Cerita Rumah Tangga: Kaus Kaki Bau Ini Ternyata Jadi Kunci Pengkhianatan Tergelap Suaminya

Cerita Rumah Tangga: Kaus Kaki Bau Ini Ternyata Jadi Kunci Pengkhianatan Tergelap Suaminya

CERITA PENDEK

Cerita Rumah Tangga: Kaus Kaki Bau Ini Ternyata Jadi Kunci Pengkhianatan Tergelap Suaminya

Babak 1 — Aroma yang Membawa Bencana

Jatmiko selalu bilang ia tak punya waktu. ‘Kerjaan numpuk, Nis. Kamu tahu lah, akhir tahun begini,’ ucapnya sambil mengusap peluh di kening saat pulang kerja. Nindya hanya mengangguk, terbiasa. Ia yang mengantar bekal, ia yang menyiapkan baju ganti, ia yang mengurut punggung Jatmiko sampai terlelap. Cinta itu, baginya, adalah serangkaian tindakan kecil yang berulang, sama seperti rutinitasnya mengumpulkan kaus kaki Jatmiko yang tercecer di sudut-sudut rumah.

Sejak awal pernikahan mereka, kebiasaan Jatmiko ini jadi sumber geli tawa Nindya. Suaminya, pria karismatik yang bisa memukau klien di kantor, berubah jadi spesies aneh di rumah: meninggalkan jejak kaus kaki di lorong, di bawah meja makan, bahkan kadang di dekat bak cuci piring. ‘Mas, ya ampun, ini lagi? Nanti aku injak, lho!’ seru Nindya ringan, biasanya sambil memungut benda berbau apek itu dengan ujung jari atau dijepit pakai gagang sapu.

Jatmiko hanya tertawa, mata menyipit khas senyumnya. ‘Maaf, Sayang. Lupa terus. Habis dikejar deadline, otakku nge-freeze.’ Ia akan mengecup kening Nindya, lalu kembali tenggelam dalam laptopnya. Nindya memaklumi. Jatmiko bekerja di sebuah firma konsultan ternama di Jakarta Selatan, bidangnya sangat kompetitif, dan ia memang tipe pekerja keras. Ia bangga pada suaminya, pada segala pencapaiannya, pada kehidupan nyaman yang mereka bangun bersama di sebuah klaster di bilangan Tangerang Selatan.

Setiap kali ia menemukan kaus kaki itu, entah tersembunyi di balik bantal sofa ruang keluarga, terselip di bawah tumpukan koran bekas di teras, atau bahkan—yang paling sering—menumpuk di sudut dekat rak sepatu di garasi, Nindya akan mengumpulkannya. Ada tumpukan yang ia sisihkan untuk dicuci, dan ada pula yang ia masukkan ke dalam kantong plastik khusus untuk dibuang jika sudah terlalu bau dan tak tertolong. Tumpukan plastik itu biasanya ia bawa ke tempat sampah di depan saat mobil Jatmiko sudah tak terlihat lagi di ujung jalan, sebuah ritual kecil yang mengingatkannya pada bets-kaki jantan yang sering kali mengabaikan kerapian.

Hari itu, Rabu yang mendung, seharusnya sama saja. Jatmiko berangkat lebih pagi dari biasanya, ada rapat penting katanya. Nindya menyibukkan diri dengan pekerjaan paruh waktunya sebagai editor lepas dari rumah. Suara notifikasi GoFood berulang kali terdengar dari ponselnya, ia sedang menyiapkan makan siang untuk dirinya sendiri—nasi goreng sisa semalam—ketika matanya menangkap sesuatu yang tak biasa.

Di bawah kursi ruang tamu, terselip sesuatu yang bukan miliknya. Bukan kaus kaki Jatmiko yang biasa, yang selalu ia kenali dari motif garis-garis birunya atau warna hitam polosnya yang sedikit pudar. Ini kaus kaki lain. Warnanya krem, dengan motif polkadot kecil berwarna senada. Bahannya terasa lebih halus, seperti sutra. Nindya mengernyitkan dahi. ‘Kuas kaki siapa ini?’ gumamnya pelan. Jatmiko pasti membawanya pulang secara tak sengaja. Tapi Jatmiko tak pernah memakai kaus kaki seperti ini. Ia seorang pria yang sangat praktis, bahkan urusan kaus kaki pun sangat spesifik.


