Cerita Pengkhianatan: Suami Bilang Meeting, Tapi Kuitansi Warung Kopi Ini Bikin Semua Runtuh

Cerita Pengkhianatan: Suami Bilang Meeting, Tapi Kuitansi Warung Kopi Ini Bikin Semua Runtuh

CERITA PENDEK

Cerita Pengkhianatan: Suami Bilang Meeting, Tapi Kuitansi Warung Kopi Ini Bikin Semua Runtuh

Babak 1 — Janji Setia di Senja Hari

Nindya menarik napas dalam, mencoba mengenyahkan aroma kopi yang pekat bercampur dengan bau asap rokok kretek yang entah sejak kapan merayap masuk ke dalam mobilnya. Kaca jendela yang tadi pagi sempat ia lap bersih kini berembun samar. Ia memandang jalanan Kemang yang mulai ramai, lampu-lampu jalan mulai berpendar seperti kunang-kunang yang tertangkap botol. Tangannya, yang sedari tadi memegang kemudi, mulai terasa dingin. Ini bukan hal baru. Sejak seminggu terakhir, setiap kali menunggu Arga pulang, rasa dingin itu selalu datang. Bukan dingin karena AC mobil yang menyala, tapi dingin yang merayap dari perut, naik ke dada, lalu membekukan seluruh pikirannya.

Tiga puluh menit lagi. Ia membatin. Arga bilang meeting sampai jam sembilan malam ini. Meeting penting katanya. Klien dari Singapura. Ia sudah terbiasa mendengar alasan-alasan seperti itu. Dulu, ia menganggapnya sebagai bukti keseriusan Arga dalam membangun karier. Tepuk tangan kecil ketika Arga pulang larut, pelukan singkat namun erat, senyum lelah yang selalu terbayar tuntas oleh cerita tentang negosiasi alot dan kesepakatan besar. Tapi kini, setiap ‘meeting’ yang diucapkan Arga, terasa seperti belati kecil yang menusuk perlahan ke ulu hatinya. Ia tidak punya bukti, hanya intuisi. Dan intuisi seorang wanita yang sudah bertahun-tahun berbagi hidup, tidak pernah salah.

Nindya mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi GoPay. Tertera saldo yang lumayan. Ia dan Arga selalu berusaha menabung, tidak boros. Arga sering mengoceh tentang pentingnya dana darurat, tentang masa depan mereka yang harus terjamin. Dia memejamkan mata sejenak. ‘Dana darurat’. Kini ia merasa dana darurat paling penting adalah ketahanan mentalnya sendiri. Ia menyalakan radio, memilih stasiun yang memutar lagu-lagu melankolis. Pas sekali. Suara penyanyi itu seolah mengerti kegundahan di hatinya. Ia meremas pelan ujung syal yang ia kenakan. Syal pemberian Arga saat ulang tahun mereka yang kelima. Masih tercium samar aroma parfum Arga yang maskulin, sedikit woody, seperti kayu cendana. Parfum yang sama yang selalu dipakai Arga kemanapun ia pergi, kecuali malam ini.

Tadi sore, saat Arga berpamitan, Nindya sempat memperhatikan lemarinya. Botol parfum favorit Arga masih berdiri tegak di tempatnya. Tapi wangi yang menempel di baju Arga saat ia berpamitan tadi… berbeda. Lebih manis, sedikit floral. Nindya bukan orang yang suka mengintai, ia percaya pada pasangannya. Tapi ketika jejak aroma itu terasa asing, ada alarm kecil yang berbunyi di kepalanya. Ia mencoba mengabaikannya, meyakinkan diri bahwa mungkin Arga mencoba parfum baru yang tidak ia sadari. Tapi hati kecilnya berbisik lain. Arga, kekasihnya sejak SMA, suaminya selama tujuh tahun, pria yang pernah berjanji akan selalu menjaga hatinya… apakah ia sedang membohonginya?

