Cerpen: Suami Bilang Cari Kerja di Luar Kota, Tapi Ini yang Ditemukan Istri di Lemari Pakaiannya Bikin Merinding
Babak 1 — Kepergian yang Absurd
Nindya menyeduh kopi instan ketiga pagi itu. Aroma pahitnya menggantung pekat di dapur mungil mereka, bercampur dengan bau gosong samar dari roti panggang yang semalam entah kenapa lupa ia keluarkan dari pemanggang. Ia menatap kosong ke arah jendela, jemarinya yang bebas memainkan ujung lengan daster bermotif bunga-bunga pudar. Sudah tiga hari sejak Danu berangkat. Katanya, ia akan mencoba peruntungan di kota tetangga, melamar pekerjaan yang ia sebutkan sekilas di antara gumaman malam itu. ‘Ada tawaran bagus, Ndya. Tapi lumayan jauh.’ Begitu saja. Tanpa detail, tanpa janji kapan kembali. Nindya tidak pernah punya kebiasaan bertanya berlebihan, apalagi saat suaminya tampak bersemangat. Semangat yang aneh, menurutnya. Danu biasanya tak mudah bersemangat soal pekerjaan. Lebih sering mengeluh soal bosnya yang ‘terlalu perfeksionis’ atau rekan kerjanya yang ‘suka cari muka’.
Namun, kali ini berbeda. Danu berkemas cepat, memasukkan beberapa potong baju ke dalam tas ransel kumalnya. Seolah ia tak sabar untuk pergi. Nindya membantu melipat, menemukan kaos favoritnya yang sudah usang di antara tumpukan kemeja Danu. Ia hanya tersenyum kecut, membayangkan suaminya akan sering berganti baju karena mungkin akan jarang pulang. ‘Hati-hati ya, Mas,’ bisiknya saat Danu pamit di depan pintu. Pelukannya terasa singkat, dingin. Tidak seperti biasanya yang selalu erat dan lama, seolah takut kehilangan. Nindya hanya menggeleng. Mungkin Danu memang sedang stres. Siapa tahu, di kota baru, ia bisa menemukan energi baru. Ia sendiri, hanya bisa berdoa dan berharap. Ia membanting pintu kulkas lebih keras dari biasanya saat hendak mengambil susu untuk kopi. Suara dentumannya memecah keheningan pagi, sedikit lebih keras dari seharusnya. Ia merasa sedikit sesak, seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, namun ia menepisnya. Suami mana yang tidak berjuang untuk keluarganya?
Hari-hari berlalu datar. Nindya menghabiskan waktunya antara mengurus rumah, mengecek stok barang di warung kelontong kecil belakang rumah, dan sesekali membuka aplikasi Tokopedia untuk mencari kebutuhan rumah tangga yang tak sempat ia beli di pasar. Danu sesekali mengirim kabar. ‘Hari ini interview,’ atau ‘Lagi survey lokasi.’ Pesannya singkat, tanpa foto, tanpa detail. Nindya membalas seadanya, berusaha terlihat mendukung walau dalam hati ada sedikit rasa lelah. Ia mulai merasa seperti single parent, padahal suaminya masih hidup dan katanya sedang berjuang. ‘Ini pasti demi kita,’ ia terus meyakinkan diri. Ia membuka aplikasi DANA di ponselnya, memeriksa saldo. Masih ada sisa dari kiriman Danu minggu lalu. Cukup untuk kebutuhan pokok. Namun, ada sedikit kekhawatiran yang mulai merayap. Kenapa Danu tak pernah meminta uang lagi? Dulu, ia selalu buru-buru meminta tambahan jika uang kirimannya terasa kurang. Sekarang, senyap.
Nindya mencoba menghubungi suaminya. ‘Mas, kabarnya gimana?’ Pesannya centang dua, tapi tak dibalas. Ia mencoba menelepon. Terhubung, namun tak diangkat. ‘Mungkin lagi meeting,’ gumamnya, mencoba menenangkan diri. Ia merasa sedikit gelisah. Kebiasaan buruknya, terlalu memikirkan hal-hal kecil, mulai kembali. Ia membuka aplikasi Gojek, memesan sebungkus seblak untuk mengalihkan pikiran. Setidaknya, rasa pedasnya bisa sedikit meredakan rasa yang mengganjal di hatinya. Ia duduk di teras depan, menatap jalanan yang mulai ramai dilalui kendaraan. Sepi. Sangat sepi tanpa kehadiran Danu, walau sejujurnya, Danu seringkali hanya diam di kamarnya, tenggelam dalam dunia gamenya atau sibuk dengan laptopnya.
