Cerita Malam Pertama yang Dingin: Struk Ini Membongkar Kebohongan Rengganis

Cerita Malam Pertama yang Dingin: Struk Ini Membongkar Kebohongan Rengganis

CERITA PENDEK

Cerita Malam Pertama yang Dingin: Struk Ini Membongkar Kebohongan Rengganis

Babak 1 — Malam Pertama yang Dingin

Senyum Rengganis terasa kaku di wajahnya. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya, bukan karena gugup menjelang malam pertama, tapi karena ada sesuatu yang mengganjal. Sejak tadi sore, setelah mereka selesai acara adat yang menguras tenaga di rumah orang tua Dirgantara, ia terus merasa diawasi. Bukan oleh mata tetangga atau kerabat yang masih lalu lalang, tapi oleh sesuatu yang lebih halus, lebih dalam. Dirgantara, suaminya yang baru dinikahinya beberapa jam lalu, tampaknya tak menyadari kegelisahan yang merayapi istrinya. Ia justru sibuk menerima telepon dari rekan kerjanya, suaranya terdengar riang membicarakan proyek yang akan datang. Seolah acara hari ini hanyalah selingan kecil dari rutinitas pentingnya.

Rengganis mencoba menepis perasaan itu. ‘Ini kan malam pertamamu, Reng. Wajar kalau sedikit cemas,’ batinnya mencoba menenangkan diri. Ia memandangi ruangan kamar yang terasa asing sekaligus mewah. Seprai putih bersih, aroma bunga melati yang samar, dan lampu tidur berwarna tembaga yang memancarkan cahaya hangat. Semuanya terlihat sempurna. Namun, kesempurnaan itu justru terasa mencekam. Ia melirik Dirgantara yang kini sedang tertawa kecil sambil memencet tombol pada ponselnya. Ia terlihat begitu santai, seolah semua beban sudah terlepas. Berbeda sekali dengan dirinya yang masih terbungkus gaun pengantin panjang, merasa begitu rapuh dan terasing di rumah suaminya sendiri.

Ia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sambil menunggu Dirgantara selesai dengan teleponnya, Rengganis berjalan menuju kamar mandi yang luasnya lebih dari kamar kosnya dulu. Ia menyalakan keran air panas, membiarkan uap hangat menguar memenuhi ruangan. Sambil memejamkan mata, ia mencoba mengingat kembali momen-momen indah selama masa pacaran mereka. Senyum Dirgantara yang dulu selalu membuatnya luluh, janji-janji manis yang terucap di bawah langit Senja, dan rasa aman yang ia rasakan setiap kali berada di dekatnya. Apakah semua itu hanya ilusi? Pertanyaan itu muncul begitu saja, tanpa diundang, dan langsung membuat bulu kuduknya berdiri.

Ia mengambil handuk tebal yang tergantung rapi, lalu mengeringkan tubuhnya perlahan. Cermin besar di depannya memantulkan bayangan dirinya yang lelah namun berupaya tersenyum. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. ‘Rengganis, kamu kuat,’ bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. Ia membuka pintu kamar mandi, dan ternyata Dirgantara sudah selesai dengan teleponnya. Ia duduk di tepi ranjang, membelakanginya, dan terlihat sedang merapikan sesuatu di tas laptopnya yang tergeletak di samping ranjang.

Rengganis berjalan mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat sesuatu yang tergeletak di lantai dekat tas Dirgantara. Sebuah struk belanja. Bukan struk biasa, melainkan struk dari sebuah toko yang cukup terkenal menjual perlengkapan bayi dan anak-anak di bilangan Kemang. Penasaran, tanpa sadar ia membungkuk dan mengambilnya. Jari-jarinya yang masih sedikit gemetar membuka lipatan kertas itu. Matanya membaca setiap baris daftar belanjaan yang tertera di sana. Dan saat itulah, dunianya seperti berhenti berputar.