Babak 2 — Jejak yang Tak Terduga

Tangan Nindya sedikit bergetar saat meraih kaus kaki krem itu. Terlalu halus. Terlalu… feminin. Ia memasukkannya ke dalam kantong plastik yang sama tempat ia mengumpulkan kaus kaki Jatmiko. Mungkin hanya tertukar di laundry, pikirnya. Tapi rumah mereka baru saja selesai dirapikan oleh asisten rumah tangga yang datang dua hari sekali. Tidak ada kemungkinan kaus kaki orang lain tertinggal.

Napas Nindya tertahan sesaat. Ia mencoba menepis pikiran buruk yang mulai merayap. Jatmiko? Tidak mungkin. Suaminya, pria yang ia cinttinya lebih dari apapun, yang selalu memujinya cantik bahkan saat ia baru bangun tidur tanpa riasan. Pria yang membelikannya cincin berlian kecil saat ulang tahun pernikahan ketiga. Pria yang bersumpah akan selalu menjaganya.

Namun, kaus kaki itu terasa seperti duri kecil yang tertancap di hatinya. Ia mencoba mengabaikannya, melanjutkan pekerjaannya, meminum es teh jumbo yang ia beli via GoFood tadi pagi. Tapi pandangannya terus saja tertuju pada sudut tempat ia menemukan kaus kaki itu. Ada sesuatu yang mengganjal.

Sore harinya, saat ia membereskan keranjang cucian Jatmiko sebelum mencucinya, ia menemukan tumpukan kaus kaki yang biasa. Garis biru, hitam, abu-abu. Ia membauinya sekilas—bau khas keringat Jatmiko yang sudah sangat ia kenali. Tapi di antara tumpukan itu, ia seperti melihat sesuatu yang asing. Ia menyibaknya. Benar saja. Ada satu pasang kaus kaki yang ia belum pernah lihat sebelumnya. Warnanya senada dengan kaus kaki krem yang ia temukan tadi pagi, tapi ini kaus kaki olahraga, sedikit lebih tebal.

Jantungnya berdebar lebih kencang. Ia mengambil kedua kaus kaki itu, yang krem polkadot dan yang putih olahraga senada. Ia membawanya ke kamar, ke lemari pakaian Jatmiko. Ia mulai membuka laci demi laci, mencari sesuatu yang tidak biasa. Bukan hanya kaus kaki. Mungkin ada benda lain yang tertinggal.

Ia memeriksa dompet Jatmiko yang tergeletak di meja nakas. Kartu identitas, kartu kredit, SIM, beberapa lembar uang tunai. Tidak ada yang aneh. Ia membuka tas kerjanya. Dompet lain, beberapa berkas, pulpen mahal. Semuanya tertata rapi seperti biasa. Tapi ada satu bagian kecil di tas kerjanya yang jarang ia periksa, sebuah kantong tersembunyi di bagian dalam.

Saat ia membuka kantong itu, ia menemukan sebuah struk kecil. Struk yang tak ia kenali. Tertulis di sana: ‘Pusat Kebugaran Sehat Jiwa – Layanan Spa & Pijat Refleksi’. Tanggalnya adalah dua hari yang lalu. Waktu tertera pada struk itu adalah jam 10 pagi. Waktu yang sama ketika Jatmiko bilang ia harus menghadiri seminar di sebuah hotel di daerah Sudirman.


Babak 3 — Ingatan yang Terbelah

Nindya membolak-balik struk itu. ‘Layanan Spa & Pijat Refleksi’ seharga Rp 750.000. Jantungnya berdegup tak karuan. Jatmiko tak pernah suka dipijat. Ia selalu bilang ‘lebih suka dipijat sama kamu aja, Nis, lebih ngerti’. Tapi kini, ada bukti transaksi yang bertolak belakang. Dan kaus kaki itu… apakah itu milik terapis spa?

Ia teringat percakapan mereka minggu lalu. Jatmiko mengeluh punggungnya pegal luar biasa. Nindya sudah menawarkan diri untuk memijatnya, tapi Jatmiko menolak halus. ‘Nggak usah, Sayang. Nanti kamu capek. Aku cari yang profesional aja deh, sekalian mau coba tempat baru.’ Nindya waktu itu menganggapnya sebagai Jatmiko yang perhatian padanya, tak ingin membebani.

Sekarang, kalimat itu terasa menusuk. ‘Tempat baru.’ Kaus kaki halus itu, struk spa itu, waktu yang tidak sesuai dengan alasan seminar. Pikiran Nindya mulai berputar liar. Ia membuka galeri foto di ponselnya, menggulir mencari foto-foto Jatmiko. Ada foto saat mereka berlibur di Bali, foto saat acara kantor, foto candid saat Jatmiko tertidur di sofa.