Sudah seminggu. Danu tak memberi kabar sama sekali. Nindya mulai tak bisa menahan rasa cemasnya. Ia tak biasanya seperti ini. Ia mencoba menghubungi ibu mertuanya, namun ponselnya tak aktif. ‘Mungkin lagi pergi.’ Ia kembali memilah-milah pikiran. Danu bilang akan mencari kerja di kota sebelah, bukan ke pulau seberang. Kenapa jadi begini? Ia tak bisa membiarkan rasa penasaran ini terus menggerogoti. Malam itu, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Membuka kamar Danu.
Babak 2 — Petunjuk di Balik Ketenangan
Nindya berdiri di depan pintu kamar Danu. Jantungnya berdebar tak karuan. Ini bukan kamar yang biasa ia bersihkan. Danu selalu bilang, ‘Nggak usah, Ndya. Nanti berantakan lagi kalau kamu sentuh.’ Nindya hanya mengangguk, menuruti. Sekarang, ia mendorong perlahan gagang pintu itu. Ruangan itu terasa dingin, padahal AC tidak menyala. Berbeda dengan kamar mereka yang selalu hangat, bahkan sedikit pengap karena tumpukan buku dan kertas di sudut ruangan. Kamar Danu lebih steril. Rapi. Hanya ada kasur single, meja belajar dengan laptop yang masih tergeletak terbuka, dan lemari pakaian empat pintu yang menjulang tinggi di salah satu sisi dinding. Bau sedikit apek tercium, seperti bau pakaian yang lama tersimpan tanpa diangin-anginkan.
Ia melangkah masuk, sepatu sandal rumahnya berdecit pelan di lantai keramik yang dingin. Matanya menyapu sekeliling. Semuanya seperti biasa. Tumpukan buku agama, beberapa casing ponsel lama, dan charger yang tergeletak begitu saja di meja. Tak ada tanda-tanda packing dadakan atau barang yang hilang. Danu memang hanya membawa ransel kecil. Ia berjalan menuju lemari pakaian. Pintu yang ia buka adalah bagian yang memang biasa diisi oleh Danu. Kemeja-kemeja, beberapa celana bahan, dan beberapa kaos. Nindya mulai menarik satu per satu baju yang tersimpan rapi. Semuanya familier. Ia tahu setiap detailnya, setiap noda kecil yang tak pernah hilang, setiap jahitan yang mulai mengendur.
Namun, pandangannya tertuju pada sudut lemari yang lebih dalam. Ada sebuah koper tua berwarna cokelat tua, jenis koper yang sudah jarang terlihat di zaman sekarang. Koper itu tersembunyi di balik beberapa gantungan baju yang melambai-lambai. Nindya tak pernah melihat koper itu sebelumnya. Danu tak pernah bercerita punya koper seperti itu. Kenapa ia menyimpannya di balik? Ia meraih koper itu. Berat. Ia menariknya keluar dari lemari. Debu halus berjatuhan saat ia menyentuhnya. Ada semacam rasa tidak nyaman yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Ia mencoba membuka resletingnya, namun macet. Ia menariknya lebih kuat, sampai akhirnya resleting itu terbuka dengan suara berderit yang menyakitkan telinga. Mata Nindya membelalak. Di dalam koper itu, bukan pakaian. Bukan barang-barang Danu.
Ada beberapa set pakaian wanita. Gaun-gaun malam yang terlihat mewah, beberapa blouse cantik, dan rok pensil. Warnanya beragam, mulai dari merah marun yang pekat, biru navy yang elegan, hingga putih gading yang terkesan klasik. Semua terlipat rapi, seolah baru saja disetrika. Di bawah tumpukan pakaian itu, ada kotak perhiasan kecil berwarna hitam. Tangannya gemetar saat meraih kotak itu. Ia membukanya. Kalung emas dengan liontin berbentuk inisial ‘A’, sepasang anting berlian kecil, dan sebuah gelang silver yang memantulkan cahaya redup dari lampu kamar. Semuanya terlihat mahal. Semuanya… bukan miliknya. Danu tak pernah membelikan Nindya perhiasan seperti ini. Nindya, selama tujuh tahun pernikahan mereka, hanya memiliki cincin kawin dan kalung sederhana pemberian ibunya.
