Cerita Anak Kuliahan: Alarm Rusak dan Nasi Goreng Kampung yang Mengungkap Rahasia Sang Pacar
Babak 1 — Jam 5 Pagi yang Tak Pernah Datang
Pradipta menatap layar ponselnya dengan mata setengah terpejam. Pukul 05.00. Alarm yang seharusnya berdering nyaring, pengingat wajibnya untuk kelas statistik jam 7 pagi yang selalu terasa seperti hukuman ilahi, justru hening. Padahal, semalam ia sudah memastikan nada deringnya ditingkatkan dua level. ‘Aneh,’ gumamnya, menyibak selimut tipis yang tak mampu menahan dinginnya udara Subuh di kosannya yang pengap. Lampu meja di sudut ruangan menyala otomatis, memantulkan cahaya jingga pada tumpukan buku dan skrip ujian yang menggunung. Ia paling benci momen ini: saat kesadaran perlahan merayap, memaksa tubuh untuk meninggalkan kehangatan kasur demi kenyataan yang seringkali pahit.
Ia bangkit, menarik kaus usang yang tergeletak di kursi, lalu melangkah keluar kamar. Lorong kosan masih remang-remang, hanya diterangi lampu bohlam kuning yang berkedip sesekali. Aroma mi instan dan kaus kaki lembap beradu di udara. Tujuannya hanya satu: dapur umum yang selalu berantakan, tempat ia biasa meracik kopi instan paling pahit sedunia untuk membangunkannya. Tapi niat itu terhenti ketika ia melihat sesosok bayangan di depan pintu kamar nomor 7, kamar milik pacarnya, Kalani. Cahaya redup dari jendela kamar Kalani menyorot siluetnya yang berdiri membeku. Punggungnya menghadap pintu, dan ia tampak sedang memegang sesuatu. Pradipta berhenti melangkah, mengerutkan kening. Kalani biasanya masih terlelap pulas sampai jam 7 pagi, bahkan lebih.
“Lani?” Panggilnya pelan, suara serak karena baru bangun tidur. Bayangan itu tersentak, berbalik dengan gerakan yang terasa terlalu cepat, terlalu kaku. Seketika, mata Pradipta menangkap sesuatu yang aneh. Kalani memegang sebuah kotak makan, yang sekilas tampak familiar. Kotak makan yang sama persis dengan yang ia gunakan semalam untuk membawa sisa nasi goreng kampung kesukaannya. Nasi goreng buatan Ibu di kampung halamannya, yang sengaja ia simpan di kulkas kosan untuk sarapan darurat. Tapi semalam, saat ia memanaskan nasi goreng itu, ia hanya makan separuh, dan sisanya ia kembalikan ke kotak itu, berniat menyimpannya untuk Pradipta.
“Eh, Dip? Ngapain di sini jam segini?” Kalani berusaha tersenyum, tapi senyumnya terasa dipaksakan, matanya memancarkan kegugupan yang tak biasa. Tangannya otomatis meremas kotak makan itu lebih erat. “Aku… aku mau bikin sarapan.”
Pradipta melangkah mendekat, senyumnya memudar. “Nasi goreng itu? Bukannya itu punyaku? Aku lihat kamu nggak masak apa-apa semalam.” Ia mencoba membuatnya terdengar santai, tapi ada nada curiga yang mulai merayap di balik ucapannya. Alarm yang tidak berbunyi, Kalani yang sudah bangun sepagi ini di depan pintu kamarnya, memegang nasi goreng miliknya. Semua terasa janggal.
“Oh, ini? Ini aku tadi… nemu di kulkas. Pikirku sisa siapa gitu. Udah lama kok di sana, aku angetin aja,” jawab Kalani, matanya menghindari tatapan Pradipta. Ia bergeser sedikit, seolah ingin menutupi kotak makan itu.
“Nggak mungkin, Lani. Itu aku yang simpan semalam. Masih ada setengahnya,” balas Pradipta, kini nada suaranya lebih tegas. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Ia ingat betul, saat ia mengambil kotak nasi goreng itu dari kulkas semalam, ia menyimpannya di meja dekat kamarnya, bukan di dalam kulkas. Ia hanya ingin memanaskannya sebentar nanti pagi. Tapi Kalani bilang ia menemukannya di kulkas. Kebohongan kecil yang terasa seperti duri menusuk kenyamanan yang selama ini ia rasakan.
