Kisah Nindya Terkuak, Kado Ultah Misterius Dari Suami Bikin Rumah Tangga Diambang Kehancuran

Kisah Nindya Terkuak, Kado Ultah Misterius Dari Suami Bikin Rumah Tangga Diambang Kehancuran

CERITA PENDEK

Kisah Nindya Terkuak, Kado Ultah Misterius Dari Suami Bikin Rumah Tangga Diambang Kehancuran

Babak 1 — Bingkisan Cokelat yang Terlalu Berat

Nindya menatap bingkisan cokelat di atas meja makan. Kotak persegi panjang dengan pita satin berwarna marun, dibungkus kertas kado bermotif floral yang cukup mewah. Hadiah dari suaminya, Wibisono, untuk ulang tahunnya yang ke-30. Tadi pagi, saat ia masih terlelap, Wibisono sudah berangkat kerja, meninggalkan secarik kertas bertuliskan ‘Selamat Ulang Tahun, Sayang. Maaf tidak bisa merayakan bersamamu hari ini. Kado ada di meja makan. Cium.’ Di bawahnya, ada tanda tangan khas Wibisono yang sedikit miring.

Ia tersenyum tipis. Selalu saja begitu. Wibisono, pria karirnya cemerlang di sebuah firma hukum ternama, tapi kerap kali absen di momen-momen penting. Kali ini, bahkan untuk ulang tahunnya sendiri. Nindya sudah terbiasa. Kehidupan pernikahan mereka memang lebih banyak diisi oleh absennya kehadiran Wibisono daripada kehadirannya. Tapi, ia tak pernah mengeluh. Setidaknya, ia berusaha untuk tidak mengeluh.

Sore ini, ia berencana membuka kadonya setelah pulang dari arisan bulanan. Menyiapkan teh hangat, mungkin sekeping biskuit jahe, dan menikmati momen kesendiriannya yang berharga. Namun, keinginan itu pupus saat ia melihat detail lain dari bingkisan itu. Kertas kadonya, meski mewah, terlihat sedikit lusuh di beberapa bagian, seperti habis terlipat dan dibuka paksa. Dan pita satinya… Nindya mengerutkan kening. Ia mengenali pola simpulnya. Itu bukan simpul yang biasa Wibisono gunakan. Wibisono sangat rapi, simpul pitanya selalu sempurna, tanpa cela.

Rasa penasaran yang tak biasa mulai merayap. Ada sesuatu yang janggal. Ia meraih bingkisan itu. Lumayan berat. Jauh lebih berat dari perkiraan sekotak cokelat. ‘Mungkin isinya banyak macam varian,’ pikirnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. Tangannya mulai gemetar saat ia menyentuh pita satin itu. Ia menghela napas panjang, lalu mulai membuka lipatan kertas kado dengan hati-hati, berusaha mengembalikan lipatannya seperti semula setelah selesai.

Di balik kertas kado mewah itu, tersingkap sebuah kotak berwarna cokelat tua yang polos, tanpa merek. Ini jelas bukan kotak cokelat praline yang biasa dijual di toko-toko premium. Nindya semakin bingung. Ia mengangkat kotak itu, memutarnya. Tidak ada label, tidak ada informasi apapun. Hanya kotak polos yang terasa padat. Jantungnya mulai berdebar lebih kencang. Ini bukan kado ulang tahun biasa. Ini terasa… berbeda.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia membuka tutup kotak itu. Matanya terbelalak. Di dalamnya, tersusun rapi, bukan sekotak cokelat. Melainkan tumpukan amplop berwarna putih gading, semuanya tersegel rapi, dengan beberapa amplop yang terlihat lebih tebal dari yang lain. Di bagian sudut paling atas, terlipat sebuah kartu ucapan kecil berwarna senada. Ia meraih kartu itu.

‘Untuk Nindya. Selamat ulang tahun. Maaf aku tak bisa di sisimu merayakannya. Aku harap ini bisa membuatmu sedikit… lebih tahu. – S.’

Babak 2 — ‘S’ Sang Pengirim Misterius

Nindya menatap tulisan tangan itu. Jelas bukan tulisan Wibisono. Terlalu rapi, terlalu elegan. Jantungnya kembali berdebar kencang, kali ini disusul rasa mual yang perlahan naik. ‘S’. Siapa ‘S’ ini? Dan apa maksudnya dengan ‘lebih tahu’? Tahu tentang apa?

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan kekuatan. Ini pasti hanya kejutan dari Wibisono. Mungkin ada teman Wibisono yang iseng mengirimkan sesuatu. Ya, itu pasti. Wibisono memang suka kejutan, meskipun terkadang kejutannya sedikit… aneh. Tapi, ini terlalu aneh.

