Pernah kepikiran nggak sih, gimana rasanya kalau
popularitas Mobile Legends di suatu negara itu nggak se-hype di Indonesia? Kita di sini tiap hari ketemu, ada yang war di gang, ada yang streaming sambil nyemil. Tapi ternyata di belahan dunia lain, game kesayangan kita ini cuma jadi angin lalu, kalah saing sama game lain yang lebih ngetop. Jujur deh, pertama kali tahu fakta ini, gue langsung mikir, ‘Hah, seriusan? Mereka nggak tahu enaknya nge-burst musuh pakai Mage atau asiknya nge-carry tim pakai Marksman?’
Sebagai player yang udah malang melintang dari Epic sampai nongkrong di Mythical Glory, kadang gue heran sendiri sama perbedaan selera game. Di sini, kalau udah mid-game terus tim pada buta map padahal musuh udah mau push base, rasanya pengen banting HP. Tapi ternyata, di negara lain, masalah itu nggak eksis karena Mobile Legends-nya aja jarang dimainin. Parah sih, kebayang nggak sih sepinya ranked di sana?
Ada Apa di Korea Selatan dan Jepang?
Kalau ngomongin esports, Korea Selatan itu surganya. Tapi buat Mobile Legends? Kayaknya mereka cuma ngangguk doang kalau disebut. Di sana, League of Legends (LoL) versi PC sama StarCraft II itu udah jadi semacam agama. Game MOBA di PC-nya emang beda level, komunitasnya kuat banget. Terus, pas Wild Rift muncul, itu juga langsung jadi pelarian buat yang mau MOBA di mobile. Jadi, Mobile Legends kayak nggak dapat celah buat unjuk gigi. Ibaratnya, kita udah jago pakai Lancelot, eh mereka udah main pakai Champion di Summoner’s Rift.
Terus geser ke Jepang, beda lagi ceritanya. Mereka itu penggila game RPG, gacha, sama visual novel. Tiap keluar game gacha baru yang karakternya kawaii atau husbando, langsung rame. Mobile Legends yang gameplay-nya intens dan butuh war terus-terusan, mungkin dianggap kurang ‘santuy’ buat mereka. Nggak heran, Wild Rift aja di sana punya basisnya sendiri, tapi nggak sekuat game RPG. Emangnya kenapa sih game konsol atau PC selalu selalu dianggap lebih ‘level’ dari game mobile? Apa karena grafis atau depth gameplay-nya? Padahal Mobile Legends juga punya strategi yang dalam, ngab!
Amerika Serikat dan Eropa, Kok Males Nge-push Rank?
Di wilayah Barat, kayak Amerika Serikat dan Eropa, cerita dominasi game PC dan konsol itu makin kental. Dari kecil mereka udah dicekokin PlayStation, Xbox, atau PC gaming yang speknya dewa. Jadi, main game mobile itu kadang dianggap cuma buat iseng-iseng aja pas nunggu bus atau di sela-sela kerjaan. Wild Rift pun di sana dapet tempat, tapi lagi-lagi Mobile Legends kurang dilirik. Mungkin mereka ngerasa mekanik atau grafisnya kurang ‘wah’ dibanding game-game mahal yang biasa mereka mainin. Padahal, kita di sini bisa dapetin keseruan nge-ranked sampai Mythical Glory cuma dengan modal HP kentang, asli deh!
Di Vietnam dan China, Ada ‘Saingan’ Berat!
Nah, kalau dua negara ini ceritanya beda lagi. Di Vietnam, Mobile Legends punya saingan yang berat banget: Arena of Valor (AoV) atau yang di sana dikenal sebagai Liên Quân Mobile. Game ini udah mengakar kuat di sana, bahkan sampai bikin turnamen-turnamen besar dengan hadiah fantastis. Jadi, ibaratnya di Indonesia kita mabar Mobile Legends, mereka mabar AoV. Komunitasnya sama-sama militan, sama-sama punya hero-hero favorit dan meta andalan.
Terus di China? Ini mah beda alam, ngab. Mobile Legends hampir nggak punya tempat sama sekali di sana. Kenapa? Karena mereka punya ‘raja’ game MOBA mobile sendiri, yaitu Honor of Kings (HoK) atau Arena of Valor versi lokal yang beda banget dari AoV global. HoK itu game mobile paling laris di dunia dengan jutaan player aktif. Bahkan, di China Mobile Legends dilarang resmi. Jadi ya, HoK udah jadi semacam identitas gaming di sana, dengan hero-hero unik yang kadang bikin kita mikir, ‘Wah, ini kalau ada di MLBB bisa auto OP nih!’.
Dan jangan lupakan India. Di sana, PUBG Mobile (sebelum diblokir) dan Free Fire itu udah merajalela banget. Ditambah lagi ada isu geopolitik yang bikin game-game tertentu kena imbasnya. Jadi, lagi-lagi Mobile Legends harus gigit jari, nggak bisa ekspansi maksimal. Kasian juga ya kalau urusan politik bisa ngaruh ke dunia game gini.
Opini Tongkrongan Rehat
Jujur nih ngab, sebagai player yang udah nyicip pahit manisnya Mythical Glory, gue sering mikir kenapa Mobile Legends bisa se-hype ini di SEA tapi ‘adem ayem’ di region lain. Menurut gue sih, ada beberapa faktor. Pertama, di Asia Tenggara, penetrasi smartphone yang terjangkau itu gede banget, dan internet juga makin stabil. Jadi, game mobile ringan kayak MLBB ini cocok banget. Kedua, Moonton pinter banget marketing di sini, dari influencer sampai turnamen komunitas. Ketiga, budaya main bareng atau ‘mabar’ itu udah jadi kebiasaan kita, bikin game ini makin erat di hati. Di negara-negara Barat, mungkin mereka lebih prefer pengalaman gaming yang ‘premium’ di PC atau konsol. Sedangkan di China atau Vietnam, mereka udah punya ‘jagoan’ sendiri yang udah kadung dicintai. Ini nunjukkin kalau dominasi suatu game itu nggak cuma soal kualitas, tapi juga adaptasi sama kultur dan pasar lokal. Terkadang gue frustrasi kalau tim gue sendiri sering nggak paham rotasi yang bener atau kapan harus teamfight, padahal hal-hal kayak gitu penting banget di Mythical Glory. Beda server, beda meta, beda juga mental playernya.
Kalau menurut Sobat Rehat sendiri, kira-kira game apa lagi yang bisa menyaingi dominasi Mobile Legends di Asia Tenggara ini? Atau justru kita yang harus main game mereka biar nggak buta meta global? Drop di kolom komentar, siapa tau bisa jadi bahan artikel berikutnya.
Tags: mobile legends, popularitas game, esports mobile, MLBB



