Cerita Pengkhianatan: Dompet Suami Ternyata Menyimpan Struk Belanja Skincare Rp 10 Juta, Bukti Nindya Bukan Satu-satunya
Babak 1 — Dinding Cokelat yang Retak
Nindya selalu bangga dengan rumah tangganya. Tiga belas tahun pernikahan dengan Pradipta berjalan mulus, atau begitulah yang ia yakini. Pradipta adalah pria idaman: mapan, perhatian, dan cenderung pendiam—sebuah kombinasi yang membuatnya merasa aman. Ia tak pernah berlebihan dalam menuntut, tapi juga tak pernah menahan diri untuk tak memberikan apa yang Nindya inginkan. Mobil baru untuk ulang tahun, liburan ke Eropa saat perayaan satu dekade pernikahan, semua ia dapatkan tanpa perlu meminta dua kali. Bahkan saat Pradipta harus sering lembur di proyek terbarunya yang berlokasi di luar kota, Nindya hanya mengangguk patuh. Pekerjaan ayah dari dua anak remajanya itu memang menuntut. Ia yakin, dibalik kesibukan suaminya, terbentang cinta yang kokoh.
Rutinitas pagi Nindya selalu sama: menyiapkan sarapan, mengantar anak-anak ke sekolah, lalu menghabiskan sisa waktu dengan berkebun di halaman belakang atau mengikuti kelas yoga daring. Hari ini, seperti biasa, ia mengenakan kaus olahraga longgar dan celana training. Tangannya bergerak lincah merapikan buku-buku resep di rak dapur. Suara denting jam dinding di ruang tamu menandakan pukul delapan pagi. Sempurna. Saatnya Pradipta berangkat. Ia mendengar langkah Pradipta menuruni tangga, disusul suara pintu depan yang terbuka dan tertutup pelan.
“Dadah, Mah!” sahut Rian, putra sulungnya yang melintas menuju garasi untuk mengambil motor. Nindya membalas lambaian tangan itu sambil tersenyum. Ia menyeduh secangkir kopi instan kesukaannya, sedikit berlebihan gula, ciri khasnya yang tak pernah ia ubah meski sudah berkali-kali diingatkan Pradipta. Dulu Pradipta sering bercanda, ‘Nanti kalau gula darahmu naik, jangan salahkan aku, ya.’ Nindya hanya tertawa. Ia merasa hidupnya nyaris tanpa cela. Ia mencintai suaminya, ia mencintai anak-anaknya, ia mencintai rumahnya yang tenang, dan ia mencintai dirinya sendiri yang selalu bisa menjaga penampilan meski usia tak lagi muda. Setidaknya, itu yang ia pikirkan sebelum semua berantakan.
Selesai dengan kopi paginya, Nindya memutuskan untuk merapikan meja kerja Pradipta yang kadang masih berantakan dengan sisa-sisa pekerjaan. Ia sering melakukan ini, semacam ritual kecil untuk menunjukkan perhatiannya. Ia menyukai aroma parfum Pradipta yang maskulin bercampur dengan sedikit aroma kertas dan tinta. Ia menata beberapa map, membersihkan debu yang menempel di bingkai foto mereka saat pernikahan, lalu meraih tumpukan struk di sudut meja yang sepertinya sudah lama tak tersentuh. Ini kebiasaan Pradipta, menyimpan struk-struk penting. Nindya tak pernah tahu untuk apa, tapi ia tak pernah mempermasalahkannya.
Salah satu struk itu terlihat berbeda. Lebih tebal, dan terlihat lebih baru dari yang lain. Warnanya masih cerah, tidak pudar seperti beberapa struk lama yang sudah menguning. Didorong oleh rasa penasaran yang tiba-tiba muncul—sebuah rasa penasaran yang terasa asing baginya—Nindya menarik struk itu. Ia membukanya perlahan. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Aneh sekali. Ia tahu Pradipta tak pernah punya ketertarikan pada hal-hal seperti ini. Ia terbiasa memberikan semuanya pada Nindya, atau mereka akan pergi bersama untuk membelinya.
