Kisah Perkantoran: Ia Kira Itu Hanya Kebetulan, Sampai Temukan Kwitansi Ini di Laci Meja

Kisah Perkantoran: Ia Kira Itu Hanya Kebetulan, Sampai Temukan Kwitansi Ini di Laci Meja

CERITA PENDEK

Kisah Perkantoran: Ia Kira Itu Hanya Kebetulan, Sampai Temukan Kwitansi Ini di Laci Meja

Babak 1 — Rutinitas Pagi yang Begitu-Begitu Saja

Gendis menekan tombol ‘send’ pada email terakhirnya, lalu menghela napas panjang. Pagi di hari Selasa itu terasa sama seperti pagi-pagi sebelumnya: hiruk pikuk Jakarta yang mulai merayap dari balik jendela kaca, deretan mobil yang bergerak lambat di Jalan Sudirman, dan aroma kopi instan yang samar tercium dari pantry kantor. Ia menyapukan pandangan ke layar komputernya, meneliti kembali angka-angka dalam laporan penjualan kuartal terakhir. Jari-jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk pelan di permukaan meja, sebuah kebiasaan kecil yang selalu muncul saat ia merasa sedikit jenuh.

Kantor ini, Wira Kencana Group, selalu terasa seperti rumah kedua baginya. Ia sudah bekerja di sini selama empat tahun, menapaki jenjang karier dari staf junior hingga sekarang menjadi salah satu analis utama. Rekan-rekan kerjanya pun sudah seperti keluarga; mereka sering makan siang bersama di kantin yang menyajikan nasi uduk legendaris, atau sekadar bertukar cerita ringan di pantry sambil membuat es teh jumbo.

Yang paling dekat dengannya tentu saja adalah Bagas, supervisornya. Bagas adalah tipe atasan yang baik hati, selalu bersedia mendengarkan keluh kesah anak buahnya, bahkan tak jarang ia memberikan solusi cerdas untuk masalah pekerjaan yang pelik. Sesekali, Bagas akan mengajaknya makan siang di luar kantor, sekadar mencari variasi dari menu kantin yang monoton. Kadang mereka memesan seblak pedas dari kedai dekat kantor, atau martabak manis keju cokelat saat malam lembur.

“Gendis, sudah selesai?” Suara Bagas terdengar dari ambang pintu ruangannya. Ia berdiri di sana, mengenakan kemeja batik lengan pendek yang rapi, khas penampilannya di hari Selasa. Senyumnya lebar, seperti biasa.

Gendis menoleh, membalas senyum Bagas. “Tinggal sedikit lagi, Mas. Ini sedang dicek ulang,” jawabnya. Ia tidak menyadari bahwa kebiasaan Bagas yang selalu menggunakan kemeja batik di hari Selasa ini, adalah salah satu dari sekian banyak detail yang akan segera meruntuhkan dunianya.

Bagas mengangguk, lalu masuk ke dalam ruangan Gendis. “Baguslah. Kalau begitu, nanti sore ada rapat mendadak dengan direksi. Jangan lupa ya,” katanya, matanya menatap layar Gendis sejenak, lalu kembali ke wajah Gendis. Tatapan itu terlalu singkat untuk diperhatikan, namun cukup untuk membuat Gendis merasa sedikit tidak nyaman. Ia segera mengalihkan pandangan kembali ke monitor, pura-pura sibuk.

“Baik, Mas. Akan saya catat,” ucap Gendis datar. Ia merasa sedikit cemas, rapat mendadak dengan direksi biasanya berarti ada sesuatu yang besar akan terjadi, entah itu perubahan strategi perusahaan, restrukturisasi, atau kabar buruk lainnya.

Bagas tersenyum lagi, lalu berbalik keluar ruangan. Gendis menunggu sampai punggung Bagas menghilang di koridor, sebelum ia kembali menekuni laporan. Suasana kantor yang tadinya terasa biasa saja, kini mulai terasa sedikit berbeda. Ada semacam getaran halus di udara, seperti sebelum badai datang.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata sejenak. Ia teringat percakapannya dengan Bagas kemarin sore, ketika ia menanyakan kemungkinan kenaikan gaji. Bagas mengatakan akan segera membicarakannya dengan bagian HRD, namun tidak bisa berjanji. Gendis tidak terlalu berharap, ia hanya mencoba peruntungannya. Tapi entah mengapa, percakapan itu kembali terngiang.

