Cerita Pengkhianatan: Dompet Suami Terisi Aneh, Jantungku Berdebar Tak Karuan

Cerita Pengkhianatan: Dompet Suami Terisi Aneh, Jantungku Berdebar Tak Karuan

CERITA PENDEK

Cerita Pengkhianatan: Dompet Suami Terisi Aneh, Jantungku Berdebar Tak Karuan

Babak 1 — Kotak Misterius di Laci Meja

Pagi itu, seperti biasa, Jatmiko menyibakkan selimut dengan gerakan agak malas. Di sampingnya, Laksmi sudah menggeliat, menggumamkan sesuatu tentang jadwal meeting yang padat. Bukan, bukan meeting dirinya. Jatmiko masih terlelap saat Laksmi beranjak ke kamar mandi. Aroma kopi yang mulai tercium dari dapur menandakan ia tak akan lama lagi bersiap-siap untuk berangkat. Jatmiko berdeham, berusaha mengumpulkan sisa kesadaran. Ia menggerakkan kakinya, mencari sandal rumah kesayangannya di bawah ranjang. Tidak ada. Biasanya sandal itu selalu tergeletak rapi di sana.

Dengan sedikit kesal, ia menendang-nendang kolong tempat tidur, berharap menemukan barangnya yang terselip. Pandangannya jatuh pada sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di sudut. Kotak itu tidak pernah ada sebelumnya. Ia yakin betul. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Bukan karena terkejut menemukan kotak, tapi karena kotak itu terbuat dari kayu jati ukir halus yang sangat familiar. Itu adalah kotak tempat ia menyimpan beberapa surat cinta dari masa kuliah dulu, surat-surat yang ia berikan pada… ah, sudahlah.

Ia menarik kotak itu keluar. Debu tipis melapisi permukaannya, menandakan benda itu sudah lama tidak tersentuh. Jatmiko menyibakkan debu itu dengan jari telunjuknya. Kuncinya masih terpasang. Ia mencoba membukanya. Terkunci. Jatmiko mengerutkan dahi. Ia ingat pernah menguncinya, tapi rasa-rasanya ia menyimpan kuncinya di tempat yang berbeda. Jantungnya kembali berdegup. Ada sesuatu yang janggal. Ia meletakkan kotak itu di atas nakas. Kepalanya terasa sedikit pening.

Laksmi keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk. ‘Mas, kok belum siap-siap?’ tanyanya dengan suara lembut, namun ada nada tergesa di sana. Jatmiko menoleh, pandangannya tertuju pada Laksmi. Ia melihat wanita yang sudah menemaninya selama tujuh tahun. Wanita yang selalu sigap, teliti, dan penuh perhatian. Sesuatu yang selama ini ia puja. Namun pagi ini, ada sesuatu yang berbeda di mata Laksmi. Seperti ada beban yang tak terkatakan.

‘Sandalku hilang,’ jawab Jatmiko, berusaha terdengar biasa saja. Ia sengaja tidak menyinggung soal kotak kayu itu. Mungkin Laksmi yang memindahkannya. Mungkin ada alasan lain. Tapi pikiran-pikiran aneh mulai merayap masuk ke benaknya. Kotak itu… kenapa bisa ada di bawah ranjang? Dan kenapa dikunci?

Laksmi berjalan mendekat. ‘Oh, di kamar mandi mungkin Mas tadi pagi?’ Ia melirik ke arah nakas. Pandangannya sedikit terdiam pada kotak kayu itu. Tidak ada perubahan ekspresi yang berarti, namun Jatmiko menangkapnya. Sesuatu yang tersembunyi di balik keterkejutan yang biasa saja.

‘Nggak lihat aku dari tadi,’ jawab Jatmiko, kembali menunduk, pura-pura merapikan selimut. ‘Kayaknya aku tadi pagi langsung ke kamar mandi.’ Ia sengaja memutarbalikkan fakta. Ia tahu, Laksmi akan percaya begitu saja.

