Kisah Sang Suami Ternyata Punya Rahasia yang Terungkap Lewat Kuitansi Minimarket Rp 17 Ribu
Babak 1 — Kuitansi Misterius di Bawah Karpet
Laksmi merapikan karpet ruang tamu, ritual mingguan yang selalu ia lakukan setiap Sabtu pagi. Jemarinya yang lentik menyapu debu yang tersembunyi di lipatan kain. Tiba-tiba, sesuatu yang keras terasa di bawah telapak sepatunya. Ia membungkuk, mengambil benda yang ternyata sebuah kuitansi parkir.
Bukan sekadar kuitansi parkir biasa, melainkan struk dari minimarket yang baru dibuka beberapa bulan lalu di kompleks perumahan mereka. Struk itu sedikit lusuh, terlipat rapi. Laksmi mengerutkan dahi. Siapa yang biasanya menyimpan struk parkir di bawah karpet? Suaminya, Dirgantara, selalu sigap membuang sampah struk setelah urusan selesai.
Ia membalik struk itu. Tanggalnya adalah hari Selasa lalu. ‘Indomaret Jaya Abadi,’ tertera jelas di bagian atas. Di bawahnya, daftar belanjaan: Air Mineral 2 botol, Roti Tawar, dan… pembalut wanita? Laksmi menelan ludah. Sejak kapan Dirgantara membeli pembalut wanita?
“Aneh,” gumamnya pelan. Laksmi bukan tipe istri yang suka mencampuri urusan suaminya. Ia percaya pada Dirgantara, pengusaha muda yang sukses dan terlihat sangat mencintainya. Mereka sudah menikah lima tahun, tanpa masalah berarti. Tapi, struk ini… sesuatu terasa janggal.
Ia mencoba mengingat kembali hari Selasa itu. Dirgantara memang pulang agak sore, beralasan ada rapat mendadak. Ia terlihat lelah, namun seperti biasa, Dirgantara selalu berusaha tampil tegar di depan Laksmi. Ia hanya meminta dibuatkan nasi goreng kesukaannya, lalu menghabiskan malam dengan menonton televisi sampai tertidur di sofa.
Laksmi melirik jam dinding di ruang keluarga. Pukul sembilan pagi. Dirgantara masih tertidur lelap di kamar mereka. Biasanya, ia sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor cabang di luar kota pada jam seperti ini. Mungkin benar-benar lelah, pikirnya. Namun, pikiran tentang struk itu terus mengusik.
Ia berjalan ke dapur, mulai menyiapkan bahan-bahan untuk sarapan. Nasi goreng sisa semalam masih ada di kulkas. Mungkin bisa ia panaskan lagi untuk Dirgantara. Tangannya bergerak otomatis, memotong bawang, mencincang ayam. Tapi otaknya terus memutar kejadian hari Selasa itu. Apakah Dirgantara benar-benar rapat? Atau ada hal lain?
Laksmi pernah menjadi anak kuliahan yang aktif. Ia tahu bagaimana rasanya berjuang membangun jaringan dan karier. Ia mengagumi Dirgantara karena kegigihannya. Namun, ia juga tahu, dunia bisnis terkadang penuh intrik. Apakah ini salah satu dari intrik itu? Atau… sesuatu yang lebih personal?
Ia teringat percakapan samar yang pernah didengarnya beberapa bulan lalu. Dirgantara menelepon seseorang, suaranya terdengar tegang. Ia sempat mendengar sepenggal kalimat, “Aku harus pastikan semuanya aman, jangan sampai ada yang tahu.” Saat itu Laksmi berpikir, mungkin itu masalah pekerjaan. Tapi sekarang…
“Bu Laksmi, ada paket untuk Pak Dirgantara,” suara Mbok Darmi, asisten rumah tangga mereka, memecah lamunannya. Laksmi bergegas ke teras.
Sebuah kotak berukuran sedang tergeletak di depan pintu. Laksmi menandatangani resi pengiriman dari kurir GoSend. Ia membalik kotak itu, mencari nama pengirim. Kosong. Hanya ada alamat Dirgantara. Jantungnya berdebar tak karuan.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka selotip di kotak itu. Di dalamnya, terbungkus bubble wrap tebal, terdapat… sebuah botol parfum. Aroma melati yang samar tercium dari balik plastik pembungkus. Parfum yang sama, dengan merek yang sama, dengan aroma yang sama persis seperti yang sering dipakai oleh Sekar, rekan kerja Dirgantara yang baru dipromosikan menjadi manajer pemasaran.
