Cerita Pengkhianatan: Ia Kira Suaminya Lembur, Sampai Menemukan Kuitansi Ini
Babak 1 — Kebiasaan yang Tak Pernah Berubah
Nindya menutup laptopnya dengan desahan panjang. Jam digital di pojok layar menampilkan pukul delapan malam. Pukulan telak dari realita bahwa ia akan makan malam sendirian lagi malam ini terasa lebih berat dari biasanya. Ia melirik ponselnya. Tidak ada notifikasi dari suaminya, Baskara. Biasa saja, memang. Baskara adalah tipe suami yang sangat fokus pada pekerjaannya. Jam lembur adalah teman sehari-harinya. Ia selalu bilang, ‘Ini demi kita, Ndin. Demi masa depan kita.’ Dan Nindya, dengan kepercayaan penuh yang ia curahkan, selalu mengangguk saja.
Ia berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Bau masakan yang ia siapkan tadi sore masih tercium samar di udara. Nasi goreng seafood kesukaan Baskara. Ia sudah membayangkan bagaimana raut wajah suaminya jika ia pulang dengan selamat dan disambut aroma nikmat itu. Tapi, sepertinya malam ini ia harus menikmati hidangan dingin itu sendirian. Nindya menghela napas, lalu beranjak ke dapur untuk menyimpan makanan itu di kulkas. Mungkin besok pagi ia bisa memanaskannya kembali.
Saat membuka pintu kulkas, matanya menangkap sebuah amplop kecil yang terselip di antara botol saus dan kotak susu. Amplop coklat, jenis yang biasa digunakan untuk menyimpan struk dan nota-nota penting. Aneh, Nindya tidak ingat pernah melihat amplop itu sebelumnya. Penasaran, ia mengambilnya. Terasa agak tebal di tangannya.
Tangannya terulur untuk membuka amplop itu. Ia tidak merobeknya, tapi justru membuka bagian perekatnya dengan hati-hati. Sesuatu yang tidak biasa ia lakukan, biasanya ia akan langsung merobek saja jika tidak ada tulisan nama atau alamat penerima. Tapi kali ini, ada dorongan aneh untuk berhati-hati.
Isinya ternyata beberapa lembar kertas. Kuitansi yang sudah terlipat rapi. Tiga lembar kuitansi dari tempat yang berbeda. Satu dari sebuah kafe di bilangan Kemang, satu lagi dari toko buku di pusat kota, dan yang terakhir, yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, dari sebuah restoran mewah di daerah Senopati. Di bawahnya tertera nama Baskara, tanggal yang sama dengan hari ini, dan total yang lumayan menguras kantong.
Ia mengambil kuitansi yang terakhir, yang dari restoran Senopati. Tanggalnya sama, jamnya tertera pukul tujuh malam. Sesaat sebelum ia biasa menunggu Baskara pulang. Nindya merasa ada yang janggal. Baskara bilang ia akan lembur. Sejak pukul enam sore. Tapi kuitansi ini mencatat ia berada di sebuah restoran mewah di Senopati, menikmati makan malam, pada jam yang sama.
Babak 2 — Kebingungan yang Menggerogoti
Nindya menyandarkan punggungnya pada dinding dapur yang dingin. Kuitansi itu tergenggam erat di tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia mencoba mencerna informasi di hadapannya, tetapi otaknya terasa seperti tersumbat kapas. Baskara, suaminya, pria yang selalu ia puja dan percayai, malam ini seharusnya berada di kantor, berjuang melawan tumpukan dokumen dan deadline yang seolah tak ada habisnya. Tapi kuitansi ini bercerita lain.
Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan. Layar terkunci. Ia tidak pernah mengintip isi ponsel Baskara. Itu adalah prinsipnya. Tapi kali ini, dorongan untuk mencari jawaban terasa begitu kuat. Jari-jarinya terasa gemetar saat ia mencoba mengingat PIN ponsel suaminya. Setelah beberapa kali mencoba, layar terbuka. Ia buru-buru membuka aplikasi pesan.
Percakapan terakhir Baskara adalah dengan rekan kerjanya, membahas proyek yang sedang berjalan. Semuanya terlihat normal. Hingga ia menggeser ke atas. Beberapa nama muncul. Teman-teman kantor, saudara, dan… sebuah nama yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tertulis nama ‘Kirana’. Percakapan terakhir dengan Kirana adalah kemarin malam. Terlihat biasa saja. Hingga kemudian, matanya menangkap pesan dari dua hari lalu.