‘Ya sudah, aku siap-siap dulu ya. Nanti kalau ketemu, taruh di depan pintu saja.’ Laksmi bergegas ke arah lemari pakaian, memilih baju. Jatmiko masih terpaku pada kotak kayu itu. Pikirannya berputar. Kotak itu. Laksmi. Kenapa?

Ia meraih kotak itu lagi. Genggamannya mengerat. Ia harus tahu. Tapi bagaimana? Memaksa Laksmi membuka kotak itu rasanya tidak mungkin. Itu adalah barang pribadinya. Tapi kenapa Laksmi terlihat begitu… diam saat melihatnya?

‘Mas, ini bukain pintu dong, aku mau ambil tas di ruang tamu,’ suara Laksmi memecah lamunannya. Jatmiko bangkit, beranjak ke pintu. Ia sempat melirik sekilas ke arah Laksmi. Wanita itu kini sedang memasukkan dompetnya ke dalam tas kerja. Jantung Jatmiko kembali berdegup. Dompet. Laksmi sangat menjaga dompetnya. Jarang sekali ia membukanya sembarangan di depan orang lain, kecuali saat akan membayar sesuatu. Tapi ini, di rumah, sebelum berangkat kerja?

Saat Laksmi berlalu, pandangan Jatmiko tak sengaja tertuju pada layar ponsel Laksmi yang tergeletak di atas meja rias. Sebuah notifikasi aplikasi perbankan muncul sekilas. Bukan nominalnya yang menarik perhatian Jatmiko, melainkan nama pengirimnya. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Babak 2 — Struk Kasir yang Terlipat Rapi

Sepanjang perjalanan menuju kantor, Jatmiko tidak bisa berhenti memikirkan kotak kayu itu. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan Jakarta yang sudah mulai ramai. Lampu-lampu kota masih menyala, menemaninya dalam kebingungan yang semakin merayap.

Ia mencoba mengabaikan rasa curiga yang menggerogoti. Mungkin ia terlalu berlebihan. Mungkin kotak itu memang milik Laksmi, dan ia lupa memindahkannya. Tapi kenapa dikunci? Dan kenapa terlihat usang seperti itu? Laksmi bukan tipe orang yang menyimpan barang-barang usang tanpa alasan jelas.

Sesampainya di kantor, Jatmiko langsung menuju kubikelnya. Ia menyalakan komputer, lalu membuka beberapa aplikasi. Namun, perhatiannya tidak fokus. Pikirannya masih tertuju pada kejadian pagi tadi. Ia membuka laci mejanya, berniat mengambil alat tulis. Tiba-tiba, tangannya terhenti. Di antara tumpukan kertas dan pulpen, terselip sebuah struk kasir. Struk dari toko elektronik yang belum pernah ia kunjungi.

Ia menarik struk itu keluar. Lembarannya agak kusut, namun terlipat dengan rapi. Sangat rapi. Jatmiko tahu betul, Laksmi adalah orang yang perfeksionis. Semua harus tertata sempurna. Struk ini adalah bukti kebiasaan itu.

Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia membalik struk itu. Tertera beberapa item: ‘Earphone Bluetooth’, ‘Smartwatch Band’, ‘Charger Tipe-C’. Totalnya lumayan menggiurkan. Tanggal pembeliannya adalah tiga hari yang lalu. Ia mengingat-ingat kembali. Tiga hari lalu adalah hari Rabu. Laksmi bilang ia ada acara makan malam dengan klien. Ia pulang agak larut malam.

Jatmiko menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya memandang kosong ke layar komputer yang belum menampilkan apa pun. Earphone? Smartwatch? Charger? Laksmi sudah punya semuanya. Ia bahkan baru saja mengganti jam tangannya bulan lalu. Untuk apa membeli yang baru? Dan kenapa harus di toko elektronik itu?

