Suaminya Bilang Lembur, Tapi Struk Bukti Perselingkuhan Ini Bikin Rengganis Kehilangan Segalanya
Babak 1 — Senyum Palsu di Ujung Senja
Rengganis mematikan kompor dengan gerakan yang lebih halus dari biasanya. Bukan karena kebiasaan, tapi karena… ia ingin menghindari suara percikan minyak yang keras itu. Suara yang akhir-akhir ini sering ia asosiasikan dengan ketidakberesan. Di luar jendela dapur, langit sore Jakarta mulai merona jingga, memantulkan cahaya redup pada tumpukan piring bersih yang menunggu ia keringkan. Jatmiko, suaminya, seharusnya pulang sebentar lagi. Ia bilang ada rapat penting di kantor, katanya sampai malam. Rapat di hari Kamis. Itu pun baru ia ingat sekarang.
“Pasti capek banget ya, Mas,” Rengganis bergumam sendiri, tangannya mulai bergerak menggosok noda membandel di panci. Ia bukan tipe istri yang suka mengomel. Sejak awal pernikahan mereka lima tahun lalu, ia selalu berusaha menjadi Rengganis yang apa adanya: tenang, menerima, sedikit kaku, dan sangat tidak suka konfrontasi. Ia percaya, setiap rumah tangga punya badai kecilnya sendiri, dan badai itu akan berlalu jika dihadapi dengan kepala dingin. Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini badai itu terasa seperti tsunami yang datang tanpa peringatan.
Ia berjalan ke ruang tamu, merapikan bantal sofa yang sedikit berantakan. Jatmiko punya kebiasaan unik: sebelum tidur, ia pasti akan memainkan ponselnya, terkadang sambil bergumam sendiri. Rengganis tidak pernah ambil pusing. Itu dunianya, ia tidak ingin mencampuri. Tapi belakangan, ia sering melihat suaminya terburu-buru menutup layar, atau malah meletakkan ponselnya dengan cepat ketika ia masuk kamar. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat rasa cemas itu merayap pelan di sudut hatinya.
“Semoga cuma perasaanku saja,” bisiknya, menarik selimut yang terlipat rapi di sofa. Ia duduk di sana, memandang keluar jendela yang kini mulai gelap. Jalanan di depan rumah mulai ramai oleh kendaraan yang pulang kerja. Suara klakson dan deru mesin yang khas terdengar samar. Rengganis memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, mencoba menenangkan gelombang kecemasan yang terus datang. Ia selalu berpikir, komunikasi adalah kunci. Tapi bagaimana jika komunikasi itu justru akan membuka luka yang lebih dalam?
Tiba-tiba, suara motor Jatmiko terdengar memarkir di halaman depan. Rengganis bangkit, senyum tipis terukir di bibirnya. Ia berjalan ke pintu, siap menyambut suaminya seperti biasa. “Selamat datang kembali, Mas,” sapanya saat Jatmiko melangkah masuk. Wajahnya sedikit lelah, tapi senyumnya masih sama. Senyum yang dulu membuat Rengganis jatuh cinta.
Babak 2 — Struk yang Menyimpan Kebohongan
“Capek banget, Yan?” tanya Rengganis, menggunakan panggilan sayang yang jarang ia lontarkan belakangan ini. Ia mengambil tas kerja Jatmiko yang tergeletak di dekat pintu, lalu meletakkannya di ruang tengah.
“Banget, Ren. Rapatnya panjang dan alot,” Jatmiko menjawab, suaranya terdengar serak. Ia langsung menuju kamar mandi, mungkin untuk membersihkan diri sebelum makan malam. Rengganis mengikuti langkah suaminya dengan tatapan kosong. Ia sudah menyiapkan makan malam sederhana: nasi putih, ayam goreng bumbu kecap, dan tumis kangkung. Makanan kesukaan Jatmiko.
