Kisah Rumah Tangga: Dompet Suami Tercecer, Bukti yang Ditemukan Sang Istri Sungguh Tak Terduga

Kisah Rumah Tangga: Dompet Suami Tercecer, Bukti yang Ditemukan Sang Istri Sungguh Tak Terduga

CERITA PENDEK

Kisah Rumah Tangga: Dompet Suami Tercecer, Bukti yang Ditemukan Sang Istri Sungguh Tak Terduga

Babak 1 — Senyap Pagi yang Terusik

Laksmi meneguk teh panasnya perlahan, aroma melati dari daun yang diseduhnya menjalar tipis di dapur minimalis mereka. Pagi itu sama seperti pagi-pagi lainnya. Suaminya, Pradipta, sudah berangkat lebih dulu ke kantornya di bilangan Sudirman. Ia selalu pamit dengan ciuman singkat di kening dan kalimat basa-basi yang sama, ‘Aku berangkat dulu, Mbak.’ Panggilan ‘Mbak’ itu kadang membuat Laksmi sedikit tersenyum kecut. Bukankah ia istrinya? Tapi Laksmi tidak pernah benar-benar memprotes. Terlalu enggan memulai perdebatan, terlalu nyaman dalam rutinitas yang tenang. Perfeksionis dalam hal menjaga kedamaian, betapapun rapuhnya kedamaian itu.

Ia kemudian beranjak merapikan sisa sarapan. Roti gandum panggang dengan selai kacang dan pisang, porsi sarapan yang selalu sama selama dua tahun terakhir. Tadi malam, Pradipta sempat meminta dibuatkan bekal nasi goreng spesial, tapi Laksmi hanya membuatkan telur dadar gulung yang ia bungkus rapi dalam kotak bekal. ‘Biar cepat saja, Mas. Kamu kan seringnya buru-buru,’ dalihnya kala itu. Sebenarnya, ia malas. Malas karena Pradipta pulang terlambat lagi, malas karena aroma parfum yang asing masih samar-samar menempel di kerah kemeja suaminya saat ia memeluknya tadi malam. Aroma bunga melati—ironisnya, sama seperti teh yang ia seduh sekarang.

Sambil membersihkan meja, Laksmi menemukan sesuatu di bawah kaki kursi makan. Benda kecil, tersembunyi di bawah bayangan. Awalnya ia mengira itu hanya remah-remah roti atau mungkin bungkus permen yang terjatuh. Tapi saat ia membungkuk, tangannya meraih benda itu, sebuah dompet kulit berwarna cokelat tua, tipis, dan terlihat asing. Bukan dompet Pradipta yang besar dan penuh kartu parkir serta struk-struk pembelian warung sembako. Dompet ini terasa berbeda. Desainnya simpel, elegan. Jantung Laksmi mulai berdegup lebih cepat. Ia belum pernah melihat dompet ini sebelumnya. Apakah ini milik Pradipta? Mungkin ia menjatuhkannya semalam dan baru sadar pagi ini?

Ia mencoba membukanya dengan hati-hati. Bagian dalam dompet itu kosong, kecuali satu lembar kartu nama yang terselip di sela-sela lapisan kulit. Kartu nama itu berwarna putih gading, dengan tulisan emas yang rapi. Tertera sebuah nama, ‘Anindita Kirana’, beserta nomor telepon dan alamat email. Di bawahnya, ada tulisan kecil ‘Personal Assistant to Mr. Pradipta Wibisono’. Laksmi menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dadanya. Personal Assistant? Sejak kapan Pradipta punya asisten pribadi dengan kartu nama yang begitu mewah? Selama ini, ia selalu berkata bahwa semua urusan administrasi kantor ditangani oleh tim di sana. Laksmi sendiri bekerja paruh waktu sebagai desainer grafis lepas dari rumah, ia cukup fleksibel dengan jam kerjanya. Mengapa ia tidak pernah mendengar nama Anindita Kirana?

Ia terus mengamati dompet itu. Ada bekas gesekan samar di sudutnya, seolah sering dibawa-bawa, sering keluar masuk tas atau kantong. Di balik kartu nama itu, ada sebuah slot kecil yang tidak terisi. Namun, saat jari Laksmi menyentuhnya, ia merasakan sesuatu yang tipis terselip di baliknya. Sebuah foto. Tangannya sedikit gemetar saat menarik keluar foto polaroid mungil itu. Foto itu menampilkan Pradipta, sedang tersenyum lebar, bersandar di bahu seorang wanita. Wanita itu tersenyum manis, matanya berbinar. Laksmi mengenali wanita itu dari kartu nama. Anindita Kirana.