Ia mencoba mengingat-ingat. Sejak kapan Laksmi mulai jarang menceritakan detail pekerjaannya? Sejak kapan obrolan mereka lebih banyak seputar kebutuhan rumah tangga dan tagihan bulanan? Ia tidak bisa mengingat kapan terakhir kali Laksmi bercerita antusias tentang sebuah proyek baru atau klien yang menarik.

Ia membuka ponselnya, lalu membuka aplikasi Gojek. Ia melihat riwayat pemesanan. Terakhir kali ia memesan makanan untuk makan malam adalah dua minggu lalu. Laksmi tidak pernah memesan makanan sendiri jika Jatmiko ada di rumah. Tapi, ia melihat ada pesanan GoFood atas nama Laksmi, tiga hari lalu, pukul 19.00. ‘Nasi Goreng Gila Pedas Level 3’ dari sebuah warung yang lumayan jauh dari rumah mereka.

Jantung Jatmiko serasa diremas. Nasi goreng gila? Laksmi tidak pernah makan pedas. Ia selalu bilang perutnya sensitif. Ini jelas bukan Laksmi yang ia kenal.

Ia kemudian membuka aplikasi perbankan. Ia memasukkan nomor rekening Laksmi, lalu mengecek mutasi terakhir. Data yang ia lihat membuatnya terdiam. Ada transfer masuk senilai Rp 1.500.000, pada hari yang sama dengan pembelian di toko elektronik itu. Nama pengirimnya… asing. ‘Rizky Pratama’.

Jatmiko merasa mual. Siapa Rizky Pratama? Kenapa mengirim uang sebanyak itu ke rekening Laksmi? Uang itu lebih dari cukup untuk membeli semua barang di struk toko elektronik itu.

Ia mengambil struk itu lagi, menggenggamnya erat. Tangannya mulai gemetar. Ia merasa seperti baru saja tersandung di ujung jurang yang gelap. Semua kejanggalan kecil yang selama ini ia abaikan, kini menumpuk menjadi sebuah tumpukan besar yang mengancam akan menelannya.


Babak 3 — Kenangan yang Menyakitkan dan Chat Aneh

Malam itu, suasana di rumah terasa berbeda. Laksmi terlihat lebih pendiam dari biasanya. Ia hanya sesekali menjawab pertanyaan Jatmiko dengan singkat, matanya lebih sering tertuju pada layar ponselnya. Jatmiko berpura-pura sibuk membaca berita di laptopnya, namun pikirannya terus berkelana.

Ia teringat masa awal pernikahan mereka. Laksmi adalah tipe istri yang sangat terbuka. Setiap ada masalah di kantor, ia akan bercerita pada Jatmiko. Begitu pula sebaliknya. Mereka adalah tim. Mereka berbagi segalanya. Jatmiko merasa bangga memiliki istri seperti Laksmi. Tapi belakangan ini, ada jarak yang terasa. Jarak yang tak terlihat, namun begitu nyata.

Teringat satu kejadian beberapa bulan lalu. Jatmiko pernah menemukan sebuah nota pembayaran parkir di dalam mobil Laksmi. Bukan nota parkir biasa, tapi nota dari pusat perbelanjaan yang lokasinya cukup jauh dari rumah dan kantor mereka. Saat ditanya, Laksmi hanya menjawab ia lupa pernah ke sana. Jatmiko mencoba percaya. Namun, kini, semua tumpukan keanehan itu mulai membentuk sebuah pola.

Ia menelan ludah. Struk dari toko elektronik. Transfer dari ‘Rizky Pratama’. Nasi goreng pedas yang tidak disukai Laksmi. Kotak kayu yang terkunci di bawah ranjang. Semuanya mulai terhubung.

Jatmiko mencoba mengalihkan perhatian. Ia membuka aplikasi pesan di ponselnya. Ia ingat, beberapa minggu lalu, ia pernah menerima chat dari nomor tak dikenal. Isinya hanya beberapa emoji aneh dan tulisan yang tidak jelas. Ia mengabaikannya saat itu, mengira itu spam.

