Cerita Rumah Tangga: Bukan Soal Dompet Kosong, Ini yang Ditemukan Hanindita Bikin Jiwanya Mati Perlahan

Cerita Rumah Tangga: Bukan Soal Dompet Kosong, Ini yang Ditemukan Hanindita Bikin Jiwanya Mati Perlahan

CERITA PENDEK

Cerita Rumah Tangga: Bukan Soal Dompet Kosong, Ini yang Ditemukan Hanindita Bikin Jiwanya Mati Perlahan

Babak 1 — Kehidupan yang Terasa Sempurna di Permukaan

Hanindita menarik napas panjang, aroma kopi tubruk yang baru diseduh menyeruak memenuhi dapur mungilnya. Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, ia mencoba membangun rutinitas yang sama. Meletakkan nasi uduk bungkus daun pisang di samping piring sarapan suaminya, Wiranata, yang belum juga beranjak dari kamar. Jam menunjukkan pukul 07.15. Ia selalu berangkat agak siang, katanya kliennya di kawasan SCBD itu baru ramai setelah jam sembilan. Hanindita tidak pernah benar-benar mengerti dunia Wiranata yang penuh angka dan tenggat waktu, tapi ia percaya. Ia percaya pada janji-janji suaminya yang selalu diucapkan dengan tatapan mata tulus itu.

‘Sayang, nanti aku pinjam mobil ya. Punyaku mau sekalian aku servis.’ Kalimat itu sudah seperti mantra yang diucapkan setiap dua minggu sekali. Hanindita tidak pernah protes. Toh, ia jarang keluar rumah. Paling banter ke minimarket depan kompleks atau memesan kebutuhan pokok via Tokopedia. Jadi, mobil itu lebih banyak terparkir rapi di garasi. Wiranata beralasan itu untuk efisiensi, agar ia tidak perlu repot urus bengkel sendiri.

‘Bunda! Aku berangkat sekolah ya!’ Suara cempreng putra semata wayang mereka, Bima, memecah keheningan. Hanindita tersenyum, menyeka tangannya yang basah ke celemek. ‘Hati-hati di jalan, Nak. Jangan lari-lari kalau di sekolah nanti.’ Ia mengantar Bima sampai gerbang, melihat seragam putih birunya yang sedikit kusut itu melenggang pergi. Khas anak kelas enam SD. Penuh semangat sekaligus sedikit malas.

Di depannya, Wiranata akhirnya muncul. Kemeja batiknya sedikit berantakan, rapi namun terasa terburu-buru. Rambutnya masih agak basah. Ia tersenyum pada Hanindita, senyum yang dulu membuat Hanindita jatuh cinta, senyum yang kini terasa sedikit asing. ‘Sudah siap sarapanku? Aku agak terlambat nih.’

‘Sudah, Mas. Nasi uduknya masih hangat.’ Hanindita menunjuk piring di meja. Wiranata melirik sekilas, mengambil roti tawar dari toples, mengoleskan selai cokelat tipis-tipis, lalu melahapnya sambil memainkan ponsel. ‘Nanti aku titip anterin Bima ke sekolah ya, Sayang. Keburu ketinggalan.’

‘Nggak usah, Mas. Dia sudah berangkat.’ Hanindita merasakan sengatan kecil di ulu hatinya. Kebiasaan Wiranata yang sering lupa detail kecil ini memang kadang membuatnya kesal. Bukan hal besar, tapi akumulasinya membuat rasa aman Hanindita sedikit tergerus. Ia hanya bisa tersenyum tipis. ‘Sudah aku titip Pak RT tadi.’

Wiranata mengangkat bahu. ‘Ya sudah, aku berangkat duluan ya.’ Ia berdiri, mengambil kunci mobil yang tergantung di dekat pintu. Tapi tangannya berhenti sejenak di atas tas kerja kulitnya yang tergeletak di kursi. Seolah teringat sesuatu. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah struk parkir. Hanindita tidak terlalu memperhatikan, ia sedang sibuk membersihkan sisa remah roti di meja. Wiranata melipat struk itu, memasukkannya kembali ke saku celana, lalu bergegas keluar.

Hanindita menghela napas lagi. Kopi paginya terasa pahit. Ia selalu merasa ada yang tidak pas, tapi tidak tahu apa. Kehidupan mereka terlihat baik-baik saja. Finansial aman, rumah tangga harmonis di mata tetangga, anakpun penurut. Namun, ada kabut tipis yang enggan hilang dari pandangan Hanindita. Ia berharap itu hanya perasaannya saja.