Senyum Pradipta di foto itu adalah senyum yang jarang Laksmi lihat belakangan ini. Senyum lepas, bahagia. Senyum yang biasanya ia dapatkan saat Pradipta bercerita tentang keberhasilan proyek terbarunya, atau saat mereka pertama kali menjalin hubungan. Tapi senyum itu kini diberikan pada wanita lain. Di foto itu, mereka terlihat sangat dekat. Tangan Anindita melingkar di lengan Pradipta. Laksmi merasa napasnya tercekat. Ini bukan sekadar foto profesional, ini… lebih. Jauh lebih dari sekadar hubungan atasan dan asisten. Dompet ini, foto ini, kartu nama ini. Semuanya terasa seperti guncangan kecil yang meruntuhkan fondasi pagi yang seharusnya tenang. Ia meletakkan dompet itu kembali di meja, menatapnya lekat-lekat, mencoba mencerna apa artinya ini semua. Perasaan dingin mulai menjalar, menggantikan kehangatan teh di tangannya.


Babak 2 — Pecahan-pecahan Kebingungan

Laksmi duduk di tepi ranjang, dompet cokelat tua itu kini tergeletak di pangkuannya. Ia membolak-baliknya tanpa tujuan. Jantungnya masih berdebar kencang, tapi kini bercampur dengan rasa mual yang aneh. Ia mencoba meyakinkan diri sendiri. Mungkin ada penjelasan logis. Mungkin Anindita adalah kolega yang sangat akrab, dan foto itu diambil di acara kantor. Mungkin Pradipta meminjamkan dompetnya karena sesuatu yang mendesak? Tapi tidak mungkin. Pradipta sangat menjaga barang-barangnya. Ia bahkan punya tempat khusus untuk menaruh dompetnya setiap kali pulang. Mengapa dompet ini bisa ada di bawah kursi makan? Dan mengapa ada foto intim di dalamnya?

Ia membuka aplikasi pesan di ponselnya, jarinya bergerak ragu di atas layar. Siapa yang harus ia hubungi? Ia bisa saja langsung bertanya pada Pradipta, tapi ia takut. Takut mendengar jawaban yang akan menghancurkan sisa ketenangannya. Ia takut reaksi Pradipta akan membuatnya semakin yakin akan prasangkanya. Ia membuka daftar kontak, matanya tertuju pada nama ‘Ratih’, sahabatnya sejak SMA. Ratih adalah orang yang paling bisa ia percaya, selalu memberinya nasihat yang realistis, meskipun terkadang pedas.

Ia menghela napas panjang sebelum mengetik pesan singkat. ‘Rat, aku nemu dompet aneh di rumah. Isinya foto Pradipta sama cewek lain. Cantik. Namanya Anindita Kirana, Personal Assistant-nya. Kamu pernah dengar nama itu?’ Laksmi menahan napas menunggu balasan. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelan lengan kursi. Ia merasa gelisah, cemas. Ia membuka galeri ponselnya, melihat foto-foto pernikahan mereka dua tahun lalu. Wajah Pradipta di sana penuh janji. Ia membandingkan senyum Pradipta di foto pernikahan itu dengan senyum di foto polaroid yang ia temukan. Ada perbedaan yang menyakitkan.

Perlahan, Laksmi mulai menggali ingatan. Kapan terakhir kali Pradipta benar-benar memperhatikannya? Kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu berkualitas tanpa terganggu ponsel atau laptop? Ia ingat saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan pertama di sebuah restoran di Kemang. Pradipta terlihat sedikit gelisah, sering melirik ponselnya. Ia beralasan ada pekerjaan mendesak. Tapi Laksmi ingat tatapan Pradipta saat ia menerima telepon di luar restoran. Terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.

Kemudian, Ratih membalas. ‘Anindita Kirana? Astaga, Laksmi. Aku pernah dengar sedikit gosip dari anak-anak kantor temenku. Katanya Pradipta itu dekat banget sama asisten barunya. Tapi aku nggak nyangka sejauh itu.’ Pesan itu datang seperti pukulan telak. ‘Dekat banget’? ‘Nggak nyangka sejauh itu’? Kata-kata itu berputar di kepala Laksmi. Ia merasa lututnya lemas. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan Anindita dan Pradipta yang tersenyum mesra. Tapi bayangan itu terus menghantuinya. Ia membuka kembali pesan terakhir dari Pradipta tadi pagi. ‘Aku berangkat dulu, Mbak.’ ‘Mbak’. Panggilan itu kini terasa seperti tusukan. Sejak kapan ia merasa seperti ‘Mbak’ bagi suaminya sendiri?

