Cerita Pengkhianatan: Bukan Struk Parkir Biasa, Ini yang Ditemukan Ibu Rumah Tangga di Tas Suami

Cerita Pengkhianatan: Bukan Struk Parkir Biasa, Ini yang Ditemukan Ibu Rumah Tangga di Tas Suami

CERITA PENDEK

Cerita Pengkhianatan: Bukan Struk Parkir Biasa, Ini yang Ditemukan Ibu Rumah Tangga di Tas Suami

Babak 1 — Dadu Kehidupan yang Terlempar

Nindya menghela napas panjang, jemarinya menarik keluar satu lembar struk kasir dari tumpukan kartu nama dan kuitansi yang memenuhi kantong kecil tas jinjing suaminya, Pradipta. Ia sebenarnya hanya berniat merapikan, membuang kertas-kertas yang sudah tak terpakai sebelum tas itu ia bawa ke laundry kiloan langganan mereka di dekat Pasar Santa. Entah kenapa, ada dorongan aneh untuk merapikan tas suaminya pagi itu, sebuah kebiasaan yang jarang ia lakukan. Biasanya, Pradipta sangat menjaga kerapian barang-barangnya.

Ia bukan tipe istri yang suka menggeledah. Kepercayaan adalah pondasi rumah tangga mereka, setidaknya itu yang selalu Nindya yakini. Pradipta, suaminya selama delapan tahun, seorang arsitek yang sedang naik daun. Seringkali pulang larut, seringkali harus keluar kota mendadak, itu sudah biasa. Nindya, seorang ibu rumah tangga yang memilih fokus mengurus anak semata wayang mereka, si kecil Genta yang baru berusia lima tahun, sudah hafal betul pola hidup suaminya.

Pagi ini, Pradipta sudah berangkat lebih dulu ke kantor pusat di bilangan Kuningan. Ia berpamitan dengan terburu-buru, seperti biasa jika ada tenggat waktu genting. “Mah, aku berangkat duluan ya. Ada meeting pagi banget,” ucapnya singkat sambil mengecup kening Nindya. Nindya hanya membalas dengan senyum dan mengantar punggung suaminya sampai ke pintu garasi.

Kini, di antara aroma kopi yang mulai menguar dari dapur dan suara Genta yang asyik menonton kartun di ruang keluarga, Nindya mulai menyortir isi tas Pradipta. Ada struk parkir dari sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan yang sudah ia buang separuh lalu. Ada brosur pameran arsitektur yang sepertinya sudah usang. Lalu, ada tumpukan kartu nama dari berbagai proyek dan rekan kerja. Nindya tersenyum tipis melihat kartu nama klien Pradipta yang dulu pernah ia bantu pilihkan desainnya.

“Ya ampun, ini struk apalagi sih,” gumam Nindya pelan, mengambil selembar kertas kecil yang terlipat rapi. Ia membukanya perlahan, berharap itu hanya struk belanjaan Pradipta untuk keperluan kantor. Tapi begitu matanya menangkap deretan angka dan nama barang yang tertera, senyum di bibirnya perlahan memudar. Ada sesuatu yang ganjil. Jauh di lubuk hatinya, ia merasakan sedikit kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan.

Babak 2 — Sesuatu yang Terlalu Sempurna

Napas Nindya tertahan. Struk itu bukan berasal dari toko elektronik atau toko buku seperti yang biasa Pradipta beli untuknya atau untuk Genta. Bukan pula dari minimarket tempat suaminya biasa membeli kopi sachet atau camilan. Tertera jelas di bagian atas struk: “Chandra Kirana Spa & Reflexology – Jl. Senopati Raya No. 12A, Jakarta Selatan.” Di bawahnya, tercatat tanggal yang sama dengan hari kemarin, saat Pradipta seharusnya pulang terlambat karena ‘proyek darurat’ di kantor.