Tangannya bergerak perlahan meraih salah satu amplop yang paling tebal. Desainnya minimalis, hanya ada inisial ‘N’ di sudut kiri atas, ditulis dengan tinta emas tipis. Ia membuka segelnya dengan hati-hati. Di dalamnya, sebuah foto. Foto dirinya dan Wibisono, beberapa tahun lalu, saat mereka pertama kali pindah ke apartemen di kawasan Kemang. Mereka tersenyum lebar, berpose di depan jendela apartemen yang menghadap taman kota.

Foto itu terasa familiar, namun ada sesuatu yang… salah. Nindya membolak-balik foto itu. Tidak ada tulisan apapun di belakangnya. Ia lalu membuka amplop kedua. Isinya adalah struk pembelian sebuah toko buku online. Tanggalnya tertulis tiga hari yang lalu. Pembeliannya adalah beberapa novel fantasi dan sebuah buku panduan fotografi. Nindya mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak memesan buku-buku itu. Dan Wibisono tidak pernah tertarik pada novel fantasi atau fotografi.

Amplop ketiga. Isinya juga sebuah foto. Kali ini, foto Wibisono sedang duduk di sebuah kafe, tersenyum sambil memegang secangkir kopi. Ia terlihat santai, mengenakan kemeja flanel yang cukup sering ia pakai di akhir pekan. Tapi, Nindya yakin, ia tidak pernah melihat foto ini sebelumnya. Dan lokasi kafe itu… ia tidak mengenalinya. Terlalu samar. Di sudut foto itu, tampak bayangan samar seorang wanita yang sedang memotret Wibisono.

Rasa mual itu semakin menjadi. Otaknya berputar. Siapa ‘S’? Mengapa ia mengirimkan ini? Dan apa hubungannya dengan Wibisono? Ia membuka amplop keempat. Di dalamnya, selembar tiket bioskop. Tiket pemutaran film terbaru yang sedang tayang di bioskop di daerah Senayan. Tanggalnya tertulis seminggu yang lalu. Waktu penayangannya adalah pukul 19.00 malam. Nindya ingat malam itu. Wibisono mengatakan ia harus lembur karena ada klien mendadak dari luar kota.

Napas Nindya tertahan. Tangannya mencengkeram amplop itu begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Ini bukan kejutan. Ini bukan iseng. Ini adalah bukti. Bukti bahwa ada seseorang yang mengawasi suaminya. Seseorang yang mengetahui setiap detail kecil dari kehidupan mereka. Dan orang itu, ‘S’, tampaknya ingin Nindya tahu sesuatu yang sangat penting.

Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan Pahit

Nindya bangkit dari kursinya, tangannya masih menggenggam amplop-amplop itu. Ia melangkah menuju kamarnya, menuju meja kerja Wibisono yang jarang ia sentuh. Ia tahu ini salah, ini adalah pelanggaran privasi. Tapi rasa penasaran dan firasat buruk yang menusuknya membuatnya tak bisa berhenti. Ia harus mencari tahu.

Ia membuka laptop Wibisono. Wibisono tidak pernah mengunci laptopnya saat di rumah. Kebiasaan buruk yang Nindya selalu ingatkan, namun tak pernah diubah. Ia membuka folder ‘Dokumen’. Di sana terdapat banyak sekali file pekerjaan yang rumit dan memusingkan. Ia mencari sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mungkin bisa memberikan petunjuk.

Tangannya secara otomatis membuka aplikasi pesan singkat yang sering Wibisono gunakan untuk berkomunikasi dengan rekan kerjanya. Kebanyakan isinya tentang pekerjaan, tapi sesekali ada obrolan ringan yang diselipi emoji. Nindya membuka riwayat percakapan terakhir. Ada beberapa nama kontak yang muncul. ‘Reno Firma’, ‘Bu Larasati’, ‘Pak Baskara’. Lalu, ada nama kontak yang ia tidak kenal. Inisialnya ‘S’. Terakhir kali kontak ini aktif adalah dua minggu yang lalu. Nindya menelan ludah.

Ia mengklik nama kontak ‘S’. Riwayat obrolannya terbuka. Isinya sangat singkat, bahkan nyaris kosong. Hanya ada beberapa pesan singkat. Tanggalnya tiga minggu yang lalu. ‘Kamu yakin?’ tanya ‘S’. Lalu balasan Wibisono, ‘Sangat yakin.’ Selanjutnya, ‘Semoga berhasil.’ Lalu keheningan.

Nindya merasa seperti ditikam belati dingin. ‘Sangat yakin.’ Yakin akan apa? Berhasil melakukan apa? Ia lalu teringat pada foto Wibisono di kafe. Ia mencoba mencari aplikasi galeri foto di laptop Wibisono, berharap bisa menemukan foto-foto lain. Tidak ada. Wibisono jarang menyimpan foto pribadi di laptop kerjanya. Ia lebih sering menggunakan cloud storage.