Sambil menunggu Jatmiko selesai, Rengganis duduk di meja makan. Tangannya tanpa sadar merogoh saku celana Jatmiko yang ia gantung di belakang pintu. Rutinitasnya, memeriksa apakah ada dompet atau kunci yang tertinggal. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang agak kaku. Kertas. Ia menariknya keluar. Struk parkir. Jakarta, 17:45. Lumayan jauh dari kantor Jatmiko.
Perasaannya langsung tidak enak. Struk ini bukan dari parkiran gedung kantor Jatmiko. Tempat itu punya sistem parkir berbeda, dengan kartu akses, bukan struk fisik seperti ini. Jantungnya mulai berdebar lebih kencang. Ia ingat, Jatmiko bilang rapatnya di kantor sampai malam. Tapi struk ini menunjukkan ia keluar dari sebuah tempat parkir pada pukul lima sore. Ke mana dia pergi selama berjam-jam setelah itu?
Tangannya gemetar saat ia melipat struk itu kembali. Ia mencoba menepis pikiran buruk yang mulai berkelebat. Mungkin Jatmiko mampir ke suatu tempat dulu sebelum pulang? Tapi ke mana? Dan kenapa ia tidak bilang?
Jatmiko keluar dari kamar mandi, mengenakan kaus oblong dan celana pendek. Senyumnya kembali tersungging. “Udah siap makan?” tanyanya, mendekati Rengganis dan mengusap kepalanya. Rengganis hanya bisa membalas dengan senyum kaku. Ia memasukkan struk itu kembali ke saku celana Jatmiko, diam-diam. Ia tidak mau Jatmiko tahu ia memeriksanya.
“Aku ambil minum dulu ya, Mas. Kopi atau teh?” tanyanya, berusaha terdengar normal. Ia berjalan ke dapur, membiarkan Jatmiko duduk di ruang makan. Di depan kulkas, ia membuka pintu, bukan untuk mengambil minum, tapi untuk menyandarkan dahinya di permukaan dinginnya. Ia menarik napas dalam. Struk itu. Kapan ia bisa memeriksanya lagi tanpa dicurigai?
Babak 3 — Jejak Digital yang Tak Terduga
Malam itu, Rengganis tidak bisa tidur. Matanya terpaku pada langit-langit kamar. Jatmiko sudah tertidur pulas di sebelahnya, napasnya teratur. Ia menunggu sampai ia yakin Jatmiko benar-benar lelap. Perlahan, ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Jari-jarinya terasa dingin saat ia membuka kunci layar. Ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Mengintip ponsel suaminya terasa seperti melanggar batas yang tak terucapkan. Tapi struk parkir itu terus menghantuinya.
Ia mencoba mengingat nama tempat di struk parkir itu. ‘Pusat Niaga Melati’. Ia belum pernah mendengarnya. Ia mengetikkan nama itu di Google Maps. Hasilnya muncul: sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar, terletak di daerah Bintaro, cukup jauh dari area perkantoran Jatmiko maupun rumah mereka.
Kenapa Jatmiko ke sana? Dan kenapa ia berbohong tentang rapat? Perut Rengganis terasa mual. Ia mencoba mengakses riwayat browser Jatmiko, tapi sayangnya, Jatmiko selalu menggunakan mode penyamaran di Chrome-nya. ‘Sial,’ gumamnya pelan. Ia kemudian beralih ke aplikasi lain. Riwayat panggilan? Kosong. Pesan singkat? Hanya percakapan kerja biasa.
Ia hampir menyerah, ketika matanya tertuju pada aplikasi pesan yang sering digunakan Jatmiko untuk memesan makanan. GoFood. Jatmiko sering memesan makan siang di sana. Rengganis membuka riwayat pesanannya. Beberapa pesanan makanan terdaftar, semuanya dikirim ke kantor. Sampai akhirnya, ia menemukan satu pesanan aneh. Pesanan atas nama Jatmiko, dikirimkan ke alamat ‘Melati Residence’, Bintaro, pada hari yang sama, pukul 18:15.
