kotak kecil berwarna merah muda, terbungkus rapi dengan pita satin hitam. Ukurannya pas untuk sebuah cincin, atau… sesuatu yang lain. Jantung Nindya mulai berdebar lebih cepat. Ini bukan kebiasaan Pradipta. Ia biasanya menyimpan barang-barang berharga, atau yang ia anggap ‘penting’, di kotak kayu usang di sudut laci yang lebih besar. Kotak merah muda ini terasa asing. Tangannya gemetar saat meraihnya. Pita satinnya terasa halus di ujung jari. Ia ragu sejenak. Ini bukan waktunya untuk rasa penasaran yang tak beralasan. Tapi ada sesuatu yang mendesaknya untuk membuka.
Dengan napas tertahan, Nindya menarik pita satin itu. Kotak merah muda itu terbuka dengan bunyi ‘klik’ pelan. Matanya membelalak. Di dalamnya, tersusun rapi, bukan perhiasan, bukan surat cinta. Ada tumpukan kuku palsu berwarna merah marun, dengan glitter keemasan di ujungnya. Bentuknya agak runcing, dan terlihat… baru saja dipakai. Sangat baru. Nindya mengerutkan kening. Pradipta? Kenapa Pradipta menyimpan kuku palsu? Dan kenapa di laci rahasia di meja kerjanya?
Ia mengambil salah satunya. Terasa ringan di tangannya. Ia memerhatikannya seksama. Desainnya… cukup mewah. Bukan kuku palsu murahan. Apakah ini hadiah untuk seseorang? Atau mungkin… miliknya?
Pikirannya berputar liar. Sejak kapan Pradipta tertarik pada kuku palsu? Kapan terakhir kali ia melihat kuku Nindya seperti ini? Tidak pernah. Kuku Nindya selalu dipotong pendek dan rapi, tanpa cat kuku, apalagi kuku palsu.
“Sayang, sudah selesai mandinya?” Suara Pradipta terdengar dari ambang pintu kamar mandi. Nindya tersentak kaget. Cepat-cepat ia menutup kotak itu, memasukkannya kembali ke dalam laci, dan menutup laci itu. Ia memutar punggungnya menghadap pintu, mencoba menetralkan ekspresinya.
“Sudah, Mas. Tinggal siapin sarapan,” jawabnya, berusaha terdengar santai. Suaranya sedikit bergetar, ia berharap Pradipta tidak menyadarinya. Ia berdeham pelan, lalu berbalik seolah baru saja selesai merapikan buku di meja. Pradipta tersenyum tipis, rambutnya masih sedikit basah, handuk kecil tersampir di bahu. Ia berjalan mendekat, mengecup puncak kepala Nindya.
“Wangi sekali sabunmu. Harusnya aku mandi lebih lama,” katanya, lalu bergerak ke arah meja kerja. Nindya mengikutinya dengan tatapan mata yang tak berkedip. Ia melihat Pradipta membuka laci yang sama. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Apakah ia akan menemukan kotak merah muda itu? Apakah ia akan sadar sesuatu hilang?
Namun, Pradipta hanya mengambil sebuah map berwarna biru tua. “Oh iya, aku perlu ini. Dokumen proyek yang baru,” gumamnya sambil membuka map itu. Ia tidak menyentuh kotak merah muda di sebelahnya. Nindya menghela napas lega, namun rasa cemas itu justru makin mengakar. Siapa pemilik kuku palsu itu? Dan kenapa ada di laci suaminya?
Pradipta lalu meraih piring berisi nasi goreng. “Hmm, aromanya enak sekali. Kamu memang yang terbaik, Ndya.” Ia mengambil garpu, bersiap menyuap. Nindya hanya bisa tersenyum tipis, hatinya bergolak. Ia melihat suaminya menikmati sarapan yang ia siapkan, tanpa tahu bahwa di laci meja kerja itu, tersimpan sebuah rahasia yang mungkin akan menghancurkan segalanya.
Babak 2 — Getaran di Ujung Jari
Napas Nindya tertahan. Ia merasa seperti sedang menonton adegan di film, tapi ini nyata. Kotak merah muda itu. Pita satin hitam. Tumpukan kuku palsu berkilauan. Semua itu terbentang di hadapannya, bukti bisu yang sangat tidak pada tempatnya. Selama bertahun-tahun rumah tangga mereka dibangun di atas kepercayaan yang kokoh, Nindya merasa tak pernah perlu meragukan Pradipta. Pria itu, dengan segala kekurangannya, adalah jangkar hidupnya. Namun, penemuan ini, sekecil apapun kuku palsu itu, terasa seperti retakan pertama pada fondasi yang ia kira tak tergoyahkan. Ia menutup laci itu dengan sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Tangannya masih terasa dingin, sedikit gemetar.
Ia mencoba menyibukkan diri dengan hal lain. Membersihkan sisa piring di meja makan, menyapu dapur yang bersih, bahkan merapikan rak sepatu di dekat pintu depan. Tapi pikirannya terus kembali ke kotak itu. Kenapa Pradipta menyimpannya di sana? Bukankah seharusnya itu ada di tempat lain jika memang bukan miliknya? Atau… apakah itu memang miliknya? Pikirannya menolak skenario itu. Pradipta yang ia kenal adalah pria yang sangat sederhana, tidak pernah tertarik pada hal-hal berlebihan seperti kuku palsu yang mencolok.
Ia mengambil ponselnya. Jemarinya—tanpa kuku palsu, tanpa cat—bergerak ragu di layar. Haruskah ia membuka galeri? Mencari foto-foto lama? Mungkin ada petunjuk di sana. Ia membuka folder ‘Foto Bersama’, lalu ‘Liburan’. Foto-foto mereka saat di pantai Lombok, saat mendaki Bromo, saat makan malam di sebuah restoran Prancis di Jakarta. Wajah Pradipta selalu tersenyum lebar di foto-foto itu, begitu pula dirinya. Tak ada yang tampak mencurigakan. Tak ada tanda-tanda kebohongan.
