Cerpen: Dompet Suami Ternyata Menyimpan Kisah Rahasia yang Tak Terduga

Cerpen: Dompet Suami Ternyata Menyimpan Kisah Rahasia yang Tak Terduga

CERITA PENDEK

Cerpen: Dompet Suami Ternyata Menyimpan Kisah Rahasia yang Tak Terduga

Babak 1 — Aroma Teh Melati yang Menyesatkan

Jatmiko selalu menganggap dirinya suami yang ideal. Setidaknya, di matanya sendiri. Ia bangun pagi, meminum kopi tubruk buatannya sendiri yang sedikit kegetiran di lidah, lalu bersiap menuju kantor. Setiap pagi, ia mencium aroma teh melati yang samar menguar dari ruang tengah, aroma yang dibawa oleh istrinya, Reswari, dari ibunya di kampung. Reswari, dengan segala kesederhanaannya, adalah jangkar yang menahan Jatmiko tetap berpijak di bumi. Ia tidak pernah menuntut lebih dari apa yang bisa diberikan Jatmiko. Pun saat Jatmiko harus pulang larut malam karena urusan pekerjaan di area Kemang yang seringkali macet parah, Reswari hanya akan menyambutnya dengan senyum lelah dan secangkir air hangat. Jatmiko membalasnya dengan belaian singkat di pipi, perasaan bersalah sekaligus lega bercampur aduk. Ia mencintai Reswari. Tentu saja. Siapa lagi yang mau bersusah payah merawat anak mereka yang masih kecil, Galih, dengan penuh kesabaran?

Hari itu adalah Kamis, hari yang biasa saja. Jatmiko merasa sedikit tidak enak badan sejak pagi, kepalanya berdenyut pelan. Ia berencana untuk pulang lebih awal. Setelah menyelesaikan laporan mingguan di meja kerjanya yang selalu rapi—ia membenci kekacauan—ia bangkit dari kursi. Suara ketikan keyboard dari meja sebelah terdengar seperti dengungan serangga. Ia melirik sekilas ke arah Nindya, juniornya yang seringkali membuatnya sedikit tergelitik dengan caranya yang begitu bersemangat menyelesaikan setiap tugas. Nindya selalu terkesan terburu-buru, seperti takut ketinggalan sesuatu. Jatmiko tersenyum tipis. Ia lebih suka ketenangan. Ia melambaikan tangan pada rekan-rekannya dan bergegas keluar gedung, menyusuri trotoar Senen yang ramai dengan pedagang kaki lima. Bau seblak dan mie ayam menguar di udara, bercampur dengan asap kendaraan. Ia memesan GoCar untuk membawanya pulang lebih cepat.

Setibanya di rumah, Reswari sedang menemani Galih bermain balok di lantai ruang keluarga. Suara tawa riang Galih langsung meredakan sedikit pening di kepala Jatmiko. Reswari mendongak, senyumnya melebar melihat Jatmiko pulang lebih awal. “Kok sudah pulang, Mas? Sakit?” tanyanya lembut sambil berdiri mendekat. Ia mengusap dahi Jatmiko dengan punggung tangannya. “Agak demam ya, Mas. Istirahat saja.” Jatmiko hanya mengangguk. Ia duduk di sofa, membiarkan Reswari menyelimutinya dengan selimut tipis. “Aku mau mandi dulu, Neng. Badan rasanya lengket sekali.” Ia bangkit dan menuju kamar. Di kamar, ia membuka pakaiannya dan meletakkannya di keranjang cucian. Dompet kulitnya yang agak usang ia keluarkan dari saku celana, berniat menyimpannya di laci nakas. Tangannya yang sedikit gemetar meraih dompet itu, dan saat ia membukanya untuk mengeluarkan KTP, ada sesuatu yang jatuh dari salah satu sekatnya. Sebuah benda kecil, terlipat rapi, tersembunyi di antara kartu-kartu ATM dan SIM.


Babak 2 — Kejanggalan yang Menggerogoti

Benda itu adalah sebuah struk parkir. Sekilas, tidak ada yang aneh. Hanya sebuah bukti pembayaran parkir yang sudah lumrah Jatmiko dapatkan setiap kali ia berbelanja atau menghadiri rapat di luar kantor. Namun, ada yang janggal. Struk itu terlipat sangat rapi, bukan seperti biasa Jatmiko melipatnya asal setelah selesai menggunakan. Ada sedikit bekas lipatan yang tegas di sana, seolah sengaja disimpan. Jatmiko mengambilnya dengan ujung jari, membukanya perlahan. Kertas thermal yang sedikit pudar itu memuat informasi pembayaran parkir sebuah pusat perbelanjaan di daerah selatan Jakarta. Tanggalnya adalah dua hari yang lalu, Rabu malam. Jatmiko mengerutkan kening. Rabu malam, ia ingat betul. Ia berada di rumah. Ia bahkan makan malam bersama Reswari dan Galih, lalu menonton kartun bersama Galih sebelum istrinya menidurkan si kecil.