‘Besok jadi ya, Kar. Aku sudah pesan tempat di resto itu. Jam 7.’
‘Oke, Ran. Sampai ketemu besok. Jangan lupa nanti aku bawakan oleh-oleh dari Bandung.’
Bandung? Nindya mengerutkan kening. Baskara tidak pernah menyebutkan akan pergi ke Bandung. Ia pergi kemarin pagi, dan seharusnya pulang hari ini. Namun, kuitansi dari restoran mewah di Senopati itu tertanggal hari ini. Ini semua tidak masuk akal. Ia merasa seperti sedang terperangkap dalam sebuah mimpi buruk yang sangat nyata.
Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin ada penjelasan lain. Mungkin Baskara pergi ke sana untuk bertemu klien? Tapi, kenapa tidak memberitahunya? Kenapa harus menyembunyikannya? Nindya kembali membuka galeri foto di ponsel Baskara. Berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan situasi ini. Foto-foto proyek, foto bersama teman-teman kantor, foto liburan mereka tahun lalu. Semuanya normal. Hingga matanya terpaku pada satu foto yang tersimpan di folder tersembunyi. Foto dirinya, Nindya, diambil dari jarak jauh. Dengan ekspresi yang tidak ia kenali. Ada sesuatu yang aneh pada foto itu. Dan di sudut foto, samar-samar terlihat wajah seorang wanita yang sedang tersenyum.
Babak 3 — Jejak Digital yang Terlupakan
Pikiran Nindya berputar tak karuan. Ia merasa seperti detektif amatir yang mencoba menyatukan kepingan puzzle yang sangat rumit. Ia kembali meraih kuitansi dari kafe di Kemang. Kuitansi itu tertanggal dua hari lalu. Baskara seharusnya masih berada di Bandung saat itu. Ia membuka aplikasi Tokopedia di ponselnya, mencari riwayat pembelian Baskara. Mungkin ada petunjuk di sana.
Ia menemukan beberapa barang yang dipesan Baskara saat ia sedang di Bandung. Kemeja batik, beberapa buku, dan sebuah tas selempang pria. Tidak ada yang mencurigakan. Namun, kemudian ia melihat riwayat pencarian Baskara. Ada beberapa kata kunci yang membuatnya terhenti. ‘Tempat romantis Jakarta Selatan’, ‘restoran dengan live music Kemang’, ‘hadiah anniversary unik’. Annivessary? Ulang tahun pernikahan mereka masih tiga bulan lagi. Apa maksudnya?
Nindya teringat percakapannya dengan Baskara pagi tadi sebelum ia berangkat ke Bandung. Baskara terlihat sedikit cemas, tapi ia meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia bahkan memeluk Nindya lebih erat dari biasanya sebelum berpamitan. Saat itu Nindya pikir itu hanya rasa sayang suaminya. Kini, ia merasa ada makna lain di balik pelukan itu. Permohonan maaf? Atau semacam ucapan selamat tinggal sebelum kehancuran?
Ia mencoba mengingat kembali percakapan dengan Kirana. Nama itu terus terngiang di telinganya. Siapa Kirana? Nindya membuka kembali percakapannya dengan ‘Kirana’ di aplikasi pesan. Ia menyadari sesuatu yang aneh. Beberapa balasan dari Kirana terlihat seperti respons otomatis, singkat dan seringkali tidak nyambung. Ia menduga Kirana tidak benar-benar mengetik balasan itu sendiri.
Dengan sedikit keraguan, Nindya membuka aplikasi Gojek yang terpasang di ponsel Baskara. Ia mencari riwayat pemesanan. Ada pesanan GoFood untuk nasi goreng, pesanan GoCar untuk mengantar Baskara ke bandara dua hari lalu, dan… pesanan lain. Pesanan GoCar pada tanggal yang sama dengan kuitansi kafe di Kemang, tujuannya adalah sebuah alamat di bilangan Cilandak. Dari keterangan pengemudi, Baskara memesan mobil untuk menjemput seseorang, dan kemudian mengantarnya ke kafe di Kemang. Alamat pengantaran di Cilandak itu adalah alamat rumah orang tua Nindya.
Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Baskara menjemput seseorang dari rumah orang tuanya dan membawanya ke kafe di Kemang pada hari yang sama ia seharusnya berada di Bandung? Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia merasa seperti sedang melangkah di atas es tipis yang siap retak kapan saja.
Babak 4 — Kebenaran yang Menyakitkan
Nindya merasa dunianya runtuh. Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya erat. Kuitansi-kuitansi itu berserakan di depannya. Pikirannya dipenuhi berbagai skenario yang mengerikan. Ia memutuskan untuk menelepon ibunya. Mungkin ibunya tahu sesuatu.
“Halo, Bu?” suara Nindya bergetar. “Ibu, kemarin… ada yang jemput Nindya dari rumah nggak? Sekitar siang gitu?”
Hening sejenak di ujung sana. Lalu ibunya menjawab ragu, “Oh, ada. Baskara. Dia datang jemput kamu pakai mobil. Bilang mau diajak jalan-jalan sebentar, katanya ada yang mau dia urus. Tapi kamu bilang nggak mau ikut, kamu lagi istirahat. Jadi dia pergi sendiri lagi.”
Baskara? Ibu bilang Baskara yang menjemputnya? Tapi, Baskara sedang di Bandung saat itu. Nindya mencoba menahan tangisnya. “Terus… Ibu tahu Baskara mau pergi ke mana?”
“Nggak tahu, Nak. Dia cuma bilang mau ke Kemang. Udah gitu aja. Kenapa, Nak? Ada apa?” tanya ibunya, suaranya kini terdengar khawatir.
Nindya tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia menutup teleponnya. Kebenaran yang ia temukan sungguh-sungguh menghancurkan. Baskara berbohong. Ia tidak di Bandung. Ia menjemput Nindya, Nindya menolak ikut, lalu ia pergi sendiri ke kafe di Kemang. Dan kuitansi dari restoran mewah di Senopati tadi malam, dengan jam yang sama saat ia berbohong tentang lembur. Siapa Kirana? Dan apa yang terjadi dengan foto itu?
Ia teringat akan folder tersembunyi di ponsel Baskara. Dengan tangan yang masih gemetar, Nindya membuka folder itu lagi. Ia yakin kali ini akan menemukan sesuatu. Ia menggeser foto dirinya. Lalu, ia menemukan foto lain. Foto yang diambil di dalam mobil Baskara. Di kursi penumpang depan, duduk seorang wanita. Wajahnya terlihat lelah, tapi senyumnya tulus. Nindya mengenali wanita itu. Itu adalah Kirana. Dan di sebelahnya, duduk Baskara, tersenyum tipis, seolah menikmati perjalanan itu.
Namun, bukan itu yang paling mengejutkan. Di bawah foto itu, ada satu foto lagi. Foto yang diambil di dalam sebuah kamar hotel. Terlihat seorang wanita yang sama, Kirana, sedang tertidur pulas di atas ranjang. Dan di lantai, tergeletak sebuah kotak kecil. Kotak perhiasan. Nindya membuka kotak itu di dalam pikirannya. Ia membayangkan isinya. Cincin? Kalung? Sesuatu yang spesial?
Tiba-tiba, notifikasi masuk ke ponsel Nindya. Dari nomor tak dikenal. Pesan singkat itu hanya berisi sebuah link. Sebuah link ke sebuah akun media sosial. Nindya ragu sejenak, lalu ia membukanya. Itu adalah akun media sosial Kirana. Di sana, Nindya melihat lebih banyak foto. Foto Kirana dan Baskara. Berlibur bersama, makan malam bersama. Ada juga foto tangannya yang terjalin dengan tangan Baskara. Dan… sebuah foto di mana Baskara sedang berlutut, menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda kepada Kirana. Di samping kotak itu, ada sebuah sertifikat. Nindya membaca caption di bawah foto itu. ‘Resmi menjadi Mrs. Baskara.’
Babak 5 — Retakan yang Tak Terlihat
Nindya tidak bisa bernapas. Tangannya terkulai lemas, ponsel terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk pelan. ‘Resmi menjadi Mrs. Baskara.’ Kata-kata itu berulang-ulang di kepalanya seperti mantra yang menghancurkan. Suaminya… suaminya telah menikah lagi? Ia merasakan mual yang hebat. Itu adalah pengkhianatan terbesar yang pernah ia bayangkan. Ia merasa sangat bodoh, sangat naif, telah mempercayai Baskara sepenuhnya.