Lalu ia membuka aplikasi pesan. Ia scroll percakapan dengan Pradipta. Semuanya normal. ‘Aku pulang telat ya, Ndya’, ‘Jangan lupa beli beras’, ‘Kangen’. Semuanya terasa begitu biasa, begitu hangat. Tiba-tiba, matanya tertuju pada satu pesan yang dikirim beberapa minggu lalu. ‘Sayang, ada paket dari kurir, tolong diterima ya. Nanti aku ambil pas pulang.’ Pesan itu tampak tidak penting, tapi entah kenapa Nindya merasa ada yang janggal.
Paket apa? Nindya ingat, memang ada paket datang sore itu. Ia menerimanya. Kotak kecil berwarna merah muda. Ia pikir itu pesanan Pradipta dari Tokopedia atau Shopee. Karena Pradipta kadang memesan sesuatu tanpa memberitahu Nindya, dan ia pun tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan pribadi suaminya. Ia meletakkan paket itu di meja kerja Pradipta, persis di atas laci yang kini menyimpan rahasia.
Kenapa Pradipta menyimpannya di laci? Kenapa tidak membuangnya jika itu bukan miliknya? Atau, apakah ia sengaja menyimpannya di sana? Untuk Nindya lihat? Tidak mungkin. Pradipta tahu Nindya bukan tipe yang suka menggeledah barang suaminya.
Ia mencoba mengingat detail lain. Beberapa hari terakhir, Pradipta memang terlihat sedikit berbeda. Lebih sering memegang ponselnya diam-diam, bahkan sempat tersenyum sendiri saat melihat layar. Nindya mengira itu mungkin lelucon dari teman kantornya. Ia tak pernah berpikir sejauh ini.
Sore itu, saat Pradipta belum pulang, Nindya kembali membuka laci itu. Dengan hati-hati, ia meraih kotak merah muda itu lagi. Ia membukanya. Kuku palsu itu masih di sana. Ia memegang salah satunya, mencoba merasakan teksturnya, melihat detailnya. Ia mencari tanda-tanda unik. Mungkin ada bekas goresan kecil, atau noda cat yang tak sengaja menempel. Tapi kuku itu terlihat sempurna, seperti baru.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Beberapa minggu lalu, saat ia sedang browsing aplikasi kecantikan di Shopee, ia melihat iklan kuku palsu serupa. Desainnya sangat khas, ada ukiran bunga kecil di bagian kutikula. Ia bahkan sempat menyimpannya di wishlist, tapi merasa itu terlalu berlebihan untuk gaya sehari-harinya.
Nindya membuka kembali aplikasi Shopee di ponselnya. Ia menuju ke bagian ‘Wishlist’. Dan di sana, gambar itu muncul. Kuku palsu yang sama persis. Dengan deskripsi ‘Nail Art Mewah Desain Bunga Anggrek – Premium Quality’. Ia melihat tanggal pembeliannya. Tiga minggu lalu. Tanggal itu… ia ingat. Saat Pradipta bilang ia harus lembur sampai larut malam.
Tangannya mulai dingin lagi. Bukan hanya gemetar, tapi terasa seperti mati rasa. Ia lalu mengklik bagian ‘Pesanan Saya’. Ia mencari pesanan yang dikirimkan tiga minggu lalu. Ada. Alamat pengiriman adalah alamat rumah mereka. Nama penerima adalah Pradipta.
Ia menutup aplikasi itu. Matanya beralih ke layar ponsel. Sebuah nama muncul di layar. ‘Bintang’. Pradipta sering mendapat telepon dari nomor tak dikenal. Pernah Nindya bertanya, siapa. Pradipta menjawab, ‘Oh, itu klien baru, Ndya. Agak rewel tapi menguntungkan.’ Nindya menghela napas. Ia terlalu percaya.
Babak 3 — Jejak Kopi dan Kebohongan
Perjalanan Nindya ke kantor Pradipta terasa seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Ia memutuskan untuk datang langsung, berharap ada penjelasan yang masuk akal, sesuatu yang bisa membantahnya dari jurang kecurigaan yang terus menggerogotinya. Ia memesan GoCar dari rumahnya di kawasan Cilandak menuju gedung perkantoran megah di pusat Jakarta. Di sepanjang jalan, pikirannya berputar tak karuan. Ia mengingat setiap detail kecil yang selama ini ia abaikan.
Bagaimana Pradipta sering pulang terlambat dengan alasan lembur, padahal Nindya tahu proyeknya sudah hampir selesai. Bagaimana ia selalu membawa tas laptopnya kemanapun, bahkan saat hanya pergi ke minimarket terdekat. Bagaimana ia kadang menerima telepon dengan suara berbisik, lalu berdalih itu panggilan dari klien. Dan kini, tumpukan kuku palsu itu. Kuku palsu yang sama persis dengan yang ia lihat di wishlist Shopee-nya. Kuku yang dibelinya di tanggal yang sama saat Pradipta ‘lembur’.
Setiap lampu merah terasa seperti siksaan. Ia memainkan ponselnya, scroll kembali percakapan dengan ‘Bintang’. Dulu ia mengira itu nama grup chat kantor, tapi sekarang ia tidak yakin lagi. Mengapa Pradipta begitu berhati-hati? Dan kenapa ia memesan kuku palsu, benda yang jelas-jelas bukan miliknya, dan menyimpannya di laci rahasia di meja kerjanya?
Tiba di lobi gedung perkantoran, Nindya merasa sedikit kaku. Ia tak pernah datang ke kantor Pradipta sebelumnya. Suasananya formal, mewah, dan asing. Ia menanyakan resepsionis tentang ruangan Pradipta. Setelah sedikit berputar-putar mencari lift yang tepat, ia akhirnya tiba di lantai yang dimaksud. Ia berjalan menyusuri koridor yang lengang. Pintu kantor Pradipta tertutup rapat. Ia menarik napas dalam, lalu mengetuknya pelan.
“Masuk!” Suara Pradipta terdengar dari dalam. Nindya mendorong pintu itu perlahan. Pradipta sedang duduk di mejanya, memunggungi pintu. Ia tampak serius menatap layar komputernya. Nindya berdiri di ambang pintu, mematung. Pradipta tidak menyadari kehadirannya.