Babak 2 — Kertas Kecil Pembawa Petaka
Tangan Nindya sedikit gemetar saat ia membuka lipatan struk itu. Matanya menyusuri barisan teks yang tercetak. Tanggalnya masih kemarin. Lokasinya di sebuah pusat perbelanjaan mewah di Jakarta Selatan. Nindya mengerutkan kening. Pradipta memang ke Jakarta kemarin untuk rapat, tapi ia bilang rapatnya sampai sore dan langsung kembali ke apartemen dinasnya di sana. Ia tak menyebutkan akan mampir ke pusat perbelanjaan itu. Apalagi, ia tak pernah mengatakan akan berbelanja di sana. Ia tidak membutuhkan apa pun dari pusat perbelanjaan yang terkenal dengan merek-merek mewahnya.
Semakin lama ia membaca, semakin dingin udara di sekitarnya terasa. Daftar barang yang tercantum di struk itu bukan untuk Pradipta. Bukan pula untuk anak-anak mereka. Nindya bahkan ragu jika itu untuk dirinya. Serangkaian produk skincare premium yang sangat ia kenal, yang harganya selangit. Ada nama-nama merek asing yang sering ia lihat di majalah gaya hidup, produk-produk yang bahkan belum pernah terlintas di benaknya untuk dibeli karena harganya yang fantastis. Total belanjaan itu mencapai angka sepuluh juta rupiah. Sepuluh juta. Untuk apa? Untuk siapa?
Nindya mencoba bernapas. Menelan ludah yang terasa tercekat di tenggorokan. Ia membolak-balik struk itu, mencari penjelasan, mencari kesalahan pengetikan, mencari sesuatu yang bisa membuatnya lega. Tapi tak ada. Semua jelas tertera. Nama toko, tanggal, jam, daftar barang, dan total harga. Dan yang paling membuatnya nyeri, di bagian paling bawah struk, tertera nama ‘Reswari’ sebagai nama pelanggan. Siapa Reswari? Nama itu asing. Benar-benar asing. Ia tak pernah mendengar nama itu dari Pradipta. Tak pernah.
Nindya mendudukkan dirinya di kursi kerja Pradipta. Pandangannya kosong, tertuju pada jendela yang menampilkan hiruk pikuk Jakarta di kejauhan. Sejak kapan Pradipta mulai berbelanja barang-barang semahal ini? Sejak kapan ia bertemu dengan wanita bernama Reswari? Alisnya berkerut, mencoba mengingat detail-detail kecil yang mungkin terlewatkan. Pradipta memang belakangan ini lebih sering ke luar kota, proyek yang katanya sangat vital. Ia sering menelepon, tapi percakapannya selalu singkat, terdengar lelah. Nindya selalu memaklumi. Ia tak pernah curiga. Ia percaya sepenuhnya. Percaya bahwa suaminya sedang berjuang untuk masa depan mereka.
Ia meremas struk itu. Kertas itu terasa panas di tangannya, seolah membakar kulitnya. Ia merasa mual. Perutnya bergejolak. Bukan, ini pasti salah. Pradipta tak mungkin melakukan ini. Ia memejamkan mata, berharap saat membukanya lagi, struk itu akan menghilang. Atau setidaknya, berubah menjadi sesuatu yang lebih masuk akal. Mungkin ini salah kirim? Mungkin Pradipta membantu teman belanja? Tapi kenapa harus nama Reswari? Dan kenapa harus diam-diam? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak, semakin lama semakin deras, semakin menyakitkan.
Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan Palsu
Nindya bangkit dari kursi. Ia harus mencari tahu. Sikap Pradipta belakangan ini memang agak berbeda, tapi ia mengira itu hanya karena stres pekerjaan. Ia sering melamun, kadang menjawab pertanyaan istrinya dengan singkat, seperti ada sesuatu yang membebani pikirannya. Tapi ia tak pernah tahu sejauh ini. Ia lalu teringat sebuah aplikasi dompet digital yang sering mereka gunakan untuk transaksi sehari-hari, semacam DANA atau GoPay, tapi ini adalah aplikasi yang lebih baru dan khusus digunakan oleh beberapa rekan kerja Pradipta untuk proyek-proyek tertentu. Ia tak pernah terlalu memperhatikan detailnya, karena Pradipta selalu yang mengurus administrasi keuangan.
Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Nindya membuka aplikasi tersebut di ponsel Pradipta yang tergeletak di meja. Ia mencoba mengingat kata sandi yang biasa digunakan suaminya. Setelah beberapa kali percobaan yang gagal, ia berhasil masuk. Nindya menelusuri riwayat transaksi. Sebagian besar adalah pembayaran untuk material proyek, akomodasi hotel, atau tagihan-tagihan terkait pekerjaan. Namun, matanya tertuju pada satu transaksi yang mencolok. Sebuah pembayaran dengan nominal yang sama, sepuluh juta rupiah, ke sebuah toko kosmetik bernama ‘Ethereal Beauty’. Tanggal transaksi persis sama dengan tanggal di struk yang ia pegang.