‘Melati Residence’? Bukan ‘Pusat Niaga Melati’ yang ia cari di Google Maps tadi. Ia kembali membuka Google. ‘Melati Residence’ ternyata adalah sebuah apartemen mewah di dekat pusat perbelanjaan itu. Jantung Rengganis berdegup kencang. Ia membuka detail pesanan itu. Pilihan menunya adalah ‘Paket Romantis untuk Dua Orang’ dari sebuah restoran Italia ternama di dekat sana.
‘Paket Romantis’? Untuk siapa? Dan kapan? Tangannya mulai berkeringat hebat. Ia melihat detail pembayaran: menggunakan saldo DANA. Ia membuka aplikasi DANA Jatmiko yang juga terpasang di ponselnya. Riwayat transaksi menunjukkan pembayaran paket romantis itu pada jam yang sama, ke nomor restoran tersebut. Ada juga transaksi lain yang ia kenal: parkir di ‘Pusat Niaga Melati’ pada pukul 17:45. Semuanya cocok.
Rengganis merasa dunia berputar. Ia memejamkan mata, mencoba menarik napas. Ini tidak mungkin. Jatmiko tidak mungkin… Tapi bukti-bukti itu terlampau nyata. Ia melihat foto profil kontak yang tertera di aplikasi GoFood, di bawah detail pesanan. Sebuah foto seorang wanita dengan senyum lebar, mengenakan anting menjuntai. Rengganis belum pernah melihatnya.
Babak 4 — Konfrontasi Canggung di Dapur
Keesokan paginya, Rengganis bangun lebih awal dari Jatmiko. Ia sudah menyiapkan sarapan, tapi perutnya terasa mual. Ia memutuskan untuk tidak membangunkan suaminya. Ia memilih untuk duduk di teras depan, memandang kosong ke arah jalanan yang mulai ramai. Pikirannya terus berputar. Ia tahu ia harus bicara. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia bukan orang yang pandai berkelahi, apalagi menuduh. Ia hanya ingin kebenaran.
Saat Jatmiko akhirnya keluar, ia tampak sedikit terkejut melihat Rengganis duduk di sana. “Pagi, Ren. Udah bangun? Kenapa nggak sarapan di dalam?” tanyanya, berusaha terdengar riang.
Rengganis menoleh, matanya sedikit bengkak. “Aku mau bicara sebentar, Mas,” suaranya terdengar lebih lirih dari biasanya.
Jatmiko mengerutkan kening. “Soal apa? Kok kelihatannya serius?” Ia mendekat, duduk di kursi sebelah Rengganis. Suasana menjadi canggung. Rengganis merasa sulit memulai.
“Semalam… Mas pulang jam berapa?” tanyanya, mencoba menatap mata suaminya.
Jatmiko tampak berpikir sejenak. “Ya… lumayan larut. Rapatnya kan panjang. Kenapa?”
“Aku menemukan ini,” Rengganis mengeluarkan struk parkir dari saku celana Jatmiko yang masih terlipat di sofa. Ia meletakkannya di meja kecil di antara mereka. “Di Pusat Niaga Melati. Jam lima sore. Itu bukan area kantor, kan?”
Wajah Jatmiko berubah pucat pasi. Ia menunduk, menghindari tatapan Rengganis. Diam. Kesunyian yang memekakkan telinga mengisi udara. Rengganis bisa mendengar degup jantungnya sendiri berpacu kencang.
“Aku juga melihat riwayat pesanan di GoFood, Mas. Paket romantis. Ke apartemen Melati Residence. Atas nama Mas. Dikirim jam setengah tujuh malam. Untuk… siapa?” Suara Rengganis bergetar hebat di akhir kalimat.
Jatmiko masih menunduk. Ia menarik napas panjang, bahunya terkulai. “Ren…” Ia mulai bicara, tapi suaranya tercekat. Ia menelan ludah. “Aku bisa jelasin.”