Ia membandingkan detail struk itu dengan ingatannya. Jam pembayaran parkir itu pukul 20:15. Jatmiko ingat, pada jam tersebut ia sedang membantu Galih merakit mainan robotnya di lantai. Ia melihat kembali struk itu, matanya menelusuri setiap detail. Nama pusat perbelanjaan itu adalah “Plaza Cilandak”. Jatmiko belum pernah ke sana dalam beberapa bulan terakhir. Ia lebih sering berada di kantor hingga larut atau mengunjungi pusat perbelanjaan di dekat rumahnya saja. Tangannya mulai terasa dingin. Ia membuka sekat dompet yang lain, tempat ia biasanya menyimpan bukti-bukti penting atau kartu nama yang sekiranya akan berguna. Kosong. Lalu ia memeriksa sekat kartu hadiah yang ia dapatkan dari klien bulan lalu. Masih utuh. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ia pernah pergi ke Plaza Cilandak beberapa waktu lalu dan lupa. Tidak ada.

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Mungkin ini hanya kebetulan. Mungkin ia menemukan struk itu di jalanan dan tanpa sadar menyimpannya. Tapi cara melipatnya? Rapi sekali. Jatmiko bukan orang yang perfeksionis, ia cenderung abai pada detail kecil. Reswari lah yang selalu mengingatkannya untuk merapikan barang-barangnya. Jatmiko merasa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia memasukkan kembali struk itu ke dalam dompet, lalu menutupnya dengan gerakan yang terasa berat. Ia beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju jendela kamar. Di luar, langit mulai menggelap. Ia melihat ke arah ruang keluarga, mendengar suara Reswari yang sedang membacakan cerita untuk Galih. Suara istrinya terdengar begitu tenang, begitu damai. Namun, ketenangan itu kini terasa seperti racun baginya. Ia merasakan getaran aneh di tangannya, getaran yang bukan berasal dari demamnya.


Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan Pahit

Pikiran Jatmiko terus berputar. Struk parkir itu terus terbayang di benaknya. Ia mencoba mencari bukti lain di dompetnya, tapi tidak ada apa pun yang mencurigakan. Kartu-kartu tersusun rapi, uang tunai secukupnya. Ia kemudian teringat tentang aplikasi dompet digital yang mereka gunakan. DANA. Ia jarang menggunakannya untuk transaksi di luar belanja bulanan, namun ia tahu Reswari sering memakainya untuk membeli pulsa atau membayar tagihan listrik via PLN Mobile. Jatmiko mengambil ponselnya, membuka aplikasi DANA. Ia masuk ke riwayat transaksi. Tanggal dan waktu pada struk parkir itu tertera jelas di ponselnya. Ia mencari transaksi yang sesuai dengan lokasi Plaza Cilandak pada hari Rabu malam. Tidak ada.

Ia semakin bingung. Kalau bukan transaksi DANA, apakah itu pembayaran tunai? Jelas saja struknya ada. Tapi kenapa ia tidak ingat sama sekali? Jatmiko mulai merasakan sesuatu yang dingin merayapi tulang punggungnya. Ia mencoba membuka galeri fotonya. Ada banyak foto Galih, foto liburan mereka tahun lalu di Anyer, foto-foto kantor. Ia scroll ke bawah, mencari foto-foto yang diambil pada hari Rabu malam. Hanya foto Galih yang sedang tertidur pulas di pangkuannya. Tidak ada jejak kepergiannya keluar rumah.

Tiba-tiba, sebuah kenangan pahit muncul. Dulu, bertahun-tahun lalu, sebelum ia menikah dengan Reswari, ia pernah dekat dengan wanita lain. Namanya Kirana. Kirana adalah tipe wanita yang berbeda. Ia modis, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia mau. Jatmiko sempat tergila-gila padanya. Namun, hubungan mereka kandas karena perbedaan pandangan hidup. Kirana ingin menikah segera, sementara Jatmiko merasa belum siap. Ia ingat, sekali waktu, Kirana pernah mengajaknya pergi ke Plaza Cilandak. Saat itu, mereka parkir di basement. Jatmiko pernah menyimpan struk parkir mereka berdua di dompetnya, sebagai kenang-kenangan. Namun, struk itu sudah lama ia buang ketika ia memutuskan untuk serius dengan Reswari. Apa hubungannya ini? Jatmiko menggelengkan kepala. Ia tidak boleh menghubung-hubungkan sesuatu yang tidak relevan. Tapi rasa curiga itu terus membayangi.


Babak 4 — Kejutan di Balik Ponsel

Jatmiko duduk termenung di tepi ranjang. Ia menatap dompet itu lagi. Ia meraih ponselnya sekali lagi. Ia mencoba mengingat semua kemungkinan. Mungkin struk itu milik orang lain yang tak sengaja jatuh ke dompetnya saat ia di kantor? Tapi itu tidak masuk akal. Ia lalu teringat bahwa Reswari seringkali meminjamkan ponselnya jika ponsel Jatmiko tertinggal atau kehabisan baterai. Terutama saat mereka berada di luar rumah. Apakah Reswari pernah meminjam ponselnya pada Rabu malam? Ia mencoba mengingat percakapan mereka hari itu. Tidak ada yang aneh. Reswari hanya meminta Jatmiko untuk mengambilkan biskuit di dapur.