Ada layanan yang tertera: ‘Full Body Massage with Aromatherapy’ dan ‘Herbal Compress Package’. Total pembayarannya pun tertera jelas: Rp 1.850.000. Nindya mengerutkan kening. Setahunya, Pradipta bukan tipe pria yang suka menghabiskan waktu di tempat seperti spa. Ia lebih suka menonton bola di kafe atau sekadar bersantai di rumah setelah lelah bekerja.

Tangannya mulai sedikit gemetar. Ia membolak-balik struk itu, mencari tahu apakah ada detail lain yang bisa menjelaskan ini. Mungkin saja Pradipta menemani klien? Tapi nama kliennya tidak tertera. Dan mengapa Pradipta menyimpan struk ini di tasnya begitu saja, seolah tidak ada yang perlu disembunyikan?

Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin ada penjelasan logis. Mungkin Pradipta mendapat voucher gratis dan harus menggunakannya sebelum hangus. Atau mungkin… mungkin ia salah membaca. Nindya mengucek matanya, mencoba melihat kembali detail di struk itu. Namun, tulisan itu tetap sama. Jelas, tegas, dan tak terbantahkan.

Jemari Nindya mulai bergerak otomatis, membuka aplikasi Gojek di ponselnya. Ia mencari ‘Chandra Kirana Spa’. Muncul beberapa ulasan, beberapa di antaranya positif, beberapa lainnya biasa saja. Ia bahkan mencoba mencari nomor telepon spa tersebut, namun tidak ada yang tertera jelas di hasil pencarian. Ia kemudian membuka aplikasi pesan di ponselnya, menggulir deretan chat Pradipta. Semua terlihat normal. Percakapan tentang pekerjaan, tentang jadwal Genta, tentang rencana akhir pekan. Tidak ada yang mencurigakan.

Namun, kegelisahan itu terus merayap. Rasanya seperti ada es di perutnya yang perlahan mencair, menciptakan rasa dingin yang menusuk. Struk itu terasa begitu sempurna dalam kesalahannya, begitu detail, sehingga sulit untuk menganggapnya sebagai kesalahan semata. Ia mengambil ponselnya lagi, lalu dengan ragu membuka galeri foto Pradipta yang tersimpan di cloud. Ia jarang sekali melakukan ini, hanya sesekali untuk melihat foto-foto Genta yang mungkin ia ambil saat di kantor.

Babak 3 — Kenangan dan Kepingan yang Hilang

Layar ponsel menyala, menampilkan deretan foto. Foto-foto Genta sedang bermain, foto Pradipta bersama rekan-rekan kerjanya di sebuah acara perusahaan, foto pemandangan saat perjalanan dinas. Lalu, di antara foto-foto itu, ada sebuah foto yang membuat jantung Nindya berdetak lebih kencang. Foto itu diambil dari sudut yang agak jauh, terpotong sebagian oleh bingkai foto lain di depannya. Terlihat siluet seorang wanita sedang duduk di sebuah sofa berwarna krem, punggungnya membelakangi kamera. Rambutnya tergerai panjang, dan ia mengenakan gaun berwarna biru dongker.

Di samping wanita itu, terlihat bagian lengan dan bahu seorang pria. Kemeja yang dikenakan pria itu… Nindya mengenali motifnya. Itu kemeja yang sama persis dengan yang dikenakan Pradipta kemarin. Pria itu sedang merangkul wanita di sampingnya, dan wanita itu tampak sedang memegang sebuah gelas wine. Di latar belakang, terlihat lampu-lampu kota yang gemerlap, seperti pemandangan dari sebuah apartemen atau penthouse.

Tangan Nindya kini gemetar hebat. Ia mencoba mengingat kembali. Kemarin, Pradipta memang bilang ada ‘proyek darurat’ yang harus diselesaikan bersama timnya. Ia pulang pukul sebelas malam, kelelahan seperti biasa. Ia bahkan sempat mengeluh soal macet parah sepulang kerja. Tapi, foto ini… kapan diambilnya? Dan dengan siapa?

