Tangisan Laksmi: Kenapa Suami dan Sahabatnya Terlihat Begitu Canggung di Hajatan Itu?

Tangisan Laksmi: Kenapa Suami dan Sahabatnya Terlihat Begitu Canggung di Hajatan Itu?

CERITA PENDEK

Tangisan Laksmi: Kenapa Suami dan Sahabatnya Terlihat Begitu Canggung di Hajatan Itu?

Babak 1 — Senyum Laksmi yang Terlalu Lebar

Aroma sate kambing yang khas berbaur dengan wangi melati dari sanggul Laksmi. Hari ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan ke-sepuluh mereka. Sebuah pencapaian, katanya. Laksmi tersenyum lebar, sebuah senyum yang terukir rapi di wajahnya sejak pagi. Ia menyalami kerabat yang datang, membalas ucapan selamat dengan ramah. Sesekali ia melirik Pradipta, suaminya, yang sedang asyik bercengkerama dengan teman-teman kantornya. Ada sedikit rasa lega melihat Pradipta tampak santai, tidak seperti dua minggu terakhir yang selalu terlihat tegang.

“Laksmi, sini sebentar,” suara Ibu mertuanya memanggil dari arah gazebo. Laksmi segera mendekat, meletakkan nampan berisi gelas-gelas es teh jumbo yang baru saja diisinya. Ibu mertuanya tersenyum, menarik Laksmi untuk duduk di sampingnya. “Kamu sudah bekerja keras sekali hari ini, Nak. Semuanya bagus. Ibu bangga punya menantu sepertimu.” Pujian itu membuat Laksmi semakin merekah, ia menunduk malu, tapi senyumnya tak luntur.

Di tengah keramaian itu, ada satu sosok yang membuat mata Laksmi beberapa kali tertuju padanya tanpa sadar. Gendis, sahabatnya sejak SMA. Gendis datang bersama suaminya, Wibisono. Tawa Gendis terdengar renyah, namun tatapannya ketika beradu pandang dengan Laksmi terasa berbeda dari biasanya. Ada sedikit rasa bersalah yang tersirat, atau mungkin Laksmi hanya berlebihan? Ia menepis pikiran itu. Ini hari bahagianya, hari perayaan cintanya dengan Pradipta. Kenapa harus memikirkan hal-hal yang tidak penting?

“Kak Laksmi, selamat ulang tahun pernikahan!” Seseorang memanggil. Ternyata itu Bima, keponakan Laksmi yang baru saja kembali dari kuliahnya di Bandung. Laksmi tertawa, ia mengambil bingkisan kado yang diberikan Bima. “Terima kasih, Bim. Duduk sini, nanti Om Pradipta bawakan sate ya.” Laksmi merasa semua berjalan sempurna. Dikelilingi keluarga, sahabat, dan perhatian. Ia memutar tubuhnya, mencari Pradipta untuk berbagi momen bahagia ini. Namun, pandangannya justru tertuju pada Pradipta yang berdiri agak jauh, berhadapan dengan Gendis dan Wibisono. Mereka bertiga terlihat begitu serius, bahkan ketika Laksmi memanggil namanya, Pradipta hanya menoleh sekilas sebelum kembali menatap keduanya.

Ada sesuatu yang janggal. Senyum Laksmi sedikit memudar. Ia merasa ada yang tidak beres. Suasana yang tadinya begitu riang kini terasa sedikit mencekam, seperti mendung yang tiba-tiba datang menyelimuti langit cerah. Ia memberanikan diri berjalan mendekat. Saat ia hampir sampai, ia mendengar samar-samar percakapan mereka. Suara Pradipta terdengar tegang, sementara Gendis hanya menunduk, dan Wibisono… Wibisono terlihat begitu gelisah.


Babak 2 — Amplop Coklat yang Terlalu Rapi

Laksmi menarik napas dalam-dalam, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman yang mulai menjalar. Ia sampai di dekat suaminya, tersenyum manis. “Sayang, semua orang mencariin kamu. Ayo potong kue.” Pradipta menoleh, senyumnya tampak sedikit kaku. Ia menepuk pundak Laksmi. “Ya, sebentar lagi. Ini ada urusan sebentar.” Gendis dan Wibisono segera pamit undur diri dengan buru-buru, meninggalkan Laksmi dan Pradipta berdiri canggung di tengah area makan yang mulai sepi. Laksmi hanya tersenyum, menganggap mereka hanya sedang ada masalah pribadi.

Acara selesai, tamu-tamu mulai berdatangan ke kamar. Laksmi sibuk membereskan sisa-sisa makanan bersama beberapa anggota keluarga. Pradipta sudah masuk ke kamar duluan, katanya lelah. Laksmi mengangguk, ia mengambil piring kotor dan beranjak menuju dapur. Ketika melewati meja yang tadi digunakan Pradipta untuk berbicara dengan Gendis dan Wibisono, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di bawah meja. Sebuah amplop coklat polos.