Babak 2 — Struk Parkir yang Memulai Segalanya

Pukul tiga sore. Wiranata menelepon, suaranya terdengar sedikit lelah. ‘Sayang, aku nggak bisa jemput Bima. Ada rapat mendadak, jam empat.’ Hanindita yang sedang menyiram tanaman hias di teras belakang hanya mengangguk pasrah. ‘Ya sudah, nanti biar aku titip Pak RT lagi.’ Ia sudah hafal skenario ini. Wiranata selalu punya alasan mendesak. ‘Maaf ya, Sayang. Kamu tahu kan, tanggung jawabku sebagai kepala keluarga.’ Kalimat itu lagi. Selalu kalimat itu.

Setelah telepon ditutup, Hanindita kembali masuk ke dalam rumah. Ia berjalan ke arah meja makan, di mana tas kerja Wiranata tergeletak begitu saja setelah suaminya meninggalkannya pagi tadi. Seharusnya ia tidak perlu menyentuhnya, tapi ada dorongan aneh yang membuat tangannya bergerak. Mungkin karena Wiranata lupa membawanya. Ia hanya ingin menaruhnya di lemari di ruang kerja suaminya.

Tangannya meraih gagang tas itu, merasakan dinginnya kulit asli. Berat. Pasti banyak dokumen penting di dalamnya. Ia mengangkat tas itu, berniat membawanya ke ruang kerja. Tapi saat ia hendak beranjak, sesuatu jatuh dari saku samping tas yang sedikit terbuka. Sebuah struk parkir.

Hanindita membeku. Struk parkir? Wiranata selalu mengatakan ia jarang parkir di gedung perkantoran karena selalu ada jatah parkir khusus untuknya. Kalaupun terpaksa, struk itu selalu ia berikan padanya untuk dicatat pengeluarannya, sebagai bukti ia betul-betul bertemu klien.

Tangan Hanindita gemetar saat meraih struk itu. Bukan karena syok berat yang meledak-ledak, tapi lebih pada rasa dingin yang merayap perlahan di punggungnya. Ia membalik struk itu. Tertera jelas: ‘Parkir Terpadu Gedung Soka, Lantai P2’. Di bawahnya, tanggal dan jam: hari ini, pukul 10.45. Struk itu lebih panjang dari struk parkir biasa. Ada daftar item barang yang dibeli. ‘Kopi Latte Grande: Rp 45.000’, ‘Croissant Almond: Rp 38.000’, ‘Air Mineral Botol Kecil: Rp 15.000’. Totalnya sekitar Rp 98.000.

Jantung Hanindita berdebar lebih cepat. Wiranata tidak pernah membeli kopi semahal itu. Ia lebih suka kopi tubruk buatannya atau sekadar es teh jumbo di warung dekat kantor. Croissant almond? Itu bukan seleranya sama sekali. Dan… ia tidak pernah mengatakan akan pergi ke Gedung Soka hari ini. Itu bukan area kliennya.

Hanindita duduk terdiam di kursi makan. Ia memandangi struk itu, berulang kali. Ia merasa seperti sedang bermimpi buruk. Tapi rasa dingin itu semakin nyata. Ia mencoba mengingat-reka, apakah Wiranata pernah menyebut Gedung Soka? Tidak. Sama sekali tidak. Tangannya mulai dingin. Ia mengusap-usap sisi struk itu, mencari informasi lain. Nama kasir, nomor transaksi. Semuanya biasa saja. Yang tidak biasa adalah… kebenarannya.


Babak 3 — Jejak Digital yang Terlalu Jelas

Hanindita bangkit dari kursinya. Ia tak bisa duduk diam lagi. Pikirannya berputar cepat. Gedung Soka. Di mana itu? Ia membuka aplikasi peta di ponselnya. Ternyata tidak terlalu jauh dari kantor Wiranata, hanya berbeda beberapa blok. Di Gedung Soka itu, ada sebuah kafe bernama ‘Kopi Sore’ dan sebuah butik kecil.

‘Pasti hanya kebetulan,’ bisiknya pada diri sendiri. Ia mencoba meyakinkan hatinya. Mungkin Wiranata mampir sebentar setelah rapat, untuk membeli sesuatu. Tapi kenapa ia tidak pernah cerita? Kenapa ia harus menyembunyikan struk parkir sekecil ini?

Ia membuka aplikasi perpesanan miliknya. Maseko, nama kontak suaminya. Terakhir aktif tadi pagi. Hanindita ragu. Mau bertanya apa? ‘Mas, kamu ke Gedung Soka tadi?’ Kedengarannya seperti tuduhan. Ia tahu ia terlalu perfeksionis dan selalu ingin tahu segalanya, tapi kali ini rasa curiga itu begitu kuat, menusuk seperti duri.