Jam dinding digital di dashboard mobil menunjukkan pukul 21:05. Masih ada waktu. Nindya memutar setir, memarkirkan mobilnya di area yang sedikit lebih gelap, tersembunyi di balik pepohonan rindang. Ia tak ingin Arga melihat mobilnya di sini, seolah ia sengaja menunggu. Nindya tak yakin apa yang ia cari, atau apa yang ia takutkan. Tapi ia tahu, ia tidak bisa lagi hanya duduk diam dan berharap semuanya baik-baik saja. Perasaan aneh ini, kecurigaan yang mulai mengakar, harus segera ia singkirkan. Atau ia hadapi. Dan malam ini, entah bagaimana, rasanya ia akan menghadapi sesuatu.


Babak 2 — Kuitansi yang Berbicara

Nindya baru saja akan menyalakan mesin mobilnya untuk pulang, ketika sebuah mobil sedan hitam mengkilap keluar dari area parkir restoran mewah di seberang jalan. Mobil itu perlahan melaju, kemudian berhenti beberapa meter di depannya. Nindya menahan napas. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Jendela penumpang depan mobil sedan itu turun. Sosok Arga terlihat di sana, tersenyum lebar ke arah pengemudi wanita. Nindya tidak mengenali wanita itu. Sosoknya hanya sekilas terlihat dari samping, rambutnya tertata rapi, mengenakan blus berwarna cerah. Arga tampak begitu santai, obrolan mereka terdengar samar karena kaca mobil yang tertutup rapat. Lalu, mobil itu melaju meninggalkannya.

Tubuh Nindya lemas. Ia menghela napas panjang, mencoba menstabilkan debaran jantungnya yang semakin tak karuan. Pengemudi wanita. Senyum Arga yang terlalu ceria. Wangi parfum yang berbeda. Semua potongan puzzle yang tadi ia rasa terpisah, kini menyatu dengan mengerikan. Ia ingin menangis, ingin berteriak, tapi bibirnya kelu. Ia hanya duduk membeku di dalam mobilnya. Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Nindya akhirnya menggerakkan tangannya. Ia meraih ponselnya, mematikan musik yang tadinya masih mengalun lembut, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan suasana hatinya kini. Ia memejamkan mata lagi, memaksakan diri untuk berpikir jernih. Arga masih ada di sana. Ia melihat Arga keluar dari mobilnya, berjalan menuju arahnya. Bukan, Arga berjalan ke arah yang berbeda. Arga berjalan menuju sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan yang ramai. Nindya mengikuti arah pandang Arga dengan matanya.

Arga masuk ke dalam kedai kopi itu. Nindya menunggu beberapa menit, lalu dengan hati-hati, ia memindahkan mobilnya agar sedikit lebih dekat, memarkirkannya di bahu jalan yang tidak terlalu ramai, menyalakan lampu hazard sebagai tanda ia sedang berhenti. Ia keluar dari mobil, berjalan pelan ke arah kedai kopi. Jantungnya berdebar semakin kencang setiap kali kakinya melangkah lebih dekat. Ia mengintip dari balik jendela. Arga duduk di sudut, menghadap ke arahnya, tapi ia tidak melihatnya. Di depannya, ada dua gelas kopi dan sepiring kue yang belum tersentuh. Ia melihat Arga sedang berbicara dengan seorang wanita. Wanita yang sama yang tadi bersama Arga di mobil sedan. Wanita itu tertawa, dan Arga balas tertawa. Sesekali, tangan Arga terulur, menyentuh tangan wanita itu dengan lembut. Nindya merasa pandangannya mulai kabur. Air mata mulai menggenang.

Ia tidak bisa lagi melihatnya. Ia berbalik, berjalan cepat kembali ke mobilnya. Saat melewati meja di dekat pintu keluar, pandangannya tertumbuk pada sesuatu. Sepotong kertas kecil yang terlipat rapi tergeletak di meja. Kuitansi. Entah kenapa, kakinya berhenti melangkah. Ia merasa seperti ditarik oleh sesuatu. Perlahan, ia membungkuk, mengambil kuitansi itu. Tangannya sedikit gemetar. Ia membukanya. Bukan struk parkir, bukan struk e-toll. Ini adalah struk dari kedai kopi itu. Tertulis jelas: 2x Americano, 1x Red Velvet Cake. Di bawahnya, tertera total harga. Dan yang paling membuat dadanya sesak, di bagian paling bawah, tertulis ‘Pembayaran menggunakan DANA. Atas nama: Arga Prayoga’. Nindya memandang nama itu, lalu pada layar ponselnya yang menampilkan foto pernikahan mereka berdua sebagai wallpaper. Seketika, dunia terasa berhenti berputar.


