Cerita Pengkhianatan: Suaminya Selalu Pulang Larut, Tapi Kuitansi Ini yang Bikin Semua Runtuh

Cerita Pengkhianatan: Suaminya Selalu Pulang Larut, Tapi Kuitansi Ini yang Bikin Semua Runtuh

CERITA PENDEK

Cerita Pengkhianatan: Suaminya Selalu Pulang Larut, Tapi Kuitansi Ini yang Bikin Semua Runtuh

Babak 1 — Aroma Kopi Pahit dan Kebiasaan yang Berubah

Nindya menyeruput kopi paginya, aroma robusta yang pekat namun sedikit terlalu pahit hari ini. Biasanya, pagi adalah ritualnya membaca berita daring sambil ditemani secangkir kopi racikan sendiri, bukan kopi instan yang ia buat terburu-buru. Suaminya, Pradipta, selalu bilang ia perfeksionis soal kopi, tapi sejak dua bulan terakhir, ritual itu buyar. Pagi-pagi sekali, sebelum fajar menyingsing, Pradipta sudah berangkat kerja. ‘Ada proyek baru, Dy. Harus dikawal dari awal,’ begitu alasannya setiap kali Nindya bertanya.

Nindya tidak pernah benar-benar mempermasalahkan jam kerja suaminya yang molor. Ia mengerti beban pekerjaan seorang manajer proyek di sebuah perusahaan konstruksi besar di Jakarta. Pradipta selalu pulang dengan wajah lelah, tapi matanya masih menyimpan binar yang dulu selalu Nindya cintai. Hanya saja, belakangan ini, binar itu seperti meredup, digantikan oleh kelelahan yang berbeda. Kelelahan yang terasa asing.

Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi Tokopedia. Ada beberapa barang yang perlu dibeli untuk keperluan rumah tangga, dan ia selalu suka memesan menjelang tengah malam, agar paketnya tiba saat ia ada di rumah. Pradipta kadang pulang lewat tengah malam, dan Nindya sudah tertidur pulas. Ia tidak suka membangunkan suaminya yang sudah kelelahan, lebih baik ia membiarkannya beristirahat. Kebiasaan itulah yang membuat mereka semakin jarang bertukar cerita di malam hari. Nindya menyadari ini, tapi ia selalu menepis rasa khawatir yang muncul seperti tunas liar. ‘Ini hanya fase pekerjaan,’ ia selalu meyakinkan dirinya sendiri.

“Mas Pradipta, nanti pulangnya jangan terlalu malam ya,” ucap Nindya lirih saat Pradipta menyambar tas kerjanya di ambang pintu, sebelum ia sempat menyeruput kopi paginya. Pradipta hanya mengangguk sekilas, bibirnya bergerak membentuk senyum tipis yang tidak sampai ke mata. “Pasti, Dy. Doakan saja lancar.” Nadanya datar, tanpa kehangatan seperti biasa. Nindya menghela napas. Setiap kali ada ucapan ‘lancar’ atau ‘doakan’, itu pertanda buruk. Itu pertanda ia akan pulang larut malam, atau bahkan mungkin tidak pulang sama sekali untuk malam itu.

Ia memutuskan untuk menyibukkan diri dengan membereskan rumah. Menyapu lantai yang sudah bersih, menata ulang bantal-bantal sofa yang sudah rapi. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sebuah firasat yang sulit ia definisikan. Seminggu terakhir, Pradipta semakin sering menghabiskan waktu di depan laptopnya, bahkan saat akhir pekan. ‘Ada revisi mendadak dari klien,’ katanya, namun Nindya tidak pernah melihatnya benar-benar fokus pada layar, lebih sering ia hanya melamun, menatap kosong ke arah jendela.