Ia menutup koper itu, lalu membantingnya kembali ke tempat semula. Debu beterbangan lagi. Ia segera menutup pintu lemari, lalu menutup kembali pintu kamar Danu. Ia bersandar di dinding luar kamar itu, napasnya tersengal. Apa ini? Siapa ‘A’? Kenapa semua ini ada di kamar Danu? Kenapa ia menyimpannya di koper tersembunyi? Ia merasa seperti ditampar. Dunia yang ia bangun selama ini terasa bergetar hebat. Ia mencoba untuk tidak panik, tapi tangannya sudah bergetar hebat. Ia membuka kembali aplikasi Tokopedia di ponselnya, scroll tanpa tujuan. Ia butuh pengalihan. Tapi bayangan pakaian wanita dan perhiasan itu terus berkelebat di depan matanya.
Babak 3 — Kilas Balik yang Menyakitkan
Dua hari berlalu sejak penemuan mengerikan itu. Nindya tak bisa tidur nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, ia melihat koper cokelat itu terbuka lebar, menampilkan isi yang membuatnya mual. Ia mencoba menelepon Danu lagi, berkali-kali. Tak ada jawaban. Ia bahkan mencoba membuka profil media sosial Danu yang sudah lama ia abaikan. Terakhir aktif seminggu yang lalu, tepat saat ia berangkat. Tak ada postingan baru, tak ada tanda-tanda ia sedang berada di kota yang ia sebutkan. Kebiasaan Nindya yang dulu suka curigaan, yang selalu ia tepis demi menjaga ‘keharmonisan rumah tangga’, kini kembali menghantuinya.
Ia ingat betul, dulu saat mereka masih pacaran, Danu pernah sangat tertutup soal masa lalunya. Ia tak pernah mau bercerita banyak soal wanita sebelum Nindya. ‘Aku tak mau membahas masa lalu, Ndya. Yang penting sekarang dan masa depan kita.’ Begitu katanya. Nindya yang lugu, yang sangat mencintai Danu, hanya menerima saja. Ia merasa dialah wanita terakhir di hati Danu. Pernah suatu kali, ia tak sengaja menemukan foto lama di ponsel Danu. Foto Danu bersama seorang wanita berambut panjang terurai, tersenyum bahagia. Saat ia bertanya, Danu hanya bilang itu teman kuliahnya dulu. Wajah wanita itu tak begitu jelas, namun Nindya merasa ada sesuatu yang janggal. Ada aura yang berbeda. Danu terlihat lebih… bebas.
Nindya mencoba membuka kembali galeri foto di ponselnya. Ia mencari foto-foto lamanya bersama Danu. Ada banyak sekali. Foto liburan ke pantai, foto wisuda Danu, foto saat mereka pertama kali pindah ke kontrakan kecil ini. Di setiap foto, Danu tersenyum. Senyum yang lebar, tulus. Tapi entah kenapa, Nindya merasa senyum itu sedikit berbeda dengan senyumnya sekarang. Lebih… lepas. Ia teringat sesuatu. Seminggu sebelum Danu pergi, ia menemukan secarik kertas terlipat di saku jaket Danu yang tergantung di belakang pintu. Kertas itu seperti struk, tapi bukan struk belanja. Nindya tak begitu memperhatikan saat itu, karena Danu langsung mengambilnya dari tangan Nindya dan berkata, ‘Ini cuma catatan kecil, Ndya. Jangan dibaca.’
Ia bergegas menuju lemari pakaian Danu, bukan ke kamar pria itu. Ia membuka laci di bagian paling bawah, tempat Danu biasa menyimpan dompet lamanya, beberapa kartu ATM yang sudah tak terpakai, dan catatan-catatan acak. Ia merogoh ke dalam laci itu. Tangannya menemukan sesuatu yang terasa agak kaku. Ia menariknya keluar. Sebuah struk. Struk dari sebuah toko perhiasan ternama di pusat kota. Tanggalnya tertulis seminggu yang lalu. Namanya toko ‘Aurelia Jewellery’. Dan di bawahnya, tercatat pembelian sebuah kalung emas berinisial ‘A’, sepasang anting berlian, dan sebuah gelang silver. Totalnya… angka yang sangat besar. Angka yang tak pernah Nindya lihat seumur hidupnya.
