Cerita Pengkhianatan: Dompet Ketinggalan Suami, KTP Ini Ungkap Semua Kebohongannya

Cerita Pengkhianatan: Dompet Ketinggalan Suami, KTP Ini Ungkap Semua Kebohongannya

CERITA PENDEK

Cerita Pengkhianatan: Dompet Ketinggalan Suami, KTP Ini Ungkap Semua Kebohongannya

Babak 1 — Pagi yang Semestinya Biasa Saja

Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 07.15. Cahaya matahari pagi yang keemasan menyusup malu-malu melalui celah gorden tebal di apartemen minimalis milik Rengganis dan suaminya, Jatmiko. Suara denting wajan beradu spatula terdengar dari dapur, disusul aroma nasi goreng yang mulai tercium menggoda. Rengganis, dengan rambut cepol asal-asalan dan apron bergambar kucing lucu, tengah sibuk mengaduk nasi di atas kompor. Pagi ini seharusnya sama seperti pagi-pagi lainnya. Rutinitas yang nyaman, sedikit membosankan, tapi aman.

“Mas, jangan lupa dompetnya! Nanti ketinggalan lagi kayak kemarin,” teriak Rengganis dari dapur, suaranya sedikit teredam oleh bisingnya obrolan di radio lokal yang memutar lagu-lagu pop lawas. Ia tak beranjak dari posisinya, meyakini Jatmiko sudah siap di depan televisi ruang keluarga, sedang menyimak berita pagi sambil menyeruput kopinya.

Hening. Tidak ada jawaban. Hanya suara televisi yang semakin lirih. Rengganis mengerutkan kening. Jatmiko biasanya akan menyahut, entah itu gumaman setuju atau keluhan khas pria yang belum sepenuhnya bangun. ‘Aneh,’ pikirnya. Ia mematikan kompor, meraih gagang spatula, lalu berjalan menuju ruang keluarga.

Apartemen itu hening senyap. Televisi menyala, menampilkan wajah presenter berita yang sedang tersenyum, namun tidak ada Jatmiko di sana. Pria itu tidak duduk di sofa empuk berwarna abu-abu, juga tidak bersandar di ambang pintu, kebiasaan Jatmiko saat sedang malas bergerak. Meja di depannya bersih, hanya ada remot televisi dan gelas kopi yang separuh terisi. ‘Sudah berangkat ternyata,’ gumam Rengganis, rasa kesal mulai merayap. Ia sudah menyiapkan nasi goreng kesukaan Jatmiko. Terlambat bangun berarti ia harus makan sendiri, atau makan nasi goreng dingin.

“Sudah berangkat, ya? Kebiasaan, nggak bilang-bilang,” gerutunya pelan sambil beranjak kembali ke dapur. Ia menyendok nasi goreng itu ke dalam kotak bekal baru yang ia beli dari Tokopedia minggu lalu. Untuk makan siang Jatmiko di kantor. Jatmiko bilang ada rapat penting hari ini, jadi ia akan makan di kantor saja. ‘Biar hemat waktu,’ katanya. Rengganis hanya mengangguk, terlalu malas berdebat soal kebiasaan suaminya yang terkadang mengabaikan ritual sarapan bersama.

Saat itulah matanya menangkap sesuatu tergeletak di lantai, di dekat kaki meja kopi. Dompet kulit hitam milik Jatmiko. Terlihat sedikit terbuka, seolah baru saja terjatuh dari kantong celananya. Rengganis memutar bola matanya, menghela napas panjang. ‘Dasar pikun.’ Ia membungkuk untuk mengambilnya. Ini sudah ketiga kalinya minggu ini.

Babak 2 — KTP yang Hilang dan Kenangan yang Muncul

Tangannya meraba permukaan dompet yang terasa dingin. Ia berniat langsung menaruhnya di meja samping pintu, tempat Jatmiko biasa menggantung kunci mobilnya. Tapi sebelum itu, ia refleks menutup dompet yang sedikit terbuka. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang kaku di balik lapisan kulit. Sebuah kartu. KTP. Entah mengapa, naluri Rengganis terusik. Ia pernah melihat KTP Jatmiko di dompetnya kemarin. Warnanya sudah agak pudar, yang asli.

Perlahan, dengan gerakan yang nyaris tak disadari, Rengganis membuka kembali dompet itu. Di slot yang seharusnya berisi KTP Jatmiko, tergeletak sebuah kartu identitas yang asing. Berbeda warna, berbeda desain. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena panik, lebih ke arah rasa ingin tahu yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Ia menarik kartu itu keluar.

Sebuah Kartu Tanda Penduduk. Foto seorang wanita muda dengan rambut sebahu tersemat di sana. Senyumnya tipis, matanya menatap lurus ke depan, sedikit menantang. Nama yang tertera di bawah foto itu bukanlah Rengganis. Namanya adalah… Sekarwangi. Alamatnya di sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang belum pernah Rengganis dengar. Usianya terpaut jauh di bawah Jatmiko. Sekitar dua puluhan akhir, mungkin.