Ia membuka mata, pandangannya jatuh pada laci mejanya yang sedikit terbuka. Laci itu berisi berkas-berkas lama, beberapa alat tulis, dan sebuah kotak kecil berisi permen jahe kesukaannya. Ia ingat betul, kemarin ia membersihkan meja kerjanya, memastikan laci itu tertutup rapat. Apa ia lupa menutupnya semalam?

Rasa penasaran mulai menggelitik. Dengan gerakan lambat, Gendis membuka laci itu lebih lebar. Ia mulai mengeluarkan beberapa map berkas, mencoba merapikannya. Di antara tumpukan kertas-kertas tua itu, matanya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Sebuah benda kecil berwarna putih yang terselip di sudut.

Ia menariknya keluar perlahan. Sebuah kwitansi. Dari sebuah toko elektronik. Tanggalnya… kemarin sore. Dan nama yang tertera di kwitansi itu… bukanlah namanya.


Babak 2 — Kebenaran yang Terselip di Laci

Jantung Gendis berdetak lebih kencang dari biasanya. Tangannya sedikit gemetar saat ia membalik kwitansi itu. Tertera di sana sebuah daftar barang yang dibeli: sebuah jam tangan merek Citizen, satu set perlengkapan kopi V60, dan sebuah voucher belanja senilai lima ratus ribu rupiah. Totalnya cukup lumayan, hampir empat juta rupiah.

Nama pembeli: Bagas Wibisono. Tempat pembelian: Toko Elektronik Galaxy, yang berlokasi di salah satu mal ternama di Jakarta Selatan. Tanggal pembelian: kemarin sore, pukul 17.30.

Jam 17.30. Saat Gendis masih berada di kantor, sibuk menyelesaikan laporan, dan Bagas sendiri baru saja memberitahunya ada rapat mendadak dengan direksi sore ini. Jika Bagas berada di mal, bagaimana ia bisa memberitahunya tentang rapat itu?

Gendis merasa otaknya berputar dengan cepat, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan. Ia teringat percakapan mereka kemarin. Bagas memang pamit pulang lebih dulu, dengan alasan ada urusan keluarga yang mendesak. Ia bahkan menunjukkan gestur meminta maaf yang berlebihan.

“Maaf ya, Gendis. Ada urusan mendadak. Tolong bereskan yang tersisa sedikit ya. Nanti kalau ada apa-apa, kabari saja,” kata Bagas dengan nada sedikit terburu-buru. Gendis hanya mengangguk, ia terlalu fokus pada laporan.

Ia membuka aplikasi pesan di ponselnya, mencari nama Bagas. Pesan terakhir yang mereka kirim adalah soal laporan. Tidak ada yang mencurigakan. Ia kemudian membuka aplikasi ojek online, mencari Toko Elektronik Galaxy. Ternyata benar, toko itu ada, dan dari alamatnya, lokasinya memang lumayan jauh dari kantor mereka.

Gendis menunduk lagi, menatap kwitansi itu. Mengapa Bagas menyimpannya di lacinya? Apakah ia tidak sengaja terselip? Atau… ada maksud lain?

Ia mencoba mengingat kembali kejadian kemarin sore. Saat Bagas pamit pulang, Gendis memang sempat diminta Bagas untuk mengambilkan map di meja Bagas. Mungkinkah saat itulah Bagas menyelipkan kwitansi ini?

Perasaan dingin merayapi tulang punggungnya. Ia mulai membandingkan beberapa hal. Bagas baru saja mengajaknya membahas kenaikan gaji. Bagas selalu terlihat baik dan perhatian. Apakah semua itu hanya kepura-puraan?

Gendis meraih ponselnya lagi, membuka aplikasi perbankan. Ia mengecek mutasi rekeningnya. Tidak ada yang aneh. Ia lalu mencoba membuka aplikasi dompet digitalnya, DANA. Ia ingat pernah menyimpan bukti pembayaran sesuatu yang berhubungan dengan elektronik. Namun nihil, tidak ada bukti yang relevan.