Babak 2 — Pertanyaan yang Tak Terucap

Struk itu terasa dingin di genggaman tangan Rengganis, seolah menyerap semua kehangatan di ruangan itu. Matanya terpaku pada tulisan-tulisan di kertas tipis tersebut. Pakaian bayi berwarna biru muda, sebotol susu formula merek impor, popok ukuran newborn, dan… sebuah catatan kecil yang ditulis tangan di bagian bawah struk. ‘Untuk yang tersayang. Sampai jumpa lagi, Sayang.’ Tanda tangan di bawahnya bukanlah tanda tangan Dirgantara. Rengganis tidak mengenal tulisan itu sama sekali. Ia mengulang bacaannya, memastikannya tidak salah lihat. Tidak, ia tidak salah baca. Semua detail itu begitu nyata, begitu konkret, dan begitu menghancurkan.

Dirgantara berdeham pelan, memecah keheningan yang terasa begitu berat. ‘Sudah selesai mandi, Sayang?’ tanyanya dengan suara lembut, namun Rengganis tidak berani menatap wajahnya. Ia masih terpaku pada struk itu, seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam jurang keputusasaan. ‘Aku… aku menemukan ini,’ ucapnya terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mengangkat struk itu perlahan, menunjukkan pada Dirgantara.

Dirgantara menoleh. Sekilas saja, Rengganis melihat kilat kebingungan di matanya, namun kemudian terhapus begitu cepat, digantikan oleh ekspresi yang sulit ditebak. Ia tidak segera menjawab. Ia hanya memandangi struk itu, lalu beralih menatap Rengganis yang kini terlihat pucat pasi. ‘Oh, itu,’ katanya akhirnya, nadanya terdengar sedikit tegang. ‘Itu… temanku yang menitip beli. Dia barusan melahirkan.’

Rengganis mengerutkan kening. Teman? Teman Dirgantara yang mana? Selama ini, ia merasa sudah cukup mengenal lingkungan pergaulan suaminya. Teman-teman dekat Dirgantara yang ia kenal adalah para pria yang sering bermain futsal dengannya atau rekan-rekan kerjanya yang sering ia temui di acara kantor. Tidak ada satupun dari mereka yang baru saja melahirkan. Kecuali… kecuali jika teman yang dimaksud Dirgantara bukanlah teman yang ia kenal.

Perasaan dingin yang tadi hanya merayap di kulitnya, kini terasa sampai ke tulang. Ia mencoba menarik napas, namun dadanya terasa sesak. ‘Temanmu? Siapa?’ tanyanya, berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang. ‘Aku tidak pernah mendengar kamu punya teman dekat yang baru punya bayi.’ Ia berusaha menatap mata Dirgantara, mencari kejujuran di sana, namun Dirgantara justru membuang muka, menatap ke arah jendela yang kini gelap tertutup malam.


Babak 3 — Jejak Digital yang Tersembunyi

Dirgantara terdiam sejenak, seolah sedang mencari jawaban yang pas. ‘Dia… teman lama. Sudah lama tidak bertemu. Kebetulan saja tadi sore dia menghubungiku, minta tolong belikan perlengkapan bayinya karena dia sedang di luar kota, tidak sempat belanja.’ Jawabannya terdengar lancar, terlalu lancar. Seperti sebuah skenario yang sudah dihafal mati. Rengganis merasakan gelombang mual naik ke tenggorokannya. Ia tahu suaminya berbohong. Ia bisa merasakannya dari cara Dirgantara menghindari tatapan matanya, dari nada suaranya yang dibuat-buat santai, dan dari kebohongan yang begitu transparan.

Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya memandangi struk itu, lalu melihat tas laptop Dirgantara. Pikiran-pikiran buruk berkelebat di benaknya. Taman Kemang. Toko perlengkapan bayi. ‘Yang tersayang.’ Semua itu menunjuk pada satu kesimpulan yang mengerikan. Malam pertama pernikahan yang seharusnya menjadi awal kisah cinta mereka, kini terasa seperti akhir dari segalanya. Ia ingat bagaimana dulu Dirgantara sering mengeluh karena harus lembur. ‘Proyeknya lagi padat, Sayang. Maaf ya, tidak bisa sering ketemu,’ katanya kala itu. Rengganis selalu memaklumi. Ia bahkan sering membawakan Dirgantara bekal makan siang saat pria itu mengaku sedang sibuk di kantor. Sekarang, ia bertanya-tanya, apakah ‘lembur’ itu benar-benar di kantor?