Jantung Nindya berdegup kencang. Ini bukan kebetulan. Ini pasti Reswari. Tapi siapa dia? Nindya mencoba mengingat semua teman kerja Pradipta, semua orang yang pernah dikenalnya melalui suaminya. Tak ada satupun nama yang mirip Reswari. Ia membuka kembali galeri foto di ponsel Pradipta, mencari sesuatu, apapun, yang bisa memberi petunjuk. Ada banyak foto proyek, foto timnya, foto selfie Pradipta di berbagai lokasi. Tapi tidak ada satu pun foto yang terlihat mencurigakan. Tak ada foto wanita lain. Nindya merasa seperti orang bodoh.
Tiba-tiba, sebuah nama muncul di benaknya. Reswari. Dulu, beberapa bulan lalu, saat Pradipta sedang mengurus persiapan proyek besar ini, ia pernah menyebutkan bahwa ada seorang konsultan baru yang akan bergabung. Namanya… Nindya mencoba mengingat. Ia lupa persisnya. Pradipta hanya mengatakan bahwa ia adalah profesional yang sangat kompeten di bidangnya. Apakah itu Reswari? Nindya merasa seperti sedang menarik benang kusut yang semakin lama semakin menjeratnya. Ia lalu membuka aplikasi pesan singkat. Mencari nama-nama yang mencurigakan. Tapi lagi-lagi, tak ada nama ‘Reswari’ di kontak Pradipta.
Ia ingat saat Pradipta pernah membelikannya sebuah tas tangan mewah dari merek yang sama dengan yang ada di struk belanja itu. Pradipta bilang, itu hadiah kejutan. Nindya sangat menyukainya. Ia sering memakainya. Apakah tas itu juga dibelikan oleh Pradipta untuk wanita lain? Kenangan indah yang ia simpan rapat-rapat, kini terasa seperti tamparan yang menyakitkan. Ia merasa dunianya berputar. Semua yang ia yakini, semua yang ia bangun bersama Pradipta, kini terasa rapuh, seperti dinding cokelat yang retak oleh getaran halus yang tak terlihat.
Babak 4 — Pertemuan Canggung di Lobby Kantor
Nindya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia menelepon sekretaris Pradipta, Mbak Asti, dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Ia mengaku ingin memberikan dokumen penting yang tertinggal di rumah. Mbak Asti, yang selalu ramah, menyanggupi untuk menyimpannya di lobi agar Pradipta bisa mengambilnya sewaktu-waktu. Nindya tahu ini adalah alasan yang dibuat-buat, tapi ia tak punya pilihan lain. Ia harus melihat suaminya, harus melihat reaksinya, harus mencari tahu kebenaran dari matanya sendiri.
Ia memesan GoCar menuju kantor Pradipta di kawasan bisnis Jakarta Pusat. Perjalanan terasa begitu panjang. Setiap lampu merah yang berhenti, setiap kemacetan yang dihadapi, terasa seperti siksaan. Ia terus memandangi struk belanja itu, memegangnya erat di saku bajunya. Ia mencoba menenangkan diri, mencoba berpikir logis. Mungkin ada penjelasan. Pasti ada penjelasan. Tapi jauh di lubuk hatinya, ketakutan itu semakin menjadi-jadi. Ia melihat sekeliling, mencoba mencari wanita-wanita yang mungkin cocok dengan deskripsi seorang ‘Reswari’. Tapi semua orang terlihat begitu sibuk, begitu asing.
Sesampainya di lobi, Nindya duduk di salah satu sofa mewah, berusaha terlihat biasa saja. Ia melihat jam tangan Pradipta, hampir jam makan siang. Ia tahu suaminya mungkin akan keluar untuk makan. Ia menunggu, mengamati setiap orang yang keluar dari lift. Dan kemudian, ia melihatnya. Pradipta keluar dari lift, tapi ia tidak sendirian. Bersamanya, berjalan seorang wanita. Cantik. Elegan. Usianya mungkin sedikit lebih muda dari Nindya. Rambutnya tertata rapi, mengenakan blus sutra berwarna krem dan rok pensil hitam yang pas di badan. Di tangannya, wanita itu membawa sebuah tas tangan bermerek terkenal—persis seperti yang pernah dibelikan Pradipta untuk Nindya.