Ia kembali menatap kwitansi itu. Jam tangan… perlengkapan kopi… voucher belanja. Barang-barang itu tidak terdengar seperti kebutuhan mendesak. Tapi voucher belanja senilai lima ratus ribu rupiah itu… bisa saja digunakan untuk membeli sesuatu yang lebih besar.

Ia membuka galeri ponselnya, memilah-milah foto yang mungkin terkait. Tidak ada. Semuanya hanyalah foto-foto pekerjaan, foto-foto saat makan bersama rekan kerja, atau foto pemandangan kota dari jendela kantor. Ia bahkan sempat memotret nasi uduk di kantin kemarin.

Ketukan di pintu ruangannya kembali terdengar, kali ini lebih pelan. Gendis sedikit terkejut, hampir menjatuhkan kwitansi itu. Ia segera memasukkannya kembali ke dalam laci, lalu menutupnya rapat.

“Masuk,” ucapnya, suaranya terdengar sedikit bergetar.

Ternyata itu adalah Ratih, salah satu rekan kerjanya dari departemen lain. Ia membawa setumpuk dokumen yang harus ditandatangani Gendis.

“Eh, Gendis, kamu belum pulang? Aku kira sudah selesai semua,” kata Ratih sambil tersenyum.

Gendis berusaha tersenyum balik, namun ia merasa senyumnya kaku. “Belum, Ratih. Masih ada rapat nanti sore. Ini kamu mau apa?” tanyanya, berusaha mengalihkan perhatian dari kegugupan yang ia rasakan.

Ratih meletakkan tumpukan dokumen di meja. “Ini. Tolong tanda tangan ya. Ada beberapa data yang perlu kamu konfirmasi juga.” Ia lalu menatap layar Gendis yang masih menampilkan laporan. “Wah, hebat ya, laporanmu sudah hampir selesai. Padahal ada rapat mendadak juga kan sore ini?”

Gendis hanya mengangguk. “Iya, begitulah.” Ia berusaha menahan diri untuk tidak bertanya apa pun pada Ratih. Ia merasa perlu mencari tahu lebih banyak sendiri terlebih dahulu.


Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan Pahit

Setelah Ratih keluar, Gendis kembali terdiam. Ia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Jam tangan Citizen. Perlengkapan kopi. Voucher belanja. Ia mencoba mencari tahu harga jam tangan Citizen di internet. Ada banyak jenisnya, dari yang terjangkau hingga yang cukup mahal. Ia tidak tahu persis model apa yang dibeli Bagas.

Ia membuka aplikasi Tokopedia, mencoba mencari perlengkapan kopi V60. Banyak pilihan, dari berbagai merek dan harga. Ia semakin bingung. Detail-detail ini terasa begitu acak, namun juga begitu spesifik.

Gendis merasa perlu untuk menelusuri lebih jauh. Ia teringat pada sebuah aplikasi forum diskusi online yang sering ia gunakan untuk mencari informasi tentang produk-produk baru. Mungkin saja ada yang pernah membahas jam tangan Citizen atau perlengkapan kopi V60 di sana.

Ia membuka aplikasi forum itu, lalu mengetikkan kata kunci yang ia cari. Hasilnya lumayan banyak. Ia membaca beberapa utas diskusi, mencoba mencari petunjuk. Salah satu utas yang menarik perhatiannya adalah tentang hadiah ulang tahun untuk atasan. Beberapa orang menyarankan jam tangan atau perlengkapan hobi.

Mungkinkah jam tangan dan perlengkapan kopi itu adalah hadiah? Hadiah untuk siapa? Jika untuk atasan, mengapa Bagas yang membelinya, padahal ia sendiri adalah supervisor Gendis?

Gendis teringat kembali ke hari itu. Bagas memang sempat mengeluh tentang hadiah ulang tahun untuk ayahnya. Ayah Bagas punya hobi minum kopi. Tapi… itu sudah cukup lama, mungkin lebih dari sebulan lalu. Apa hubungannya dengan kwitansi kemarin?

Ia merasa seperti sedang menyusun puzzle yang sangat besar, dengan potongan-potongan yang tidak pas. Ia mencoba mengingat kembali percakapannya dengan Bagas. Bagas selalu terlihat sangat terbuka, bahkan terkadang menceritakan masalah pribadinya.