Ia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi lagi, sekadar untuk menenangkan diri. Di sana, ia mengambil ponselnya. Tangannya gemetar saat membuka aplikasi DANA. Ia ingat, beberapa minggu lalu, saat Dirgantara mengajaknya makan siang di sebuah restoran di Cilandak, pria itu sempat meminta ponselnya sebentar untuk membayar parkir melalui aplikasi. Rengganis tidak curiga sama sekali. Namun, kini, sebuah pertanyaan muncul di benaknya. Apakah Dirgantara benar-benar membayar parkir saat itu? Atau ia menggunakan kesempatan itu untuk melakukan sesuatu yang lain?

Dengan jantung berdebar tak karuan, Rengganis membuka riwayat transaksi DANA miliknya. Ia scroll ke bawah, mencari transaksi yang mencurigakan. Semuanya tampak normal, tagihan listrik, pulsa, hingga beberapa pembelian online di Tokopedia. Namun, kemudian matanya tertuju pada sebuah transaksi yang ia ingat. Transaksi pembayaran parkir di sebuah pusat perbelanjaan besar di bilangan Jakarta Selatan, beberapa minggu lalu. Namun, jumlahnya lebih besar dari biasanya. Dan anehnya, nama penerimanya adalah ‘Admin Parkir’ tapi dengan nomor telepon yang asing. Ia mencoba mencari nomor itu di kontak ponselnya, namun tidak ditemukan. Kepalanya mulai pening. Ia membuka aplikasi Gojek, lalu membuka riwayat pemesanan GoCar. Ia ingat pernah memesan GoCar untuk Dirgantara saat mobil pria itu sedang servis. Ia melihat tanggal dan waktu pemesanan itu. Dan kemudian, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam seribu bahasa.


Babak 4 — Kenyataan yang Menghantam

Di riwayat pemesanan GoCar miliknya, tertera sebuah pesanan yang dilakukan dua minggu lalu. Tujuan pengantaran bukan ke alamat kantor Dirgantara, melainkan ke sebuah alamat di kawasan pinggiran Jakarta, sebuah kompleks perumahan baru yang tidak pernah Rengganis dengar sebelumnya. Nama pemesan tercantum jelas: Rengganis Pramesti. Namun, Dirgantara yang melakukan pemesanan itu. Dan yang lebih mengejutkan, di detail pesanan itu tertera sebuah catatan kecil dari pengemudi GoCar: ‘Terima kasih sudah diantar, Sayang. Jangan lupa istirahat ya.’

Rengganis terkesiap. ‘Sayang’? Siapa ‘Sayang’ yang dimaksud pengemudi itu? Dan mengapa alamat tujuannya begitu tidak dikenal? Ia membuka kembali struk belanja dari toko perlengkapan bayi yang masih dipegangnya. Ia ingat detail alamat toko tersebut. Kebetulan, ia pernah sekali menemani sahabatnya berbelanja di sana. Ia mencoba mencocokkan alamat kompleks perumahan di riwayat GoCar dengan peta digital di ponselnya. Dan tak lama kemudian, ia menemukan jawabannya. Kompleks perumahan itu ternyata berjarak hanya sekitar sepuluh menit berkendara dari toko perlengkapan bayi di Kemang.

Semuanya mulai terangkai. Alamat pengantaran GoCar, toko perlengkapan bayi, catatan ‘Untuk yang tersayang’, dan tanda tangan asing di struk itu. Rengganis merasa dunianya berputar. Ia melihat ke arah Dirgantara yang kini sedang berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Pria itu tampak sedang melihat ke arah luar, tapi Rengganis tahu, pria itu tidak benar-benar melihat apa pun. Pikirannya pasti sedang kalut. Tiba-tiba, terdengar suara isak tangis tertahan dari arah Dirgantara.