Ia kemudian membuka aplikasi perpesanan miliknya. Mencari percakapan terakhir dengan Jatmiko. ‘Sayang, aku pulang telat ya. Ada urusan mendadak.’ Pesan itu dikirim Jatmiko kemarin sore. Nindya membalas, ‘Oke Mas, hati-hati ya.’ Tak ada curiga sedikit pun saat itu.

Nindya meraih laptopnya. Ia membuka browser, mengetikkan nama ‘Pusat Kebugaran Sehat Jiwa’. Muncul sebuah website dengan desain minimalis, menampilkan foto-foto ruangan spa yang tenang dan elegan. Di bagian ‘Layanan’, tertera jelas berbagai macam pijat dan terapi, termasuk ‘Pijat Relaksasi Eksekutif’ yang harganya sesuai dengan struk yang ia pegang.

Ia mengklik bagian ‘Tim Terapis’. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat foto-foto para terapis. Kebanyakan berparas Tionghoa atau Sunda, memakai seragam hitam. Sampai matanya tertuju pada satu nama: ‘Laksmi’. Foto profil Laksmi menampilkan seorang wanita muda dengan senyum manis dan rambut panjang tergerai. Ia mengenakan seragam terapis yang sama, dan Nindya seperti teringat sesuatu…

Ya Tuhan. Kaus kaki polkadot krem itu. Ia seperti pernah melihat motifnya di suatu tempat, mungkin di toko baju wanita atau toko aksesoris. Tapi di mana?

Nindya mulai mencari-cerai. Ia mengingat detail kecil Jatmiko. Jatmiko selalu membeli kaus kakinya di sebuah toko daring yang terkenal dengan produk-produk premiumnya. Ia membuka aplikasi belanja itu, mencari ‘kaus kaki pria’. Ia melihat-lihat berbagai macam motif dan bahan. Dan di sana, di antara deretan kaus kaki bermerek, ia melihatnya. Kaus kaki polkadot krem itu, dari merek yang sama dengan kaus kaki olahraga yang ia temukan di laci Jatmiko. Tapi di toko itu, kaus kaki itu bukan untuk pria. Itu adalah koleksi kaus kaki wanita dari desainer ternama.


Babak 4 — Pengakuan yang Terpaksa

Mata Nindya berkaca-kaca. Ia merasakan dingin menjalar di sekujur tubuhnya. Kaus kaki wanita. Spa. Kebohongan Jatmiko. Semua kepingan puzzle mulai menyatu, membentuk gambaran yang mengerikan.

Ia tak bisa menangis. Hanya diam, terpaku di depan layar laptop. Otaknya bekerja cepat, mencoba memahami. Siapa Laksmi ini? Apakah Jatmiko benar-benar berselingkuh? Pikiran itu begitu menyakitkan sampai ia hampir tak sanggup bernapas.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu depan terbuka. Jatmiko pulang. Ia pasti pulang lebih awal dari biasanya, mencari sesuatu atau mungkin hanya ingin ‘memperbaiki’ jejak kesalahannya sebelum Nindya menyadari.

Nindya tidak beranjak dari kursinya. Ia membiarkan Jatmiko masuk. Jatmiko terlihat sedikit panik saat melihat Nindya duduk di ruang tamu, laptop menyala di depannya. Ia berusaha tersenyum.

‘Nis? Kok udah pulang? Kupikir kamu masih meeting sama klien,’ kata Jatmiko, berusaha terdengar santai, tapi suaranya sedikit bergetar.

Nindya menatap suaminya. Matanya dingin, tanpa emosi. Ia hanya menunjuk ke arah laptop. ‘Jelaskan itu, Mas.’

Jatmiko mengikuti arah pandangan Nindya. Ia melihat layar laptop, lalu pandangannya jatuh pada struk spa yang terbuka di layar. Wajahnya pucat seketika. Ia tergagap. ‘Itu… itu kan… itu salah paham, Nis.’

‘Salah paham?’ Suara Nindya pelan, namun tajam menusuk. ‘Salah paham kok pakai kaus kaki wanita, Mas? Kaus kaki yang aku temukan tersembunyi di laci bajumu. Kaus kaki yang sama dengan motif polkadot krem dari toko online yang aku tahu kamu beli buat aku. Tapi aku tak pernah membelinya.’