Suatu kali, Bagas pernah bercerita tentang kesulitan finansial yang sedang ia hadapi. Ia harus membiayai pengobatan ibunya yang sakit di kampung halaman, sambil tetap mengirimkan uang bulanan ke keluarganya di sana. Gendis sempat merasa iba dan menawarkan untuk meminjamkan uang, namun Bagas menolaknya dengan sopan.

Apakah kwitansi ini berhubungan dengan kesulitan finansial Bagas? Apakah voucher belanja itu adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar? Mungkinkah ini terkait dengan pengobatan ibunya?

Gendis merasa pikirannya bercabang. Satu sisi ia merasa curiga, sisi lain ia merasa iba. Ia mencoba melihat kwitansi itu lagi. Kertasnya agak tebal, dicetak dengan kualitas yang cukup baik. Tinta hitamnya masih jelas terlihat.

Ia tiba-tiba teringat pada sebuah kejadian beberapa bulan lalu. Saat itu, ia diminta untuk mengambilkan sebuah berkas di meja Bagas, sementara Bagas sedang keluar sebentar. Ia melihat sebuah dompet kulit yang tergeletak di atas meja. Dompet itu sedikit terbuka, dan ia sekilas melihat ada kartu kredit dengan nama yang berbeda tergeletak di dalamnya.

Saat itu ia tidak terlalu memikirkannya, menganggap mungkin itu kartu kredit milik istri Bagas atau keluarganya. Namun kini, informasi itu kembali terlintas di benaknya dengan kuat.

Kartu kredit dengan nama berbeda. Pembelian barang mewah. Alasan pamit pulang mendadak. Semua itu mulai membentuk pola yang tidak menyenangkan.

Gendis membuka kembali aplikasi ojek online-nya. Kali ini ia mencari daftar riwayat perjalanan Bagas. Kebetulan, Bagas sering memesan GoCar atau GoRide menggunakan akun kantornya, yang terkadang ia minta Gendis untuk bantu pesan saat ia sedang sibuk. Jika ia menggunakan akun kantor, data perjalanannya pasti tersimpan.

Ia mengklik menu ‘Riwayat Perjalanan’. Ia mencari tanggal kemarin. Dan di sana ia menemukannya. Sebuah pesanan GoCar dari alamat kantor Wira Kencana Group menuju alamat Toko Elektronik Galaxy, dengan waktu keberangkatan pukul 17.15.

Jadi, Bagas memang pergi ke toko itu. Dan pesanannya di aplikasi terkonfirmasi. Pukul 17.30, waktu di kwitansi, adalah waktu ia kemungkinan besar selesai bertransaksi.

Gendis merasa mual. Ia teringat lagi pada tatapan Bagas yang sempat mampir ke layarnya kemarin pagi. Tatapan yang kini terasa seperti tatapan seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu.

Ia merasa perlu mengkonfirmasi ini. Tapi bagaimana? Menghadapi Bagas langsung terasa terlalu berat. Ia belum siap mendengar penjelasan apa pun.

Ia kemudian teringat bahwa Bagas sering kali menyimpan kartu nama dari rekanan bisnis atau klien di dalam dompetnya. Mungkin saja ia bisa menemukan petunjuk di sana.

Dengan langkah berat, Gendis kembali membuka laci meja Bagas yang memang sengaja ia tinggalkan sedikit terbuka. Ia merogoh ke dalam, mencoba mencari dompet kulit yang pernah ia lihat. Ia menemukannya, terselip di antara tumpukan berkas.

Ia membuka dompet itu perlahan. Di dalamnya ada beberapa kartu nama, kartu tol, dan kartu ATM. Gendis membalik kartu nama itu satu per satu. Ada nama-nama perusahaan besar, nama-nama orang penting. Namun tidak ada yang mencurigakan.

Lalu, ia melihat kartu nama yang sedikit berbeda. Desainnya minimalis, warna hitam dengan tulisan berwarna emas. Tertulis di sana: ‘Laksmi Chandrawati – Konsultan Keuangan Pribadi’. Di bawahnya ada nomor telepon dan alamat email.

Nama Laksmi Chandrawati. Gendis seperti pernah mendengar nama itu. Apakah ini nama istri Bagas? Gendis tidak pernah terlalu peduli dengan kehidupan pribadi Bagas, karena Bagas sendiri jarang membicarakannya.