Ia melihat ke sekeliling kamarnya. Kamar yang ia bangun bersama Baskara, yang penuh dengan kenangan mereka. Setiap sudut ruangan terasa menusuk. Selama ini, Baskara membohonginya. Pergi ke Bandung, lembur, pertemuan klien. Semua itu hanyalah kedok untuk menutupi perselingkuhannya, untuk menutupi pernikahannya yang lain. Ia bertanya-tanya, sejak kapan ini terjadi? Berapa lama Baskara membagi hidupnya dengan dua wanita?
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, panggilan masuk. Nama Baskara tertera di layar. Nindya menatap nama itu, hatinya dipenuhi campuran amarah, kesedihan, dan kebingungan yang luar biasa. Haruskah ia menjawab? Apa yang akan ia katakan? Haruskah ia berteriak, menuduhnya, atau tetap diam dan membiarkan semuanya hancur berkeping-keping tanpa suara?
Ia melihat kuitansi dari restoran mewah itu lagi. Tertulis jam tujuh malam. Baskara bilang ia lembur. Tapi ia ada di sana. Dengan siapa? Apakah dengan Kirana? Dan foto-foto di media sosial Kirana, apakah itu bukti nyata atau hanya kebetulan yang sangat menyakitkan?
Nindya tidak tahu harus berbuat apa. Dunianya yang ia kenal selama ini telah runtuh. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab. Ia tampak seperti orang asing bagi dirinya sendiri. Ketidakpastian adalah satu-satunya hal yang pasti saat ini. Apakah Baskara akan pulang malam ini? Jika ia pulang, akankah ia menemukan Nindya yang sama seperti biasanya? Atau Nindya yang hancur, yang mengetahui semua kebohongannya?
Ia mengambil ponselnya kembali. Jari-jarinya melayang di atas tombol jawab. Namun, ia tidak menekannya. Sebaliknya, ia menggeser layar, mematikan panggilan itu. Ia perlu waktu. Waktu untuk memproses semua ini. Waktu untuk berpikir. Waktu untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia berdiri dari tempat tidur, berjalan ke jendela. Malam masih panjang. Dan jalan di depannya terasa sangat gelap dan tidak pasti.
Babak 1 — Kebiasaan yang Tak Pernah Berubah
Nindya menutup laptopnya dengan desahan panjang. Jam digital di pojok layar menampilkan pukul delapan malam. Pukulan telak dari realita bahwa ia akan makan malam sendirian lagi malam ini terasa lebih berat dari biasanya. Ia melirik ponselnya. Tidak ada notifikasi dari suaminya, Baskara. Biasa saja, memang. Baskara adalah tipe suami yang sangat fokus pada pekerjaannya. Jam lembur adalah teman sehari-harinya. Ia selalu bilang, ‘Ini demi kita, Ndin. Demi masa depan kita.’ Dan Nindya, dengan kepercayaan penuh yang ia curahkan, selalu mengangguk saja.
Ia berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Bau masakan yang ia siapkan tadi sore masih tercium samar di udara. Nasi goreng seafood kesukaan Baskara. Ia sudah membayangkan bagaimana raut wajah suaminya jika ia pulang dengan selamat dan disambut aroma nikmat itu. Tapi, sepertinya malam ini ia harus menikmati hidangan dingin itu sendirian. Nindya menghela napas, lalu beranjak ke dapur untuk menyimpan makanan itu di kulkas. Mungkin besok pagi ia bisa memanaskannya kembali.
Saat membuka pintu kulkas, matanya menangkap sebuah amplop kecil yang terselip di antara botol saus dan kotak susu. Amplop coklat, jenis yang biasa digunakan untuk menyimpan struk dan nota-nota penting. Aneh, Nindya tidak ingat pernah melihat amplop itu sebelumnya. Penasaran, ia mengambilnya. Terasa agak tebal di tangannya.
Tangannya terulur untuk membuka amplop itu. Ia tidak merobeknya, tapi justru membuka bagian perekatnya dengan hati-hati. Sesuatu yang tidak biasa ia lakukan, biasanya ia akan langsung merobek saja jika tidak ada tulisan nama atau alamat penerima. Tapi kali ini, ada dorongan aneh untuk berhati-hati.