“Mas?” panggil Nindya pelan. Pradipta tersentak kaget. Ia berbalik, wajahnya memucat seketika. Senyum yang tadinya ia pasang untuk menyambut Nindya, kini terlihat kaku dan dipaksakan. “Ndya? Ngapain kamu di sini?” tanyanya, nada suaranya sedikit cemas.
“Aku… mau ketemu,” jawab Nindya, mencoba menahan getaran di suaranya. Ia melihat sekeliling ruangan. Ruangannya bersih, rapi, tidak ada tanda-tanda kekacauan. Tidak ada kuku palsu di sembarang tempat. Hanya sebuah tumpukan kertas yang rapi, sebuah mug berisi kopi yang sudah dingin, dan beberapa bingkai foto di meja. Salah satunya foto Nindya dan Pradipta saat pernikahan mereka. Foto itu terasa menyakitkan.
“Ada apa? Kok nggak bilang-bilang?” tanya Pradipta, bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekati Nindya, namun Nindya justru mundur selangkah. Ia melihat Pradipta dengan pandangan yang berbeda sekarang. Bukan sebagai suami yang ia cintai, tapi sebagai orang asing yang menyimpan rahasia.
“Kamu… sering dapat paket dari kurir ya, beberapa minggu lalu?” tanya Nindya, langsung ke pokok persoalan. Wajah Pradipta makin pucat. Ia menelan ludah.
“Paket? Oh, iya. Ada beberapa. Kenapa?” jawab Pradipta, berusaha terlihat tenang, namun matanya gelisah. Ia mengalihkan pandangannya ke bingkai foto di meja.
“Paket itu isinya apa?” desak Nindya, tangannya mulai terkepal.
Pradipta terdiam sejenak. Ia terlihat berpikir keras, mencari jawaban yang tepat. “Itu… itu pesanan pribadi. Ada beberapa barang yang aku butuhkan untuk… hobi baru,” katanya terbata-bata.
Nindya tertawa sinis, tawa yang keluar dari tenggorokannya terasa pahit. “Hobi baru? Hobi barumu itu… kuku palsu, Mas?”
Wajah Pradipta berubah menjadi pucat pasi. Ia membelalakkan mata, seolah tak percaya Nindya tahu. Tangannya yang tadinya bersedekap, kini terkulai lemas. Ia tidak bisa menjawab. Keheningan di ruangan itu terasa begitu memekakkan telinga. Nindya merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Itu… itu bukan… Nindya, dengarkan aku…” Pradipta mencoba meraih tangan Nindya, tapi Nindya menepisnya.
“Aku nggak mau dengar apa-apa lagi, Mas!” Suara Nindya meninggi. Ia melihat mug kopi di meja Pradipta. Kopi itu dingin, tapi bekas sisa sedotan di bibir mug itu terlihat jelas. Dan di sana, samar-samar terlihat noda lipstik merah marun. Noda yang sama persis warnanya dengan kuku palsu yang ia temukan di laci itu.
“Jadi… dia sering ke sini ya, Mas? Pakai kuku palsu itu? Dan minum kopi dari mug kamu?” Nindya bertanya dengan suara bergetar hebat. Ia merasa mual. Pradipta terdiam, menunduk dalam. Tubuhnya tampak sedikit gemetar.
“Siapa namanya, Mas? Siapa wanita itu?” desak Nindya, air matanya mulai mengalir deras. Ia membutuhkan nama. Ia membutuhkan kebenaran, betapapun menyakitkannya.
Pradipta mengangkat kepalanya perlahan. Matanya tampak berkaca-kaca. “Dia… namanya… Bintang,” jawabnya pelan, nyaris berbisik. Dan saat itu juga, pintu kantor Pradipta tiba-tiba terbuka. Sesosok wanita berdiri di sana, tatapannya tertuju pada Nindya dan Pradipta. Wanita itu mengenakan blus berwarna cerah, rambutnya tertata rapi, dan bibirnya—terlihat sedikit basah oleh lipstik merah marun.
Babak 4 — Tatapan yang Membeku
Sosok wanita itu berdiri mematung di ambang pintu. Wajahnya, awalnya menunjukkan keterkejutan melihat pemandangan di depannya, perlahan berubah. Matanya yang tadinya lebar, kini menyipit saat melihat Nindya. Di bibirnya terukir senyum tipis, bukan senyum ramah, melainkan senyum yang lebih mirip seringai. Senyum yang membuat bulu kuduk Nindya berdiri.
Pradipta terkesiap melihat wanita itu. Ia seperti tertangkap basah, namun sekaligus merasa lega karena ia tidak lagi harus berpura-pura di depan Nindya. Ia menunduk, tidak sanggup menatap mata kedua wanita di depannya. Nindya, di sisi lain, merasa dunianya runtuh seketika. Tatapan wanita asing itu… sungguh mengintimidasi. Terlebih, wanita itu mengenakan lipstik merah marun yang sama dengan yang ia lihat di mug Pradipta.
“Jadi… ini yang kamu bilang lembur, Prad?” Suara wanita itu terdengar datar, namun mengandung nada yang menusuk. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan, melewati Nindya tanpa sedikitpun menoleh. Ia langsung menuju meja Pradipta, seolah ia pemilik tempat itu. Ia meletakkan tas tangannya di atas meja, lalu menatap Pradipta dengan pandangan tajam.
“Kenapa dia di sini?” tanya Nindya, suaranya tercekat. Ia menatap Pradipta, lalu beralih ke wanita itu. Ia mengenali wanita itu. Ia sering melihatnya di lobi atau di kantin kantor Pradipta. Dulu Nindya mengira ia adalah salah satu rekan kerja Pradipta yang cukup akrab. Tapi kini, ia menyadari bahwa kedekatan mereka jauh melampaui batas profesional.
“Nindya… ini… ini Bintang,” Pradipta akhirnya berkata, suaranya serak. “Bintang… ini Nindya, istriku.”
Bintang menoleh pada Nindya. Tatapannya penuh perhitungan. “Oh, jadi kamu istrinya? Cantik juga. Tapi… agak berantakan ya, kelihatannya,” komentar Bintang sinis, matanya melirik Nindya dari atas ke bawah. Nindya merasa dipermalukan. Ia ingin berteriak, ingin menangis, tapi entah kenapa ia hanya bisa berdiri mematung, dadanya sesak.