Nindya terduduk di lantai. Ia memegangi struk itu erat-erat. Perhiasan yang ada di koper cokelat itu. Toko perhiasan itu. Inisial ‘A’. Semuanya terhubung. Ia tak berani membayangkan lebih jauh. Perasaan mual itu kembali datang. Ia merasa pandangannya kabur. Ia mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas. Ia membuka aplikasi Shopee, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya. Ia butuh sesuatu yang nyata, sesuatu yang ia bisa kontrol. Tapi yang muncul di layar ponselnya hanyalah iklan-iklan belanja yang terasa hampa.
Babak 4 — Kebenaran yang Menyakitkan
Malam itu, Nindya tak bisa tidur. Ia terus membolak-balikkan badan di kasur. Bayangan wajah Danu yang tersenyum dalam foto-foto lama beradu dengan bayangan koper cokelat dan struk toko perhiasan. Ia merasa seperti terperangkap dalam mimpi buruk yang tak kunjung usai. Ia bangkit dari kasur, berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas, mencari sesuatu untuk dimakan. Hanya ada beberapa potong sayuran dan sisa lauk semalam. Ia tak punya selera makan. Ia menutup pintu kulkas dengan pelan kali ini. Suara dentuman yang ia ciptakan seminggu lalu terasa seperti gema yang menyakitkan.
Ia kembali ke kamar Danu. Ia tak tahan lagi. Ia harus tahu. Ia membuka koper cokelat itu lagi. Kali ini, ia membolak-balikkan pakaian wanita itu. Ada tag nama yang tertinggal di salah satu gaun. ‘Ayu’. Hatinya berdenyut nyeri. Siapa Ayu? Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pencarian, mengetik nama itu. Tak ada hasil yang relevan. Ia mencoba kombinasi lain. ‘Ayu’ dan ‘Danu’. Masih nihil. Ia merasa frustrasi. Apakah ia salah menduga? Apakah semua ini hanya kebetulan? Tapi struk itu… koper itu…
Tiba-tiba, notifikasi muncul di ponselnya. Sebuah pesan baru masuk. Bukan dari Danu. Nomor asing. Nindya ragu untuk membukanya. Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Ia membuka pesan itu. Sebuah foto terlampir. Foto Danu. Tapi bukan Danu yang ia kenal. Danu terlihat mengenakan setelan jas yang rapi, berdiri di samping seorang wanita cantik berambut panjang tergerai. Wanita itu tersenyum manis, memegang lengan Danu. Di jari manis wanita itu, tersemat sebuah cincin berlian. Di belakang mereka, terlihat sebuah aula pernikahan yang dihiasi bunga-bunga mawar putih. Tanggal pernikahan tertera di sudut foto: tiga hari yang lalu. Di bawah foto itu, ada tulisan singkat: ‘Terima kasih atas bantuannya mengurus detail pesta kemarin. Sampai jumpa di acara makan malam keluarga, menantu kesayangan.’
Nindya menjatuhkan ponselnya. Layar ponselnya retak. Ia tak bisa bernapas. Menantu kesayangan? Pesta pernikahan? Siapa wanita ini? Ia memejamkan mata, mencoba memproses informasi yang baru saja ia terima. Danu tidak pergi mencari kerja. Danu tidak sedang berjuang di kota lain. Danu… menikahi wanita lain. Tiga hari yang lalu. Di saat Nindya masih setia menunggu kabar darinya. Di saat Nindya masih mengkhawatirkan kesulitannya mencari pekerjaan. Selama ini, Danu berbohong. Semua pesannya, semua alasannya, adalah kebohongan belaka. Ia bukan lagi istri Danu. Ia… apa? Kekasih gelap? Selingkuhan? Kata-kata itu menghantamnya bagai palu godam. Ia merasa dunianya runtuh berkeping-keping.