Ia membungkuk untuk mengambilnya. Amplop itu terasa sedikit berat. Laksmi penasaran, mungkin jatuh dari saku Pradipta? Ia memeriksa isinya. Di dalamnya bukan tumpukan uang, melainkan beberapa lembar kertas yang dilipat rapi. Laksmi mengerutkan kening. Ketika ia membuka lipatan kertas itu, matanya membelalak. Itu adalah foto-foto. Bukan foto liburan, bukan foto acara kantor. Itu foto-foto mesra… Pradipta dan Gendis.

Tangan Laksmi gemetar hebat. Ia menjatuhkan piring kotor yang dipegangnya. Bunyi pecahan keramik memecah keheningan. Pradipta keluar dari kamar, menatap Laksmi dengan ekspresi terkejut. “Laksmi, kamu kenapa?” Tanyanya, matanya melirik ke arah foto yang tercecer di lantai. Wajahnya pucat pasi. Laksmi tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap suaminya, lalu beralih menatap amplop coklat yang tergeletak di tangannya. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Senyum lebar yang ia pasang sejak pagi kini lenyap seketika, digantikan oleh raut wajah yang tidak ia kenali, wajah yang penuh kebingungan dan luka.


Babak 3 — Kilas Balik Kopi Pagi

“Ini… ini dari mana, Mas?” Suara Laksmi bergetar, ia berhasil mengumpulkan kekuatannya untuk berbicara. Ia memunguti satu per satu foto yang berserakan di lantai. Foto-foto itu diambil di berbagai tempat, di kafe yang sering mereka kunjungi, di sudut kota saat senja, bahkan di sebuah kamar hotel yang tidak Laksmi kenali. Setiap foto adalah tamparan keras bagi Laksmi. Ia teringat kembali percakapan Pradipta dengan Gendis tadi. Tatapan canggung, gelisah, bersalah. Semuanya masuk akal sekarang.

Pradipta terlihat sangat kacau. Ia mengusap wajahnya berulang kali. “Laksmi, aku bisa jelaskan…” Kata-katanya terhenti ketika Laksmi mengangkat tangan, meminta ia diam. Laksmi bangkit berdiri, menatap suaminya lurus-lurus. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di depan Pradipta. Ia teringat pagi ini, saat ia membuatkan kopi untuk Pradipta sebelum berangkat kerja. Pradipta sempat memeluknya erat, berbisik, “Maafkan aku, ya.” Laksmi hanya tertawa kecil waktu itu, mengira suaminya hanya sedang merasa bersalah karena lupa membelikan roti yang ia minta kemarin.

“Jelaskan apa? Jelaskan foto-foto ini?” Suara Laksmi terdengar dingin, sangat berbeda dari suara lembut yang biasa ia gunakan. Ia melihat ke arah pintu kamar. “Di mana dompetmu?” Tanyanya, nadanya semakin tajam. Pradipta ragu-ragu menunjuk ke arah nakas. Laksmi segera mengambil dompet itu. Ia membuka kompartemen kartu, mencari sesuatu. Laksmi bukan tipe orang yang suka memeriksa barang pribadi suaminya, tapi kali ini ia merasa harus melakukannya. Ia menemukan sebuah kartu nama kecil di sana. Bukan kartu nama kantor Pradipta, melainkan kartu nama sebuah hotel bintang empat di pusat kota. Di belakang kartu nama itu, tertulis sebuah nomor kamar dan sebuah inisial: G.

“Siapa G, Pradipta?” Laksmi bertanya lagi, suaranya hampir habis. Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan, “Kamu tahu? Aku selalu menganggap Gendis adalah saudaraku. Dia yang selalu ada saat aku butuh teman bicara. Aku cerita padanya segalanya, tentang kebiasaanmu yang suka lupa tanggal jadian, tentang kekhawatiranmu soal pekerjaan. Aku… aku bahkan tidak pernah curiga sedikit pun. Kalian berdua… tega sekali.” Air mata akhirnya tak bisa lagi ia bendung. Laksmi menjatuhkan foto-foto itu kembali ke amplop, lalu ia melempar amplop itu ke arah Pradipta.


Babak 4 — Pengakuan di Bawah Lampu Teras

“Aku tahu ini sulit, Laksmi. Tapi aku… aku terjebak,” suara Pradipta terdengar putus asa. Ia duduk di kursi ruang tamu, tangannya meremas amplop berisi foto-foto itu. Laksmi berdiri di dekat jendela, membelakangi Pradipta. Ia tidak ingin melihat wajah suaminya saat ini. “Terjebak? Kamu terjebak dalam hubunganmu sendiri, Pradipta. Apa yang kamu inginkan dariku? Selama ini aku sudah berusaha menjadi istri yang sempurna.” Suara Laksmi kini terdengar datar, tanpa emosi.