Ia membuka aplikasi Tokopedia, berpura-pura mencari sesuatu, mengalihkan perhatiannya. Tapi pandangannya kosong. Ia tidak benar-benar melihat apa pun. Perasaannya campur aduk: marah, sedih, kecewa, dan bingung. Ia ingin menangis, tapi air matanya terasa membeku di tenggorokannya. Ia mengambil foto polaroid itu lagi, menatap wajah Pradipta. Ada sedikit kerutan di sudut matanya yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Kerutan yang seolah menyimpan cerita. Cerita yang kini ia curigai bukan tentang dirinya.

Laksmi bangkit dari ranjang, berjalan ke meja rias. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat sedikit lebih tua dari usianya. Ada garis halus di antara alisnya, hasil dari kecemasannya yang terpendam. Ia meraih lipstik warna nude favoritnya, tapi urung menggunakannya. Untuk apa? Siapa yang akan ia pikat hari ini? Ia hanya memakai pelembap bibir, lalu menghela napas lagi. Ia meletakkan dompet itu ke dalam tas selempangnya. Ia memutuskan, ia harus mencari tahu lebih banyak. Kebingungan ini harus diakhiri. Perasaan tersiksa karena ketidakpastian ini terlalu berat.


Babak 3 — Jejak Digital yang Berbisik

Sore itu, Laksmi memutuskan untuk melakukan apa yang paling ia hindari: mencari tahu sendiri. Ia tidak bisa terus-terusan dalam ketidakpastian. Ia mengeluarkan dompet cokelat tua itu dari tasnya lagi, menyalakan laptopnya. Kartu nama Anindita Kirana dan nomor teleponnya menjadi titik awal penelusurannya. Ia mencoba mencari nama itu di LinkedIn, tapi yang muncul adalah beberapa profil dengan nama serupa yang tidak relevan. Semuanya terasa ambigu.

Ia kemudian mencoba mencari nama ‘Anindita Kirana’ beserta ‘Pradipta Wibisono’ di Google. Hasilnya banyak. Artikel berita tentang proyek kantor Pradipta, profil perusahaan, tapi tidak ada yang secara spesifik menyebutkan hubungan pribadi antara keduanya. Namun, saat ia mencoba mencari nomor telepon Anindita di aplikasi pencari nomor, beberapa informasi muncul. Alamat email yang terdaftar, dan yang lebih mengejutkan, sebuah akun Instagram dengan foto profil seorang wanita yang—tentu saja—adalah Anindita Kirana. Wanita itu tersenyum dalam foto profilnya, latar belakangnya adalah pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Mungkin dari salah satu gedung perkantoran di Sudirman?

Laksmi membuka akun Instagram tersebut. Akunnya privat. Ia ragu sejenak, lalu menekan tombol ‘Follow’. Sambil menunggu permintaan diterima, ia mencoba membuka aplikasi ojek online, berpura-pura memesan GoCar. Ia mengetikkan alamat kantor Pradipta sebagai tujuan. Ia kemudian melihat-lihat pilihan pengemudi yang tersedia. Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah foto profil pengemudi. Wanita itu tersenyum, rambutnya tertata rapi. Itu Anindita. Jadi, ia menggunakan GoCar pribadi untuk urusan kantor? Itu hal yang biasa, tapi entah mengapa terasa aneh baginya saat ini. Ia kemudian mengurungkan niat memesan, membatalkan pencarian.

Ia kembali ke layar laptopnya, masih menunggu persetujuan follow di Instagram. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan Pradipta tadi malam. Saat Pradipta pulang, ia terlihat lelah. Laksmi mencoba mengajaknya bicara, tapi Pradipta hanya menjawab singkat, ‘Aku capek, Mbak. Mau istirahat.’ Ia kemudian masuk ke kamar dan langsung tertidur. Laksmi duduk di ruang tamu, ditemani suara televisi yang tidak ia tonton. Ia merasa ada jarak yang semakin lebar di antara mereka. Jarak yang terasa seperti jurang dalam.