Babak 3 — Ingatan yang Menghantui

Nindya duduk di mobilnya, kuitansi itu masih tergenggam erat di tangannya. Jemarinya terasa dingin dan kaku. ‘Atas nama: Arga Prayoga’. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, mengulang-ulang seperti kaset rusak. Ia mencoba mengingat kembali percakapan mereka tadi pagi. Arga berpamitan dengan senyum yang sama seperti biasa, mencium keningnya, dan berkata, “Sayang, malam ini meeting sama klien dari Singapura. Mungkin pulang agak malam.” Kalimat yang sama persis seperti beberapa kali sebelumnya. Namun, kali ini, ada yang berbeda. Cara Arga menghindari tatapan matanya saat mengucapkan kalimat itu. Kebiasaan kecil yang selalu Nindya perhatikan tapi tak pernah ia hiraukan.

Tiba-tiba, sebuah kilas balik muncul di benaknya. Tiga bulan lalu. Suatu Sabtu pagi, Nindya ingin memesan sarapan nasi uduk langganan mereka melalui GoFood. Tapi saat membuka aplikasi, ia melihat riwayat pesanan Arga. Ada beberapa pesanan ‘Es Teh Jumbo’ dan ‘Cireng Crispy’ yang dipesan di jam-jam yang tidak biasa, di hari-hari kerja, saat Arga bilang ia sedang di kantor sampai sore. Nindya sempat bertanya pada Arga tentang itu. Arga hanya tertawa, mengatakan ia sedang mentraktir rekan kerjanya yang lembur, atau sedang ada acara tim. Nindya percaya saja. Tapi sekarang, melihat kuitansi DANA atas nama Arga ini, ingatan itu kembali menghantuinya.

Ia membuka aplikasi DANA di ponselnya. Ia mencoba mencari riwayat transaksi Arga. Tapi tentu saja, itu tidak mungkin. Riwayat transaksi bersifat pribadi. Namun, ia teringat sesuatu. Dulu, saat mereka baru menikah, Arga pernah menunjukkan padanya bagaimana cara menyimpan nomor rekening banknya di kontak HP agar mudah saat transfer. ‘Nanti kalau aku lupa bawa dompet, kamu bisa transfer langsung ke rekeningku lewat BRImo, Sayang.’ Kata Arga kala itu sambil tersenyum. Nindya lalu membuka daftar kontaknya. Ia mencari nama ‘Arga Prayoga’. Di bawah namanya, tertera nomor rekening bank. Ia langsung membuka aplikasi BRImo. Jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Ia memasukkan nomor rekening Arga, lalu memilih opsi ‘Lihat Riwayat Transaksi’. Layar ponselnya berputar sebentar, lalu menampilkan daftar transaksi.

Scrolling cepat, Nindya mencari transaksi yang mencurigakan. Ada beberapa transfer ke rekening yang namanya asing, dengan jumlah yang tidak begitu besar, tapi dilakukan di jam-jam dan hari-hari yang sama seperti pesanan GoFood tempo hari. Dan kemudian, ia menemukannya. Sebuah transaksi DANA. Tanggalnya sama dengan hari ini. Jumlahnya sama persis dengan total di kuitansi yang ia pegang. Penerimanya? Sebuah nama yang tidak ia kenali: ‘Riana’. Nindya mengerutkan kening. Siapa Riana? Ia mencoba mencari nama ‘Riana’ di akun media sosial Arga. Tidak ada. Ia mencoba mencari nama ‘Riana’ di akun media sosialnya sendiri, mencari teman-teman Arga yang mungkin bernama Riana. Nihil. Semakin ia mencari, semakin dalam lubang kecurigaan yang ia gali.