Dengan ragu, Nindya membuka aplikasi cloud storage milik Wibisono. Memasukkan kata sandi yang ia tahu karena Wibisono pernah menunjukkannya. Ia membuka folder ‘Foto’. Ada banyak sekali folder di sana. Folder-folder dengan nama tanggal. Ia membuka folder tiga minggu yang lalu. Terdapat ratusan foto di sana. Foto-foto pekerjaan, foto-foto acara kantor, foto-foto liburan keluarga yang sudah lama sekali.

Lalu matanya tertuju pada sebuah folder kecil yang tersembunyi di antara folder-folder besar. Namanya ‘Proyek Rahasia’. Jantungnya berdegup kencang. Ia membuka folder itu. Isinya adalah… foto-foto Nindya. Foto Nindya saat sedang bekerja, foto Nindya saat sedang berbelanja di Tokopedia, foto Nindya saat sedang makan siang di sebuah warung nasi uduk di dekat kantornya. Foto Nindya sedang tertawa bersama teman-temannya di kafe. Dan di banyak foto itu, terlihat jelas sosok Wibisono atau samar-samar seseorang yang sedang mengawasi Nindya dari kejauhan.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nindya. Ini bukan ‘S’ yang ia cari. Ini adalah Wibisono sendiri. Wibisono yang memotretnya. Wibisono yang mengawasinya. Mengapa? Mengapa suaminya sendiri melakukan ini? Ia lalu membuka sebuah file dokumen di dalam folder itu. Berjudul ‘Analisis Perilaku Nindya’. Di dalamnya tertulis poin-poin detail mengenai kebiasaan Nindya, interaksinya dengan orang lain, bahkan analisis mengenai kemungkinan ia memiliki kekasih gelap.

Nindya terhuyung mundur. Ia merasa dunia berputar. Ia selalu berpikir dirinya adalah istri yang setia, istri yang baik. Tapi Wibisono justru menganggapnya… selingkuh? Ini adalah sebuah tuduhan yang mengerikan. Sebuah tuduhan yang tidak berdasar sama sekali.

Babak 4 — Konfrontasi yang Dingin

Nindya tidak tahu sudah berapa lama ia terdiam di depan laptop. Air matanya sudah berhenti mengalir, digantikan oleh kekosongan yang dingin. Ia merasa seperti boneka yang disia-siakan. Ia merasa seperti objek penelitian, bukan seorang istri. Pukul tujuh malam, suara pintu depan terbuka menariknya kembali ke kenyataan.

Wibisono pulang. Seperti biasa, ia melemparkan tas kerjanya di sofa ruang tamu, lalu menuju dapur untuk mengambil air minum. Nindya bangkit, membereskan laptop Wibisono, dan berjalan menuju ruang tamu. Ia memilih amplop yang berisi tiket bioskop, dan tiket itu kini ia genggam erat.

“Sudah pulang, Mas?” Suara Nindya terdengar datar, tanpa emosi.

Wibisono menoleh, tersenyum tipis. “Iya, Sayang. Maaf telat. Tadi ada masalah sama klien.” Ia berjalan menghampiri Nindya, mencoba memeluknya.

Nindya menghindar. “Jangan sentuh aku.”

Senyum Wibisono luntur. Ia menatap Nindya dengan bingung. “Kenapa, Sayang? Ada masalah?”

Nindya mengeluarkan amplop berisi tiket bioskop dari balik punggungnya. Ia melemparkannya ke arah Wibisono. “Masih ingat tiket ini? Tiket nonton film di XXI Senayan, seminggu lalu. Jam 7 malam.”

Wibisono menunduk, mengambil tiket itu. Ia membolak-baliknya, ekspresinya berubah menjadi sedikit pucat. “Ini… ini dari mana?”

“Dari seorang pengirim misterius berinisial ‘S’,” jawab Nindya dingin. Ia mengeluarkan foto Wibisono di kafe. “Dan ini? Foto Mas di kafe. Siapa wanita yang memotret Mas di situ, Mas?”

Wibisono terdiam. Ia menatap foto itu, lalu menatap Nindya. Ia terlihat… tidak nyaman. Bukan seperti orang yang tertangkap basah bersalah, tapi lebih seperti orang yang terjebak dalam situasi yang sangat memalukan.

“Nindya, dengarkan aku…” Wibisono memulai, suaranya sedikit bergetar.

“Dengarkan apa, Mas? Dengarkan kebohongan yang lain? Atau dengarkan analisis Mas tentang saya? Tentang bagaimana saya mungkin punya kekasih gelap? Itu hasil riset Anda di folder ‘Proyek Rahasia’ kan?” Suara Nindya meninggi. Air mata mulai kembali menggenang.

Wibisono terkejut bukan main. “Kamu… kamu membuka laptopku?”