Laksmi memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Struk minimarket dan botol parfum ini, dua benda kecil yang tak terduga, mulai merajut sebuah cerita yang sangat berbeda dari yang ia bayangkan selama ini.
Babak 2 — Gema yang Tak Terucap
Laksmi duduk di tepi ranjang, memegang botol parfum yang terasa dingin di tangannya. Baunya begitu kuat, begitu… asing. Sekar. Nama itu terlintas lagi di benaknya. Sekar, wanita muda yang energik, selalu tersenyum ramah pada Laksmi setiap kali mereka bertemu di acara kantor Dirgantara. Sekar, yang baru saja mendapat promosi besar, dan sering disebut-sebut sebagai ‘bintang baru’ di perusahaan Dirgantara.
Apakah ini hanya kebetulan? Apakah Dirgantara memesan parfum itu untuk dirinya sendiri, dan kebetulan Sekar juga memakai merek yang sama? Pikiran itu terasa seperti upaya sia-sia untuk menyangkal apa yang sudah di depannya. Struk minimarket dengan pembalut wanita, dan kini parfum Sekar.
Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya. Tangannya terasa kaku saat membuka riwayat pesanan. Selasa lalu. Dirgantara memesan GoSend pukul 16.30. Alamat pengirim adalah alamat minimarket Indomaret Jaya Abadi yang tertera di struk. Alamat penerima? Alamat kantor pusat perusahaan Dirgantara. Bukan rumah mereka.
“Kenapa ia tidak bilang?” bisiknya, suaranya serak. Jika ia membeli pembalut, setidaknya ia bisa bilang butuh mendadak. Tapi ini… ini bukan sesuatu yang bisa dibeli secara impulsif untuk orang lain. Kecuali jika… ada hubungan yang lebih dari sekadar rekan kerja.
Laksmi mencoba membuka aplikasi chat di ponselnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ini salah, mengintai kehidupan suaminya. Tapi ia tidak bisa mengabaikan rasa penasaran yang mencekik ini. Ia mencari nama ‘Sekar’ di daftar kontak Dirgantara. Tidak ada. Ia mencoba mencari di daftar panggilan. Sama saja. Dirgantara sangat berhati-hati.
Ia kemudian teringat sebuah aplikasi dompet digital, DANA. Dirgantara sering menggunakannya untuk transaksi sehari-hari. Mungkin di sana ada jejaknya? Laksmi membuka aplikasi DANA di ponsel Dirgantara yang tergeletak di meja nakas. Kata sandinya? Dirgantara selalu menggunakan tanggal lahir Laksmi. Kepercayaan, yang kini terasa seperti pisau bermata dua.
Ia membuka riwayat transaksi. DANA sering menyimpan detail transaksi yang cukup lama. Ia menggulir ke bawah, mencari tanggal Selasa lalu. Ada transaksi pembayaran di ‘Indomaret Jaya Abadi.’ Jumlahnya persis seperti yang tertera di struk. Dan di bawahnya, sebuah item yang dicatat: ‘Pembalut Wanita X-Comfort.’
Laksmi menutup matanya. Napasnya tertahan. Ini bukan khayalan. Ini nyata. Dirgantara membeli pembalut wanita di minimarket itu, dan mengirimkannya ke kantornya. Tapi untuk siapa?
Ia melanjutkan menggulir riwayat transaksi. Lalu, matanya tertuju pada satu transaksi lain, tiga hari lalu. Transaksi di sebuah toko online yang cukup populer di Indonesia, Tokopedia. Item yang dibeli: ‘Parfum Eau de Toilette Wanita – Melati Wangi.’ Nama toko: ‘Aroma Surga.’ Alamat pengiriman: alamat kantor Dirgantara.
Semua terhubung. Struk minimarket yang ia temukan di bawah karpet, transaksi DANA, pembelian parfum di Tokopedia, dan parfum yang ada di depannya sekarang. Itu bukan kebetulan. Itu sebuah pola.
Dirgantara berbohong padanya tentang rapat hari Selasa. Ia tidak rapat. Ia pergi ke Indomaret, membeli pembalut, lalu mengirimkannya ke kantor. Dan ia menerima parfum dari toko online yang dikirim ke kantornya. Untuk siapa semua ini?