Tangan Rengganis mulai gemetar. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Ini pasti salah paham. Mungkin Jatmiko dititipi sesuatu. Mungkin ini KTP karyawan baru di kantornya yang ia temukan di jalan dan lupa mengembalikannya. Pikirannya berputar cepat, mencari alasan yang paling masuk akal. Tapi KTP itu terselip rapi di dompet Jatmiko, bukan di tas kerjanya. Dan jelas bukan KTP yang ia kenali.

Ia mulai membuka slot-slot lain di dompet itu. Kartu ATM, kartu kredit, beberapa kartu nama, dan lembaran uang tunai. Semuanya tampak biasa saja. Sampai matanya tertuju pada sebuah foto kecil yang terlipat di bagian belakang. Foto polaroid. Ia menariknya keluar perlahan. Di sana, Jatmiko dan wanita di KTP itu, Sekarwangi, sedang tertawa. Mereka berdua tampak sangat dekat. Jatmiko merangkul pinggang Sekarwangi dengan mesra, sementara Sekarwangi menyandarkan kepalanya di bahu Jatmiko. Latar belakangnya adalah sebuah pantai yang asing, dengan matahari terbenam yang indah. Foto itu terlihat cukup lama, warnanya sedikit memudar, tapi kemesraan di dalamnya terasa nyata dan menusuk.

Rengganis terduduk lemas di sofa. Spatula nasi goreng yang masih di tangannya jatuh berdebum ke lantai marmer. Nasi goreng berhamburan, menciptakan noda oranye kecoklatan di permukaan yang bersih. Ia tidak lagi merasa kesal karena ditinggal sarapan. Rasa itu tergantikan oleh sesuatu yang lebih dingin, lebih mencekam. Ia menatap KTP di tangannya, lalu foto polaroid itu. Dua benda kecil yang terasa seperti palu godam menghantam kehidupannya yang ia kira aman.

Babak 3 — Jejak Digital dan Kebenaran yang Pahit

Setelah beberapa menit terdiam membeku, Rengganis bangkit. Ia tidak menangis. Belum. Air matanya masih tertahan di tenggorokan, membentuk gumpalan yang menyakitkan. Ia berjalan menuju kamar tidur mereka, membuka laci nakas Jatmiko dengan gerakan kaku. Ia mencari sesuatu. Ponsel Jatmiko. Bukan untuk menggeledah pesan pribadi, tapi ia butuh data.

Ia ingat Jatmiko pernah mengunduh aplikasi transportasi online, GoCar, beberapa bulan lalu. Katanya untuk kemudahan jika ada keperluan mendadak. Ia membuka aplikasi itu di ponselnya, lalu login menggunakan nomor telepon Jatmiko. Jatmiko sering lupa password, jadi Rengganis yang menyimpannya. Setelah beberapa kali percobaan memasukkan kode OTP yang dikirim ke nomor Jatmiko, ia berhasil masuk.

Ia membuka riwayat perjalanan. Awalnya hanya rute-rute biasa dari apartemen ke kantor, atau ke rumah orang tua mereka di luar kota. Tapi semakin ia scroll ke bawah, semakin jauh ke belakang, matanya menemukan pola yang aneh. Rute-rute yang tidak pernah ia dengar. Perjalanan ke luar kota yang tidak pernah Jatmiko ceritakan. Alamat-alamat yang merujuk pada daerah di Jawa Tengah, tempat asal Sekarwangi.

Terakhir, ada satu entri perjalanan yang membuatnya tercekat. Dua hari lalu. Jatmiko memesan GoCar dari apartemen mereka, tapi tujuannya bukan kantor. Tujuannya adalah sebuah hotel di pinggiran kota Jakarta. Dan di detail pesanan itu, tertera nama penumpang: Sekarwangi. Rengganis menutup aplikasi itu, tangannya terasa dingin dan lengket. Ia ingat, dua hari lalu Jatmiko bilang ada meeting di daerah Cilandak sampai malam. Rengganis membiarkannya, ia memang selalu berusaha memberi Jatmiko ruang.

Ia kemudian membuka aplikasi DANA di ponselnya. Jatmiko sering menggunakannya untuk bertransaksi. Ia melihat histori transfer. Ada pengiriman dana rutin ke nomor yang tidak terdaftar atas nama siapapun. Dengan nominal yang cukup besar, setiap bulan. Rengganis belum pernah bertanya, ia pikir itu untuk investasi atau cicilan. Tapi kini, ia punya kecurigaan yang mengerikan. Apakah itu untuk Sekarwangi?