Ia mencari nomor itu di daftar kontaknya. ‘Rizky P.’ Tertulis demikian. Jantungnya berdegup kencang. Ia membuka percakapan itu. Terakhir kali dikirim adalah dua hari lalu.

‘Besok jadi kan? Jam 7 malam, tempat biasa.’

Jatmiko menatap layar dengan nanar. ‘Tempat biasa’? ‘Jam 7 malam’? Ini pasti tentang makan malam klien yang Laksmi ceritakan.

Ia terus menggulir ke atas. Ada beberapa percakapan sebelumnya yang jauh lebih intim. Kalimat-kalimat gombal yang tidak mungkin ditujukan pada seorang kolega biasa. Ada foto profil yang terpasang. Seorang pria muda, tersenyum lebar. Wajahnya asing bagi Jatmiko.

Dan yang paling mengejutkan, ia menemukan sebuah foto yang dikirim oleh Rizky Pratama, satu hari sebelum struk toko elektronik itu ada. Foto itu menampilkan sebuah kotak kayu kecil yang identik dengan milik Jatmiko, tergeletak di atas meja sebuah kafe. Di sampingnya, tergeletak sebuah kunci kecil.

Jatmiko merasa dunia berputar. Kotak kayu itu. Kunci itu. Apa maksudnya? Ia teringat kembali kenangan masa lalu, kenangan yang selalu ia kubur dalam-dalam. Kenangan tentang kotak yang berisi surat-surat cinta yang ia berikan pada… ah, sudahlah. Tapi, jika kotak itu ada di kafe, dengan kunci di sampingnya, dan Laksmi membawanya pulang… kenapa? Dan kenapa dikunci lagi?

Ia melihat kembali mutasi rekening banknya. Tanggal pembelian barang-barang elektronik itu. Tanggal transfer dari Rizky. Semuanya cocok. Jatmiko merasa tenggorokannya tercekat. Ia menarik napas dalam-dalam.

Ia melirik Laksmi. Wanita itu sedang tertawa kecil sambil membalas pesan di ponselnya. Tawa yang terdengar asing di telinga Jatmiko malam ini. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia tidak tahu lagi harus percaya pada apa.


Babak 4 — Konfrontasi di Dapur yang Dingin

Pagi itu, Jatmiko memutuskan untuk tidak berangkat kerja. Ia ingin menyelesaikan semua ini. Ia menunggu Laksmi keluar dari kamar mandi, lalu duduk di meja makan. Kopi panas mengepul di cangkirnya, namun ia tak menyentuhnya.

Laksmi masuk ke dapur, tampak sedikit terkejut melihat Jatmiko sudah duduk manis di sana. Biasanya ia masih terlelap. ‘Mas, kok belum siap-siap?’ tanyanya dengan nada sedikit khawatir.

Jatmiko menatap Laksmi lekat. Matanya tidak menunjukkan amarah, hanya kelelahan dan kekecewaan yang mendalam. ‘Lak, aku menemukan ini,’ kata Jatmiko pelan. Ia mengeluarkan struk kasir dari toko elektronik itu dari saku celananya, lalu meletakkannya di atas meja.

Laksmi terdiam. Ia menatap struk itu, lalu menatap Jatmiko. Wajahnya pucat. ‘Ini… ini bukan apa-apa, Mas. Cuma barang-barang yang… aku butuhkan.’

‘Barang-barang yang kamu butuhkan? Earphone? Smartwatch baru? Padahal kamu sudah punya yang lebih bagus?’ Jatmiko sengaja mengatakannya dengan nada datar, tanpa emosi. Ia ingin melihat reaksi Laksmi.

Laksmi menunduk. Jemarinya memainkan ujung lengan bajunya. ‘Aku… aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru.’