“Dia datang ke sini… menanyakan soal paket itu,” kata Pradipta kepada Bintang, mencoba menjelaskan situasi. “Dia menemukan… kuku palsu itu.”
Bintang tertawa kecil. Tawa yang dingin. “Kuku palsu? Oh, yang itu? Aku kira kamu sudah membuangnya, Prad. Soalnya kemarin aku lihat kuku aslimu sudah tumbuh lagi.” Ia mengedikkan bahu santai. Kuku aslinya? Nindya mengerutkan kening. Apa maksudnya? Pradipta yang tidak punya kuku palsu?
“Nggak perlu bohong, Bintang!” seru Nindya, akhirnya kehilangan kendali. Air matanya tak terbendung lagi. “Aku tahu kamu yang datang ke sini! Kamu minum kopi dari mug suami saya! Kamu pakai kuku palsu itu! Kuku itu… itu bukan buat istrimu, kan, Mas?” Nindya menatap Pradipta, matanya memohon penjelasan.
Pradipta menunduk semakin dalam. Ia menarik napas panjang. “Nindya… aku… aku minta maaf.”
Bintang menyeringai. “Permintaan maaf? Untuk apa? Karena aku pacaran sama suami kamu? Itu kan sudah biasa, Ndya. Banyak kok yang kayak kita.” Ia menyilangkan tangan di dada, tampak santai.
“Pacaran? Jadi… kamu dan Mas Pradipta… kalian…” Nindya tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ia merasa pusing. Ia meraih kursi terdekat dan duduk. Kakinya terasa lemas.
“Ya. Kami sudah lama bersama. Sejak kamu sedang hamil anak pertama dulu,” Bintang mengakui dengan gamblang. “Pradipta bosan sama kamu yang kaku. Dia butuh yang lebih… menyenangkan. Seperti aku.”
Pernyataan itu bagai palu godam menghantam kepala Nindya. Hamil anak pertama? Itu berarti… perselingkuhan itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu? Saat ia masih berjuang merawat bayi mungilnya? Rasa sakit itu terasa berlipat ganda. Ia menatap Pradipta, mencari sedikit tanda penyesalan di matanya. Tapi Pradipta hanya terlihat malu dan pasrah.
“Dan kuku palsu itu… itu bukan untukmu, Ndya. Itu buat aku. Biar aku bisa datang ke sini kapanpun tanpa takut ketahuan kamu,” lanjut Bintang, seolah menikmati penderitaan Nindya.
Tiba-tiba, mata Nindya tertuju pada sesuatu di meja Pradipta. Sebuah benda kecil tergeletak di samping bingkai foto pernikahan mereka. Benda itu adalah sebuah gantungan kunci berbentuk hati kecil berwarna perak. Nindya mengenalnya. Itu adalah gantungan kunci yang dulu pernah ia berikan pada Pradipta saat ulang tahun mereka yang ke-2. Pradipta selalu menyimpannya di dompetnya.
Tapi mengapa benda itu ada di meja kantor Pradipta? Nindya tidak pernah melihatnya lagi sejak ia hamil anak pertama. Ia biasanya hanya melihat Pradipta mengenakan gantungan kunci mobilnya.
Rasa penasaran yang baru muncul mengalahkan rasa sakit yang sedang ia rasakan. Ia bangkit dari kursi, lalu berjalan perlahan ke arah meja Pradipta. Ia meraih gantungan kunci itu.
“Ini… ini kan punya aku dulu…” gumam Nindya, tangannya gemetar. Bintang dan Pradipta menatapnya bingung. Tiba-tiba, pintu kantor kembali terbuka. Kali ini, seorang wanita lain yang masuk. Wanita itu tampak lebih muda, dan terlihat tergesa-gesa.
“Mas Pradipta! Maaf terlambat. Tadi di jalan… eh, siapa ini?” Wanita muda itu terdiam saat melihat Nindya, Bintang, dan Pradipta dalam posisi yang canggung.
Nindya menoleh pada wanita muda itu. Tatapannya tertuju pada jemari wanita itu. Di sana, di jari manis tangan kanannya, terpasang sebuah cincin pernikahan. Cincin yang sama persis dengan cincin yang terpasang di jari manis Pradipta.
Dan kemudian, Nindya melihatnya. Di leher wanita muda itu, terikat sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati kecil berwarna perak. Persis seperti gantungan kunci yang ia pegang.
Babak 5 — Ilusi Kebenaran
Dunia Nindya serasa berhenti berputar. Di hadapannya, dua wanita. Satu Bintang, yang mengaku sebagai selingkuhan suaminya selama bertahun-tahun. Satu lagi, wanita muda berwajah polos yang baru saja masuk, dan ternyata… juga memakai cincin pernikahan yang sama dengan Pradipta. Dan kalung di lehernya… liontin hati perak, persis seperti gantungan kunci di tangan Nindya. Kunci yang ia berikan pada Pradipta bertahun-tahun lalu, saat ia masih berbadan dua. Kunci yang ia kira Pradipta simpan di dompetnya.
“Kamu… kamu siapa?” tanya Nindya pada wanita muda itu, suaranya bergetar. Wanita muda itu balas menatap Nindya, kebingungan dan sedikit ketakutan terpancar di wajahnya. Ia melirik Pradipta, seolah mencari penjelasan.
Pradipta terlihat pucat pasi. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Dia… dia… Sarah. Asistenku,” jawabnya terbata-bata.
“Asisten?” Bintang mendengus. “Dia itu pacar barumu, kan, Prad? Yang kamu bilang lebih muda dan lebih mengerti kamu? Yang kamu bilang nggak serumit aku?” Bintang menatap Pradipta dengan tatapan menantang.
Sarah, wanita muda itu, terkesiap mendengar perkataan Bintang. Matanya melebar. Ia menoleh pada Pradipta, wajahnya memerah karena marah dan malu. “Apa maksud Anda? Saya… saya bukan pacar Mas Pradipta!” seru Sarah dengan suara meninggi. Ia memegang erat liontin di lehernya.