Lalu Jatmiko teringat satu hal lagi. Reswari punya kebiasaan menyimpan segala macam kertas kecil di dalam tasnya. Struk belanja, nota kecil, tisu bekas. Jatmiko pun pernah menegurnya karena tas Reswari terlihat berantakan. Apakah mungkin struk itu milik Reswari? Tapi kenapa ada di dompetnya? Jatmiko meraih ponselnya, membuka aplikasi chat. Ia mencari percakapan dengan Reswari. Ia melihat-lihat foto-foto yang dikirimkan Reswari kepadanya. Foto Galih sedang tertidur, foto masakan Reswari. Lalu ia mengklik bagian “Dokumen”. Ia ingat, kadang Reswari mengirimkan foto struk belanjaan kepadanya agar Jatmiko tahu ia sudah membeli apa saja. Ia scroll ke bawah. Di sana, ada beberapa foto struk, tapi semuanya adalah struk belanja kebutuhan rumah tangga dari supermarket dekat rumah. Tidak ada yang dari Plaza Cilandak.

Jatmiko merasa frustrasi. Ia membuka kembali dompetnya. Ia mengeluarkan struk parkir itu lagi. Matanya tertuju pada detail kecil di bagian bawah struk, di samping nomor registrasi kendaraan. Ada tulisan kecil, seperti kode unik. Ia mengetikkan kode itu di kolom pencarian Google, berharap menemukan informasi apa pun. Hasilnya nihil. Jatmiko menghela napas panjang. Ia merasa lelah dengan segala teka-teki ini. Ia bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk menghampiri Reswari di ruang keluarga, sekadar untuk mendengar suara tawa Galih lagi. Ia membuka pintu kamar. Tepat di ambang pintu, ia melihat Reswari berdiri di sana, punggungnya menghadap Jatmiko. Ia sedang memegang ponselnya sendiri, dan di tangannya ada sebuah struk parkir yang sama persis dengan yang ada di dompet Jatmiko. Reswari tampak menunduk, bahunya sedikit berguncang. Dari balik punggungnya, Jatmiko mendengar suara isak tangis yang tertahan.


Babak 5 — Di Bawah Selimut Kebohongan

Napas Jatmiko tercekat. Ia terpaku di ambang pintu. Ia melihat Reswari memegang struk itu, lalu ia melihat ponsel di tangan istrinya. Di layar ponsel Reswari, terpampang sebuah aplikasi ride-sharing. Jatmiko mengenali logo aplikasi itu. Itu adalah aplikasi yang sering ia gunakan saat memesan GoCar. Ia melihat detail transaksi di layar ponsel Reswari. Tanggalnya sama. Waktu pembayaran parkirnya sama. Namun, nama penggunanya tertulis berbeda. Bukan namanya. Nama penggunanya adalah… nama seorang wanita. Nama wanita yang tidak pernah Jatmiko dengar sebelumnya. Ia juga melihat detail mobil yang tertera, nomor platnya. Nomor plat itu bukan nomor plat mobil Jatmiko.

Reswari mendongak, seolah merasakan kehadiran Jatmiko. Air mata membasahi pipinya. Wajahnya pucat pasi. Ia terkejut melihat Jatmiko berdiri di sana. Struk parkir itu terjatuh dari tangannya, mendarat tanpa suara di lantai. “Mas… Jatmiko?” suaranya bergetar. Jatmiko tidak menjawab. Ia hanya menatap Reswari, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. “Itu… itu bukan apa-apa, Mas,” ucap Reswari lirih, berusaha meraih struk yang terjatuh. “Aku… aku cuma…” kalimatnya terputus. Ia tidak bisa melanjutkan. Ia kembali menunduk, bahunya semakin bergetar.

Jatmiko melangkah masuk ke kamar. Ia mendekati Reswari. Ia melihat layar ponsel istrinya lagi. Di bawah detail transaksi itu, ada sebuah foto profil. Foto seorang wanita muda, tersenyum cerah. Di sampingnya, ada foto dirinya. Jatmiko teringat foto lama yang ia simpan di komputernya, foto dirinya saat masih kuliah. Di bawah foto itu, ada tulisan yang sangat singkat: “Untuk yang terkasih, selalu.” Jatmiko merasa seperti ditampar. Ini bukan struk parkir sembarangan. Ini adalah bukti dari sebuah janji. Janji yang ia buat bertahun-tahun lalu, di bawah langit yang sama, di tempat yang berbeda. Janji yang ia kira sudah terkubur selamanya. Ia menatap Reswari, lalu kembali menatap foto di layar ponsel itu. Ia bertanya-tanya, apakah selama ini, ia tidak hanya berbohong kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada wanita yang ia cintai?