‘Sesuatu yang baru? Seperti nasi goreng gila pedas level tiga? Yang kamu tahu kamu tidak suka makan pedas?’ Jatmiko melanjutkan, suaranya sedikit memberat. ‘Atau seperti transferan Rp 1.500.000 dari Rizky Pratama?’

Wajah Laksmi semakin pucat. Ia terkesiap. ‘Mas… bagaimana…?’

‘Bagaimana aku tahu? Aku menemukan struk ini. Aku melihat mutasi rekeningmu. Dan aku juga melihat chat-mu dengan dia, Lak.’ Jatmiko akhirnya tidak bisa menahan suaranya. Nada kekecewaan mulai terdengar jelas. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menampilkan percakapan dengan Rizky Pratama. Foto kotak kayu dan kuncinya.

‘Dan kotak ini?’ Jatmiko menunjuk ke arah nakas di kamar mereka, di mana kotak kayu itu masih tergeletak. ‘Ini milikku dari masa lalu, Lak. Kenapa kamu menyembunyikannya di bawah ranjang? Kenapa dikunci? Dan kenapa ada di kafe itu dengan kunci di sampingnya, seperti yang dikirim Rizky?’

Laksmi mulai menangis tersedu-sedu. Air mata mengalir deras di pipinya. ‘Aku… aku tidak bermaksud… aku hanya… sebentar, Mas.’ Ia buru-buru berlari ke kamarnya. Jatmiko mengikutinya dengan tatapan kosong.

Laksmi membuka kotak kayu itu. Ternyata, ia mengambil kunci cadangan yang ia simpan di brankas kecil mereka. Di dalamnya, tersusun rapi surat-surat cinta dari masa lalu Jatmiko. Ia mengeluarkan salah satunya, memberikannya pada Jatmiko. Surat itu adalah surat cinta yang Jatmiko berikan pada wanita yang ia cintai sebelum bertemu Laksmi. Surat itu ditulis tangan dengan penuh perasaan.

‘Aku menemukannya di laci lama saat bersih-bersih rumah dulu, Mas,’ Laksmi terisak. ‘Aku tahu ini suratmu untuk… dia. Tapi aku tidak pernah memindahkannya. Aku tidak tahu kenapa ada di sana.’

Jatmiko mengambil surat itu. Ia membacanya. Kata-kata itu terasa begitu asing, namun juga begitu familiar. Ia ingat momen saat ia menulis surat itu. Penuh harapan dan cinta yang naif.

‘Tapi kenapa kamu membawanya ke kafe? Kenapa struk itu? Kenapa Rizky?’ Jatmiko bertanya, suaranya serak.

Laksmi menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. ‘Rizky itu… dia adalah adik dari… dia yang pernah Mas cintai dulu. Aku tidak sengaja bertemu dengannya beberapa bulan lalu. Dia masih menyimpan barang-barang kakaknya. Termasuk kotak surat itu.’

Jatmiko terdiam. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Adik dari wanita yang pernah ia cintai? Itu berarti…

‘Dia memberitahuku bahwa kakaknya menyimpan surat-surat itu, dan dia tahu tentang Mas. Dia penasaran, lalu menawarkan untuk menunjukkannya. Aku… aku tidak tahu kenapa, Mas. Aku hanya… ingin tahu. Mungkin aku cemburu? Atau mungkin aku hanya ingin tahu seberapa besar cinta Mas dulu padanya.’ Laksmi melanjutkan, suaranya semakin lirih. ‘Aku membawanya ke kafe itu untuk menemuinya. Aku ingin melihat kotak itu, membaca surat itu. Aku meminjam kunci yang ia berikan padaku. Lalu… dia mentransfer uang itu untuk mengganti kerugianku karena harus mengambil cuti, dan untuk membeli barang-barang itu… aku hanya ingin sedikit merapikan hidupku, Mas. Aku merasa… tertinggal.’