Wanita itu tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Pradipta. Mereka terlihat begitu akrab. Nindya merasa dunia sekelilingnya runtuh. Ia merasakan pusing yang hebat. Ia mencengkeram tasnya erat-erat. Pradipta lalu membungkuk, seolah memberikan sesuatu pada wanita itu. Nindya bisa melihat tangannya menyentuh lengan wanita itu sekilas. Itu bukan sentuhan profesional. Itu… lebih dari itu. Saat wanita itu berbalik, Nindya melihat wajahnya. Ia merasa seperti tersambar petir. Wanita itu adalah Reswari.
Reswari melihat ke arah Nindya. Matanya membelalak sesaat, sebuah ekspresi terkejut bercampur rasa bersalah melintas di wajahnya. Ia terlihat tidak nyaman, tangannya mulai gelisah. Ia lalu menunduk, seperti tak sanggup menatap Nindya lebih lama. Pradipta, yang masih belum menyadari kehadiran Nindya, menoleh ke arah Reswari, lalu mengikuti arah pandang Reswari. Wajahnya seketika pucat pasi. Ia terdiam, seolah membeku. Tak ada kata terucap. Hanya keheningan yang mencekam, di antara tiga orang yang terperangkap dalam skenario yang tak pernah terbayangkan.
Babak 5 — Benang Kusut yang Semakin Menjerat
Nindya berdiri perlahan. Matanya tak lepas dari wajah Pradipta. Ia tak bisa menangis. Air matanya seolah mengering. Rasa sakit itu terlalu dalam, terlalu pekat. Ia berjalan perlahan menghampiri suaminya. Langkahnya terasa berat, seperti berjalan di atas bara api. Reswari terlihat semakin tidak nyaman. Ia menunduk lebih dalam, tangannya merogoh tasnya seolah mencari jalan keluar.
Pradipta membuka mulutnya, mencoba berkata sesuatu, tapi yang keluar hanyalah suara serak yang tak jelas maknanya. “Nindya… aku bisa jelaskan…” ucapnya pelan, matanya memohon. Tapi Nindya tidak mendengarkan. Ia hanya menatapnya lekat. Ia melihat kebohongan yang terpantul di mata suaminya, dan ia tahu penjelasan apapun tak akan mampu menutupi retakan yang sudah terlalu lebar.
Nindya mengeluarkan struk belanja itu dari sakunya. Ia membentangkan kertas itu di depan Pradipta. “Sepuluh juta, Prad? Untuk dia?” suaranya tenang, namun dinginnya menusuk. Pradipta tak berani menatap struk itu. Ia hanya bisa menggeleng pelan. Reswari, yang kini terlihat seperti ingin melarikan diri, mulai melangkah mundur. Ia tersandung sedikit, lalu buru-buru berlari keluar dari lobi. Tak ada lagi ucapan selamat tinggal, tak ada lagi alasan. Ia menghilang ditelan keramaian kota.
Nindya kini hanya berhadapan dengan Pradipta. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Terdengar suara gemerisik kertas dari luar. Nindya merasakan tangannya kembali gemetar. Ia telah mendapatkan jawaban yang ia cari, tapi itu sama sekali tidak membantunya. Justru semakin menghancurkannya. Ia menatap suaminya, pria yang telah ia cintunya selama tiga belas tahun. Pria yang kini berdiri di hadapannya dengan raut wajah penuh rasa bersalah dan ketakutan. Ia melihat pria yang sama, tapi juga pria yang berbeda. Pria yang telah menyimpan rahasia sebesar ini darinya.
“Jadi… ini semua bohong?” Nindya berbisik. Suaranya nyaris tak terdengar. Pradipta hanya bisa menunduk. Ia tidak bisa membantah. Nindya memejamkan mata sejenak. Ia perlu pergi. Ia perlu waktu untuk berpikir. Ia membalikkan badan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia berjalan keluar dari lobi, menuju taksi daring yang menunggu. Ia tak tahu ke mana ia akan pergi. Yang ia tahu, rumah yang ia bangun selama ini, kini terasa seperti reruntuhan. Dan ia tak yakin bisa memperbaikinya.
