Kisah Nyata: Struk Belanja Ini Buktikan Suaminya Punya Kehidupan Kedua yang Tak Terduga
Babak 1 — Dapur yang Terlalu Sunyi
Langit di luar jendela dapur mulai meredup, melukis semburat jingga di cakrawala Jakarta. Sekarwangi, dengan rambut dikuncir asal-asalan dan apron bermotif bunga yang sudah agak pudar, mengaduk sambal terasi di atas kompor. Aroma bawang dan cabai menyeruak, seharusnya menjadi penanda bahwa makan malam sebentar lagi siap. Namun, bukan aroma itu yang mengisi kesunyian apartemennya malam ini, melainkan kecemasan yang perlahan menggerogoti.
Ia melirik jam di dinding, pukul 19.15. Suaminya, Pradipta, seharusnya sudah pulang satu jam lalu. Biasanya, Pradipta tipe suami yang selalu tepat waktu, atau paling tidak, akan mengirimkan pesan jika ada kendala. Tapi malam ini, ponselnya hanya menampilkan notifikasi grup chat kantor dan beberapa update dari akun media sosial yang isinya lebih banyak iklan. Sekarwangi mencoba meyakinkan diri. Mungkin macet parah. Mungkin ada rapat mendadak yang tak bisa dihindari.
“Biasanya juga kalau lembur banget, dia suka ngabarin,” gumam Sekarwangi sendiri, suaranya nyaris tak terdengar di tengah suara desis sambal. Cacat kecilnya, kebiasaan menghindari konflik dan selalu mencari pembenaran positif, kini terasa seperti pisau berkarat yang menggores hatinya. Ia tak pernah mau menduga yang terburuk. Tak pernah mau memikirkan kemungkinan lain.
Ia melanjutkan tugasnya, mencoba mengalihkan pikiran dengan irama gerakan tangan memotong timun untuk lalapan. Nasi sudah matang, lauk ikan goreng sudah tersaji rapi di piring keramik bergambar bunga matahari. Semuanya sempurna, siap untuk dinikmati. Tapi siapa yang akan menikmati? Sendirian?
Pintu apartemen berderit pelan. Sekarwangi tersentak, jantungnya berdegup kencang. Ia segera meraih lap, menyeka tangannya yang sedikit basah, lalu berbalik. Namun, yang muncul di ambang pintu bukan Pradipta. Melainkan Ibu Laksmi, tetangga sebelah yang usianya terpaut jauh lebih tua, dengan wajah yang tampak cemas.
“Mbak Sekar? Kok Mas Dipa belum pulang ya?” tanya Ibu Laksmi, suaranya sedikit bergetar. Beliau menyandarkan tas belanjaannya di dinding dekat pintu. “Tadi saya lihat mobilnya diparkir agak jauh dari lobi. Kayak terburu-buru gitu, Mbak. Tapi nggak ada orang di dalamnya pas saya lihat.”
Ada sesuatu dalam nada suara Ibu Laksmi yang membuat bulu kuduk Sekarwangi berdiri. Sesuatu yang bukan sekadar rasa ingin tahu tetangga.
Babak 2 — Struk yang Bicara Lebih Lantang
Perkataan Ibu Laksmi menghantam Sekarwangi seperti gelombang dingin. Mobil Pradipta diparkir agak jauh? Terburu-buru? Ia mencoba menarik napas, tapi udara terasa tercekat di tenggorokannya. “Oh, iya Bu. Mungkin dia lupa naruh parkir di tempat biasa. Kadang kalau buru-buru memang begitu,” jawab Sekarwangi, suaranya sengaja dibuat ringan, mencoba mengabaikan getaran di ujung kalimatnya. Ia tersenyum, senyum yang terasa kaku di wajahnya.
Ibu Laksmi mengangguk pelan, namun matanya masih menatap Sekarwangi dengan sorot yang sulit diartikan. “Ya sudah, Mbak. Kalau ada apa-apa, panggil saja saya.” Ibu Laksmi lalu masuk kembali ke apartemennya, meninggalkan Sekarwangi berdiri termangu di depan pintu dapur yang terbuka.