Isinya ternyata beberapa lembar kertas. Kuitansi yang sudah terlipat rapi. Tiga lembar kuitansi dari tempat yang berbeda. Satu dari sebuah kafe di bilangan Kemang, satu lagi dari toko buku di pusat kota, dan yang terakhir, yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, dari sebuah restoran mewah di daerah Senopati. Di bawahnya tertera nama Baskara, tanggal yang sama dengan hari ini, dan total yang lumayan menguras kantong.
Ia mengambil kuitansi yang terakhir, yang dari restoran Senopati. Tanggalnya sama, jamnya tertera pukul tujuh malam. Sesaat sebelum ia biasa menunggu Baskara pulang. Nindya merasa ada yang janggal. Baskara bilang ia akan lembur. Sejak pukul enam sore. Tapi kuitansi ini mencatat ia berada di sebuah restoran mewah di Senopati, menikmati makan malam, pada jam yang sama.
Babak 2 — Kebingungan yang Menggerogoti
Nindya menyandarkan punggungnya pada dinding dapur yang dingin. Kuitansi itu tergenggam erat di tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia mencoba mencerna informasi di hadapannya, tetapi otaknya terasa seperti tersumbat kapas. Baskara, suaminya, pria yang selalu ia puja dan percayai, malam ini seharusnya berada di kantor, berjuang melawan tumpukan dokumen dan deadline yang seolah tak ada habisnya. Tapi kuitansi ini bercerita lain.
Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan. Layar terkunci. Ia tidak pernah mengintip isi ponsel Baskara. Itu adalah prinsipnya. Tapi kali ini, dorongan untuk mencari jawaban terasa begitu kuat. Jari-jarinya terasa gemetar saat ia mencoba mengingat PIN ponsel suaminya. Setelah beberapa kali mencoba, layar terbuka. Ia buru-buru membuka aplikasi pesan.
Percakapan terakhir Baskara adalah dengan rekan kerjanya, membahas proyek yang sedang berjalan. Semuanya terlihat normal. Hingga ia menggeser ke atas. Beberapa nama muncul. Teman-teman kantor, saudara, dan… sebuah nama yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tertulis nama ‘Kirana’. Percakapan terakhir dengan Kirana adalah kemarin malam. Terlihat biasa saja. Hingga kemudian, matanya menangkap pesan dari dua hari lalu.
‘Besok jadi ya, Kar. Aku sudah pesan tempat di resto itu. Jam 7.’
‘Oke, Ran. Sampai ketemu besok. Jangan lupa nanti aku bawakan oleh-oleh dari Bandung.’
Bandung? Nindya mengerutkan kening. Baskara tidak pernah menyebutkan akan pergi ke Bandung. Ia pergi kemarin pagi, dan seharusnya pulang hari ini. Namun, kuitansi dari restoran mewah di Senopati itu tertanggal hari ini. Ini semua tidak masuk akal. Ia merasa seperti sedang terperangkap dalam sebuah mimpi buruk yang sangat nyata.
Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin ada penjelasan lain. Mungkin Baskara pergi ke sana untuk bertemu klien? Tapi, kenapa tidak memberitahunya? Kenapa harus menyembunyikannya? Nindya kembali membuka galeri foto di ponsel Baskara. Berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan situasi ini. Foto-foto proyek, foto bersama teman-teman kantor, foto liburan mereka tahun lalu. Semuanya normal. Hingga matanya terpaku pada satu foto yang tersimpan di folder tersembunyi. Foto dirinya, Nindya, diambil dari jarak jauh. Dengan ekspresi yang tidak ia kenali. Ada sesuatu yang aneh pada foto itu. Dan di sudut foto, samar-samar terlihat wajah seorang wanita yang sedang tersenyum.
Babak 3 — Jejak Digital yang Terlupakan
Pikiran Nindya berputar tak karuan. Ia merasa seperti detektif amatir yang mencoba menyatukan kepingan puzzle yang sangat rumit. Ia kembali meraih kuitansi dari kafe di Kemang. Kuitansi itu tertanggal dua hari lalu. Baskara seharusnya masih berada di Bandung saat itu. Ia membuka aplikasi Tokopedia di ponselnya, mencari riwayat pembelian Baskara. Mungkin ada petunjuk di sana.