Jam makan siang tiba. Nindya biasanya memesan seblak atau mie ayam via GoFood, namun hari ini ia hanya membuatkan sup ayam bening untuk dirinya sendiri. Ia menolak tawaran teman-temannya untuk makan siang bersama. Ada dorongan kuat untuk tetap di rumah, di tengah kesunyian yang tiba-tiba terasa begitu mencekam. Ia duduk di sofa ruang tamu, memutar-mutar gelas kosong di tangannya. Kebiasaan nervousnya mulai muncul, menggigit-gigit ujung kukunya dengan perlahan. Entah mengapa, semua detail kecil yang berubah dari Pradipta mulai menumpuk, membentuk bayangan yang semakin besar di benaknya.


Babak 2 — Struk Parkir yang Tumbuh Jadi Jurang

Sore menjelang senja, Pradipta belum juga pulang. Nindya sudah mulai terbiasa dengan pola ini, namun rasa cemasnya tak kunjung hilang. Ia beranjak ke kamar tidur utama untuk mengganti pakaian, saat matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di atas nakas, di samping jam weker. Sebuah struk parkir. Nindya mengerutkan dahi. Pradipta jarang sekali membawa pulang struk parkir. Biasanya ia akan membuangnya di tempat sampah dekat mesin parkir, atau menyelipkannya di saku celana yang kemudian akan Nindya masukkan ke mesin cuci.

Ia mengambil struk itu. Kertasnya terasa sedikit kasar di ujung jari. Tertera sebuah nama pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Jakarta Selatan, beserta jam masuk dan jam keluar. Yang janggal adalah jam keluarnya. Pradipta seharusnya sudah pulang sejak jam 5 sore, sesuai dengan alasan lembur yang ia berikan tadi pagi. Struk ini menunjukkan ia keluar dari parkir pada pukul 19.30. Selama dua setengah jam, ia berada di mana? Dan mengapa struk ini ada di nakas kamarnya?

Tangan Nindya mulai gemetar. Ia membalik struk itu, mencari detail lain. Ada beberapa item yang tercatat, namun hanya kode dan harga, tanpa deskripsi barang. ‘Ini pasti struk belanjaan Mas Pradipta,’ pikirnya. Tapi, pusat perbelanjaan itu bukan tempat yang biasa dikunjungi suaminya. Pradipta lebih suka toko buku atau pusat elektronik, bukan tempat yang menjual barang-barang mewah seperti di sana.

Nindya merasa napasnya tertahan. Ia mencoba mencari alasan logis. Mungkin Pradipta mampir sebentar setelah pulang kerja? Tapi jika begitu, mengapa tidak memberitahunya? Mengapa struk ini diselipkan begitu saja di nakas, seperti sengaja disembunyikan namun tidak benar-benar tersembunyi? Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah struk di tangannya. Ponselnya bergetar di saku celana, sebuah notifikasi dari aplikasi Shopee. Ia mengabaikannya. Perhatiannya sepenuhnya tersedot oleh lembaran kertas kecil di genggamannya.

Ia mencoba mengingat kembali percakapan mereka pagi tadi. “Ada proyek baru, Dy. Harus dikawal dari awal,” ucap Pradipta dengan nada yang terdengar… terburu-buru. Sangat berbeda dari biasanya. Pradipta biasanya akan sedikit bercerita tentang proyek baru itu, tentang tantangannya, atau harapan-harapannya. Kali ini, ia hanya mengucapkan beberapa patah kata, lalu bergegas pergi. Nindya merasa seperti ada bagian penting yang sengaja ia lewatkan dalam percakapan itu.

Ia membuka kembali struk itu, menyorotinya dengan cahaya lampu tidur yang baru saja ia nyalakan. Ada coretan kecil di bagian bawah, sebuah inisial ‘A’ yang ditulis dengan pulpen hitam. Inisial itu terasa familiar, namun ia tidak bisa menghubungkannya dengan siapa pun. Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke meja rias, dan membuka laci kecil yang jarang ia buka. Di dalamnya tersimpan beberapa kartu nama lama dan beberapa surat cinta dari masa SMA. Semuanya tersusun rapi. Tapi di antara tumpukan itu, ia menemukan sesuatu yang lain. Sebuah nota kecil yang terlipat rapi, tertulis dengan tulisan tangan yang berbeda dari miliknya atau Pradipta.


Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan yang Terlupakan

Nota kecil itu berisi daftar barang yang dibeli di sebuah toko bunga. Mawar merah, baby’s breath, dan secarik kertas bertuliskan ‘Untukmu, tersayang’. Nindya menelan ludah. Tangannya terasa dingin. Ia tahu tulisan ini bukan milik Pradipta. Dan inisial ‘A’ di struk parkir… apakah itu berhubungan dengan nota ini? Ia membuka kembali laptopnya, kali ini dengan tujuan yang lebih jelas. Mencari jejak. Ia membuka folder ‘Foto’ di laptop Pradipta, lalu ke folder ‘Pekerjaan’. Semuanya tampak biasa, gambar-gambar proyek konstruksi, denah bangunan, dan laporan rapat.

Namun, ia tak menyerah. Ia membuka folder ‘Dokumen Pribadi’. Ada beberapa folder yang namanya terasa mencurigakan: ‘Arsip Penting’, ‘File Rahasia’, ‘Backup Data’. Ia membuka folder ‘Arsip Penting’. Di dalamnya ada banyak folder lagi dengan nama-nama yang lebih umum. Ia mencoba mencari tanggal yang sama dengan tanggal pada struk parkir. Ia menemukan sebuah folder bernama ‘Keuangan Mei’. Di dalamnya ada beberapa file PDF.

Salah satu file itu berjudul ‘Pengeluaran Tak Terduga’. Ia membukanya. Isinya adalah daftar pengeluaran pribadi Pradipta selama sebulan terakhir. Dan di sana, tercantum sebuah pembayaran untuk ‘Bunga’ senilai dua ratus ribu rupiah, dengan keterangan ‘Toko Bunga Melati’. Toko bunga itu terletak tidak jauh dari pusat perbelanjaan yang tertera di struk parkir. Nindya merasa dunia berputar. Ia melihat kembali nota kecil di tangannya. Mawar merah, baby’s breath, untukmu tersayang. Ini bukan kejutan untuknya.

Flashback singkat melintas di benaknya. Suatu malam, sekitar dua bulan lalu, Pradipta pulang membawa sebuket mawar merah dan baby’s breath. Ia memberikannya pada Nindya dengan senyum yang tulus. “Untuk merayakan… entahlah, untuk merayakan kamu ada di hidupku,” katanya waktu itu. Nindya tersipu bahagia. Ia pikir itu adalah momen romantis biasa. Tapi sekarang, ia teringat sesuatu yang lain. Saat itu, Pradipta sempat ragu-ragu, seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun urung. Ia hanya memeluk Nindya lebih erat, seolah berusaha menutupi sesuatu.

Nindya membuka lagi struk parkir itu. ‘A’. Siapa ‘A’? Ia membuka kembali aplikasi pesan singkat di ponselnya. Ia tidak ingin mengintip pesan pribadi suaminya, tapi dorongan itu begitu kuat. Ia membuka daftar kontak Pradipta. Ada ratusan nama. Ia mencari nama yang mengandung huruf ‘A’. Banyak sekali. Ia menutup aplikasi itu dengan frustrasi. Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Ia teringat sebuah percakapan dengan sahabatnya, Kalani, minggu lalu. Kalani bercerita tentang temannya yang suaminya berselingkuh dengan sekretarisnya yang berinisial ‘A’. Nindya menepis pikiran itu. ‘Jangan berpikir yang macam-macam, Dy,’ katanya pada diri sendiri. Tapi rasa itu seperti racun yang perlahan merayap.