Air mata mulai mengalir deras. Bukan tangisan pilu, tapi tangisan marah yang tertahan. Ia tak mengerti. Kenapa? Kenapa Danu melakukan ini padanya? Apa salahnya? Ia hanya wanita biasa yang mencoba menjalani hidup dengan sederhana. Ia tak pernah menuntut macam-macam. Ia mencintai Danu lebih dari apapun. Ia mengorbankan banyak hal demi pria itu. Dan sekarang, ia dihadapkan pada kenyataan yang paling pahit. Ia membuka kembali pesan dari nomor asing itu. Ia melihat kembali foto Danu dan wanita itu. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Ia meraih koper cokelat itu lagi, kali ini dengan tatapan dingin. Ia akan menggunakannya. Tapi bukan untuk menyimpan perhiasan. Tapi untuk menyimpan puing-puing hatinya yang hancur.
Babak 5 — Rencana yang Tak Terduga
Nindya duduk di lantai kamar Danu, di tengah koper cokelat yang terbuka lebar. Air mata sudah berhenti mengalir, digantikan oleh kekosongan yang mengerikan. Ia menatap barang-barang wanita asing itu tanpa emosi. Gaun-gaun indah, perhiasan berkilauan. Semua itu adalah simbol pengkhianatan yang paling keji. Ia merasa seperti karakter dalam sebuah drama televisi murahan. ‘Ini pasti tidak nyata,’ bisiknya pada diri sendiri. Ia menyentuh sebuah blouse sutra berwarna krem. Rasanya dingin di kulitnya. Ia membayangkan wanita pemilik barang-barang ini, pasti sangat bahagia. Ia mendapatkan Danu, mendapatkan pernikahan impian, mendapatkan semua kemewahan itu. Sementara Nindya? Ia hanya mendapatkan kebohongan.
Ia berdiri, mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Ia tak bisa terus menerus di sini, di tengah reruntuhan hidupnya. Ia harus pergi. Tapi ke mana? Pikiran Nindya melayang pada ibu mertuanya. Beliau pasti tahu. Beliau pasti tahu tentang Ayu. Atau mungkin, beliau adalah bagian dari semua ini? Nindya tak tahu harus percaya pada siapa lagi. Ia tak bisa menghubungi Danu. Pesannya tak dibalas, panggilannya tak diangkat. Mungkin memang itu yang terbaik. Mengakhiri semuanya.
Ia mengambil satu persatu barang dari koper itu. Gaun, blouse, rok, perhiasan. Ia melipatnya kembali dengan rapi, seolah tak terjadi apa-apa. Ia memasukkannya kembali ke dalam koper cokelat tua itu. Kali ini, ia menutup resletingnya dengan hati-hati. Ia tak akan membawanya. Ia akan meninggalkannya di sini. Sebagai bukti. Bukti bahwa ia pernah mencintai pria yang berkhianat. Nindya menutup pintu lemari, lalu pintu kamar Danu. Ia tak akan pernah menginjakkan kaki di ruangan ini lagi.
Ia berjalan keluar dari rumah kontrakan itu. Langit malam sudah sepenuhnya menutupi kota. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya redup di genangan air sisa hujan sore tadi. Ia tak punya tujuan. Ia hanya berjalan. Ia melewati gang sempit yang biasa ia lewati saat pergi ke warung kelontong, melewati pos ronda yang sepi. Ia tak membawa apapun kecuali tas selempang berisi ponsel dan dompetnya. Ia bahkan tak membawa baju ganti. Entah ke mana langkahnya akan membawanya, ia tak tahu. Yang ia tahu, ia tak bisa lagi hidup dalam kebohongan.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Sesuatu yang sudah lama ia lupakan. Warung kopi tua milik Pak Jenggot, di pinggir kota. Tempat ia dan Danu pertama kali bertemu. Tempat mereka berbagi mimpi. Nindya berbelok, berjalan ke arah yang berbeda dari biasanya. Ia tak tahu apakah warung itu masih ada, atau apakah Pak Jenggot masih di sana. Tapi, ia perlu tempat untuk berhenti sejenak. Ia perlu waktu untuk berpikir. Ia perlu tempat yang bisa menjadi saksi bisu kehancuran hatinya. Ia mempercepat langkahnya, menembus dinginnya malam. Ada sesuatu yang harus ia putuskan. Sesuatu yang akan mengubah segalanya.