Nindya mencoba mengingat-ingat kembali percakapan mereka kemarin malam. Pradipta terlihat sedikit gelisah, namun ia mengaitkannya dengan tekanan pekerjaan. Ia juga sempat memesan makan malam lewat GoFood, nasi uduk langganan mereka, sebelum akhirnya ia pamit tidur lebih awal karena harus beristirahat. “Besok pagi-pagi aku sudah harus ke kantor, Mah,” katanya, dengan suara yang terdengar sedikit serak. Nindya hanya mengangguk, tanpa curiga sedikitpun.

Flashback singkat melintas di benaknya. Momen-momen saat mereka pertama kali pacaran. Pradipta yang perhatian, selalu berusaha membuat Nindya tertawa. Perjalanan mereka membangun rumah tangga, dari kontrakan sempit hingga rumah mungil yang mereka tinggali sekarang. Nindya menggigit bibir bawahnya. Ia tidak mau percaya. Ia tidak mau pikiran buruk ini benar adanya. Ia membuka lagi pesan chat di ponselnya, kali ini mencari percakapan dengan Pradipta dua hari lalu.

Ia melihat sebuah pesan yang terkirim dari Pradipta: “Mah, sorry ya kalau weekend ini aku belum bisa janji nemenin ke mall. Ada acara penting sama klien di Senayan.” Nindya membalas dengan singkat: “Oke, Mas. Gak apa-apa. Genta udah ngerti kok.” Ia bahkan tidak bertanya detail acaranya. Ia terlalu percaya. Terlalu naïf.

Babak 4 — Kebenaran yang Tersembunyi di Balik Kacamata

Nindya memutuskan untuk pergi ke spa tersebut. Ia mengantar Genta ke rumah ibunya dengan alasan ingin menjenguk sebentar, lalu ia langsung menuju Jalan Senopati. Ia memarkir mobilnya agak jauh, lalu berjalan kaki menuju nomor yang tertera di struk. Chandra Kirana Spa & Reflexology. Papan namanya elegan, terbuat dari kayu jati, dengan ukiran halus yang menunjukkan kemewahan.

Dengan jantung berdebar kencang, Nindya melangkah masuk. Aroma lavender dan cendana menyambutnya, menenangkan namun juga terasa mengintimidasi. Resepsionis di depan tersenyum ramah, namun matanya menyiratkan sedikit kehati-hatian melihat penampilan Nindya yang terlihat sedikit… lusuh. Ia mengenakan gamis sederhana dan hijab berwarna senada.

“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis itu dengan suara lembut. Nindya berusaha mengendalikan suaranya agar tidak bergetar. “Saya… saya mau tanya. Apakah kemarin sore ada atas nama Pradipta yang melakukan perawatan di sini?” tanyanya.

Resepsionis itu mengerutkan kening, lalu mengetikkan sesuatu di komputernya. Ekspresinya berubah. Ia menatap Nindya sejenak, lalu menunduk lagi. “Mohon maaf, Ibu. Untuk privasi klien, kami tidak bisa memberikan informasi detail mengenai siapa saja yang melakukan perawatan di sini,” jawabnya, nadanya terdengar sedikit kaku.

Nindya mengepalkan tangannya. “Tapi saya yakin dia kemarin di sini. Ini buktinya,” ia menunjukkan struk kasir itu. Resepsionis itu melihat struk itu sejenak, lalu memanggil seorang wanita paruh baya dengan penampilan anggun, yang sepertinya adalah manajer spa tersebut. Wanita itu mendekat dengan senyum yang dipaksakan.

“Mohon maaf, Ibu. Seperti yang dikatakan staf saya, kami tidak bisa mengkonfirmasi apapun. Namun, saya melihat Bapak Pradipta di sini kemarin sore. Beliau memang melakukan perawatan,” ujar sang manajer, suaranya tenang namun tegas. Nindya merasakan dunia berputar. “Sendirian?” tanyanya.

Sang manajer terdiam sejenak, matanya terlihat sedikit menghindari tatapan Nindya. “Beliau bersama… temannya, Bu. Seorang klien lama,” jawabnya lirih. Nindya merasa lututnya lemas. “Temannya? Siapa namanya?” desaknya.