Ia melihat ke arah rak buku di sudut ruangan. Di sana terselip sebuah bingkai foto lama mereka berdua saat liburan di Bali, beberapa tahun lalu. Pradipta tersenyum lebar, sementara Nindya tertawa lepas. Di samping bingkai itu, ada sebuah boneka kecil berbentuk panda, hadiah ulang tahun dari Pradipta di tahun pertama pernikahan mereka. Ia mengambil boneka itu. Rasanya dingin dan kaku. Ia memeluknya erat, mencoba mencari kehangatan yang dulu selalu ia rasakan dari benda ini. Namun, kali ini, yang ia rasakan hanyalah kekosongan.


Babak 4 — Konfrontasi di Lorong Apartemen

Sudah jam 9 malam. Suara kunci diputar di pintu depan. Jantung Nindya berdebar kencang. Ia sudah menyiapkan diri. Ia meletakkan struk parkir dan nota bunga itu di atas meja kopi, tepat di depan sofa tempat ia duduk. Ia tidak menangis, tidak berteriak. Ia hanya duduk tegak, menunggu. Pintu terbuka, dan Pradipta masuk dengan wajah yang lebih lelah dari biasanya.

“Sudah pulang, Mas?” Suara Nindya terdengar tenang, tapi ada nada dingin yang tak bisa ia sembunyikan. Pradipta terkejut melihat Nindya masih duduk di sana, tidak seperti biasanya yang sudah tertidur pulas. Matanya melirik ke arah meja kopi, dan seketika raut wajahnya berubah. Senyum yang coba ia paksakan hilang.

“Nindya…” Mulai ia, suaranya tercekat. Ia melangkah mendekat, namun Nindya menggeleng pelan. “Aku sudah lihat ini,” ucap Nindya, menunjuk struk parkir dan nota bunga di meja. Pradipta terdiam, menunduk, tidak berani menatap mata istrinya.

“Ini… ini dari toko bunga langganan kamu kan, Mas? Buat siapa?” Nindya bertanya, suaranya bergetar, namun ia berusaha keras untuk tetap tenang. Pradipta menggeleng pelan. “Nindya, aku bisa jelaskan…”

“Jelaskan apa? Jelaskan kenapa struk parkir dari pusat perbelanjaan mewah itu ada di nakas kamar kita? Jelaskan kenapa kamu bilang lembur, tapi ternyata kamu keluar dari parkir jam setengah delapan malam?” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nindya, namun ia menahannya. Ia tidak ingin menangis di depan pria ini, belum.

Pradipta akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah, terlihat jelas ia menahan tangis. “Aku… aku tidak bermaksud selingkuh, Nindya.” Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Nindya. ‘Tidak bermaksud selingkuh’. Apa bedanya?

“Terus, ini apa namanya, Mas? Bunga itu, untuk siapa? Inisial ‘A’ di struk itu siapa?” Nindya menuntut jawaban. Pradipta menghela napas panjang, terlihat sangat berat.

“Aku… aku sering ke sana buat ketemu… ibuku.” Nindya terdiam. Ibunya? Pradipta memiliki ibu yang tidak pernah ia ceritakan pada Nindya. Ibunya sudah meninggal saat ia masih kecil. Ia selalu bilang ia tidak punya keluarga lagi. Lalu siapa ‘A’ itu?

“Ibu? Ibu kamu kan sudah meninggal, Mas. Siapa ‘A’ itu?” tanya Nindya lagi, suaranya kini berbisik.

“Bukan ibu kandungku, Nindya. Itu… ibu angkatku. Dia sakit parah, dan aku merawatnya diam-diam. Dia punya toko bunga kecil di sana. Bunga-bunga itu… itu untuk dia. Aku selalu merahasiakannya karena takut kamu merasa tidak nyaman. Aku tidak ingin kamu merasa aku punya keluarga lain selain kamu.” Suara Pradipta tercekat. Ternyata ia tidak sedang berselingkuh. Tapi ia berbohong.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku, Mas?” Nindya bertanya, suaranya kini dipenuhi kekecewaan. “Aku istrimu. Kenapa semua harus dirahasiakan?”