“Oh ya? Kalau begitu, kenapa kamu pakai cincin yang sama dengan Mas Pradipta? Dan liontin itu… itu kan dari aku?” tanya Nindya, menatap Sarah dengan tajam. Ia masih memegang gantungan kunci hati perak itu.
Sarah semakin panik. Ia menatap liontinnya, lalu ke gantungan kunci di tangan Nindya. “Ini… ini dari Mas Pradipta. Beliau bilang… ini hadiah untuk saya. Tapi… cincin ini…” Sarah menatap cincin di jari manisnya. “Ini bukan cincin pernikahan, Mbak. Ini hanya… cincin couple. Sama seperti yang dipakai Mas Pradipta.”
Nindya terdiam. Cincin couple? Bukan cincin pernikahan? Tapi kenapa sama persis?
“Dan kamu, Bintang,” lanjut Sarah, kini beralih menatap Bintang dengan tatapan penuh amarah. “Jangan sembarangan ngomong! Siapa bilang aku pacar Mas Pradipta?!”
Bintang tertawa sinis lagi. “Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu kok, Prad punya simpanan baru. Kamu itu cuma selingan, kan? Sama seperti Nindya dulu.”
“Cukup!” Pradipta akhirnya bersuara, suaranya serak dan penuh keputusasaan. Ia menatap kedua wanita itu bergantian. “Kalian berdua… bisakah kalian berhenti membuat masalah di kantorku?”
Nindya menatap Pradipta. ‘Masalah di kantorku?’ Kata-kata itu menusuk. Ia merasa seperti tamu tak diundang, seperti pengganggu di dalam rumah tangga yang ia kira miliknya. Ia melihat gantungan kunci hati perak di tangannya. Ingatannya melayang jauh ke masa lalu, saat ia memberikan benda itu pada Pradipta. Ia ingat dengan jelas. Saat itu, Pradipta sangat bahagia. Tapi setelah itu, ia merasa Pradipta sedikit menjauh. Ia mengira itu karena kelelahan mengurus bayi.
“Mas,” panggil Nindya pelan, menatap Pradipta. “Kapan terakhir kali kamu melihat gantungan kunci ini?”
Pradipta tampak bingung. Ia melihat gantungan kunci itu. “Itu… aku nggak tahu. Sejak kapan kamu kasih aku itu?”
Nindya menghela napas. “Aku kasih itu pas aku hamil tua, Mas. Buat pengingat… kalau kita selalu bersama, apapun yang terjadi.” Ia memegang erat gantungan kunci itu.
“Oh, yang itu…” Pradipta tampak mengingat. “Aku… aku kasih ke Sarah dulu. Buat kalungnya. Aku pikir itu cuma gantungan kunci biasa.”
Nindya tercekat. Memberikan benda sentimental miliknya… pada asistennya? Dan Bintang, yang mengaku sebagai selingkuhannya… mengapa ia menyebut Pradipta ‘bosan’ padanya? Dan mengapa ia yakin Pradipta punya simpanan baru?
“Bintang,” Nindya akhirnya bertanya. “Kamu bilang Pradipta bosan sama aku. Dan kamu bilang aku kaku. Sejak kapan kamu berpikir begitu?”
Bintang mengangkat bahu. “Ya, kan aku dengar sendiri. Pradipta sering curhat sama aku. Dia bilang kamu terlalu sempurna, terlalu teratur. Dia merindukan sesuatu yang lebih… liar.” Bintang tersenyum kecut. “Tapi ternyata… dia juga bosan sama aku. Makanya dia cari yang baru, kayak si Sarah ini.”
Nindya memejamkan mata. Jadi… selama ini, ia dikelilingi kebohongan. Bintang, yang mengaku kekasih gelap Pradipta, ternyata hanyalah seorang wanita yang juga merasa dimanfaatkan. Sarah, si asisten polos, ternyata hanya korban dari janji-janji Pradipta. Dan Pradipta sendiri… pria yang ia cintai, yang ia percayai sepenuhnya, ternyata adalah manipulatif yang lihai.
Ia melihat ke sekeliling ruangan. Kopi yang dingin, foto pernikahan mereka yang terkesan ironis, tumpukan dokumen yang entah berisi kebenaran apa. Ia merasa begitu asing di sini. Di tempat yang seharusnya menjadi tempat kerja suaminya, tapi kini terasa seperti panggung sandiwara yang rumit.
Nindya membuka kembali laci di meja Pradipta. Ia mengambil kotak merah muda berisi kuku palsu itu. Ia menggenggamnya erat. Bukan kuku palsu yang ia temukan, tapi bukti dari semua kebohongan ini. Ia menatap Pradipta, lalu Bintang, lalu Sarah. Ketiganya terlihat canggung, masing-masing dengan luka dan kebohongannya sendiri.
“Jadi… kuku palsu itu,” Nindya memulai, suaranya tenang namun tegas. “Itu milik siapa, Mas?”
Pradipta menelan ludah. Ia menatap Nindya, matanya berkaca-kaca. “Itu… itu bukan milik siapa-siapa, Ndya. Itu hanya… mainan lama Bintang. Dulu dia suka pakai… tapi sudah lama tidak terpakai.”
Nindya tertawa getir. ‘Mainan lama Bintang’? Jawaban itu justru semakin membingungkannya. Bagaimana mungkin benda yang ia beli secara online tiga minggu lalu, yang dikirim ke alamat mereka, dianggap sebagai ‘mainan lama’?
“Oh ya?” Nindya tersenyum tipis. “Kalau begitu, kenapa Mas simpan di laci rahasia, Mas? Kenapa nggak dibuang saja kalau memang sudah tidak terpakai?”
Pradipta terdiam. Ia tidak punya jawaban lagi. Bintang menatap Pradipta dengan pandangan dingin. Sarah hanya bisa menunduk, terlihat jelas merasa tidak nyaman.
Nindya menggenggam kotak kuku palsu itu lebih erat. Ia merasa seperti memegang sebuah bom waktu. Kebenaran apa lagi yang tersembunyi di balik jawaban-jawaban Pradipta yang membingungkan? Apakah kuku palsu itu benar-benar milik Bintang? Atau ada orang lain di balik ini semua?