Pradipta bangkit, ia berjalan perlahan mendekati Laksmi. “Bukan begitu maksudku. Gendis… Gendis punya masalah keluarga. Dia tertekan, dan entah bagaimana… kami menjadi dekat. Awalnya hanya teman, lalu… semua berubah. Aku tahu ini salah. Sangat salah. Aku sudah mencoba mengakhirinya, tapi…” Ia terdiam sejenak. “Tapi dia mengancam akan menghancurkanmu, Laksmi. Dia tahu semua kelemahanmu, dia tahu betapa kamu mencintai keluargamu. Aku takut. Aku tidak mau kamu terluka karena aku.” Pengakuan itu membuat Laksmi berbalik seketika. Wajahnya penuh dengan keterkejutan.

“Menghancurkan aku? Gendis?” Laksmi tertawa getir. “Dia yang memberiku amplop ini, Pradipta. Dia yang menyerahkannya padaku. Dia datang ke sini hari ini, menatap mataku penuh rasa bersalah, lalu dia menyerahkan bukti pengkhianatan kalian berdua di depan mataku. Apa menurutmu itu cara orang yang takut menyakiti?” Laksmi menatap Pradipta tajam. “Kamu berbohong padaku, Pradipta. Kamu tidak menjaga aku, kamu hanya melindungi dirimu sendiri dari keburukan yang sudah kamu perbuat. Kamu membiarkan aku hidup dalam kebohongan selama ini.”

Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari luar. Laksmi dan Pradipta menoleh ke arah teras. Di bawah cahaya lampu teras yang remang-remang, terlihat sosok Gendis sedang duduk bersimpuh, menangis tersedu-sedu. Wibisono berdiri di dekatnya, wajahnya terlihat lesu dan pasrah. “Laksmi…” Gendis memanggil lirih, suaranya serak. “Maafkan aku. Aku… aku tidak punya pilihan lain.” Laksmi hanya menatapnya tanpa ekspresi. Ia merasa semua telah berakhir. Keterkejutan, kemarahan, dan kesedihan beradu di dalam dadanya. Ia merasa dunia yang ia kenal selama ini runtuh seketika.


Babak 5 — Es Teh Jumbo dan Pilihan yang Sulit

Laksmi berjalan keluar menuju teras. Gendis mendongak, matanya sembab. “Laksmi, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi… aku terdesak. Wibisono punya banyak hutang. Mereka mengancam akan menyakiti keluargaku jika aku tidak bisa membayar. Aku… aku terpaksa melakukan ini untuk menyelamatkan mereka.” Gendis terisak. Wibisono menunduk, mengangguk pelan membenarkan ucapan istrinya. Laksmi menatap mereka satu per satu. Ia melihat kelelahan di mata Gendis, keputusasaan di wajah Wibisono. Di sisi lain, Pradipta berdiri diam di ambang pintu, ekspresinya sulit ditebak.

“Jadi… semua ini karena uang?” Laksmi bertanya dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. “Kamu menjual kehormatanmu, sahabatku, demi uang? Kamu mengkhianati persahabatan kita, kepercayaan kita, demi menyelamatkan keluargamu dari masalah yang mungkin bisa kita bantu selesaikan bersama?” Ia menggelengkan kepala perlahan. “Aku tidak mengerti.” Laksmi membuang napas panjang. Ia melihat ke arah Pradipta, lalu kembali menatap Gendis dan Wibisono.

“Aku tidak bisa memaafkanmu, Gendis. Tidak sekarang. Tapi aku mengerti rasa takutmu. Dan kamu, Pradipta. Aku perlu waktu untuk memikirkan semuanya. Apa yang akan terjadi pada kita? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, malam ini, di hari ulang tahun pernikahan kita, segalanya telah berubah.” Laksmi mengambil segelas es teh jumbo yang masih tersisa di meja teras, ia meneguknya perlahan. Rasa manis yang berlebihan kini terasa pahit di lidahnya. Ia menatap langit malam yang bertabur bintang, sebuah pemandangan yang tadinya ia harap akan menjadi saksi kebahagiaannya, namun kini justru menjadi saksi bisu dari kehancuran rumah tangganya.

Pradipta memandang Laksmi dengan tatapan penuh penyesalan. Gendis dan Wibisono duduk diam di lantai teras, suasana terasa begitu mencekam. Laksmi meletakkan gelas es teh itu kembali ke meja. Ia tidak tahu harus melangkah ke mana. Jalan di depan terasa begitu gelap dan penuh keraguan. Haruskah ia memilih untuk pergi, atau haruskah ia mencoba memperbaiki apa yang sudah hancur berkeping-keping? Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban yang pasti.