“Saya tidak peduli apa yang Mas lakukan untuk memata-matai saya, Mas. Tapi saya tidak terima dituduh seperti itu. Siapa ‘S’ itu, Mas? Kenapa dia mengirimkan ini semua? Apa dia teman Mas yang iseng? Atau… dia tahu sesuatu tentang Mas yang tidak ingin Mas saya ketahui?”

Wibisono menghela napas panjang, lalu duduk di tepi sofa. Ia menunduk, kedua tangannya menutupi wajahnya. “Ini… rumit, Nindya.”

“Yang lebih rumit adalah melihat suami saya sendiri memotret dan menganalisis istrinya seperti subjek penelitian! Katakan pada saya, Wibisono! Siapa ‘S’ itu? Dan kenapa Mas bertingkah seperti ini?” Nindya menuntut, suaranya pecah.

Wibisono perlahan menurunkan tangannya. Matanya memerah. “‘S’… adalah mantan rekan kerjaku. Namanya Sekarwangi. Dia… dia dulu punya perasaan padaku.” Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “Dan malam itu, saat aku bilang lembur… aku bertemu dengannya. Dia bilang dia punya bukti kalau aku… kalau aku tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Babak 5 — Kebenaran yang Menyakitkan

Nindya terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Sekarwangi. Nama itu terdengar asing di telinganya. Mantan rekan kerja yang punya perasaan pada Wibisono? Dan memiliki bukti tentang Wibisono? “Bukti apa, Mas?” tanya Nindya, suaranya sedikit lebih tenang, tapi tatapannya tetap tajam.

Wibisono menatap lantai. “Dia bilang dia punya sesuatu yang harus kuketahui. Sesuatu tentang… masa lalu yang tidak pernah kukatakan padamu. Dia bilang, dia ingin membantuku jujur padamu. Tapi aku tidak mau.” Ia menggelengkan kepala. “Aku bilang padanya untuk berhenti. Aku bilang aku sudah bahagia denganmu. Tapi dia tidak mau mendengarkan.”

“Jadi, semua ini… semua amplop ini, foto-foto itu… itu semua ulahnya? Sekarwangi?” Nindya bertanya lagi, mencoba memastikan.

“Tidak sepenuhnya,” Wibisono mengakui. “Foto-foto ‘Proyek Rahasia’ itu… itu aku yang memotretmu, Nindya. Aku… aku curiga padamu. Maaf.” Ia mendongak, menatap Nindya dengan tatapan penuh penyesalan. “Aku tahu aku sering pergi, sibuk dengan pekerjaan. Aku takut kamu merasa kesepian. Aku takut kamu… mencari perhatian di tempat lain. Jadi aku… aku mencoba mengawasimu diam-diam.”

Nindya merasa pusing. Jadi, suaminya sendiri yang memata-matai dirinya karena rasa curiga yang tak berdasar? Dan mantan rekan kerjanya yang ternyata masih terobsesi dengan Wibisono juga ikut campur? Ini seperti badai sempurna yang menerjang rumah tangga mereka.

“Kenapa Mas tidak pernah percaya padaku, Wibisono?” Suara Nindya bergetar. “Kenapa Mas lebih percaya pada curiga Mas sendiri daripada pada istri Mas?”

“Aku… aku tidak tahu, Nindya. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu. Terlalu takut kehilanganmu. Dan Sekarwangi… dia terus menerus menyudutkanku, membuatku semakin ragu. Dia mengirimkan email-email berisi saran-saran ‘membantu’ yang sebenarnya berisi ancaman halus. Dia bilang jika aku tidak memberitahumu tentang masa laluku, dia yang akan melakukannya.” Wibisono mengusap wajahnya frustrasi. “Kalian berdua membuatku terjebak.”

Nindya memejamkan mata. Masa lalu Wibisono? Ia tidak tahu apa pun tentang masa lalu suaminya yang tidak pernah diceritakan. Tapi, satu hal yang pasti, ia tidak bisa hidup dalam ketidakpercayaan dan manipulasi seperti ini. Kado ulang tahun yang seharusnya membawa kebahagiaan, justru membuka jurang pemisah yang begitu dalam di antara mereka.

Ia memandang Wibisono, suaminya. Pria yang dulu ia cintai tanpa syarat. Kini, pria itu duduk di hadapannya, tampak rapuh dan penuh rahasia. “Jadi, apa yang Sekarwangi ingin Mas akui?” tanya Nindya, suaranya kini terdengar tenang namun dingin. “Apa rahasia Mas yang begitu besar?”

Wibisono menarik napas dalam. Tatapannya kosong. Ia menatap Nindya, lalu menatap amplop-amplop yang berserakan di lantai. “Aku… aku pernah punya anak. Sebelum menikah denganmu.”