Ia melirik gantungan kunci hati perak di tangannya. Hati yang ia berikan untuk pengingat cinta. Tapi kini, hati itu justru menjadi simbol dari segalanya yang telah hancur. Nindya merasa seperti terombang-ambing di lautan kebohongan, tanpa tahu arah mana yang benar.
Babak 6 — Bayang-bayang di Balik Cermin
Napas Nindya tersengal. Kalimat ‘mainan lama Bintang’ yang diucapkan Pradipta justru terasa seperti pukulan terakhir. Itu jelas-jelas bohong. Ia ingat detail pembeliannya. Ia ingat tanggalnya. Ia ingat pesan Pradipta tentang ‘paket’. Dan yang paling mengganjal, kenapa Bintang, yang mengaku pacar Pradipta, justru membiarkan Pradipta menyalahkan ‘mainan lama’-nya untuk menutupi jejak? Ada yang sangat tidak beres.
Ia menatap Bintang. Wanita itu kini terlihat lebih tenang, seolah ia sudah selesai dengan drama ini. Ia hanya memandang Pradipta dengan tatapan kosong. “Terserah kamu lah, Prad. Aku udah nggak peduli lagi.” Kata-kata itu terdengar seperti pengakuan kekalahan, tapi juga menyimpan ketidakpuasan.
Nindya beralih menatap Sarah. Gadis muda itu masih terlihat syok. Ia memegangi kalung berliontin hati peraknya, seolah mencari kekuatan. “Mas Pradipta, saya… saya benar-benar tidak tahu apa-apa soal ini. Saya hanya mengira itu cincin couple biasa,” ucap Sarah pelan, matanya memohon pengertian.
Pradipta menghela napas panjang. “Ya, Sarah. Aku tahu. Maafkan aku membuatmu terlibat.” Nadanya penuh penyesalan, tapi Nindya menangkap sesuatu yang lain di sana. Ada rasa lega yang tersembunyi di balik penyesalan itu. Seolah ia berhasil memindahkan sebagian bebannya.
Nindya kembali menatap kotak merah muda di tangannya. Kuku palsu itu. Ia membuka kotaknya lagi. Desainnya cukup rumit, bunga anggrek kecil di dekat kutikula. Ia mencoba mengingat. Dulu ia pernah melihat desain seperti ini, bukan? Di mana ya?
Ia teringat masa awal pernikahannya. Saat ia dan Pradipta mencoba menata rumah mereka. Suatu sore, Pradipta membantunya menata rak buku di ruang keluarga. Di antara buku-buku lama itu, ada sebuah majalah fashion tua yang ia simpan. Majalah itu berisi tips perawatan kecantikan dan tren nail art pada masanya.
Nindya lalu teringat sesuatu yang lebih spesifik. Saat ia hamil anak pertama, beberapa bulan sebelum melahirkan, ia merasa bosan di rumah. Ia mencoba membaca kembali majalah fashion itu. Ia ingat ada satu artikel tentang nail art yang sangat ia sukai. Desainnya persis seperti kuku palsu di tangannya. Ia bahkan pernah menggunting halaman itu, berniat untuk menunjukkannya pada Pradipta jika nanti ia punya kesempatan ke salon kecantikan. Tapi keburu ia melahirkan, dan halaman itu terlupakan.
Dimana ia menyimpan guntingan itu? Nindya yakin ia menyimpannya di….
“Di kotak surat di kamar yang lama, kan?” Suara Bintang tiba-tiba memecah keheningan.
Nindya menoleh pada Bintang. Kaget. “Maksud kamu?”
Bintang tersenyum getir. “Pradipta tidak pernah membuang guntingan majalahmu itu, Nindya. Dia bilang dia suka melihatmu semangat mencoba hal baru dulu. Sampai kamu mulai berubah, jadi terlalu… teratur.” Ia melirik Nindya. “Dia suka perempuan yang tidak takut kotor, tidak takut mencoba hal-hal ‘aneh’.”
Nindya menelan ludah. ‘Perempuan yang tidak takut kotor’? ‘Hal-hal aneh’? Itu justru kontras dengan apa yang dikatakan Pradipta pada Bintang sebelumnya. Seseorang pasti berbohong.
“Jadi… kamu tahu soal guntingan itu?” tanya Nindya pada Pradipta.
Pradipta mengangguk pelan. “Ya. Aku… aku ingat kamu suka sekali desain itu.” Ia lalu menatap Bintang. “Bintang yang membelikan kuku palsu itu untukku. Dia bilang dia tahu ada tempat jual yang desainnya mirip.”
Nindya mengerutkan kening. “Kenapa kamu beli itu, Mas? Buat apa?”
Pradipta memejamkan mata sejenak. “Aku… aku ingin memberimu kejutan, Ndya. Aku tahu kamu rindu masa-masa dulu, saat kamu lebih ekspresif. Aku ingin kamu kembali menjadi dirimu yang dulu. Aku beli itu untukmu.”
Nindya menggelengkan kepala. Ini semakin aneh. Pradipta membeli kuku palsu untuknya? Atas saran Bintang? Dan ia menyimpannya di laci rahasia?
Tiba-tiba, Nindya teringat lagi. Ia membuka ponselnya. Ia membuka aplikasi Shopee. Ia kembali ke Wishlist-nya. Ia menggeser layar ke bawah. Dan di sana, di bawah desain bunga anggrek yang sama persis, ada sebuah produk lain yang ia simpan. Produk yang ia lihat sekilas saat itu, tapi tidak terlalu ia perhatikan. Sebuah produk kecantikan lain.
Ia mengkliknya. Tampilan produk muncul. Itu adalah… pewarna bibir cair, dalam warna merah marun yang sangat khas. Deskripsinya sangat jelas: ‘Tahan lama, transferproof, cocok untuk segala acara.’ Dan gambar model yang menggunakannya… memiliki kuku palsu yang sama persis dengan yang ada di kotak itu.
Nindya menatap layar ponselnya, lalu menatap Bintang, lalu menatap Pradipta. Kebingungan mulai mereda, digantikan oleh sebuah kesadaran yang dingin dan menusuk.