Laksmi merasa dunianya berputar. Ia mencoba berdiri, tapi kakinya terasa lemas. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu perlahan turun ke lantai. Air mata mulai membasahi pipinya. Bukan air mata kesedihan yang meluap, tapi air mata kebingungan yang dingin dan menusuk.
Ia tidak bisa mengerti. Dirgantara selalu terlihat begitu mencintainya. Sikapnya, perkataannya, perhatiannya… semuanya terasa tulus. Apakah ia salah menilai? Atau ia hanya tidak melihat apa yang seharusnya ia lihat?
Ia menatap botol parfum itu lagi. Aromanya kini terasa seperti racun yang perlahan merayap ke dalam paru-parunya. Setiap inci dari dirinya menjerit untuk mencari jawaban, tapi setiap inci dari dirinya juga merasa takut untuk menemukannya.
Babak 3 — Jejak Digital Sang Pengkhianat
Pagi itu, Laksmi memutuskan untuk tidak membuat nasi goreng. Ia mengambil setoples kerupuk udang dari lemari dan memakannya begitu saja, tanpa rasa. Ia masih duduk di meja makan, memandang kosong ke luar jendela. Pemandangan taman yang biasanya menenangkannya kini terasa hambar.
Dirgantara akhirnya bangun sekitar pukul sepuluh. Ia keluar kamar dengan senyum khasnya, tapi mata Laksmi menangkap sesuatu yang berbeda di sana. Bukan lelah, tapi semacam… kegelisahan yang tersembunyi. Namun, ia tidak bertanya. Ia hanya balas tersenyum, berusaha keras terlihat normal.
“Pagi, Sayang,” sapa Dirgantara, menghampirinya dan mengecup puncak kepalanya. Laksmi hanya bergumam sebagai jawaban. Dirgantara mengerutkan kening.
“Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya, menyentuh dahi Laksmi. Laksmi menepis tangan Dirgantara pelan.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya dingin, suaranya datar. Dirgantara terkejut dengan nada bicaranya. Ia belum pernah melihat Laksmi seperti ini. Biasanya Laksmi akan langsung bercerita jika ada masalah.
“Ada apa, Laks? Cerita sama aku,” bujuk Dirgantara, mencoba meraih tangan Laksmi. Kali ini, Laksmi menarik tangannya dengan cepat.
“Aku mau ke kantor,” kata Laksmi, berdiri dengan sigap. Ia tidak akan menanyakannya di sini, di rumah. Ia butuh tempat yang lebih netral.
“Sekarang? Tapi kamu bilang mau ke kantor cabang kan nanti sore untuk bertemu klien?” tanya Dirgantara, tampak bingung. Laksmi hanya mengambil tas tangannya.
“Aku mau mengantar berkas penting. Sekalian aku mau lihat langsung progres proyek di sana,” jawabnya, menggunakan alasan yang cukup masuk akal. Ia tahu Dirgantara pasti akan curiga, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus melihat sendiri, berbicara dengan Sekar, atau siapapun yang terlibat.
Perjalanan ke kantor pusat terasa sangat panjang. Laksmi menyetir mobilnya sendiri, sesekali ia memeriksa ponselnya. Aplikasi GoCar sudah ia buka, seolah-olah ia benar-benar akan memesan. Tapi tujuan akhirnya tetap kantor Dirgantara.
Sesampainya di sana, ia memarkir mobilnya sedikit jauh dari lobi utama, lalu berjalan masuk dengan tenang. Ia berusaha memasang wajah paling netral. Di resepsionis, ia menanyakan ruangan Sekar. Dengan sedikit keraguan, resepsionis memberikannya informasi.
Laksmi berjalan menaiki eskalator, lalu menuju lantai yang ditunjukkan. Lorong itu dipenuhi kubikel-kubikel kerja. Di setiap sudut, terdengar suara ketikan keyboard dan gumaman percakapan. Ia melihat Sekar duduk di salah satu kubikel, sedang asyik berbicara di telepon. Sekar terlihat cantik, mengenakan blus berwarna krem yang elegan.
Ketika Sekar menutup teleponnya, Laksmi memberanikan diri menghampirinya. “Permisi, Mbak Sekar?”
Sekar mendongak, terlihat sedikit terkejut melihat Laksmi. Ekspresinya berubah dari ramah menjadi agak kaku. “Ya? Ibu Laksmi ya? Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin bicara sebentar, boleh?” pinta Laksmi, berusaha tersenyum. Sekar terlihat ragu. Ia melirik ke sekeliling kubikelnya, seolah memastikan tidak ada yang mendengar. “Di mana?” tanyanya pelan.