Sepeninggal Ibu Laksmi, Sekarwangi tidak langsung melanjutkan persiapan makan malam. Ia berjalan pelan ke arah ruang tamu, pandangannya tertuju pada tas kerja Pradipta yang tergeletak di sofa. Biasanya, suaminya akan langsung membawanya ke kamar atau meletakkannya di meja kerja. Tapi malam ini, tas itu seolah dibiarkan begitu saja.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sekarwangi mendekati tas itu. Ia tidak berniat menggeledahnya, sungguh. Ia hanya ingin memastikan tidak ada sesuatu yang aneh. Tangannya terulur, menyentuh permukaan kulit tas yang dingin. Ia membuka sedikit resleting utama, hanya untuk melihat isinya sekilas. Map-map kantor, buku catatan, dan… sebuah struk parkir.
Struk parkir. Kenapa Pradipta menyimpan struk parkir di tas kerjanya? Ia biasanya langsung membuangnya. Sekarwangi menarik struk itu keluar dari saku kecil di dalam tas. Lembarannya terasa sedikit lecek. Ia membukanya perlahan.
Awalnya ia hanya melihat detail transaksi biasa: nama tempat, tanggal, jam, dan nominal. Tapi kemudian, matanya terpaku pada beberapa baris tulisan di bawahnya. Alamat sebuah gedung perkantoran yang asing baginya, beserta keterangan durasi parkir yang sangat lama. Bukan gedung tempat Pradipta bekerja.
Napas Sekarwangi tertahan. Perasaan dingin yang tadi sempat mereda, kini kembali menyeruak, lebih kuat dari sebelumnya. Ia membolak-balik struk itu, mencari tahu apakah ada detail lain yang bisa menjelaskan. Tapi tidak ada. Hanya nama sebuah gedung, waktu, dan nominal yang jelas menunjukkan bahwa mobil itu terparkir di sana selama berjam-jam.
Ia menekuk lututnya, punggungnya bersandar pada dinding. Struk itu masih tergenggam erat di tangannya. Tangan yang tadi memegang sambal, kini memegang bukti. Bukti yang bicara lebih lantang dari asumsi dan prasangka.
Babak 3 — Jejak Digital yang Berbisik
Apartemen yang tadinya terasa luas kini menyempit, dinding-dindingnya seolah merapat, menekan Sekarwangi. Ia masih duduk di lantai, struk parkir itu tak lepas dari genggamannya. Pikirannya berputar liar, mencoba menyusun kepingan puzzle yang tak ia mengerti. Gedung itu… di mana lokasinya? Ia tidak mengenali namanya. Dan Pradipta, kenapa ia memarkirkan mobilnya di sana selama itu?
Ia mencoba mengingat lagi. Terakhir kali Pradipta lembur seperti ini adalah saat proyek besar di akhir tahun lalu. Tapi saat itu, ia selalu melapor. Selalu ada alasan yang jelas. Dan alamat parkir ini, tidak mungkin itu alamat kantornya.
Sekarwangi bangkit berdiri. Ia berjalan ke meja kerja Pradipta, tempat ponsel suaminya tergeletak. Ia ragu sejenak. Mengintip ponsel pasangan adalah garis batas yang tak pernah ia lewati. Namun, struk di tangannya seolah mendorongnya untuk melangkah lebih jauh. Jika ada sesuatu yang perlu ia ketahui, ia harus mengetahuinya.
Ia membuka ponsel Pradipta. Untungnya, Pradipta tidak pernah mengunci ponselnya saat ia berada di rumah. Layar terkunci menampilkan foto pernikahan mereka sebagai latar belakang, momen bahagia yang kini terasa begitu jauh. Sekarwangi mengabaikan foto itu. Matanya tertuju pada beberapa aplikasi yang sering digunakan Pradipta.
Ia membuka aplikasi peta. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengetikkan alamat gedung yang tertera di struk parkir itu. Jantungnya berdegup semakin kencang saat peta menampilkan lokasi sebuah pusat perkantoran mewah di kawasan Jakarta Selatan, beberapa kilometer dari apartemen mereka.