“Bintang,” kata Nindya, suaranya tenang namun penuh ketegasan. “Kamu bilang kamu tahu tempat jual kuku palsu itu. Kamu bilang kamu membelikannya untukku. Tapi… aku lihat di sini,” Nindya menunjukkan layar ponselnya pada Bintang, “ada produk lain yang dijual di toko yang sama. Pewarna bibir merah marun. Dan modelnya memakai kuku palsu ini.”
Bintang terlihat sedikit terkejut, tapi kemudian ia mengendalikan ekspresinya. “Ya, dan kenapa? Itu kan cuma kebetulan.”
“Kebetulan?” Nindya tersenyum kecil. “Mas Pradipta bilang dia ingin aku kembali jadi diriku yang dulu. Tapi kenapa dia menyimpannya di laci rahasia? Dan kenapa kamu yang membelikannya, Bintang?” Nindya kini menatap Pradipta. “Mas, apa kamu yakin Bintang yang membelikan kuku palsu itu? Apa kamu yakin itu untukku?”
Pradipta ragu-ragu. Ia melirik Bintang. Bintang menggelengkan kepala sedikit, sebuah isyarat tak terlihat yang hanya mereka berdua yang mengerti. “Aku… aku yakin, Ndya. Bintang bilang dia ingin membantuku memberimu kejutan.”
Nindya menghela napas panjang. Ia sudah mengerti sekarang. Pradipta memang manipulatif, tapi bukan dalam cara yang ia duga. Bintang, yang merasa dikhianati oleh Pradipta, mungkin punya motif tersembunyi. Dan Sarah… gadis itu jelas hanyalah korban keadaan.
Nindya meletakkan kotak kuku palsu itu kembali ke laci. Ia tidak lagi merasa jijik atau marah. Yang ia rasakan adalah kekecewaan mendalam. Ia menatap Pradipta.
“Jadi… ini semua tentang kuku palsu dan lipstik itu ya, Mas?” tanya Nindya, suaranya terdengar lelah. “Kamu ingin aku… jadi seperti siapa?”
Pradipta terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Ia hanya menunduk. Bintang mendengus pelan. Sarah masih terlihat bingung.
Nindya lalu menatap Bintang. “Kamu bilang Pradipta bosan sama aku. Dan dia bosan sama kamu. Lalu… kenapa kamu masih di sini, Bintang? Kenapa kamu nggak pergi saja?”
Bintang tersenyum tipis. “Aku di sini karena… aku ingin melihat sampai sejauh mana kebohonganmu, Prad. Dan aku ingin memastikan… kamu tidak mendapatkan apa yang kamu mau.”
Nindya merasa seperti sedang menyaksikan pertunjukan sandiwara yang sangat rumit, di mana setiap aktor memiliki motif tersembunyi. Ia meraih gantungan kunci hati perak dari tangannya. Ia melihatnya dengan lekat. Hati perak yang dulu melambangkan cintanya. Kini terasa begitu berat.
Ia menatap Pradipta sekali lagi. “Mas, aku rasa… aku rasa kita perlu bicara. Tapi bukan di sini.”
Pradipta mengangkat wajahnya, matanya mencari jawaban di wajah Nindya. “Maksudmu?”
Nindya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih terlihat seperti kesedihan yang mendalam. “Maksudku… aku rasa, aku sudah tahu jawabannya. Tapi aku perlu tahu… dari mulutmu sendiri.” Ia lalu berjalan keluar ruangan, meninggalkan Pradipta, Bintang, dan Sarah dalam kebingungan mereka masing-masing. Ia masih memegang kotak kuku palsu itu di tangannya. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Tapi satu hal yang pasti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Babak 6 — Gema di Lorong Waktu
Langkah Nindya terasa berat saat ia keluar dari gedung perkantoran Pradipta. Udara Jakarta yang lembap terasa menusuk kulitnya, namun tak sedingin rasa dingin yang merayapi hatinya. Ia masih menggenggam kotak merah muda berisi kuku palsu itu. Benda itu kini terasa seperti sebuah relikui, saksi bisu dari sebuah kebenaran yang terbelit dusta. Ia tidak tahu apakah Pradipta benar-benar ingin ia kembali menjadi dirinya yang dulu, atau itu hanyalah alasan palsu untuk menutupi semua kebohongannya.
Ia memesan GoCar lagi, kali ini tujuannya adalah kafe langganannya di daerah Kemang. Ia perlu tempat yang tenang, tempat untuk berpikir. Di sepanjang perjalanan, ia terus memutar ulang percakapan di kantor Pradipta. Pernyataan Bintang tentang bosan, pengakuan Pradipta tentang hadiah kejutan, dan kebingungan Sarah. Semuanya terasa seperti potongan puzzle yang tidak pas. Mengapa Bintang menyalahkan Pradipta jika ia tahu Pradipta membeli kuku palsu itu?
Saat tiba di kafe, Nindya memilih sudut yang paling terpencil. Ia memesan segelas es teh jumbo, lalu duduk termenung. Ia membuka kembali ponselnya, membuka galeri. Ia mencari foto-foto lamanya, foto-foto saat ia masih menjadi mahasiswi. Foto-foto saat ia sering mencoba gaya rambut baru, saat ia senang berdandan, saat ia merasa hidup penuh kemungkinan. Wajahnya di foto-foto itu terlihat lebih muda, lebih ceria, lebih… liar, seperti yang dikatakan Bintang.
Lalu ia teringat lagi percakapan Pradipta dan Bintang. “Pradipta sering curhat sama aku. Dia bilang kamu terlalu sempurna, terlalu teratur. Dia merindukan sesuatu yang lebih… liar.” Kalimat Bintang itu bergema di telinganya. Mungkinkah Bintang mengatakan itu karena ia tahu tentang masa lalu Nindya yang lebih ‘liar’?
Nindya mencoba menelusuri lebih jauh di Shopee. Ia mencari toko yang menjual kuku palsu dan lipstik merah marun itu. Ia menemukannya. Toko bernama ‘Glo & Glow Beauty’. Ia melihat produk-produk lain di sana. Ada banyak sekali desain kuku palsu, dengan berbagai macam warna lipstik yang serasi. Dan ia melihat ulasan dari pembeli.