Permintaan follow-nya di Instagram akhirnya diterima. Laksmi membuka profil Anindita. Foto-fotonya menampilkan kehidupan yang tampak glamor dan penuh kesibukan. Ia sering mengunggah foto makan siang di restoran mewah, foto pemandangan dari jendela gedung tinggi, foto dirinya saat sedang menghadiri acara-acara korporat. Ada satu foto yang menarik perhatiannya: Anindita sedang duduk di sebuah kafe yang ramai, tersenyum sambil memegang secangkir kopi. Di depannya, ada buku catatan. Laksmi menyipitkan mata. Buku catatan itu… ia pernah melihat sampulnya. Sampul buku catatan yang mirip dengan buku catatan yang sering ia beli untuk Pradipta sebagai hadiah ulang tahun atau perayaan tertentu. Tapi buku catatan ini terlihat lebih baru.

Di salah satu unggahan lain, Anindita memposting foto tangannya yang sedang memegang ponsel, dengan latar belakang sebuah pemandangan taman kota. Laksmi melihat sekilas jam di layar ponsel Anindita. Sekitar jam 4 sore. Waktu yang sama saat Pradipta pernah berkata ia harus menghadiri pertemuan mendadak di luar kantor. Saat itu, ia beralasan pertemuannya dengan klien penting. Tapi kini, melihat foto Anindita di taman kota, pikiran Laksmi mulai berkelana liar. Apakah pertemuan itu… dengan Anindita?

Ia kemudian menemukan sebuah foto yang diunggah tiga bulan lalu. Foto Pradipta dan Anindita, berdua, di depan sebuah lukisan abstrak yang mencolok. Mereka berdua tersenyum, tapi kali ini, tangan Pradipta merangkul bahu Anindita. Laksmi merasa dunia berputar. Itu bukan sekadar foto dari acara kantor. Itu adalah momen yang intim, privat. Ia merasa nyeri di dadanya semakin tajam. Kenangan dua tahun pernikahannya terasa seperti ilusi. Semua kebahagiaan yang ia rasakan, semua kesetiaan yang ia yakini, kini dipertanyakan.

Tiba-tiba, ia teringat sebuah kejadian beberapa bulan lalu. Saat itu ia sedang berbelanja di sebuah minimarket di dekat apartemen mereka. Ia melihat Pradipta keluar dari minimarket itu sambil tertawa bersama seorang wanita. Wanita itu—ia yakin sekarang—adalah Anindita. Saat itu Laksmi hanya berpikir mungkin mereka kebetulan bertemu. Tapi sekarang, semua kepingan mulai menyatu. Hubungan mereka lebih dari sekadar profesional. Perasaan terkhianati itu menguasainya. Ia menutup laptopnya, merasa lemas. Ia perlu waktu untuk memproses ini semua. Pikiran tentang Anindita dan foto-foto itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.


Babak 4 — Konfrontasi yang Tertunda

Malam itu, Laksmi menyusun strategi. Ia tidak akan langsung menuduh Pradipta. Ia akan menunggu saat yang tepat, saat ia memiliki bukti yang tidak terbantahkan. Ia memutuskan untuk menyelinap ke dalam mobil Pradipta sebelum suaminya berangkat besok pagi. Ia ingin melihat isi dompet Pradipta, mencari tahu apakah ada sesuatu yang bisa memberinya petunjuk lebih lanjut. Jika Pradipta memang menyimpan dompet Anindita, pasti ada alasannya. Ia ingin tahu, seberapa jauh hubungan mereka.

Pagi harinya, Laksmi bangun lebih awal dari biasanya. Ia membuat kopi untuk dirinya sendiri, lalu duduk di ruang tamu, menunggu Pradipta keluar dari kamar. Saat Pradipta muncul, ia tampak sedikit terkejut melihat Laksmi sudah duduk di sana, rapi, dengan senyum kecil yang dibuat-buat. ‘Pagi, Mas,’ sapanya. Pradipta hanya bergumam singkat, lalu berjalan menuju meja makan untuk mengambil rotinya. Ia masih terlihat sedikit lesu, mungkin karena semalam ia pulang larut malam lagi setelah menelepon Laksmi dan berkata akan ‘mengerjakan revisi penting’.