Babak 2 — Jejak Aneh di Aplikasi Pesan
Pradipta menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak di dadanya. Ia bukan tipe orang yang suka menuduh tanpa bukti, tapi nalurinya berteriak ada sesuatu yang tidak beres. Alarm yang tidak berbunyi itu adalah petunjuk pertama. Ia kembali ke kamarnya, mengabaikan ajakan Kalani untuk sarapan bersama yang terdengar semakin mendesak. Ia duduk di depan laptopnya, membiarkan layar menampilkan gambar latar belakang alam pegunungan yang tenang, kontras dengan kekacauan di kepalanya. Ia membuka kembali aplikasi pesan di ponselnya, mencari percakapan terakhir dengan Kalani.
Semalam, ia memang sempat memesan GoFood untuk Kalani, martabak keju kesukaannya, karena Kalani bilang sedang tidak enak badan dan malas keluar. Pesanan itu berhasil terkirim pukul 19.30. Kalani membalas dengan ucapan terima kasih singkat, disertai stiker peluk. Namun, kini Pradipta menyadari sesuatu yang janggal saat ia menggulir percakapan itu ke atas. Ada pesan lain dari Kalani yang dikirim setelah ucapan terima kasih itu, sekitar pukul 20.15. Pesan itu hanya berisi sebuah foto.
Foto apa? Pradipta menahan napas saat ia membuka lampiran itu. Terdengar suara notifikasi dari kamarnya, kemungkinan tetangga kosan memutar musik. Tapi ia tidak peduli. Matanya membelalak saat gambar itu terunduh sepenuhnya. Itu adalah foto pintu kamar nomor 7, kamar Kalani. Jelas terlihat dari sudut yang sama persis seperti saat ia berdiri tadi pagi. Dan di depan pintu itu… ada sepasang sepatu kets pria berwarna hitam yang sangat ia kenal. Sepatu yang semalam ia pakai untuk pergi ke minimarket membeli minuman dingin. Sepatu itu tidak pernah ia tinggalkan di depan kamar Kalani. Ia selalu membawanya masuk, atau meninggalkannya di depan pintu kamarnya sendiri.
Jantungnya berdetak semakin kencang, iramanya tak beraturan. Ia teringat Kalani bilang sedang tidak enak badan. Tapi ia malah terlihat sedang bersama seseorang di depan kamarnya, bersembunyi saat Pradipta datang. Dan nasi goreng itu? Kenapa Kalani berbohong soal menemukannya di kulkas? Semua potongan puzzle mulai tersusun, membentuk gambaran yang mengerikan. Kalani pasti sudah berganti pacar, atau lebih buruk lagi, berselingkuh.
Ia membuka kembali galeri foto di ponselnya, mencari foto-foto lama bersama Kalani. Senyumnya, tawa mereka, momen-momen kecil yang dulu terasa begitu berharga kini terasa seperti racun. Ia pernah mengirimkan foto nasi goreng kampung kesukaannya kepada Kalani beberapa minggu lalu, saat ia baru saja tiba di Jakarta dan ibunya membawakannya bekal. Kalani membalas dengan mengatakan betapa ia ingin mencicipinya. Tapi Pradipta hanya membalas, ‘Ini spesial buatku.’ Ia tidak pernah tahu Kalani ternyata punya ‘selera’ yang sama dengan pacarnya sendiri.
Perasaan dikhianati menggerogoti hatinya. Bukan hanya karena Kalani mungkin punya pria lain, tapi juga karena kebohongan-kebohongan kecil yang terus menerus ia terima. Nasi goreng itu, alarm yang tidak berbunyi, sepatu yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar pacarnya. Semua itu adalah bukti nyata. Ia menutup laptopnya dengan kasar, suara bantingan yang cukup keras untuk membuat seisi kosan mungkin terkejut. Ia tahu ia harus menghadapi Kalani. Tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Kemarahan, kekecewaan, dan kebingungan bercampur aduk dalam dirinya, membuat napasnya tersengal-sengal.