Salah satu ulasan menarik perhatiannya. Ditulis oleh akun bernama ‘Bintang_Lucky’. Isinya, “Barang bagus, sesuai deskripsi. Terima kasih seller!” Ulasan itu dikirimkan dua bulan lalu. Nindya merasa ada sesuatu yang ganjil. Jika Bintang benar-benar tahu Pradipta membeli kuku palsu itu untuk Nindya, mengapa ia menulis ulasan di toko itu? Dan mengapa ia tidak langsung memberikannya pada Nindya?
Nindya kemudian teringat satu detail kecil dari kantor Pradipta. Saat ia duduk, ia melihat bingkai foto pernikahan mereka. Di sampingnya, ada tumpukan dokumen. Di antara tumpukan itu, ada sebuah map berwarna biru tua yang sama persis dengan yang dilihat Pradipta saat Nindya pertama kali datang. Dan di sudut map itu, ia melihat logo sebuah perusahaan. Perusahaan yang berbeda dari perusahaan tempat Pradipta bekerja.
Sebuah ide muncul di benak Nindya. Ia membuka aplikasi Tokopedia. Ia mencari perusahaan itu. Ternyata perusahaan itu adalah sebuah perusahaan konsultan keuangan. Dan ia melihat profilnya. Mereka sering bekerja sama dengan perusahaan lain dalam proyek-proyek besar.
Nindya lalu membuka aplikasi pesan di ponselnya lagi. Ia mencari kontak bernama ‘Bintang’. Bukan dari percakapan dengan Pradipta, tapi kontak yang ia simpan dari pesan yang sering muncul di notifikasi Pradipta. Ia melihat profil Bintang. Foto profilnya adalah seorang wanita dengan kuku merah marun mencolok dan lipstik senada. Khas. Tapi bukan Bintang yang ia lihat di kantor Pradipta. Wanita di foto profil itu terlihat lebih muda, dan ekspresinya… lebih licik.
Nindya memberanikan diri untuk membuka percakapan dengan ‘Bintang’. Pesan-pesan di sana terlihat aneh. Ada banyak percakapan mengenai ‘proyek’, ‘biaya’, dan ‘komisi’. Lalu, ada percakapan tentang ‘keuangan’ dan ‘pengeluaran’. Nindya membaca lebih lanjut. ‘Kapan kita bisa bertemu lagi untuk membahas soal pembayaran?’ tanya Bintang. Dan balasan dari nomor Pradipta: ‘Minggu depan ya. Ada beberapa detail yang harus kita selesaikan.’
Nindya merasa semakin bingung. ‘Bintang’ yang ia temui di kantor Pradipta, yang mengaku sebagai selingkuhan Pradipta, apakah dia orang yang sama dengan pemilik akun Shopee dan kontak pesan ini?
Ia teringat lagi percakapan di kantor. Bintang bilang, Pradipta curhat padanya. Dan Bintang bilang Pradipta ingin Nindya lebih ‘liar’. Tapi, Bintang sendiri yang punya toko online ‘Glo & Glow Beauty’? Yang menjual kuku palsu dan lipstik?
Nindya kemudian menyadari sesuatu yang sangat krusial. Bintang yang ia temui di kantor itu, mungkin bukan Bintang yang sebenarnya. Mungkin wanita itu hanya disewa, atau dipaksa, untuk memerankan peran itu. Lalu, siapa Bintang yang sebenarnya?
Ia membuka kembali foto di profil ‘Bintang_Lucky’ di Shopee. Wanita itu… terlihat sangat mirip dengan Bintang yang ia temui di kantor Pradipta. Tapi, ekspresinya berbeda. Wanita di foto itu terlihat lebih ceria, lebih polos. Tidak ada keseringaian licik yang ia lihat di wanita di kantor Pradipta.
Mungkin saja, wanita yang ia temui di kantor Pradipta adalah Bintang yang asli, dan wanita di foto profil Shopee itu adalah… klien Pradipta dalam urusan keuangan? Tapi mengapa mereka memiliki nama yang sama?
Nindya merasakan kepalanya pening. Ia menenggak habis es tehnya. Ia melirik kotak kuku palsu itu. Ia membuka aplikasi DANA. Ia mencoba mencari transaksi yang berkaitan dengan ‘Glo & Glow Beauty’ dalam beberapa bulan terakhir. Dan ia menemukannya. Sebuah transaksi dari akun bernama ‘Bintang Cahyani’, sebesar Rp 250.000, tanggal dua bulan lalu. Deskripsinya: ‘Down payment untuk paket kuku & bibir’.
Nindya menarik napas dalam-dalam. ‘Bintang Cahyani’. Nama itu….
Ia membuka kembali kontak Pradipta di ponselnya. Ia mencari nama ‘Bintang’. Dan di sana, terpampang jelas nama kontak itu: ‘Bintang Cahyani (Konsultan Keuangan)’.
Nindya memejamkan mata. Jadi, ‘Bintang’ yang selama ini Pradipta terima teleponnya, yang dia bilang klien, adalah Bintang Cahyani, konsultan keuangannya. Dan wanita yang datang ke kantor Pradipta tadi… entah siapa dia.
Tapi bagaimana dengan kuku palsu itu? Mengapa dikirim ke rumah mereka? Mengapa Pradipta menyimpannya di laci rahasia? Mengapa ia mengaku membelikannya untuk Nindya, padahal ia tak pernah menunjukkannya?
Nindya membuka kembali foto pernikahan mereka di ponselnya. Hati perak di liontin yang ia berikan pada Pradipta. Ia pernah menunjukkannya pada Pradipta saat mereka pertama kali mengikat janji. Pradipta bilang ia menyimpannya. Tapi mengapa Sarah memakai kalung dengan liontin yang sama?
Ia kembali membuka profil Sarah di aplikasi pesan. Ia melihat foto profil Sarah. Dan ia melihat liontin di lehernya. Hati perak yang sama.
Nindya merasa dunianya berputar. Bukan Bintang yang selingkuh dengan Pradipta. Bukan Sarah yang diam-diam menjadi pacar gelapnya. Semuanya terasa jauh lebih rumit.
Ia merasa seperti sedang memegang kunci, tapi tidak tahu pintu mana yang harus ia buka. Kebenaran apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kuku palsu dan lipstik merah marun itu?