Kenangan-kenangan kecil mulai bermunculan di benaknya. Suatu kali, Jatmiko pernah pulang terlambat dengan alasan lembur. Saat Rengganis bertanya apa yang ia kerjakan, Jatmiko hanya menjawab singkat, ‘Ada deadline.’ Ada juga saat Jatmiko menerima telepon dari nomor tak dikenal, lalu berbisik-bisik di balkon, keluar dari kebiasaan biasanya yang selalu terbuka soal komunikasi.

Ia teringat sebuah sore di akhir pekan lalu. Jatmiko sedang mandi, sementara ponselnya tertinggal di meja makan. Ada notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal. Rengganis, yang saat itu sedang menyiapkan es teh jumbo untuk mereka minum, tak sengaja melihatnya. Pesannya singkat: ‘Kapan kita bisa ketemu lagi, Mas? Aku kangen.’ Rengganis sempat terdiam, tapi ia segera membuang pikiran buruk itu. Ia yakin, itu pasti pesan dari teman lama Jatmiko yang sudah lama tidak bertemu.

Kini, semua potongan puzzle itu menyatu. Dompet yang tertinggal, KTP asing, foto mesra, riwayat perjalanan GoCar yang mencurigakan, transfer DANA rutin, dan pesan-pesan ambigu. Kebenaran itu terasa pahit, lebih pahit dari kopi tanpa gula yang selalu diminum Jatmiko.

Babak 4 — Pertemuan yang Tak Terhindarkan

Jatmiko pulang sekitar pukul setengah tujuh malam. Ia tampak lelah, sedikit berbeda dari biasanya. Ada semacam kegelisahan di matanya yang Rengganis tidak pernah lihat sebelumnya. Ia mencoba bersikap normal, menyambut Jatmiko dengan senyum tipis. Tapi Jatmiko hanya membalas dengan gumaman singkat, lalu buru-buru masuk ke kamar.

Rengganis mengamati suaminya dari ruang keluarga. Jatmiko duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya. Ia tidak membuka baju kerja, hanya melepas dasi dan kemejanya. Keheningan di antara mereka terasa begitu berat, lebih berat dari biasanya. Nasi goreng yang berhamburan di lantai tadi sudah ia bersihkan, tapi rasa mual di perutnya belum hilang.

Akhirnya, Rengganis memberanikan diri. Ia mengambil KTP Sekarwangi dan foto polaroid itu dari dalam amplop yang ia simpan di laci meja, lalu berjalan menghampiri Jatmiko. Ia meletakkan kedua benda itu di atas nakas, tepat di samping gelas kopi Jatmiko yang sudah dingin.

Jatmiko mendongak, matanya tertuju pada benda-benda itu. Wajahnya pucat pasi. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap benda-benda itu dengan pandangan kosong. Rengganis menunggu. Ia ingin Jatmiko yang bicara lebih dulu.

“Kamu… menemukannya?” suara Jatmiko serak, seperti tidak digunakan berhari-hari. Ia menunduk, pandangannya terpaku pada foto polaroid itu. Ia mengambilnya, jemarinya membelai wajah Sekarwangi dengan gerakan perlahan.

Rengganis menarik napas dalam. “Menemukan apa, Mas? Menemukan dompetmu di lantai? Atau menemukan ini?” Ia menunjuk KTP Sekarwangi. “Ini siapa? Kenapa ada di dompetmu?” Pertanyaannya terdengar tenang, tapi nadanya bergetar.

Jatmiko menutup matanya sejenak. “Dia… dia adiku, Nis.”

Rengganis tertawa. Tawa kering, tanpa kebahagiaan. “Adik? Sejak kapan kamu punya adik bernama Sekarwangi yang foto mesranya kamu simpan di dompet?” Ia berusaha menjaga suaranya agar tidak pecah. “Dan kenapa adiknya Mas Jatmiko perlu diantar-antarkan pakai GoCar ke hotel? Kenapa Mas Jatmiko mentransfer uang ke nomor yang tidak jelas setiap bulan?”

Jatmiko membuka matanya. Ada air mata yang mulai menggenang. “Dia bukan adikku, Nis. Dia… dia mantanku.”

“Mantannn?” Rengganis mengulang kata itu dengan nada sinis. “Yang kamu bilang kamu sudah putus sepuluh tahun lalu? Yang kamu bilang sudah bahagia dengan hidupnya di kampung?” Ia menggelengkan kepala perlahan, rasa sakit itu mulai menjalar, membakar dadanya.

“Aku… aku tidak bisa melupakannya, Nis. Dia… dia punya masalah keluarga yang berat. Ayahnya terlilit utang judi. Dia butuh bantuan. Aku terus membantunya diam-diam. Aku janji padanya, aku tidak akan memberitahumu.” Jatmiko menunduk lagi, pandangannya tertuju pada ujung kakinya sendiri. Wajahnya memancarkan penyesalan yang mendalam.