Jatmiko hanya bisa menatap Laksmi. Semua yang ia dengar terasa seperti mimpi buruk yang nyata. Adik dari cinta pertamanya. Kotak surat cintanya. Struk belanjaan aneh. Transfer uang misterius. Semuanya terhubung.


Babak 5 — Jeda yang Penuh Pertanyaan

Jatmiko duduk terdiam di tepi ranjang. Surat cinta lama itu tergeletak di pangkuannya. Laksmi berdiri di ambang pintu kamar, matanya sembab, menatap Jatmiko dengan penuh harap yang bercampur rasa bersalah.

Dunia Jatmiko seakan berhenti berputar. Semua yang ia pikirkan tentang Laksmi, tentang rumah tangga mereka, semuanya kini terasa abu-abu. Ia tidak pernah menyangka bahwa sebuah kotak kayu kecil dari masa lalunya akan membawa semua ini.

Ia memandang surat itu. Ia teringat lagi semua janji yang pernah terucap, semua impian yang pernah ia bangun. Lalu ia memandang Laksmi. Wanita yang ia pilih, wanita yang ia nikahi, wanita yang menemaninya melewati suka duka selama tujuh tahun terakhir. Tapi ia juga baru saja mendengar sebuah cerita yang membuat segalanya menjadi rumit.

Apakah Laksmi benar-benar hanya penasaran? Atau ada sesuatu yang lebih dalam? Apakah penemuan kotak surat itu hanya kebetulan, atau ada campur tangan takdir yang lebih besar? Dan Rizky Pratama, adik dari cinta pertamanya… apa motif sebenarnya?

Jatmiko memejamkan matanya. Pikirannya berkelebat ke adegan pertama pagi itu. Kotak misterius. Laksmi yang diam. Struk kasir yang terlipat rapi. Percakapan dengan Rizky. Semuanya kini memiliki penjelasan, namun penjelasan itu justru menciptakan lebih banyak pertanyaan.

Ia membuka matanya perlahan. Laksmi masih berdiri di sana, menunggu. Jatmiko menatapnya. Ia melihat ada kesedihan yang mendalam di mata wanita itu, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang sulit ia definisikan.

‘Jadi, semua ini… karena surat-surat itu?’ tanya Jatmiko, suaranya parau. Ia tidak menuduh, hanya mencari kepastian.

Laksmi mengangguk pelan. ‘Aku… aku tidak tahu, Mas. Mungkin aku hanya ingin tahu. Mungkin aku merasa… tidak cukup.’ Ia terisak lagi. ‘Aku takut Mas masih menyimpan rasa untuk dia.’

Jatmiko merasa sebuah beban terangkat dari dadanya. Ketakutan Laksmi. Ketakutan yang membuat wanita itu melakukan semua ini. Ia memejamkan matanya lagi. Ia tahu ia harus memutuskan. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Menerima penjelasan Laksmi begitu saja? Atau mencari tahu lebih dalam tentang Rizky dan motifnya?

Ia melirik jam di dinding. Sudah hampir siang. Laksmi belum berangkat kerja. Ia juga belum. Kehidupan mereka seakan terhenti di titik ini. Jeda yang dipenuhi kebingungan dan keraguan.

Jatmiko memegang surat cinta itu dengan erat. Ia melihat kembali ke arah Laksmi. Tatapannya kini lebih tenang, namun tetap ada keraguan yang tersisa. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya tahu, rumah tangga mereka tidak akan pernah sama lagi setelah semua ini terungkap.

Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan. Ia mencari nomor Rizky Pratama. Jantungnya berdebar. Harus berani. Ia mengetik pesan singkat. ‘Kita perlu bicara.’

Ia menatap Laksmi. ‘Lak, bisakah kamu buatkan aku kopi? Aku… aku butuh waktu.’

Laksmi hanya mengangguk, lalu bergegas ke dapur. Jatmiko kembali memandang surat di tangannya. Ia tahu, ini baru permulaan. Perjalanan untuk memahami dan memperbaiki semuanya masih sangat panjang.