Rengganis terkejut. Ia tidak menyangka akan mendengar suara itu. Ia melangkah mendekati Dirgantara, dengan struk di tangan yang kini terasa semakin berat. ‘Kamu… kamu menangis?’ tanyanya pelan, suaranya bergetar. Dirgantara tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala pelan. Kemudian, ia berbalik menghadap Rengganis. Wajahnya basah oleh air mata, namun matanya menatap lurus ke arah Rengganis dengan ekspresi yang campur aduk antara penyesalan, ketakutan, dan keputusasaan. Di tangannya, ia memegang sebuah foto. Foto seorang wanita muda yang sedang tersenyum bahagia, sambil menggendong seorang bayi mungil yang wajahnya belum terlihat jelas.

Wanita di foto itu bukan Rengganis. Tapi, cara Dirgantara memandangi foto itu, cara ia memegang foto itu, membuat Rengganis sadar. Kenyataan yang selama ini ia hindari, kini menghantamnya tanpa ampun. Ia merasa udara di sekelilingnya menipis. Kakinya lemas, dan ia terpaksa bersandar pada dinding. Suara isak tangis Dirgantara kini semakin jelas, bercampur dengan suara napasnya yang tersengal-sengal. Rengganis menutup matanya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Malam pertama pernikahannya, berubah menjadi malam di mana seluruh dunianya runtuh.


Babak 5 — Bayangan Masa Lalu

Dirgantara akhirnya menjatuhkan diri ke lantai, memeluk foto itu erat-erat. ‘Maafkan aku, Rengganis,’ bisiknya, suaranya parau. ‘Maafkan aku.’ Kata-kata itu terasa seperti duri yang menusuk hati Rengganis. Ia ingin marah, ingin berteriak, ingin menuntut penjelasan. Tapi lidahnya kelu. Ia hanya bisa berdiri di sana, mematung, memandangi suaminya yang menangis tersedu-sedu di depannya. Di tangannya masih tergenggam erat struk belanjaan itu, bukti nyata dari sebuah pengkhianatan yang bahkan belum sempat ia cerna sepenuhnya.

Ia memandangi foto wanita dan bayi di tangan Dirgantara. Ada rasa ngeri yang merayap di hatinya. Siapa wanita itu? Dan bayi siapa yang digendongnya? Apakah… apakah itu anak Dirgantara? Pikiran itu membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri. Ia teringat kembali percakapan Dirgantara dengan temannya di telepon sore tadi. ‘Ya, dia sudah lahir dengan selamat. Kamu tenang saja. Aku akan selalu ada untukmu dan anak kita.’ Kata-kata itu kini terdengar begitu mengerikan di telinganya.

Ia melirik ke arah lemari pakaian Dirgantara. Entah dorongan dari mana, ia berjalan mendekat. Pintu lemari itu sedikit terbuka. Ia menariknya lebih lebar. Di sana, terselip di antara tumpukan kemeja dan celana, ada sebuah tas jinjing kecil berwarna biru tua. Tangannya yang masih gemetar meraih tas itu. Saat membukanya, ia menemukan beberapa lembar foto. Foto Dirgantara bersama wanita yang sama di foto sebelumnya, tapi kali ini mereka terlihat lebih mesra. Dan ada beberapa surat cinta yang ditulis tangan dengan tinta yang sama dengan catatan di struk belanja tadi. Surat-surat itu penuh dengan ungkapan kasih sayang, janji-janji masa depan, dan permintaan maaf karena tidak bisa bersama.

Rengganis menjatuhkan tas itu kembali ke lemari. Ia merasa begitu lelah. Lelah dengan kebohongan, lelah dengan kepalsuan, dan lelah dengan rasa sakit yang kini membekukan hatinya. Ia memandang Dirgantara yang masih menangis di lantai. Pria itu kini mengangkat wajahnya, menatap Rengganis dengan mata memerah. ‘Dia… dia adalah cinta pertamaku, Rengganis,’ ucapnya lirih. ‘Kami punya anak…’ Kalimatnya terputus, seolah tak sanggup melanjutkan. Rengganis hanya bisa berdiri di sana, terdiam. Malam pertama pernikahannya telah berakhir sebelum benar-benar dimulai. Pertanyaan kini bukan lagi tentang ‘kenapa’ atau ‘bagaimana’, melainkan, ‘apa yang akan terjadi selanjutnya?’ Bayangan masa lalu Dirgantara yang begitu kelam, kini menghantui malam pertama mereka, meninggalkan rasa dingin yang menusuk jiwa.