Babak 3 — Jejak Seblak dan Pengakuan Canggung
Pradipta memutuskan untuk menunggu. Menunggu sampai jam kuliahnya selesai, sampai ia punya keberanian lebih untuk menghadapi Kalani. Ia menghabiskan sisa pagi itu dengan berputar-putar di sekitar kampus, mencoba fokus pada materi kuliah, namun pikirannya terus saja melayang. Setiap kali ponselnya bergetar, ia terlonjak kaget, berharap itu adalah pesan dari Kalani yang menjelaskan semuanya, namun yang datang hanya notifikasi grup diskusi kelas atau pesan dari ibunya menanyakan kabar. Ia bahkan sempat membuka aplikasi DANA dan mengecek riwayat transaksinya, mencari jejak pengeluaran yang mencurigakan, namun nihil. Hanya transaksi GoFood martabak untuk Kalani dan beberapa pembelian pulsa.
Sepulang kuliah, ia mendapati Kalani duduk di bangku taman dekat kosannya, menunduk memainkan jari-jarinya. Raut wajahnya tampak lelah dan muram, sebuah kontras dari Kalani yang biasanya ceria. Pradipta memberanikan diri mendekat. “Lani?” panggilnya lembut. Kalani mendongak, matanya sembab. Ia tak menjawab, hanya menatap Pradipta dengan pandangan penuh penyesalan.
“Kita perlu bicara,” kata Pradipta, suaranya sedikit bergetar. Ia duduk di samping Kalani, menjaga jarak aman. “Tentang semalam. Tentang nasi goreng itu. Tentang sepatu itu.” Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam. “Dan tentang siapa pria yang kamu temui di depan kamarmu?”
Kalani menunduk lagi, bahunya mulai bergetar. Ia tidak bisa bicara, hanya sesekali mengeluarkan isakan tertahan. Pradipta merasa sedikit luluh melihatnya menangis, namun kekecewaan dan kemarahan masih membakar dalam dirinya. “Aku… aku tidak bermaksud…” Kalani akhirnya berhasil bersuara, suaranya parau dan penuh rasa bersalah. “Aku hanya tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu.”
“Mengatakan apa? Bahwa kamu punya orang lain? Bahwa kamu berbohong padaku?” Desak Pradipta, nada suaranya mulai naik. Ia menahan diri untuk tidak berteriak. “Dan nasi goreng itu? Kenapa kamu bilang menemukannya di kulkas?”
Kalani menggelengkan kepala dengan cepat. Air mata mulai mengalir deras. “Bukan seperti itu, Dip. Aku… aku benar-benar minta maaf soal nasi goreng itu. Sebenarnya… semalam ada teman lamaku datang. Dia mau pinjam uang. Aku tidak punya cash, jadi aku panik. Aku ingat kamu punya sisa nasi goreng di meja. Aku… aku ambil sedikit untuk dia makan sebagai ganti. Aku pikir kamu tidak akan sadar. Aku bilang di kulkas karena aku tidak mau kamu tanya-tanya lagi. Aku takut kamu tahu dia datang.”
Pradipta mengerutkan kening. “Teman lamamu? Siapa?” Ia mulai merasakan ada celah dalam tuduhannya. Mungkin Kalani tidak berselingkuh, tapi… ia tetap berbohong. Dan ada pria lain yang datang ke kosannya.
“Dia… teman SMA-ku. Namanya Bayu. Dia lagi butuh banget. Aku kasihan. Tapi aku juga tidak mau kamu tahu aku memberikan makananmu karena aku tahu kamu sangat menyukai nasi goreng buatan ibumu itu. Dan soal sepatu… itu memang punyaku, Dip. Bukan punyamu. Aku tadi pagi baru beli sepatu itu secara online. Baru sampai. Aku pakai untuk keluar sebentar ambil paketnya yang diantar ke depan kosan. Aku takut kamu melihatnya dan bertanya lagi soal nasi goreng itu, jadi aku langsung buang kardusnya.” Kalani mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi Tokopedia. Ia menunjukkan riwayat pembelian sebuah sepatu kets pria dengan merk yang sama persis dengan sepatu yang ia foto semalam. Tanggal pembeliannya adalah dua hari yang lalu. Bukti itu membuat Pradipta terdiam. Terbukti bahwa sepatu itu memang bukan miliknya.