Saat Pradipta keluar rumah menuju mobilnya yang terparkir di garasi, Laksmi mengikuti dari belakang. Ia menunggu Pradipta membuka pintu mobilnya. Tepat sebelum Pradipta masuk, Laksmi berlari kecil. ‘Mas, tunggu!’ panggilnya. Pradipta berbalik, ekspresinya terlihat sedikit terganggu. ‘Ada apa, Mbak? Aku sudah terlambat.’ Laksmi berpura-pura lupa sesuatu. ‘Aku lupa kasih bekal. Ini.’ Ia menyerahkan kotak bekal yang sudah ia siapkan semalam. Pradipta menerimanya tanpa mengucapkan terima kasih, hanya senyum tipis yang dipaksakan.

Saat Pradipta masuk ke mobil, Laksmi melihat kesempatan. Ia segera membukakan pintu penumpang. ‘Aku mau ikut, Mas,’ katanya santai. ‘Ada yang mau aku ambil di dekat kantor.’ Pradipta mengerutkan kening, tapi ia tidak punya waktu untuk berdebat. ‘Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Aku ada rapat penting.’ Laksmi duduk di kursi penumpang, jantungnya berdebar kencang. Ia merasakan adrenalin mengalir dalam tubuhnya. Di dalam mobil, ia melihat dompet Pradipta tergeletak di konsol tengah. Ia menunggu saat Pradipta menepi sebentar untuk menerima telepon dari bosnya. Saat itulah Laksmi bergerak cepat.

Ia membuka dompet Pradipta dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada kartu-kartu bank, kartu KTP, kartu tol, dan beberapa uang tunai. Tapi yang menarik perhatiannya adalah sebuah slot kecil di bagian belakang. Terisi. Ia menarik keluar isinya. Bukan foto, bukan kartu nama. Melainkan struk pembelian. Struk dari sebuah toko perhiasan yang tidak asing baginya—toko yang sama tempat ia membeli cincin pernikahan mereka. Laksmi membelalakkan mata. Struk itu tertanggal dua minggu lalu. Tertera sebuah cincin berlian kecil. Laksmi tidak ingat Pradipta pernah memberinya hadiah seperti itu. Ia bahkan belum pernah melihat cincin itu.

Saat ia sedang terpaku pada struk itu, Pradipta tiba-tiba menutup teleponnya. ‘Sudah selesai bicaranya,’ katanya, kembali fokus pada jalan. Laksmi buru-buru memasukkan kembali struk itu ke dalam dompet Pradipta, menutupnya dengan cepat sebelum Pradipta menyadarinya. Ia pura-pura melihat ke luar jendela, mencoba terlihat tenang. Tapi pikirannya berputar seribu kali lebih cepat. Cincin berlian? Untuk siapa? Jika bukan untuknya, lalu untuk siapa?

Mereka tiba di dekat kantor Pradipta. ‘Aku tunggu di sini ya, Mas. Kamu selesaikan rapatmu,’ kata Laksmi, berusaha agar suaranya tidak bergetar. Pradipta mengangguk, lalu keluar dari mobil. Begitu pintu tertutup, Laksmi langsung mencari nomor Anindita di kontak ponselnya. Ia ragu sejenak, lalu menekan tombol panggilan. Telepon itu diangkat setelah beberapa kali dering. Suara wanita di seberang terdengar sopan. ‘Halo?’ Laksmi menarik napas dalam. ‘Halo, Anindita? Ini Laksmi, istri Pradipta.’ Keheningan menyusul di ujung telepon. Lalu, sebuah suara yang sangat berbeda terdengar, suara yang penuh kecemasan. ‘Bu Laksmi? Ada… ada apa?’ Laksmi menarik napas lagi. Ia harus bertanya. Ia harus tahu kebenarannya. ‘Kamu tahu kenapa saya menelepon, kan?’ Ia menunggu jawaban, siap untuk segalanya.


Babak 5 — Keterbukaan yang Menyakitkan

Keheningan di telepon terasa begitu panjang, begitu berat. Laksmi bisa mendengar suara napas Anindita yang tertahan. Ia merasakan jantungnya sendiri berdegup lebih kencang, menunggu jawaban yang pasti akan menyakitkan. Akhirnya, Anindita bersuara lagi, suaranya kini terdengar lebih lirih, hampir berbisik. ‘Saya… saya tidak tahu harus berkata apa, Bu Laksmi.’ Laksmi bisa merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi ia berusaha keras menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan wanita ini, wanita yang ia yakini telah merusak rumah tangganya.