Tiba-tiba, dari ruangan di belakang manajer, muncul seorang wanita. Usianya mungkin sekitar pertengahan dua puluhan, berwajah cantik dengan riasan tipis. Ia mengenakan gaun biru dongker yang sama persis dengan yang ada di foto Pradipta. Ia terlihat sangat terkejut melihat Nindya berdiri di sana. Ekspresi wajahnya berubah dari terkejut menjadi panik, lalu ia menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yang tergerai.

Manajer spa itu menghela napas panjang, terlihat sangat canggung. “Beliau… beliau adalah Ibu Kirana, Bu. Klien setia kami,” katanya pelan. Nindya menatap wanita itu, yang kini bersembunyi di balik rambutnya, gemetar. Ia tidak mengatakan apa-apa. Tubuhnya terasa membeku. Kebenaran itu, sejelas struk di tangannya, sejelas foto di ponselnya, sejelas wanita yang kini berdiri mematung di depannya, menghantamnya tanpa ampun.

Babak 5 — Garis Tipis Antara Kepercayaan dan Kehancuran

Nindya tidak ingat bagaimana ia keluar dari spa itu. Ia hanya ingat ia berjalan gontai menuju mobilnya, air mata mulai membasahi pipinya. Struk kasir itu masih tergenggam erat di tangannya, kini terasa seperti beban yang sangat berat. Pikirannya kosong, pandangannya kabur oleh air mata. Semua pertanyaan yang berkelebat di kepalanya kini terjawab, namun jawabannya jauh lebih menyakitkan dari segala prasangka terburuknya.

Wanita bergaun biru dongker. Klien lama. Temannya. Kata-kata itu berputar di kepalanya seperti jarum jam yang rusak. Ia membayangkan Pradipta, suaminya yang ia cintai dan ia percayai sepenuh hati, duduk di sofa mewah itu, merangkul wanita lain, sementara ia di rumah hanya memikirkan Genta dan persiapan makan malam.

Ia mengendarai mobilnya tanpa tujuan. Jalanan Senopati yang biasanya ramai kini terasa sunyi baginya. Lampu-lampu kota mulai menyala, memantulkan bayangan keraguan di kaca depan mobilnya. Ia memikirkan Genta. Bagaimana ia akan menjelaskan ini pada Genta kelak, jika rumah tangga mereka benar-benar hancur? Apakah ia harus berjuang mempertahankan apa yang tersisa, atau melepaskannya demi kedamaian diri sendiri?

Ia berhenti di tepi jalan yang sepi, membiarkan mobilnya menyala. Ia menatap keluar jendela, menatap keramaian yang terasa begitu asing. Ada begitu banyak orang di luar sana, dengan kehidupan mereka sendiri, dengan rahasia mereka sendiri. Apakah semua orang punya sisi gelap seperti ini? Apakah kepercayaan hanya sebuah ilusi yang mudah hancur oleh selembar struk kasir yang tak terduga?

Ia mengambil ponselnya. Terpampang foto profil Pradipta di layar. Wajah tampannya tersenyum ke arahnya. Nindya menutup matanya, mencoba menarik napas dalam-dalam. Ada satu panggilan telepon yang harus ia lakukan. Panggilan yang akan menentukan segalanya. Tapi ia belum siap. Belum sanggup.

Ia kembali membuka galeri foto Pradipta, lalu melihat foto wanita bergaun biru dongker itu lagi. Sekilas, ia melihat sesuatu di sudut kiri bawah foto itu, sebuah refleksi pada gelas wine yang dipegang wanita itu. Sebuah pantulan samar yang memperlihatkan wajah seorang wanita lain. Mungkinkah itu… dirinya? Atau hanya ilusi dari pantulan lampu kota yang menyesatkan? Nindya memperbesar foto itu, matanya tertuju pada detail samar tersebut, mencoba mencari secercah harapan di tengah kegelapan yang menyelimutinya.