Babak 4 — Pengakuan Sang Sahabat dan Alarm Misterius
Pradipta menatap layar ponsel Kalani, lalu beralih ke wajah pacarnya yang penuh air mata dan penyesalan. Kebohongan tentang nasi goreng dan sepatu itu memang nyata, namun motifnya berbeda dari yang ia bayangkan. Bukan perselingkuhan, melainkan rasa tidak enak hati dan ketakutan akan reaksi Pradipta. Ia merasa sedikit lega, tapi juga malu pada dirinya sendiri karena telah menuduh Kalani begitu cepat. Namun, satu pertanyaan masih menggantung: siapa Bayu, dan mengapa ia datang ke kosan Kalani sepagi itu?
“Jadi… teman lamamu itu… yang kamu ceritakan dulu, yang punya masalah keuangan?” tanya Pradipta, mencoba memastikan. Ia ingat Kalani pernah bercerita tentang seorang teman SMA-nya yang selalu bermasalah dan sering meminjam uang. “Tapi kenapa ia datang sepagi itu? Dan kenapa kamu tidak bilang padaku?”
Kalani menggeleng lemah. “Dia benar-benar dalam keadaan terdesak, Dip. Dia harus membayar kontrakan. Aku tidak punya cukup uang untuk membantunya sepenuhnya, jadi aku mencoba mencari cara lain. Aku… aku sempat berpikir untuk menjual beberapa barangku. Dan soal sepatu itu… aku tahu kamu punya sepatu yang mirip. Aku takut kamu melihatnya dan berpikir… aku membelikannya untuk pria lain. Aku hanya ingin menghindari kesalahpahaman lebih jauh.” Suaranya terdengar putus asa.
“Tapi kamu berbohong padaku, Lani. Tentang nasi goreng itu. Tentang sepatu itu. Itu menyakitiku.” Ujar Pradipta, menatap mata Kalani dalam-dalam. “Kalau kamu bilang baik-baik, mungkin aku tidak akan sekhawatir ini.”
Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamar Kalani terbuka dari dalam. Sesosok pria keluar dari kamar itu, terlihat sedikit kaget melihat Pradipta dan Kalani duduk bersama di taman. Pria itu berpenampilan lusuh, wajahnya lelah, dan ia membawa tas ransel yang terlihat berat. Pradipta mengenali wajah pria itu. Bayu. Teman SMA Kalani yang pernah diceritakan pacarnya. Bayu tampak canggung, ia sedikit membungkuk memberi salam pada Pradipta, lalu menatap Kalani dengan ekspresi minta maaf.
“Maaf, Lan. Mengganggu pagimu. Aku… aku sudah dapat solusi lain untuk masalahku. Uang dari ibumu sudah cukup membantuku. Terima kasih banyak.” Ucap Bayu, suaranya serak. Ia melirik Pradipta. “Maaf juga, Mas Pradipta. Saya tidak bermaksud macam-macam.”
Kalani mengangguk, sedikit lega melihat Bayu sudah bisa mengatasi masalahnya. Pradipta hanya bisa menatap kedua orang itu, perasaannya campur aduk. Ia merasa bodoh karena kecurigaannya yang liar, namun juga merasa ada yang masih janggal. Ia teringat lagi pada alarm yang tidak berbunyi. Kenapa alarm Kalani tidak berbunyi? Padahal Kalani bilang ia menyalakan alarm itu.
“Lani,” panggil Pradipta lagi, kali ini lebih tenang. “Soal alarmmu. Kenapa tidak berbunyi semalam? Kamu bilang sudah menyalakannya.”
Kalani terdiam sejenak, wajahnya memucat. Ia saling pandang dengan Bayu, lalu menunduk lagi. “Itu… itu aku yang mematikannya, Dip.”
Pradipta terkejut. “Kamu yang mematikan? Kenapa?”
“Karena… semalam Bayu menginap di kamarku,” jawab Kalani pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Dia tidak punya tempat tinggal sementara. Aku tidak tega meninggalkannya di luar. Jadi, aku biarkan dia tidur di kamarku semalam. Aku pikir kalau alarmku berbunyi jam 5 pagi, dia akan terbangun dan merasa tidak nyaman. Aku tidak mau dia merasa seperti pengganggu.”