“Kenapa Mas Dipa ke sana?” bisiknya getir. Ia lalu beralih ke aplikasi pesan. Ada percakapan dengan teman-temannya, beberapa diskusi pekerjaan. Namun, matanya tertuju pada sebuah ikon aplikasi komunikasi lain yang tak begitu sering ia lihat digunakan Pradipta. Sebuah aplikasi kencan online yang populer.
Seketika, dunia Sekarwangi seakan berhenti berputar. Ia menatap ikon itu dengan nanar. Ia tidak pernah tahu Pradipta punya aplikasi semacam itu. Jari-jarinya bergerak otomatis, membuka aplikasi itu. Deretan foto profil wanita muncul, satu per satu. Ia scroll dengan gerakan cepat, sebagian besar ia tidak mengenali. Sampai kemudian, sebuah foto profil menarik perhatiannya.
Senyum wanita di foto itu… entah kenapa terasa familier. Ia memperbesar foto itu. Rambut panjang bergelombang, mata sipit yang khas, bibir yang sedikit tersenyum. Sekarwangi menelan ludah. Ia lalu menggeser ke foto berikutnya. Kali ini, wajah wanita itu lebih jelas terlihat.
Detak jantungnya menggila. Ia seperti melihat bayangannya sendiri, tapi dengan versi yang lebih muda dan lebih… bersemangat. Wanita itu juga memakai kalung liontin berbentuk kupu-kupu, persis seperti yang pernah ia lihat dikenakan oleh seorang kolega Pradipta di acara kantor beberapa bulan lalu. Kolega yang sering terlihat mengobrol akrab dengan suaminya saat makan siang.
Babak 4 — Pertemuan yang Tidak Dikenal
Sekarwangi menutup aplikasi kencan itu secepat ia membukanya. Tangannya terkulai lemas. Ia tidak berteriak, tidak menangis sejadi-jadinya seperti yang ia bayangkan dalam skenario terburuknya. Hanya ada kehampaan yang menguasai. Tadi ia mencari penjelasan, tapi kini ia menemukan kebenaran yang jauh lebih menghancurkan daripada dugaannya.
Ia kembali ke dapur, melihat nasi dan ikan goreng yang masih tersaji rapi. Semuanya terasa seperti ilusi. Ia meraih ponselnya sendiri, lalu membuka aplikasi Gojek. Ia tidak punya niat memesan makanan. Ia hanya ingin melihat opsi lain. Mungkin memesan es teh jumbo untuk meredakan tenggorokannya yang tercekat.
Ia membuka tab riwayat pemesanan. Di sana, tertera beberapa pesanan yang ia buat minggu lalu. Dan kemudian, matanya menangkap sesuatu yang aneh. Ada pesanan GoCar yang ia tidak ingat pernah memesannya. Tanggalnya tiga hari yang lalu. Rute: dari apartemen mereka menuju sebuah kafe di daerah Kemang.
Ia memeriksa detailnya. Drivernya bernama… “Rengganis”. Nama itu terlintas begitu saja. Ia lalu mengklik detail pesanan. Dan di sana, tercantum nama penumpang: “Pradipta”. Tapi yang membuat Sekarwangi terpaku adalah, di bagian catatan untuk driver, tertulis:
“Mohon jemput agak jauh dari lobi, saya akan keluar sebentar lagi. Terima kasih. -R.”
R. Rengganis. Nama inisial itu sama dengan nama di struk parkir yang masih ia pegang. R untuk Rengganis, dan inisial di catatan itu. Sekarwangi memejamkan mata. Semuanya mulai terangkai dengan mengerikan.