“Di kafe bawah saja, bagaimana? Biar lebih privat,” usul Laksmi. Sekar mengangguk, lalu mereka berdua berjalan menuju kafe di lantai dasar gedung perkantoran itu. Suasananya ramai, namun meja mereka cukup terpencil.
Laksmi memesan secangkir teh tawar. Sekar hanya memesan air mineral. Keheningan menyelimuti keduanya untuk beberapa saat.
“Mbak Sekar,” Laksmi memulai, suaranya mantap. “Saya ingin bertanya tentang sesuatu. Tentunya tentang Bapak Dirgantara.”
Sekar hanya diam, matanya menatap Laksmi dengan waspada. Ia tidak terlihat terkejut, hanya sedikit gugup.
“Selasa lalu, Bapak Dirgantara datang ke kantor membawa… pembalut wanita,” kata Laksmi, mencoba melihat reaksi Sekar. Sekar memalingkan wajahnya, lalu menunduk. Ia memainkan jari-jarinya dengan gelisah. “Dan tiga hari lalu, ia mengirimkan parfum ke kantor ini. Parfum dengan aroma melati.”
Sekar menutup mulutnya dengan tangan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menggelengkan kepala perlahan. Laksmi melanjutkan, “Dan saya menemukan struk pembeliannya, dari Indomaret, di bawah karpet rumah saya. Bersamaan dengan… parfum yang sama, yang saya yakini dikirimkan untuk Anda.”
Sekar akhirnya mendongak. Air matanya mulai mengalir di pipinya. Ia terlihat sangat tertekan, tapi bukan seperti orang yang ketahuan berbuat salah besar, melainkan seperti orang yang terjebak. “Bu Laksmi… saya… saya tidak tahu harus bilang apa,” ucapnya lirih, suaranya bergetar.
“Saya tahu. Bapak Dirgantara… beliau… beliau punya masalah kesehatan yang serius. Masalah hormonal,” Sekar berkata lirih, suaranya hampir tidak terdengar. “Dan beliau tidak ingin Anda tahu. Saya hanya membantunya. Pembalut itu… itu untuk mengatasi keluhan yang tiba-tiba muncul. Sedangkan parfum itu… ia membelikannya untuk menutupi bau yang… yang tidak sedap yang muncul karena kondisinya.”
Laksmi menatap Sekar dengan nanar. Ini bukan pengkhianatan. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih rumit, dan lebih menyakitkan. Dirgantara punya penyakit yang tidak pernah ia ceritakan.
Babak 4 — Kebenaran di Balik Kebohongan
Laksmi duduk terdiam di kafe itu, membiarkan Sekar menyelesaikan ceritanya. Kata-kata Sekar bagai palu yang menghantam dinding pertahanan Laksmi. Dirgantara menderita sebuah penyakit langka yang memengaruhi keseimbangan hormonnya, terkadang menyebabkan gejala yang memalukan dan tak terduga. Penyakit itu baru terdiagnosis beberapa bulan lalu, dan Dirgantara sangat ketakutan. Ia tidak ingin Laksmi tahu, karena ia takut Laksmi akan jijik, meninggalkannya, atau merasa terbebani.
“Dia sangat mencintai Ibu. Percayalah,” Sekar menegaskan, suaranya parau. “Dia hanya ingin melindungi Ibu dari kenyataan yang menyakitkan ini. Dia pikir dengan berbohong, ia bisa menjaga Ibu tetap bahagia. Saya hanya… saya hanya menemaninya. Karena saya peduli pada Dirgantara.”
Kata ‘peduli’ dari Sekar terdengar tulus, namun menusuk. Laksmi merasakan gelombang emosi yang campur aduk. Marah pada Dirgantara karena menyembunyikan ini, sedih karena Dirgantara harus menanggung beban ini sendirian, dan… ada sedikit rasa lega karena itu bukan perselingkuhan. Tapi, kemarahan itu tetap ada. Mengapa ia tidak pernah bicara padanya? Mengapa ia memilih berbohong, bukannya berbagi?
“Dia memilih untuk menyembunyikan ini dari saya,” Laksmi bergumam, suaranya rendah. “Dan saya menemukan ini semua… dari struk dan parfum. Menurut Anda, itu tindakan yang benar?”