Jatmiko terdiam. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia melirik ke arah Nindya, lalu menunduk. ‘Nis, aku bisa jelaskan.’

‘Jelaskan apa? Jelaskan kenapa kamu berbohong soal seminar? Jelaskan siapa Laksmi? Atau jelaskan kenapa aku yang kamu belikan kaus kaki wanita, tapi ternyata yang memakai bukan aku?’ Nindya menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia harus kuat.

Jatmiko mengangkat wajahnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia terlihat begitu rapuh, bukan lagi pria karismatik yang biasa ia kenal. ‘Nis… itu… bukan seperti yang kamu pikirkan sepenuhnya.’

‘Lalu seperti apa, Mas? Katakan padaku! Siapa Laksmi?’ desak Nindya, suaranya sedikit meninggi.

Jatmiko menghela napas panjang, suaranya tercekat. ‘Laksmi… dia itu… dia itu bukan selingkuhan aku, Nis. Dia… dia adalah orang tua angkatku.’


Babak 5 — Konsekuensi yang Tak Terbayangkan

Nindya terdiam. Kalimat Jatmiko bagai sambaran petir di siang bolong. Orang tua angkat? Ia tak pernah mendengar Jatmiko punya orang tua angkat. Ayah dan ibunya sudah tiada bertahun-tahun lalu, dan ia tak pernah menyebutkan ada ‘orang tua’ lain.

‘Apa maksudmu, Mas? Orang tua angkat? Sejak kapan?’ tanya Nindya, suaranya serak.

Jatmiko menatap Nindya dengan pandangan penuh penyesalan. ‘Sejak aku kecil, Nis. Aku diadopsi oleh keluarga Laksmi. Mereka yang membesarkanku sampai aku cukup besar untuk hidup mandiri. Tapi aku memutuskan untuk tidak memberi tahu siapa pun, termasuk kamu, karena… karena aku ingin membangun hidupku sendiri tanpa bayang-bayang masa lalu.’

Ia melanjutkan, suaranya lirih. ‘Ibu Laksmi sakit keras beberapa bulan lalu. Aku harus menemaninya. Terapi spa itu… itu adalah salah satu perawatan yang disarankan untuknya, dan aku selalu menemaninya ke sana. Kaus kaki itu… kebetulan terselip di tasku waktu aku pulang dari sana.’

Nindya memproses informasi itu. Jatmiko yang selalu tertutup soal masa lalunya. Alasan yang terdengar masuk akal, tapi di sisi lain, terlalu kebetulan. ‘Jadi, kaus kaki itu memang kaus kaki milik Ibu Laksmi?’

‘Iya, Nis. Itu kaus kaki favorit beliau. Aku membawakannya beberapa pasang untuk beliau.’

Nindya masih merasa ada yang janggal. ‘Tapi kenapa kamu bilang ada urusan mendadak kemarin? Kenapa kamu tidak jujur saja padaku?’

Jatmiko menelan ludah. ‘Aku… aku tidak tahu harus mulai dari mana, Nis. Aku takut kamu akan salah paham seperti ini. Aku tahu kamu tidak suka aku tertutup, tapi masa laluku… itu rumit.’

Nindya memejamkan mata. Ia merasa lelah. Perasaan marah bercampur dengan kebingungan. Ia menatap Jatmiko, suaminya yang telah ia kenal selama bertahun-tahun, namun kini terasa asing. Ia telah membangun kebohongan di atas kebohongan lain, dan Nindya yang terjebak di tengahnya.

Dinding kepercayaan yang telah ia bangun dengan susah payah kini retak. Apakah semua yang dikatakan Jatmiko benar? Atau ini hanyalah cerita lain untuk menutupi pengkhianatan yang sesungguhnya? Kaus kaki krem itu, kini terasa seperti bom waktu yang telah meledak dalam kehidupan rumah tangganya. Ia tidak tahu apakah ia bisa mempercayai Jatmiko lagi, atau apakah rumah tangga mereka bisa diselamatkan dari reruntuhan ini.

Nindya bangkit dari kursinya. Ia menatap Jatmiko yang masih tertunduk. ‘Aku… aku perlu waktu, Mas. Aku tidak tahu apa yang harus aku pikirkan sekarang.’

Ia berjalan perlahan menuju kamar tidur mereka, meninggalkan Jatmiko sendirian di ruang tamu yang kini terasa begitu dingin. Di tangannya, ia menggenggam kaus kaki polkadot krem itu. Benda kecil yang telah membuka jurang pemisah dalam pernikahan mereka.