Pradipta meraih tangan Nindya, namun Nindya menariknya. “Aku… aku takut. Takut kamu pergi. Aku sangat mencintaimu, Nindya. Kamu adalah segalanya bagiku.” Ia memohon, air matanya kini mengalir deras. Namun, di tengah rasa lega karena suaminya tidak berselingkuh, Nindya merasa ada kekosongan yang lebih besar. Kebohongan itu, sebesar apapun alasannya, telah menciptakan jurang di antara mereka.


Babak 5 — Ruang Hampa di Antara Kebenaran

Nindya berdiri di ambang pintu apartemennya, memandangi Pradipta yang masih berdiri di lorong, terlihat rapuh dan kalah. Ia baru saja menutup pintu, membiarkan suaminya merenung di luar. Bukan lagi amarah yang ia rasakan, bukan pula kelegaan total. Yang ada hanyalah rasa hampa yang luas. Pradipta tidak berselingkuh, tapi ia telah membangun dinding kebohongan yang cukup tinggi untuk meruntuhkan kepercayaan Nindya. Selama dua bulan terakhir, setiap pulang larut, setiap ucapan ambigu, bukan karena wanita lain, tapi karena seorang ibu angkat yang ia rawat dalam diam.

Ia teringat malam-malam Pradipta pulang larut, mengaku lembur padahal sedang mengunjungi ibunya. Ia teringat ketegangan di wajah suaminya saat ia bertanya tentang pekerjaan. Semuanya kini masuk akal, namun rasa sakitnya tetap ada. Ia merasa ditipu, bukan oleh perselingkuhan, tapi oleh kerahasiaan yang disengaja. Ia merasa dirinya tidak cukup dipercaya untuk mengetahui bagian terpenting dari kehidupan suaminya.

Nindya berjalan ke dapur, menuang segelas air putih. Ia melihat pantulan dirinya di jendela gelap. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca. Ia telah menemukan jawabannya, namun jawaban itu tidak membawa kedamaian. Justru ia merasa semakin tersesat. Hubungan mereka, yang ia kira kokoh, kini terasa seperti rumah kartu yang siap runtuh kapan saja. Kepercayaan itu, sekali retak, sulit sekali untuk diperbaiki.

Ia memikirkan ucapan Pradipta, “Aku sangat mencintaimu, Nindya.” Apakah cinta saja cukup? Apakah cinta bisa menutupi semua kebohongan? Ia tidak tahu. Pagi tadi, ia memesan makanan via GoFood, sebuah nasi uduk komplit dengan telur balado. Pesanan itu tiba sebentar lagi. Biasanya ia akan berbagi dengan Pradipta. Tapi malam ini, ia tidak yakin apakah ia bisa makan bersama suaminya lagi.

Ia berjalan ke kamar tidur, memandangi nakas tempat struk parkir itu ia temukan. Ia teringat betapa paniknya ia saat itu, betapa buruknya skenario yang ia bayangkan. Ternyata, kenyataan, meskipun pahit, terkadang lebih kompleks dari yang kita duga. Ia membuka lemari, mengeluarkan koper kecilnya. Ia tidak tahu akan pergi ke mana, mungkin ke rumah orang tuanya di luar kota, atau mungkin hanya ke kamar tamu di apartemennya. Ia perlu waktu. Waktu untuk memproses semua ini, waktu untuk memutuskan apakah hubungan mereka bisa diselamatkan, atau hanya tinggal kenangan pahit yang tersimpan dalam sebuah struk parkir dan nota bunga.

Nindya duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Lampu di luar apartemen mulai berganti warna, dari jingga senja menjadi biru gelap malam. Ia tahu, malam ini, tidak ada tidur nyenyak untuknya. Ada terlalu banyak pertanyaan yang menggantung di udara, terlalu banyak kebenaran yang terasa seperti kebohongan, dan terlalu banyak ruang hampa di antara mereka yang perlu diisi, jika memang masih mungkin untuk diisi.