Ia mengambil ponselnya lagi, membuka aplikasi pencarian. Ia mengetik nama ‘Laksmi Chandrawati’. Hasilnya muncul. Sebuah profil di LinkedIn. Tertera di sana, ‘Laksmi Chandrawati, Financial Advisor, Spesialisasi Perencanaan Keuangan Keluarga dan Investasi Jangka Panjang’.

Terkejut. Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Konsultan keuangan pribadi. Perencanaan keuangan keluarga. Investasi jangka panjang. Semua ini mulai masuk akal, namun dengan cara yang mengerikan.


Babak 4 — Konfrontasi Penuh Ketegangan

Rapat mendadak dengan direksi yang dijanjikan Bagas ternyata tidak terjadi. Pukul lima sore, kantor mulai sepi. Sebagian besar karyawan sudah pulang, hanya menyisakan beberapa orang yang lembur. Gendis masih duduk di mejanya, memegang kartu nama Laksmi Chandrawati di tangannya. Kwitansi itu masih tersimpan di lacinya.

Ia memutuskan untuk melakukan satu hal terakhir. Ia harus tahu pasti. Ia meraih ponselnya, mencari nomor yang tertera di kartu nama Laksmi. Jantungnya berdebar kencang saat ia menekan tombol ‘panggil’.

“Halo?” Suara di seberang terdengar tenang, namun terdengar sedikit lelah.

“Selamat sore, Ibu Laksmi. Saya Gendis, dari Wira Kencana Group.” Gendis berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

Hening sejenak. “Ya, sore. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya… saya menemukan kartu nama Ibu di dompet Bapak Bagas Wibisono. Saya hanya ingin memastikan, apakah Bapak Bagas pernah menggunakan jasa konsultasi keuangan Ibu?” Gendis sengaja memilih kata ‘memastikan’ agar tidak terdengar menuduh.

Hening lagi, kali ini lebih lama. Gendis bisa mendengar suara napas di seberang telepon.

“Bagas… ya. Dia adalah klien saya,” jawab Laksmi akhirnya, suaranya terdengar sedikit lebih pelan.

“Dan… apakah Ibu mengetahui… jika Bapak Bagas… melakukan pembelian yang cukup besar baru-baru ini? Seperti jam tangan, atau perlengkapan kopi?” Gendis menelan ludah.

Terdengar helaan napas yang dalam dari ujung telepon. “Gendis, saya tidak seharusnya membicarakan detail klien saya. Tapi karena Anda menanyakan hal ini… dan tampaknya ada kesalahpahaman… izinkan saya mengatakan ini. Bagas memang membeli barang-barang itu. Dan voucher itu… itu adalah bonus dari saya, untuk menyelesaikan kewajibannya tepat waktu.”

“Kewajibannya? Kewajiban apa, Bu?” Gendis bertanya, suaranya bergetar hebat.

“Kewajiban untuk melunasi dana yang ia pinjam dari klien saya yang lain. Dana itu digunakan untuk… ya, pengobatan ibunya. Tapi, ada bagian dari dana itu yang ia gunakan untuk keperluan pribadinya. Termasuk membeli barang-barang itu. Ia merasa bersalah, jadi ia meminta saya untuk… mencoba mengembalikannya secara diam-diam agar tidak diketahui istrinya.”

Gendis merasa dunia berputar. Klien lain? Dana pinjaman? Istrinya? Kalimat terakhir Laksmi seperti sebuah pukulan telak. Bagas punya istri? Seingat Gendis, Bagas selalu mengaku masih lajang, atau pernah bercerita tentang mantannya yang tidak berjodoh.

“Istri… Pak Bagas sudah menikah, Bu?” Gendis bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.

Terdengar suara tawa kecil yang getir dari seberang. “Oh, Gendis. Apakah Bagas belum memberitahumu? Ya, Bagas sudah menikah. Sudah hampir lima tahun. Istrinya bernama Wulan. Mereka punya dua anak. Ia selalu bilang ia masih single di kantor karena… ia tidak ingin ada yang tahu urusan pribadinya di sini. Terutama soal finansialnya yang… cukup rumit.”