Ia lalu teringat pesan di struk itu. Kopi Latte Grande dan Croissant Almond. Itu pasti dibeli di kafe. Ia membuka aplikasi pesan antar makanan andalannya, GoFood. Ia mencari ‘Kopi Sore’ di Gedung Soka. Ada. Ia membuka daftar menu. Ya, ada Latte Grande dan Croissant Almond.

Kemudian, matanya tertuju pada fitur histori pemesanan. Hanindita bukanlah pengguna setia GoFood, tapi ia pernah memesan sesekali. Ia menggeser layar ke bawah, mencari-cari. Tiba-tiba, matanya terpaku pada sebuah entri. ‘Pemesanan Tanggal [Hari Ini]’. Nama akunnya bukan ‘Hanindita’. Tapi nama… ‘Kirana’. Nama itu terasa seperti sambaran petir di siang bolong.

Hanindita merasa kakinya lemas. Siapa Kirana? Ia tidak punya kenalan bernama Kirana. Lalu, tertera detail pesanan: ‘1 Latte Grande, 1 Croissant Almond’. Alamat pengiriman tertera di bawahnya: ‘Gedung Soka, Lantai 5, Unit 503’. Ada nomor telepon yang tertera, tapi tertutup oleh tulisan ‘Nomor Tersembunyi untuk Privasi’.

Jantung Hanindita berdebar kencang. Ia merasa seperti sedang tercekik. Ia membuka kembali struk parkir itu. Tanggal dan jamnya cocok. Struk parkir itu mungkin dikeluarkan saat ‘Kirana’ mengambil pesanan di mobilnya atau di lobi. Ia mencoba mengingat kembali percakapan pagi tadi. Wiranata bilang ia ada rapat mendadak. Apakah rapat itu di Gedung Soka? Tapi kenapa ia membiarkan struk parkirnya jatuh begitu saja dari tasnya?

Ia membuka kembali kontak suaminya. Kali ini, dengan tangan yang lebih gemetar, ia membuka foto profil Wiranata. Lalu, ia mencoba mencari nama ‘Kirana’ di daftar kontak suaminya. Kosong. Tidak ada. Tapi ia merasa yakin, struk parkir dan riwayat pesanan GoFood itu bukanlah kebetulan.


Babak 4 — Wajah yang Sangat Dikenal

Hanindita merasa mual. Ia menutup aplikasi GoFood, lalu kembali membuka galeri foto di ponselnya. Ia membuka foto-foto Bima yang lucu, foto liburannya setahun lalu di Bandung, foto pernikahan mereka. Semuanya terasa seperti masa lalu yang jauh, jauh sekali. Lalu, ia membuka aplikasi foto yang lain. Aplikasi yang berisi foto-foto hasil desain interior yang pernah ia kirimkan ke beberapa kliennya sebagai portofolio.

Ia ingat, beberapa bulan lalu, ia pernah diminta mendesain interior apartemen kecil di sebuah gedung di Jakarta Selatan. Alasan kliennya, ia ingin apartemen itu terlihat nyaman untuk ‘teman spesial’nya. Hanindita hanya menjalankan tugasnya. Kliennya tidak pernah datang langsung, selalu diwakili asistennya yang mengirimkan semua detail. Tapi ada satu hal yang ia ingat. Saat ia mengirimkan revisi terakhir desain, kliennya itu membalas dengan sebuah foto singkat. Foto suasana apartemen yang sudah jadi, dengan lampu-lampu senja yang temaram.

Ia mencari file foto itu. Tangannya kembali gemetar. Ia membukanya. Di sudut ruangan, samar-samar terlihat sebuah meja kopi. Di atas meja kopi itu, ada sebuah vas bunga kecil. Dan di samping vas bunga itu… ada sebuah bingkai foto.

Hanindita memelototi bingkai foto itu. Ia memperbesar gambar sebisanya. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Di dalam bingkai foto itu, bukan foto Wiranata atau Bima. Bukan foto dirinya. Itu foto seorang wanita muda dengan senyum tipis, rambut hitam sebahu, mengenakan anting sederhana. Wanita itu… sangat familiar.

Bukan hanya familiar. Hanindita seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu. Atau lebih tepatnya, melihat seseorang yang sangat mirip dengannya. Wajah itu… Hanindita merasa seperti disambar petir. Ia ingat. Beberapa minggu lalu, saat Wiranata pulang membawa sekotak macaron Prancis yang mahal, ia sempat bertanya dari mana suaminya mendapatkannya. Wiranata hanya menjawab, ‘Ada kenalan baru yang baik hati, dia suka kasih oleh-oleh.’