Ia menemukan beberapa barang yang dipesan Baskara saat ia sedang di Bandung. Kemeja batik, beberapa buku, dan sebuah tas selempang pria. Tidak ada yang mencurigakan. Namun, kemudian ia melihat riwayat pencarian Baskara. Ada beberapa kata kunci yang membuatnya terhenti. ‘Tempat romantis Jakarta Selatan’, ‘restoran dengan live music Kemang’, ‘hadiah anniversary unik’. Annivessary? Ulang tahun pernikahan mereka masih tiga bulan lagi. Apa maksudnya?
Nindya teringat percakapannya dengan Baskara pagi tadi sebelum ia berangkat ke Bandung. Baskara terlihat sedikit cemas, tapi ia meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia bahkan memeluk Nindya lebih erat dari biasanya sebelum berpamitan. Saat itu Nindya pikir itu hanya rasa sayang suaminya. Kini, ia merasa ada makna lain di balik pelukan itu. Permohonan maaf? Atau semacam ucapan selamat tinggal sebelum kehancuran?
Ia mencoba mengingat kembali percakapan dengan Kirana. Nama itu terus terngiang di telinganya. Siapa Kirana? Nindya membuka kembali percakapannya dengan ‘Kirana’ di aplikasi pesan. Ia menyadari sesuatu yang aneh. Beberapa balasan dari Kirana terlihat seperti respons otomatis, singkat dan seringkali tidak nyambung. Ia menduga Kirana tidak benar-benar mengetik balasan itu sendiri.
Dengan sedikit keraguan, Nindya membuka aplikasi Gojek yang terpasang di ponsel Baskara. Ia mencari riwayat pemesanan. Ada pesanan GoFood untuk nasi goreng, pesanan GoCar untuk mengantar Baskara ke bandara dua hari lalu, dan… pesanan lain. Pesanan GoCar pada tanggal yang sama dengan kuitansi kafe di Kemang, tujuannya adalah sebuah alamat di bilangan Cilandak. Dari keterangan pengemudi, Baskara memesan mobil untuk menjemput seseorang, dan kemudian mengantarnya ke kafe di Kemang. Alamat pengantaran di Cilandak itu adalah alamat rumah orang tua Nindya.
Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Baskara menjemput seseorang dari rumah orang tuanya dan membawanya ke kafe di Kemang pada hari yang sama ia seharusnya berada di Bandung? Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia merasa seperti sedang melangkah di atas es tipis yang siap retak kapan saja.
Babak 4 — Kebenaran yang Menyakitkan
Nindya merasa dunianya runtuh. Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya erat. Kuitansi-kuitansi itu berserakan di depannya. Pikirannya dipenuhi berbagai skenario yang mengerikan. Ia memutuskan untuk menelepon ibunya. Mungkin ibunya tahu sesuatu.
“Halo, Bu?” suara Nindya bergetar. “Ibu, kemarin… ada yang jemput Nindya dari rumah nggak? Sekitar siang gitu?”
Hening sejenak di ujung sana. Lalu ibunya menjawab ragu, “Oh, ada. Baskara. Dia datang jemput kamu pakai mobil. Bilang mau diajak jalan-jalan sebentar, katanya ada yang mau dia urus. Tapi kamu bilang nggak mau ikut, kamu lagi istirahat. Jadi dia pergi sendiri lagi.”
Baskara? Ibu bilang Baskara yang menjemputnya? Tapi, Baskara sedang di Bandung saat itu. Nindya mencoba menahan tangisnya. “Terus… Ibu tahu Baskara mau pergi ke mana?”
“Nggak tahu, Nak. Dia cuma bilang mau ke Kemang. Udah gitu aja. Kenapa, Nak? Ada apa?” tanya ibunya, suaranya kini terdengar khawatir.
Nindya tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia menutup teleponnya. Kebenaran yang ia temukan sungguh-sungguh menghancurkan. Baskara berbohong. Ia tidak di Bandung. Ia menjemput Nindya, Nindya menolak ikut, lalu ia pergi sendiri ke kafe di Kemang. Dan kuitansi dari restoran mewah di Senopati tadi malam, dengan jam yang sama saat ia berbohong tentang lembur. Siapa Kirana? Dan apa yang terjadi dengan foto itu?