Semua runtuh. Semua yang Gendis tahu tentang Bagas, tentang kebaikannya, tentang perhatiannya, semuanya terasa seperti kebohongan besar. Pria yang selama ini ia anggap sebagai teman, bahkan mungkin… lebih, ternyata adalah seorang pembohong besar. Ia punya istri dan anak, ia berbohong tentang statusnya, ia meminjam uang untuk pengobatan ibunya tapi malah membeli jam tangan dan perlengkapan kopi, dan ia menyembunyikan semua itu darinya.

Gendis memutuskan sambungan telepon. Ia menatap kosong ke depan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha keras menahannya. Ia tidak ingin menangis di sini, di kantor.

Ia bangkit dari kursinya, berjalan perlahan menuju laci mejanya. Ia menariknya terbuka, lalu mengambil kwitansi itu. Ia membacanya lagi. Jam tangan Citizen. Perlengkapan kopi V60. Voucher belanja.

Ia kemudian membuka ponselnya lagi, mencari profil Bagas di media sosial yang jarang ia buka. Ia menemukan profil yang dikunci. Ia mencoba meminta pertemanan, dan tak lama kemudian, permintaannya diterima.

Ia melihat foto profil Bagas. Kali ini, di sebelahnya ada foto seorang wanita tersenyum dan dua orang anak kecil yang sedang tertawa. Foto keluarga. Foto yang tidak pernah Gendis lihat sebelumnya.

Di bagian informasi profilnya tertulis: ‘Bagas Wibisono. Married to Wulan Sari. Father of two.’

Gendis merasa seperti baru saja tersambar petir. Semua yang dikatakan Laksmi terbukti benar. Bagas berbohong tentang segalanya.

Ia kemudian membuka aplikasi GoFood. Ia ingat pernah memesan boba milk tea untuk Bagas beberapa minggu lalu saat Bagas sedang tidak enak badan. Ia melihat riwayat pesanannya. Dan di sana, ia melihat nama tokonya: ‘Toko Bunga Sekar Wangi’. Alamatnya… di daerah yang sama dengan mal tempat Bagas membeli jam tangan.

Ia membuka riwayat pesanannya di toko bunga itu. Tertera di sana: ‘Bunga Lily Putih, 1 ikat’. Tanggalnya… dua minggu lalu. Pesanan atas nama Bagas Wibisono.

Gendis merasa seperti sedang berada di dalam mimpi buruk. Toko bunga. Bunga lily putih. Apakah itu untuk istrinya? Atau untuk wanita lain?

Ia terdiam, mencoba mencerna semua informasi ini. Kenyataan yang ia hadapi jauh lebih kompleks dan menyakitkan daripada yang ia bayangkan.


Babak 5 — Pilihan di Antara Kebohongan

Gendis duduk kembali di kursinya, menatap kwitansi di tangannya. Kertas putih itu kini terasa begitu berat, seperti membawa beban seluruh kebohongan yang baru saja terungkap. Jam tangan Citizen, perlengkapan kopi V60, voucher belanja. Semua itu bukan sekadar barang, melainkan simbol dari kehidupan ganda yang dijalani Bagas.

Ia membandingkan wajah di foto profil Bagas dengan wajahnya saat ini, tatapan Bagas kemarin saat memberitahunya soal rapat mendadak. Semua detail kecil itu kini terasa begitu menusuk. Senyumnya, perhatiannya, tawanya… semua palsu?

Gendis mencoba mengingat kembali setiap interaksi mereka. Bagas selalu memujinya, mengatakan betapa ia mengagumi dedikasi dan ketulusannya dalam bekerja. Pernahkah Bagas mengatakan ia belum menikah? Gendis tidak begitu yakin. Ia hanya berasumsi, seperti kebanyakan orang di kantor yang juga tidak pernah mendengar Bagas menyebutkan nama istri atau pacar.

Ia membuka aplikasi pesan di ponselnya, menatap deretan percakapan dengan Bagas. Ada banyak sekali pesan tentang pekerjaan, permintaan bantuan, bahkan sesekali candaan ringan. Gendis merasa perutnya mual lagi.

Ia meraih kwitansi itu, lalu meremasnya perlahan. Ia tidak yakin apa yang harus ia lakukan sekarang. Melaporkan Bagas ke HRD? Menghadapi Bagas secara langsung? Atau… diam saja dan pura-pura tidak tahu?