Ia lalu membuka aplikasi percakapan Pradipta. Ia tidak ingin mencari bukti perselingkuhan secara gamblang, tapi ia mencari nama “Rengganis”. Dan ia menemukannya. Seorang kontak bernama “Reni” dengan foto profil wanita yang sama seperti di aplikasi kencan itu. Percakapan mereka… ia tidak membacanya secara detail. Ia hanya melirik sekilas. Ada janji bertemu, ada kata-kata yang ambigu, ada panggilan sayang yang seharusnya tidak ditujukan untuknya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara kunci pintu apartemen berputar. Pradipta pulang. Sekarwangi membeku. Di tangannya tergenggam struk parkir, di ponselnya terpampang bukti hubungan lain suaminya. Ia memejamkan mata lagi, mencoba mengatur napasnya. Ia harus menghadapi ini.
Pradipta masuk, melepas sepatu, dan melihat Sekarwangi berdiri di dekat meja makan, wajahnya pucat pasi. “Sayang? Kok belum makan? Aku pulang telat banget, maaf ya, tadi ada… ada sedikit urusan mendadak,” ucap Pradipta, suaranya terdengar sedikit lelah, namun ada nada tegang yang tak bisa disembunyikan.
Sekarwangi hanya diam. Ia menatap suaminya, menatap mata Pradipta yang berusaha menghindari tatapannya. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Babak 5 — Pintu yang Terbuka
Pradipta meletakkan tas kerjanya di sofa, sama seperti sore tadi. Ia berjalan menghampiri Sekarwangi, mencoba meraih tangannya. “Sayang? Kenapa? Kamu sakit?” tanyanya, nadanya berubah cemas.
Sekarwangi menarik tangannya. Ia tidak bisa menyentuh Pradipta saat ini. “Urusan mendadak, Mas?” tanya Sekarwangi, suaranya datar, tanpa emosi. Ia berusaha keras agar suaranya tidak bergetar.
Pradipta terdiam sejenak. Ia pasti menyadari sesuatu yang berbeda dari istrinya. “Iya, tadi ada… klien dari luar kota mau ketemu dadakan. Kita ketemu di kafe di Kemang. Makanya aku parkir agak jauh biar cepet keluar.” Ia mencoba menjelaskan, namun matanya terus bergerak gelisah, menghindari tatapan Sekarwangi.
Sekarwangi mengeluarkan struk parkir dari saku apronnya. Ia meletakkannya di atas meja makan, di antara nasi dan ikan goreng yang sudah dingin. “Kafe di Kemang? Yang ini, Mas?” tanyanya, suaranya kini terdengar serak.
Pradipta membeku. Ia menatap struk itu, lalu menatap Sekarwangi. Wajahnya pucat pasi. Ia jelas mengenali struk itu. Bibirnya sedikit terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Ia seperti tertangkap basah.
Sekarwangi tidak menunggu jawaban lebih lanjut. Ia mengambil ponselnya, lalu membuka galeri foto. Ia menemukan foto profil Rengganis dari aplikasi kencan tadi, lalu foto di profil chat Pradipta dengan nama “Reni”. Ia memutar ponselnya, menghadap Pradipta. “Dan ini, Mas? Siapa ini?”
Pradipta terkesiap. Ia melirik foto di ponsel Sekarwangi, lalu kembali menatap istrinya dengan mata memelas. Ia membuka mulutnya, hendak bicara, namun Sekarwangi mengangkat tangan, menghentikannya. Ia tidak ingin mendengar alibi atau penjelasan palsu lagi.
“Aku nggak mau dengar apa-apa lagi, Mas,” ucap Sekarwangi lirih. Air mata yang sedari tadi ia tahan, kini mulai mengalir tanpa permisi. “Aku cuma mau tahu… kenapa?” Ia tidak berteriak, hanya berbisik, namun suara itu membawa seluruh luka yang terpendam. Pertanyaan itu menggantung di udara, tak terjawab.
Pradipta hanya bisa berdiri diam, menunduk. Ia tidak bisa menatap mata istrinya. Di sampingnya, di ambang pintu dapur yang masih terbuka, terlihat Ibu Laksmi berdiri dengan tatapan prihatin, seolah ia tahu segalanya terjadi tak lama setelah ia meninggalkan apartemen Sekarwangi. Pintu rumah tangga mereka, yang tadinya tertutup rapat oleh kebohongan, kini terbuka lebar oleh kebenaran yang menyakitkan.
