Cerita Suaminya Bilang Ada Rapat Dadakan, Tapi Dompet Ketinggalan Ini Ungkap Kebohongan Terbesar
Babak 1 ā Pagi yang Berantakan di Dapur
Nindya menjatuhkan spatula di lantai keramik dapur yang dingin. Bunyi ‘gedebuk’ yang nyaring, diikuti suara mendesis pelan dari teflon yang masih panas di atas kompor. Ia tak peduli. Pandangannya terpaku pada tumpukan struk belanjaan di meja, tumpukan yang entah bagaimana terasa semakin menggunung setiap pagi. Suaminya, Pradipta, baru saja menyambar roti tawar yang sudah ia olesi selai kacangākecepatan kilat yang selalu membuat Nindya bertanya-tanya apakah suaminya benar-benar menikmati sarapannya, atau hanya sekadar ritual untuk keluar dari rumah secepat mungkin.
āMas, ini bekalnya. Sama⦠ada titipan boba dari Mbak Santi tadi malam,ā Nindya bersuara, berusaha terdengar ceria. Suaranya sedikit tercekat, seperti biasanya di pagi hari sebelum ia benar-benar sadar. Ia melirik sekilas pada Pradipta yang sedang mengikat tali sepatuāsepatu kerja yang selalu terlihat kinclong, kontras dengan kaus kakinya yang kadang ia lupa pakai.
Pradipta bergumam, āOke, Nduk. Makasih ya. Ada rapat mendadak nih. Kayaknya sampai sore.ā Ia melirik jam tangannya yang besar, lalu merogoh saku celana kerjanya. āDompetku mana ya?ā Ia mulai mengacak-acak saku jaket yang tergantung di belakang kursi. Tangan Nindya refleks terulur, membukakan laci meja di sebelahnya.
āIni, Mas. Tadi kayaknya ketinggalan di sini pas pulang dari main futsal sama teman-teman.ā Nindya menyodorkan dompet kulit berwarna cokelat tua itu. Pradipta menyambarnya tanpa banyak bicara, senyum tipis terukir di bibirnya. āAh, makasih ya. Kamu memang paling perhatian.ā Ia lalu bergegas menuju pintu depan, menyambar tas kerjanya.
āHati-hati di jalan, Mas!ā teriak Nindya, meski Pradipta sudah tak lagi terlihat. Dapur kembali sunyi. Suara AC berdengung pelan. Nindya menghela napas, lalu mulai membersihkan sisa sarapan. Ada sedikit rasa tidak enak di perutnya. Bukan karena bekal yang belum sempat ia bungkus, tapi lebih karena tatapan Pradipta barusan. Terlalu cepat. Terlalu terburu-buru. Seperti ada sesuatu yang ia hindari.
Ia mengambil setoples boba yang dititipkan Mbak Santiāteman pengajiannya yang tinggal di kompleks sebelah. Nindya tidak terlalu suka boba, tapi ia tahu Pradipta akan senang jika ia membawakan pulang makanan kesukaan suaminya itu. Sekilas ia melihat kantong kertas tempat boba itu berada. Di sana, terlipat rapi di bagian dalam, ada sesuatu yang membuat tangannya berhenti.
Babak 2 ā Kejanggalan yang Menusuk
Sebuah struk parkir. Bukan struk parkir dari kantor Pradipta, karena kantor mereka tidak memiliki fasilitas parkir khusus; karyawan biasanya parkir di gedung samping dengan sistem langganan bulanan. Struk ini terlihat berbeda, lebih kecil, dengan logo sebuah pusat perbelanjaan mewah di pinggir kota yang jarang sekali mereka kunjungi. āCentral Squareā, tertulis jelas di bagian atas.
Nindya menarik struk itu perlahan, jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Jemarinya terasa dingin. Ia ingat betul, kemarin sore Pradipta bilang ia akan menjemput Mbak Santi untuk pengajian, lalu langsung pulang. Tidak ada alasan baginya untuk singgah di Central Square, apalagi sampai harus mengambil nomor antrean parkir.
Ia melipatnya kembali, berusaha meyakinkan diri bahwa ini pasti kesalahan. Mungkin Pradipta mampir sebentar untuk membeli sesuatu, lalu lupa memberitahunya. Tapi kenapa harus diselipkan di kantong boba? Seolah ingin menyembunyikannya.
Tangannya mulai gemetar. Ia membuka ponselnya, membuka aplikasi Gojek, lalu tanpa sadar ia membuka riwayat pemesanan terbarunya. Bukan untuk memesan sesuatu, hanya melihat-lihat. Ia scroll ke bawah, ke bawah, terus ke bawah. Mencari-cari, entah apa. Mungkin harapan palsu bahwa ia akan menemukan jejak lain yang bisa membenarkan Pradipta.