“Jelasin apa, Mas?” Rengganis menahan air mata yang mulai menggenang. “Jelasin kenapa kamu pergi ke sana? Jelasin kenapa kamu bilang rapat padahal kamu bersama… dia?” Ia tidak sanggup menyebutkan kata ‘wanita lain’ atau ‘selingkuhan’.
Jatmiko akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah. Bukan amarah, tapi keputusasaan. “Ren, aku… aku terjebak.” Ia lalu terdiam, seolah tidak tahu harus berkata apa lagi. Gerakannya kaku, tatapannya kosong. Pria yang berdiri di depannya bukan lagi Jatmiko yang ia kenal. Ada sesuatu yang pecah di antara mereka, sesuatu yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan kata ‘maaf’.
Babak 5 — Pilihan yang Menggantung
Kata ‘terjebak’ yang dilontarkan Jatmiko seperti menggantung di udara. Rengganis menatap suaminya, mencoba memahami maksudnya. Terjebak? Apa maksudnya? Terjebak dalam situasi ini? Atau terjebak dalam hubungan itu?
“Terjebak bagaimana, Mas?” Rengganis bertanya, suaranya datar, tanpa emosi. Ia merasa seperti sedang menonton adegan film yang mengerikan, tapi ia adalah pemeran utamanya. “Kamu bisa jelasin?”
Jatmiko menghela napas lagi. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Aku… aku tidak bermaksud begini, Ren. Awalnya semua baik-baik saja. Aku hanya… aku hanya merasa butuh sesuatu yang berbeda. Kamu tahu kan, belakangan ini kita… semakin jauh?”
Rengganis terdiam. Memang benar. Belakangan ini, komunikasi mereka memang menipis. Jatmiko sibuk dengan pekerjaannya, Rengganis sibuk dengan rumah tangga. Mereka seperti dua orang asing yang tinggal serumah. Tapi apakah itu cukup menjadi alasan untuk… ini?
“Jadi… kamu pikir ini pantas?” Rengganis menyuarakan pikirannya, menunjuk struk dan riwayat pesanan di ponselnya yang masih terbuka. “Kamu pikir ini cara yang benar untuk mengatasi masalah kita? Dengan memesan paket romantis untuk wanita lain?”
Jatmiko menggeleng cepat. “Tidak, tidak, Ren. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini salah besar. Aku minta maaf. Sungguh, aku minta maaf.” Ia mencoba meraih tangan Rengganis, tapi Rengganis menariknya menjauh.
“Maaf tidak cukup, Mas,” katanya pelan. “Ini bukan hanya soal kesalahan. Ini soal kepercayaan. Soal… semuanya.” Ia berdiri, berjalan menuju pintu depan. Ia merasa perlu udara segar. Ia harus pergi dari sini, dari situasi yang menyesakkan ini.
“Mau ke mana, Ren?” tanya Jatmiko, panik. Ia bangkit dan mencoba menahan lengan Rengganis. “Jangan pergi. Kita selesaikan ini baik-baik.”
Rengganis menepis tangannya. “Aku tidak tahu, Mas. Aku hanya… aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.” Matanya memandang Jatmiko. Ada kesedihan mendalam di sana, tapi juga secercah tekad yang baru tumbuh. Tekad untuk tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kebohongan ini.
Ia membuka pintu. Udara pagi menyambutnya. Ia memandang Jatmiko sekali lagi. Pria itu berdiri mematung, ekspresinya penuh penyesalan dan kebingungan. Rengganis tahu, ia tidak bisa membiarkan dirinya terus berada dalam lingkaran kebohongan ini. Tapi ke mana ia akan pergi? Dan apa yang akan terjadi pada mereka setelah ini? Ia melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya tanpa suara. Masa depan rumah tangga mereka kini menggantung, tak pasti, seperti embun pagi yang segera menguap diterpa matahari. Ia harus memutuskan, apakah ia akan mencoba memperbaiki yang rusak, atau mencari jalan baru untuk dirinya sendiri.