Ia teringat akan folder tersembunyi di ponsel Baskara. Dengan tangan yang masih gemetar, Nindya membuka folder itu lagi. Ia yakin kali ini akan menemukan sesuatu. Ia menggeser foto dirinya. Lalu, ia menemukan foto lain. Foto yang diambil di dalam mobil Baskara. Di kursi penumpang depan, duduk seorang wanita. Wajahnya terlihat lelah, tapi senyumnya tulus. Nindya mengenali wanita itu. Itu adalah Kirana. Dan di sebelahnya, duduk Baskara, tersenyum tipis, seolah menikmati perjalanan itu.
Namun, bukan itu yang paling mengejutkan. Di bawah foto itu, ada satu foto lagi. Foto yang diambil di dalam sebuah kamar hotel. Terlihat seorang wanita yang sama, Kirana, sedang tertidur pulas di atas ranjang. Dan di lantai, tergeletak sebuah kotak kecil. Kotak perhiasan. Nindya membuka kotak itu di dalam pikirannya. Ia membayangkan isinya. Cincin? Kalung? Sesuatu yang spesial?
Tiba-tiba, notifikasi masuk ke ponsel Nindya. Dari nomor tak dikenal. Pesan singkat itu hanya berisi sebuah link. Sebuah link ke sebuah akun media sosial. Nindya ragu sejenak, lalu ia membukanya. Itu adalah akun media sosial Kirana. Di sana, Nindya melihat lebih banyak foto. Foto Kirana dan Baskara. Berlibur bersama, makan malam bersama. Ada juga foto tangannya yang terjalin dengan tangan Baskara. Dan… sebuah foto di mana Baskara sedang berlutut, menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda kepada Kirana. Di samping kotak itu, ada sebuah sertifikat. Nindya membaca caption di bawah foto itu. ‘Resmi menjadi Mrs. Baskara.’
Babak 5 — Retakan yang Tak Terlihat
Nindya tidak bisa bernapas. Tangannya terkulai lemas, ponsel terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk pelan. ‘Resmi menjadi Mrs. Baskara.’ Kata-kata itu berulang-ulang di kepalanya seperti mantra yang menghancurkan. Suaminya… suaminya telah menikah lagi? Ia merasakan mual yang hebat. Itu adalah pengkhianatan terbesar yang pernah ia bayangkan. Ia merasa sangat bodoh, sangat naif, telah mempercayai Baskara sepenuhnya.
Ia melihat ke sekeliling kamarnya. Kamar yang ia bangun bersama Baskara, yang penuh dengan kenangan mereka. Setiap sudut ruangan terasa menusuk. Selama ini, Baskara membohonginya. Pergi ke Bandung, lembur, pertemuan klien. Semua itu hanyalah kedok untuk menutupi perselingkuhannya, untuk menutupi pernikahannya yang lain. Ia bertanya-tanya, sejak kapan ini terjadi? Berapa lama Baskara membagi hidupnya dengan dua wanita?
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, panggilan masuk. Nama Baskara tertera di layar. Nindya menatap nama itu, hatinya dipenuhi campuran amarah, kesedihan, dan kebingungan yang luar biasa. Haruskah ia menjawab? Apa yang akan ia katakan? Haruskah ia berteriak, menuduhnya, atau tetap diam dan membiarkan semuanya hancur berkeping-keping tanpa suara?
Ia melihat kuitansi dari restoran mewah itu lagi. Tertulis jam tujuh malam. Baskara bilang ia lembur. Tapi ia ada di sana. Dengan siapa? Apakah dengan Kirana? Dan foto-foto di media sosial Kirana, apakah itu bukti nyata atau hanya kebetulan yang sangat menyakitkan?
Nindya tidak tahu harus berbuat apa. Dunianya yang ia kenal selama ini telah runtuh. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab. Ia tampak seperti orang asing bagi dirinya sendiri. Ketidakpastian adalah satu-satunya hal yang pasti saat ini. Apakah Baskara akan pulang malam ini? Jika ia pulang, akankah ia menemukan Nindya yang sama seperti biasanya? Atau Nindya yang hancur, yang mengetahui semua kebohongannya?
Ia mengambil ponselnya kembali. Jari-jarinya melayang di atas tombol jawab. Namun, ia tidak menekannya. Sebaliknya, ia menggeser layar, mematikan panggilan itu. Ia perlu waktu. Waktu untuk memproses semua ini. Waktu untuk berpikir. Waktu untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia berdiri dari tempat tidur, berjalan ke jendela. Malam masih panjang. Dan jalan di depannya terasa sangat gelap dan tidak pasti.