Dan kini, ia sadar. Nama ‘Kirana’ yang tertera di pesanan GoFood itu, adalah nama pemilik apartemen yang ia desain. Bukan hanya itu. Ia ingat detail lain. Saat ia mengantar Bima ke sekolah tadi pagi, di dekat gerbang sekolah, ia melihat sebuah mobil SUV hitam terparkir. Di kursi penumpang, ia melihat sekilas seorang wanita muda yang sedang memegang ponsel. Wajahnya… ya Tuhan, wajahnya persis seperti di foto itu.

Hanindita terduduk lemas. Ia melihat struk parkir itu lagi. Gedung Soka. Kopi Sore. Croissant Almond. Ia melihat riwayat pesanan GoFood. Nama akun ‘Kirana’. Lalu ia melihat foto di ponselnya. Wanita muda di bingkai foto itu. Semua potongan puzzle yang terpisah kini menyatu membentuk gambaran yang mengerikan.

Ini bukan hanya soal kebetulan. Ini adalah pengkhianatan yang telah direncanakan. Wiranata bukan hanya berbohong tentang rapat, tapi ia juga berbohong tentang segalanya. Kopi mahal, croissant asing, apartemen desain khusus, dan wanita misterius yang tersenyum dari foto itu. Hanindita menutup matanya. Kepalanya terasa pusing. Ia tidak menangis. Bukan menangis yang terisak-isak. Tapi air mata dingin itu terus mengalir, tanpa suara, membasahi pipinya.


Babak 5 — Pilihan yang Terlalu Berat

Hanindita duduk di tepi ranjang kamarnya. Matahari sudah hampir terbenam, cahayanya masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang di lantai. Tas kerja Wiranata masih tergeletak di meja makan, tempat terakhir kali ia menyentuhnya. Struk parkir itu kini berada di tangannya, terlipat rapi. Foto wanita di bingkai itu masih terbuka di layar ponselnya.

Ia menatap kosong ke depan. Pikirannya terasa seperti labirin tanpa jalan keluar. Ia bisa saja menghadapi Wiranata sekarang. Menuntut penjelasan. Menunjukkan bukti-bukti yang ia punya. Tapi… apa gunanya? Hatinya sudah terlanjur hancur berkeping-keping.

Bagaimana dengan Bima? Ia melihat foto putranya yang sedang tertawa riang di layar ponselnya. Bima masih terlalu kecil untuk mengerti apa-apa. Perceraian akan menjadi pukulan telak baginya. Apakah ia harus mengorbankan kebahagiaan Wiranata, atau kebahagiaan Bima, atau kebahagiaannya sendiri?

Hanindita membuka aplikasi chat lagi. Kali ini ia mengetik nama Wiranata. ‘Mas, Bima bilang dia rindu.’ Pesan singkat, tanpa tuduhan, tanpa pertanyaan. Ia hanya ingin melihat bagaimana reaksi Wiranata. Beberapa menit berlalu. Ponselnya bergetar. Sebuah balasan masuk: ‘Oh ya? Nanti aku coba telepon malam ini ya.’ Kalimat itu terasa begitu datar, begitu asing.

Ia lalu membuka kembali riwayat pesanan GoFood. Nama akun ‘Kirana’. Ia menatapnya lama. Ia bisa saja mencari tahu lebih banyak tentang Kirana. Siapa dia sebenarnya? Kenapa Wiranata begitu dekat dengannya sampai memesan kopi dan kue untuknya?

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Saat mendesain apartemen itu, sang asisten pernah menyebutkan bahwa apartemen itu akan digunakan untuk ‘investasi jangka panjang’. Jauh sebelum ia tahu ada nama Kirana.

Hanindita menutup matanya. Ia menarik napas dalam. Tidak ada jawaban yang mudah. Tidak ada jalan yang sepenuhnya benar. Ia merasa seperti berdiri di persimpangan yang gelap, di mana setiap pilihan akan membawanya pada rasa sakit yang berbeda.

Ia memejamkan mata, merasakan air mata kembali mengalir. Tapi kali ini, air mata itu terasa lebih dingin, lebih berat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah ia harus melawan? Atau diam saja? Apakah ia akan mempertahankan rumah tangganya demi Bima, atau mencari kebahagiaan yang mungkin tidak akan pernah ia temukan lagi?

Di luar, suara adzan magrib mulai terdema dari masjid terdekat. Hanindita tidak bergerak. Ia masih duduk di sana, di kegelapan kamarnya, dengan bukti-bukti pengkhianatan di tangannya, terperangkap dalam kebisuan yang memekakkan telinga.