Pradipta hanya bisa terdiam. Ternyata, alarm yang tidak berbunyi itu adalah bukti nyata bahwa ada seseorang di kamar pacarnya. Namun, orang itu bukan selingkuhan, melainkan teman yang membutuhkan pertolongan. Ia merasa bersalah telah menuduh Kalani, namun ia juga tidak bisa sepenuhnya menghilangkan rasa tidak nyaman karena Kalani tidak jujur sejak awal. Ia menatap Bayu, yang hanya menunduk malu. Situasi ini terasa aneh dan canggung, bukan seperti skenario pengkhianatan yang ia bayangkan, melainkan sebuah kekacauan kemanusiaan yang memalukan.
Babak 5 — Pagi yang Tak Pernah Sama
Pradipta menatap Kalani, lalu pada Bayu yang berdiri canggung di depan pintu kamar. Ia merasa seperti menonton sebuah drama yang ceritanya berbelok jauh dari alur yang ia duga. Bukan tentang pengkhianatan cinta, melainkan tentang kebohongan kecil yang lahir dari rasa kasihan dan ketakutan. Ia merasa perlu menjauh sejenak, memproses semua informasi yang baru saja ia terima. Ia berpamitan pada Kalani dan Bayu dengan senyum tipis yang tidak sampai ke matanya, lalu kembali ke kamarnya.
Ia duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya. Alarm yang tidak berbunyi, nasi goreng yang hilang separuh, sepatu yang tiba-tiba muncul. Semua itu punya penjelasan, tapi tidak serta merta menghapus rasa kecewa. Kalani tidak berselingkuh, itu kelegaan besar. Tapi mengapa ia merasa ada sesuatu yang masih kurang? Ia membuka ponselnya, melihat foto profilnya bersama Kalani. Momen bahagia itu terasa seperti datang dari kehidupan orang lain. Ia teringat betapa ia mempercayai Kalani sepenuhnya.
Ia mencoba menghubungi ibunya, tapi ragu. Haruskah ia menceritakan ini semua? Mungkin lebih baik ia diam saja. Ia membuka kembali aplikasi Gojek, melihat pesanan martabak yang ia kirimkan untuk Kalani. Tanggal dan jamnya sama persis seperti yang ia ingat. Tapi ia teringat sesuatu yang terlewat. Di pesan chat terakhir, sebelum Kalani mengirimkan foto sepatu itu, ada sebuah pesan yang terkirim namun kemudian ditarik (indicated by ‘pesan ditarik’). Pradipta tidak memperhatikan hal itu kemarin. Ia menggesek layar, mencari notifikasi pesan yang ditarik itu.
Ia ingat ia sedang sibuk menyelesaikan tugas saat itu, dan tidak terlalu memperhatikan ponselnya. Pesan apa yang ditarik Kalani sebelum ia mengirimkan foto sepatu? Apakah itu terkait dengan Bayu? Atau ada hal lain yang belum ia ketahui? Ia merasa seperti berdiri di ambang sebuah teka-teki yang belum terpecahkan sepenuhnya. Kebohongan Kalani memang punya penjelasan, tapi mengapa ia merasa masih ada sesuatu yang disembunyikan? Mengapa Kalani memilih berbohong tentang hal-hal kecil daripada jujur saja dari awal?
Ia mendongak, menatap dinding kamarnya yang kosong. Alarm yang tidak berbunyi itu, kini menjadi simbol dari hilangnya kepercayaan. Ia tidak yakin apakah ia bisa kembali mempercayai Kalani seperti dulu, meskipun ia tahu pacarnya tidak berselingkuh. Perasaan dikhianati bukan hanya soal fisik, tapi juga soal kejujuran. Ia ingin bertanya pada Kalani lagi tentang pesan yang ditarik itu, tapi ia juga takut akan mendapatkan jawaban yang lebih rumit lagi. Ia tahu, pagi ini, meskipun alarmnya tidak berbunyi, dunianya sudah berdering nyaring, menandakan sebuah perubahan yang tak terhindarkan. Hubungannya dengan Kalani kini berdiri di persimpangan jalan, sebuah simpang yang penuh keraguan dan ketidakpastian. Ia merasa lelah, dan hanya ingin tidur, tapi ia tahu, tidurnya kali ini tidak akan sama nyenyaknya seperti biasanya.