Sekar menunduk lagi. “Saya tahu ini salah. Tapi Dirgantara… dia sangat tertekan. Dia takut jika Ibu tahu, Ibu akan merasa… tidak sempurna lagi. Atau lebih buruk lagi, ia akan merasa menjadi beban bagi Ibu.”
Laksmi berdiri, mengambil tasnya. “Terima kasih atas waktunya, Mbak Sekar. Saya… saya perlu waktu untuk memproses ini semua.” Ia meninggalkan Sekar yang masih duduk terdiam di kafe. Ia tahu ia harus menghadapi Dirgantara.
Saat Laksmi kembali ke mobil, ia segera menghubungi Dirgantara melalui ponselnya. Suaminya menjawab panggilan itu dengan nada yang terdengar sedikit panik. “Ya, Sayang? Kamu di mana?”
“Aku di parkiran kantor pusat. Kita perlu bicara, Dir,” ucap Laksmi, suaranya dingin namun penuh tekad. Terdengar helaan napas panjang dari ujung telepon.
“Baiklah. Tunggu sebentar.”
Tak lama kemudian, Dirgantara muncul di parkiran. Ia berjalan menghampiri mobil Laksmi, wajahnya pucat pasi. Matanya terlihat sembab, seperti baru saja menangis.
Laksmi membukakan pintu mobil untuk Dirgantara. Ia tidak ingin bertengkar di tempat umum. Ia ingin percakapan ini terjadi di tempat yang mereka berdua bisa merasa aman. Ia menyetir kembali ke rumah mereka, dengan Dirgantara duduk diam di sebelahnya, memandang lurus ke depan.
Sesampainya di rumah, Laksmi langsung menuju ruang kerja Dirgantara. Ia mempersilakan suaminya duduk di kursi, sementara ia sendiri duduk di sofa di depannya. Ia mengeluarkan botol parfum dari tasnya, lalu meletakkannya di meja di antara mereka. Ia juga mengeluarkan struk minimarket yang sudah ia lipat rapi.
“Jelaskan padaku, Dir,” ucap Laksmi, suaranya tenang namun penuh wibawa. Dirgantara menatap botol parfum itu, lalu struk di sebelahnya. Bahunya merosot.
“Kamu tahu?” tanyanya lirih, suaranya nyaris berbisik.
Laksmi mengangguk. “Sekar sudah memberitahuku semuanya. Tapi aku ingin mendengar langsung darimu. Kenapa kamu tidak memberitahuku, Dir? Kenapa kamu memilih berbohong padaku?”
Dirgantara menarik napas dalam. Ia memandang Laksmi, matanya dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan. “Aku… aku takut, Laks. Takut kamu akan melihatku berbeda. Takut kamu akan… jijik. Aku tidak mau kamu merasa kasihan padaku, atau lebih buruk lagi, merasa terbebani oleh kondisiku. Aku hanya ingin kamu tetap melihatku sebagai Dirgantara yang kamu kenal.”
“Dir, kita ini suami istri. Kita seharusnya saling berbagi segalanya, baik suka maupun duka. Menutupi ini dariku bukan berarti kamu melindungi aku, tapi justru membuatku merasa tidak dipercaya. Aku menemukan ini dari… struk dan parfum. Kau tahu betapa sakitnya itu?” Laksmi berkata, suaranya mulai bergetar. Kemarahan mulai naik ke permukaan.
“Aku tahu. Aku menyesal, Laks. Aku tahu aku salah besar. Aku hanya… aku terlalu egois memikirkan perasaanku sendiri,” Dirgantara mengakui, air mata akhirnya mengalir deras.
Laksmi memandang suaminya yang menangis tersedu-sedu. Di balik kemarahan dan kekecewaannya, ia melihat suaminya yang rapuh, yang sedang berjuang melawan penyakitnya sendirian. Ia teringat pesan Sekar, ‘Dia hanya ingin melindungi Ibu.’ Benar, Dirgantara melindunginya, tapi dengan cara yang salah. Ia mencoba menutupi rasa takutnya sendiri dengan kebohongan.
“Kita akan menghadapi ini bersama, Dir,” ucap Laksmi, suaranya melembut. Ia berjalan mendekat, duduk di samping Dirgantara, dan meraih tangannya yang dingin. “Aku bukan wanita yang akan meninggalkanmu karena penyakit. Aku istrimu. Tapi setelah ini, tidak ada lagi kebohongan di antara kita. Paham?”