“Jadi selama ini… kamu berbohong?” Rengganis bertanya, suaranya nyaris berbisik. “Semua rapat lembur itu? Semua perjalanan keluar kota yang tidak pernah kamu ceritakan? Itu semua untuk dia?”

Jatmiko tidak menjawab. Diamnya adalah konfirmasi terkuat. Rengganis merasa dunianya runtuh. Pengkhianatan itu bukan hanya soal fisik, tapi juga kebohongan yang terstruktur rapi, menutupi segalanya selama bertahun-tahun. Ia merasa seperti orang bodoh yang hidup dalam ilusi indah.

Babak 5 — Keheningan yang Menakutkan

Rengganis berjalan keluar dari kamar. Ia tidak berteriak, tidak menangis sejadi-jadinya. Ia hanya merasa kosong. Mengambil jaket tipis dari gantungan baju, ia meraih kunci mobilnya yang tergeletak di meja dekat pintu keluar. Jatmiko hanya menatapnya dari ambang pintu kamar, wajahnya pucat pasi, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Ia melangkah keluar dari apartemen itu, menutup pintu dengan lembut. Suara klik kunci terdengar begitu keras di keheningan lorong. Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin. Ia tidak punya tujuan pasti. Hanya ingin menjauh. Menjauh dari dinding-dinding apartemen yang menyimpan jutaan kenangan manis yang kini terasa seperti racun.

Ia mengendarai mobilnya tanpa arah, melewati lampu-lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di malam hari. Pikirannya berkecamuk. Ia teringat momen-momen indah bersama Jatmiko. Liburan mereka di Bali, saat Jatmiko melamarnya di bawah taburan bintang. Kebiasaan kecil Jatmiko yang selalu membuatnya tertawa. Semua itu terasa seperti mimpi buruk yang sangat nyata. Ia sadar, selama ini ia hidup dalam sebuah kebohongan yang dibangun dengan cinta semu.

Ia berhenti di sebuah minimarket 24 jam di pinggir jalan. Lampu neon yang terang benderang terasa menyakitkan di matanya yang mulai memanas. Ia keluar dari mobil, berjalan masuk ke dalam. Ia membeli sebotol air mineral dan sebungkus kecil keripik kentang, makanan ringan yang dulu sering mereka nikmati bersama saat menonton film di rumah.

Saat ia sedang mengantre di kasir, matanya menangkap sesuatu di rak majalah. Sebuah majalah gaya hidup lokal. Sampulnya menampilkan seorang wanita cantik dengan senyum menawan. Ia melihat sekilas nama di bawah foto itu. Sekarwangi. Judul artikelnya: ‘Sekarwangi: Dari Klaten Menaklukkan Jakarta, Sukses Bisnis Kuliner di Usia Muda’. Di bawahnya, ada foto Sekarwangi yang sedang tersenyum sambil memegang semangkuk seblak dengan bangga.

Rengganis mematung. Ia menatap tajam pada foto Sekarwangi di majalah itu. Ternyata, wanita itu bukan sekadar ‘mantan’ yang butuh bantuan. Ia adalah seorang pebisnis sukses. Ia tidak membutuhkan uang Jatmiko. Ia tidak membutuhkan bantuan finansial.

Jadi, untuk apa semua kebohongan Jatmiko selama ini? Untuk apa semua uang yang ditransfer setiap bulan? Untuk apa foto mesra itu? Untuk apa semua perhatian dan waktu yang ia curi dari Rengganis? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, tanpa jawaban. Hanya keheningan malam dan lampu minimarket yang menjadi saksi.

Ia membayar belanjaannya, lalu kembali ke mobil. Botol air mineral dingin terasa nyaman di genggamannya. Ia menyalakan mesin mobilnya lagi. Kali ini, ia tahu ke mana ia harus pergi. Bukan kembali ke apartemen. Bukan ke rumah orang tuanya. Ia hanya ingin mencari tempat di mana ia bisa berpikir jernih. Atau mungkin, tempat di mana ia bisa membiarkan semua rasa sakit itu mengalir keluar tanpa penyesalan.

Ia mengemudikan mobilnya ke arah Senen, sebuah kawasan yang ramai namun juga menyimpan banyak cerita. Ia memarkir mobilnya di sebuah sudut jalan yang agak sepi, membiarkan lampu sen menyala redup. Di luar, suara klakson dan teriakan pedagang kaki lima terdengar sayup-sayup. Rengganis menatap lurus ke depan. Malam masih panjang. Dan ia, tampaknya, baru saja memulai babak baru dalam hidupnya. Babak yang tidak pernah ia inginkan, namun kini harus ia jalani. Keputusan apa yang akan ia ambil selanjutnya? Mengkonfrontasi Jatmiko? Atau menghilang begitu saja?