Pilihan pertama terasa paling logis, namun juga paling menakutkan. Bagas adalah supervisornya, dan ia tidak yakin apakah manajemen akan bertindak tegas terhadap Bagas yang merupakan karyawan lama dan berkinerja baik. Belum lagi, ia akan dicap sebagai pengadu. Namun, membiarkan kebohongan ini terus berlanjut terasa seperti mengkhianati dirinya sendiri.

Menghadapi Bagas langsung? Itu juga bukan hal mudah. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Bagas. Apakah ia akan marah, menyangkal, atau malah memohon maaf?

Dan pilihan terakhir, diam saja. Pura-pura tidak melihat kwitansi itu, berpura-pura tidak tahu tentang istri dan anak-anak Bagas. Ia bisa saja mengembalikan kwitansi itu ke laci, melupakan semuanya. Tapi bisakah ia benar-benar melupakannya? Setiap kali ia melihat Bagas, setiap kali Bagas tersenyum padanya, ia akan selalu teringat pada kebohongan ini.

Gendis teringat kata-kata Laksmi, ‘ia merasa bersalah, jadi ia meminta saya untuk… mencoba mengembalikannya secara diam-diam agar tidak diketahui istrinya.’

Mengembalikan secara diam-diam. Seolah Bagas ingin menutupi jejaknya. Seolah ia tahu apa yang ia lakukan itu salah, namun tetap melakukannya.

Gendis menatap layar komputernya yang masih menampilkan laporan penjualan. Angka-angka itu terasa begitu hampa sekarang. Ia tiba-tiba teringat pada nasi uduk dan es teh jumbo yang sering mereka nikmati bersama. Momen-momen itu kini terasa ternoda.

Ia kemudian teringat pada bunga lily putih dari Toko Bunga Sekar Wangi. Ia membuka kembali riwayat pesanannya di GoFood. Ada beberapa pesanan lain yang tercatat atas nama Bagas. Beberapa pesanan makanan dari restoran mewah, bahkan beberapa pesanan barang elektronik dari toko online yang berbeda.

Semua itu hanya mengkonfirmasi satu hal: Bagas memang menjalani kehidupan ganda. Dan ia, Gendis, entah disadari atau tidak, telah menjadi bagian dari kehidupan ganda itu. Apakah Bagas sengaja mendekatinya? Apakah perhatian yang diberikan Bagas selama ini hanya taktik untuk menutupi jejaknya atau bahkan untuk mencari keuntungan lain?

Gendis merasakan kepalanya berdenyut. Ia merasa lelah, lelah dengan semua kebohongan ini. Ia melirik jam dinding di kantor. Hampir pukul tujuh malam. Ia harus segera pulang.

Ia bangkit dari kursinya, merapikan mejanya dengan gerakan mekanis. Ia mengambil tasnya, lalu melirik sekali lagi ke arah laci mejanya. Kwitansi itu masih ada di sana. Ia tidak yakin apakah ia akan mengambilnya atau membiarkannya di sana.

Saat ia melewati meja Bagas, ia melihatnya. Dompet kulit Bagas tergeletak di atas meja, sedikit terbuka. Gendis sempat ragu sejenak, lalu ia mengambil langkah pasti. Ia mendekati meja itu, dan dengan gerakan cepat, ia memasukkan kwitansi itu kembali ke dalam dompet Bagas, tepat di samping kartu nama Laksmi Chandrawati.

Ia kemudian mundur perlahan, memastikan tidak ada yang melihatnya. Ia tidak ingin langsung berkonfrontasi, setidaknya tidak malam ini. Ia butuh waktu untuk berpikir.

Gendis berjalan keluar dari ruangan kantor, menuju lift. Saat pintu lift tertutup, ia menatap pantulan dirinya di permukaan kaca. Wajahnya pucat, matanya terlihat lelah, namun ada sedikit keteguhan di sana.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Bagas akan menemukan kwitansi itu dan menyadari bahwa ia tahu? Apakah Bagas akan menemuinya besok dengan penjelasan yang lebih rumit? Atau apakah semua akan kembali seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa?

Gendis tidak memiliki jawaban. Yang ia tahu, dunia yang ia kenal di Wira Kencana Group baru saja berubah total. Dan ia harus memutuskan, apakah ia akan terus membiarkan kebohongan ini berkuasa, atau ia akan mencari cara untuk mengungkapkannya, apa pun risikonya.