Dirgantara mengangguk kuat, mengeratkan genggaman tangannya pada Laksmi. Ia merasa lega, sekaligus hancur. Kuitansi Rp 17 ribu itu telah membuka jalan bagi kebenaran yang menyakitkan, tapi juga membawa mereka pada pemulihan yang tak terduga.
Babak 5 — Babak Baru Dimulai
Malam itu, setelah percakapan panjang dan penuh air mata, suasana di rumah mereka terasa berbeda. Kehangatan yang dulu ada kini bercampur dengan kesadaran baru. Laksmi duduk di teras belakang, memandang bintang-bintang yang berkelip di langit Jakarta. Di tangannya, ia memegang ponsel Dirgantara, membuka aplikasi Shopee.
Ia ingin mencari informasi lebih lanjut tentang penyakit yang diderita Dirgantara. Ia membuka kolom pencarian, mengetikkan beberapa kata kunci yang diberikan Sekar. Hasilnya muncul berjejer, artikel, forum diskusi, hingga rekomendasi produk kesehatan. Ia membaca dengan saksama, mencoba memahami setiap detail yang terlewatkan selama ini.
Dirgantara keluar dari kamarnya, mengenakan piyama. Ia menghampiri Laksmi dengan hati-hati. “Belum tidur, Sayang?” tanyanya lembut.
Laksmi menoleh, tersenyum kecil. “Belum. Lagi cari info tentang kondisimu.” Ia menunjukkan layar ponselnya pada Dirgantara. “Aku mau belajar lebih banyak tentang ini. Supaya aku bisa membantumu.”
Dirgantara duduk di samping Laksmi, tatapannya penuh haru. “Terima kasih, Laks. Aku… aku tidak tahu harus berkata apa lagi.”
“Tidak perlu berkata apa-apa. Kita mulai dari awal lagi, ya? Tanpa rahasia, tanpa kebohongan. Kita hadapi semuanya sama-sama,” Laksmi berkata, meletakkan ponselnya dan merangkul pundak suaminya. Dirgantara menyandarkan kepalanya di bahu Laksmi, merasakan kehangatan dan dukungan yang telah ia rindukan selama berbulan-bulan.
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman, ditemani suara jangkrik dan gemerisik daun. Kuitansi minimarket Rp 17 ribu itu, yang tadinya menjadi simbol pengkhianatan, kini berubah menjadi penanda awal sebuah perjalanan baru. Sebuah perjalanan yang dibangun di atas kejujuran, penerimaan, dan cinta yang lebih dalam.
Laksmi menutup aplikasi Shopee. Ia merasa sedikit lelah, namun hatinya dipenuhi rasa lega. Rahasia yang selama ini membebani Dirgantara kini terungkap. Jalan di depan mungkin tidak akan mudah, akan ada tantangan dan rasa sakit yang harus mereka lewati. Tapi yang terpenting, mereka akan menghadapinya bersama. Ia membuka kembali aplikasi DANA, melihat histori transaksi Dirgantara dari hari ke hari. Ia tidak lagi melihatnya dengan curiga, melainkan dengan pemahaman.
Ia memikirkan kembali Sekar. Wanita itu memang membantu Dirgantara, tapi motivasinya… Laksmi tidak yakin apakah itu murni karena kepedulian, atau ada niat lain yang tersembunyi. Namun, untuk saat ini, ia memilih untuk fokus pada rumah tangganya. Urusan Sekar bisa ia pikirkan nanti.
“Besok kita ke dokter yang kamu rekomendasikan itu ya?” tanya Laksmi, menatap Dirgantara.
Dirgantara mengangguk. “Terima kasih, Laks. Aku beruntung memilikimu.”
Laksmi tersenyum. “Aku juga beruntung memilikimu, Dir. Walaupun kamu kadang suka bikin masalah.” Ia tertawa kecil, dan Dirgantara ikut tertawa. Tawa yang terdengar lebih lepas dari tawa sebelumnya. Kuitansi kecil itu telah memberikan mereka kesempatan kedua. Kesempatan untuk membangun kembali kepercayaan yang sempat goyah, dan memperkuat fondasi rumah tangga mereka dengan kejujuran yang murni.
Kisah mereka belum berakhir. Ini baru permulaan dari babak baru yang akan mereka tulis bersama. Babak yang penuh tantangan, namun juga penuh cinta dan harapan. Laksmi merasakan beban berat terangkat dari pundaknya. Ia tahu, badai telah berlalu, dan di depan sana, ada pelangi yang menanti.