Ia membuka galeri fotonya. Foto-foto Pradipta saat bermain futsal, foto mereka saat liburan ke Bali tahun lalu, foto kucing tetangga yang suka mampir ke balkon. Tak ada yang aneh. Semuanya tampak normal, seperti biasa. Lalu ia teringat kembali struk parkir itu. Ia meraih kantong boba lagi, membukanya lebar-lebar, dan menarik keluar struk itu lagi. Kali ini ia membukanya lebar. Tanggal: kemarin. Jam: 18:32. Kode parkir: C4. Lokasi: Gedung Parkir A, Lantai 3.
Semua detail itu terasa seperti pukulan yang bertubi-tubi. Jam 18:32. Saat Pradipta seharusnya sudah dalam perjalanan pulang, atau mungkin baru saja menjemput Mbak Santi. Nindya merasa mual. Ia buru-buru menutup kembali kantong boba itu, meletakkannya di sudut meja dapur seolah benda itu adalah wabah. Ia lalu membuka aplikasi Shopee, pura-pura mencari promo, padahal pikirannya hanya tertuju pada satu hal: struk parkir itu.
Babak 3 ā Jejak Digital dan Kenangan Pahit
Perasaan tidak enak itu terus menghantuinya sepanjang pagi. Setiap notifikasi dari aplikasi Tokopedia di ponselnya terasa seperti alarm yang berbunyi di kepala. Nindya mencoba fokus pada pekerjaannya sebagai desainer grafis lepas dari rumah, tapi layar laptopnya terasa kabur. Ia membuka tab browser baru, mengetikkan āCentral Squareā di kolom pencarian.
Situs web mal itu menampilkan deretan toko-toko mewah dan restoran-restoran mahal. Ada juga informasi tentang jam operasional dan lokasi parkir. Nindya melihat peta parkir gedung A. Lantai 3. Tempat Pradipta seharusnya tidak pernah berada kemarin sore. Ia lalu membuka aplikasi DANA, melihat riwayat transaksinya. Tidak ada pembayaran parkir digital yang bisa ia lacak. Pradipta selalu membayar parkir tunai atau menggunakan kartu debitnya.
āIni pasti ada penjelasannya,ā gumam Nindya pada dirinya sendiri, berusaha menenangkan diri. Ia teringat kejadian beberapa bulan lalu. Pradipta pernah pulang terlambat karena ‘rapat mendadak’ yang ternyata hanya alasan untuk bertemu teman-teman lamanya. Saat itu Nindya tidak terlalu ambil pusing, ia percaya saja. Tapi kali ini, struk parkir itu terasa berbeda. Terlalu spesifik. Terlalu tersembunyi.
Ia mencoba memutar kembali kejadian kemarin sore dalam benaknya. Pradipta keluar sekitar pukul 5 sore, bilang akan menjemput Mbak Santi. Mbak Santi tinggal di Jalan Kenanga nomor 12. Dari rumah mereka ke sana hanya memakan waktu 15 menit jika lalu lintas lancar. Pengajian dimulai pukul 7 malam. Jadi seharusnya Pradipta punya waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai ke sana.
Tapi struk parkir itu tertulis jam 18:32 di Central Square. Jarak Central Square ke rumah Mbak Santi adalah sekitar 40 menit berkendara. Jika Pradipta berada di sana pada jam tersebut, ia baru akan sampai di rumah Mbak Santi sekitar pukul 19:12. Itu berarti ia akan terlambat ke pengajian. Dan Mbak Santi? Apa dia menunggu Pradipta di mal?
Nindya membuka aplikasi WhatsApp. Ia mencari obrolan dengan Mbak Santi. Terakhir mereka saling berkirim pesan adalah tiga hari lalu, membahas soal arisan. Ia ragu untuk bertanya langsung. Akan terlihat mencurigakan jika ia tahu detail jam kepulangan Pradipta.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Saat Pradipta pulang kemarin malam, ia membawa tas belanjaan plastik hitam berisi sesuatu yang Nindya kira adalah oleh-oleh dari Mbak Santi. Ia pernah melihat Mbak Santi sering membawa boba dari kafe di dalam Central Square. Mungkinkah Pradipta memang mampir ke sana? Tapi kenapa tidak bilang?