‘Kamu tahu, Anindita. Saya menemukan dompetmu di rumah saya,’ kata Laksmi, suaranya sedikit bergetar. ‘Ada foto kita di sana. Foto yang jelas bukan foto profesional. Dan tadi pagi, saya menemukan struk pembelian cincin berlian di dompet suami saya. Cincin yang belum pernah saya terima.’ Ia mengambil jeda sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Ia bisa mendengar isak tangis tertahan dari Anindita di seberang sana. ‘Saya tidak pernah berniat melakukan ini, Bu Laksmi,’ suara Anindita terdengar parau. ‘Semuanya… semuanya salah paham. Sebenarnya…’

Anindita berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian. ‘Pradipta… dia sedang dalam tekanan besar beberapa bulan terakhir. Proyeknya terancam gagal, dan dia merasa semua orang meninggalkannya. Saya hanya berusaha mendampinginya, menjadi teman bicara.’ Laksmi menelan ludah. ‘Jadi, foto itu? Rangkulan di depan lukisan itu? Pertemuan di taman kota? Itu semua hanya ‘mendampingi’?’ Nada suara Laksmi mulai meninggi, perpaduan antara amarah dan kesedihan yang sulit dikendalikan.

‘Foto itu diambil saat dia baru saja berhasil menyelamatkan proyeknya, Bu. Dia sangat bahagia. Saya ikut senang. Rangkulan itu… itu hanya spontanitas. Dia berterima kasih. Dan taman kota itu… kami hanya sedang minum kopi, membicarakan rencana kerja. Saya tidak menyangka dia menyimpan foto itu.’ Anindita terisak pelan. ‘Sedangkan cincin itu… itu bukan untuk saya, Bu Laksmi. Itu untuk Anda. Dia bilang dia ingin melamar Anda lagi, dengan cara yang lebih istimewa. Dia ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu, memperbaiki semuanya. Dia ingin memberikan Anda hadiah yang lebih baik dari cincin pernikahan kita dulu.’

Laksmi terdiam. Kata-kata Anindita bagai badai yang menerjangnya. Cincin itu bukan untuk Anindita? Pradipta ingin melamarnya lagi? Semua tuduhan yang ia bangun di kepalanya seolah runtuh seketika, digantikan oleh kebingungan yang lebih dalam. ‘Melamar saya lagi? Menembus kesalahan?’ Ia bertanya, suaranya nyaris tidak terdengar. ‘Tapi… mengapa dia tidak pernah bicara langsung pada saya? Mengapa semua ini harus terjadi?’

‘Dia… dia takut, Bu Laksmi,’ jawab Anindita, suaranya masih bergetar. ‘Dia takut Anda akan marah, takut akan kehilangan Anda. Dia pikir dengan memberikan hadiah dan membuat Anda bahagia, Anda akan melupakan semua masalah yang ada. Dia terlalu pengecut untuk menghadapi Anda secara langsung. Dia terlalu sibuk dengan egonya sendiri. Saya sudah mencoba menasihatinya berkali-kali, tapi dia tidak mau mendengarkan. Saya sungguh minta maaf, Bu Laksmi. Saya terjebak di tengah-tengah.’

Laksmi memutuskan panggilan itu. Ia menatap ponselnya, lalu ke arah gedung perkantoran Pradipta yang menjulang di depannya. Pikiran dan perasaannya kacau balau. Ia menemukan dompet Anindita, lalu mengetahui tentang kedekatan mereka, dan sekarang ia diberitahu bahwa Pradipta sebenarnya ingin menebus kesalahannya. Tapi di mana letak kebenarannya? Apakah Pradipta benar-benar mencintainya dan hanya salah langkah, atau ini hanya alasan lain untuk menutupi perselingkuhan yang sebenarnya? Ia melihat jam di ponselnya. Pradipta seharusnya sudah selesai rapat.

Ia mematikan mesin mobil, masih duduk di sana. Ia tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya. Haruskah ia menunggu Pradipta keluar dan langsung menuntut penjelasan? Atau haruskah ia pulang, dan membiarkan Pradipta yang menjelaskan semuanya? Kepalanya terasa pening. Kebingungan ini terasa lebih berat dari kemarahan. Ia merasa seperti sedang berdiri di persimpangan jalan, tidak yakin jalan mana yang harus ia ambil. Ia melihat dompet cokelat tua itu tergeletak di kursi sebelahnya. Di dalamnya tersimpan kartu nama Anindita. Di luar, matahari mulai terbenam, mewarnai langit Jakarta dengan gradasi oranye dan ungu. Pemandangan yang indah, namun hatinya terasa kelam.