Babak 4 ā Kejutan di Balik Laci Meja
Kecurigaan itu mulai merayap seperti racun pelan-pelan. Nindya memutuskan untuk tidak berpura-pura lagi. Ia bangkit dari kursinya, lalu kembali ke dapur. Ia meraih kantong boba yang masih tergeletak di meja, menarik keluar struk parkir itu lagi. Kali ini ia membaliknya. Ada coretan kecil di bagian belakang, seolah Pradipta mencoba menulis sesuatu, tapi terpotong.
āTemui aku diā¦ā hanya itu yang tertulis. Setelahnya hanya goresan pena yang tidak jelas. āTemui aku diā¦ā Di mana? Nindya mencoba menebak. Mungkin di Central Square itu sendiri? Di sebuah kafe? Tapi kafe mana?
Ia berjalan ke arah Pradipta biasa menyimpan dompetnya. Laci meja di sebelah kursi makan. Ia membuka laci itu. Kosong. Hanya ada beberapa bon sisa, dan sebuah pulpen. Nindya mencoba merapikan isi laci itu, memindahkan bon-bon yang berserakan. Saat ia mengangkat setumpuk bon kupon dari sebuah restoran Italia yang sering mereka datangi, ia melihat sesuatu yang tersembunyi di bawahnya.
Sebuah amplop kecil berwarna putih. Tanpa nama. Tanpa alamat. Nindya mengambil amplop itu. Beratnya terasa aneh. Bukan seperti isi surat biasa. Ia ragu membukanya. Tangannya kembali bergetar hebat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membukanya perlahan. Isinya bukan surat. Isinya adalah beberapa lembar foto.
Foto-foto itu membuat lutut Nindya lemas. Foto Pradipta. Tapi bukan Pradipta yang ia kenal. Di foto-foto itu, Pradipta tertawa lepas, bergandengan tangan dengan seorang wanita. Wanita itu bukan Nindya. Wanita itu… ia tidak mengenalinya. Rambutnya pendek sebahu, senyumnya lebar, matanya berbinar. Di satu foto, mereka sedang makan di sebuah restoran. Di foto lain, mereka sedang berjalan di taman. Dan di foto terakhir⦠mereka sedang berciuman.
Semua keraguan Nindya lenyap seketika, digantikan rasa sakit yang membekukan. Foto-foto itu diambil di tempat yang sama dengan struk parkir. Central Square. Ini bukan kesalahan. Ini bukan kebetulan. Ini adalah pengkhianatan. Suaminya bilang ada rapat dadakan. Tapi nyatanya, ia sedang bersama wanita lain.
Babak 5 ā Senyum Pahit di Depan Cermin
Nindya duduk di kursi dapur, matanya menatap kosong pada foto-foto di tangannya. Ia merasa dunianya runtuh. Setiap kenangan indah bersama Pradipta kini terasa seperti kebohongan besar. Rapat dadakan. Pulang terlambat. Semua alasan yang pernah ia terima dengan senyum, kini berbalik menusuknya.
Ia memikirkan wanita di foto itu. Siapa dia? Kenapa Pradipta begitu berani? Kenapa ia menyembunyikan ini semua? Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi ia menahannya. Ia tidak ingin menangis di sini. Tidak sekarang.
Ia bangkit, berjalan menuju kamar mandi. Menatap pantulan dirinya di cermin. Mata merah, wajah pucat. Ia terlihat seperti orang asing. Ia teringat kata-kata Pradipta pagi tadi, āKamu memang paling perhatian.ā Betapa ironisnya kalimat itu sekarang.
Ia mengambil ponselnya. Menghapus semua foto mesra mereka yang tersisa di galeri. Satu per satu. Tindakannya terasa dingin dan tegas. Ia lalu membuka aplikasi kontak, mencari nama āPradiptaā. Jari-jarinya melayang di atas tombol āHapusā. Tapi ia mengurungkan niatnya. Belum.
Ia mengambil struk parkir itu lagi, lalu foto-foto itu. Ia memasukkannya kembali ke dalam amplop, lalu ke dalam kantong belanjaan boba. Ia lalu duduk kembali di meja makan, mengeluarkan laptopnya. Ia membuka kembali situs web Central Square. Ia akan mencari tahu lebih banyak. Ia akan mencari tahu siapa wanita itu. Dan apa arti dari āTemui aku diā¦ā.
Perasaan sakit itu masih ada, tapi kini bercampur dengan tekad yang membara. Ia tahu ini baru permulaan. Perjalanan panjang untuk mengungkap kebenaran, dan mungkin, untuk menemukan kembali dirinya sendiri. Ia menatap keluar jendela, ke arah langit Jakarta yang mulai mendung. Pertarungan baru saja akan dimulai.