Ia teringat lagi obrolan Arga tadi pagi. ‘Meeting sama klien dari Singapura.’ Tapi bukti di depannya berbicara lain. Ia merasa seperti sedang bermain detektif di kehidupannya sendiri. Sebuah kehidupan yang ia kira utuh dan bahagia, kini retak di banyak tempat. Ia melirik kuitansi di tangannya lagi. Kuitansi kecil yang sederhana, tapi membawa petaka. Ia merasa mual. Ia ingin muntah, tapi tak ada apa-apa di perutnya. Ia hanya merasa kosong. Kosong dan dingin. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat kembali wajah Arga saat pertama kali mereka bertemu di sebuah acara wisuda kampus.


Babak 4 — Pengakuan di Balik Senyuman

Nindya memutuskan untuk tidak pulang. Ia memarkirkan mobilnya di tempat yang agak jauh dari rumah mereka di kawasan Cilandak, sebuah area yang ia tahu Arga jarang lewati. Ia duduk di dalam mobil, memandangi lampu-lampu kota Jakarta yang berkelip di kejauhan. Ponsel di tangannya terus bergetar menampilkan notifikasi pesan dari Arga. ‘Sayang, aku otw pulang ya.’, ‘Kangen.’, ‘Sudah sampai rumah belum?’. Pesan-pesan yang dulu selalu membuatnya tersenyum, kini terasa seperti siksaan. Ia tidak membalasnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya merasa tercekik oleh kebohongan yang terbungkus rapi dalam kata-kata manis.

Setelah hampir satu jam terdiam, Nindya akhirnya mengalah. Ia membalas pesan Arga, singkat saja. ‘Sudah di rumah.’ Ia tahu, Arga pasti akan menunggunya. Ia harus menghadapinya. Ia menyalakan mesin mobil, dan perlahan melaju menuju rumah mereka. Sesampainya di rumah, suasana terlihat sepi. Lampu teras menyala, namun pintu utama tertutup rapat. Nindya membuka pintu garasi secara manual, memarkirkan mobilnya di dalam. Ia berjalan menuju pintu penghubung dari garasi ke dalam rumah. Saat ia membuka pintu itu, ia melihat Arga duduk di sofa ruang keluarga, masih mengenakan kemeja kantornya, menatap layar televisi yang mati.

Arga mendongak saat mendengar suara pintu. Senyum tipis terulas di bibirnya. “Sayang, sudah pulang? Tadi aku kira kamu mampir ke rumah ibumu dulu,” katanya, nadanya terdengar normal, sedikit lelah. Nindya hanya berdiri di ambang pintu, tidak menjawab. Ia membiarkan kesunyian menyelimuti mereka. Arga mengerutkan keningnya, merasakan ada yang berbeda. “Kenapa, Sayang? Kok diam saja? Kamu nggak apa-apa?” Ia bangkit dari sofa, berjalan menghampiri Nindya. Nindya mundur selangkah. Ia melihat Arga berhenti, ekspresinya berubah dari khawatir menjadi bingung. Lalu, Nindya perlahan mengeluarkan kuitansi itu dari tasnya, dan meletakkannya di meja di antara mereka.

Arga memandang kuitansi itu, lalu memandang Nindya. Matanya membelalak sedikit. Ia mengambil kuitansi itu, membacanya. Wajahnya perlahan pucat pasi. Ia mencoba tersenyum, senyum yang Nindya tahu, bukan senyum tulus. “Ini… ini bukan apa-apa, Sayang. Cuma… aku ketemu teman lama tadi pas mau pulang. Kebetulan kita mau ngopi bareng sebentar. Dia yang bayar.” Alasan itu terdengar begitu rapuh, begitu dibuat-buat. Nindya hanya memandangnya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia menunggu. Menunggu Arga melanjutkan. Arga menelan ludah. Tangannya yang memegang kuitansi itu mulai gemetar. “Dan… yang di struk DANA itu… itu juga bukan apa-apa.”

“Siapa Riana, Arga?” Suara Nindya akhirnya pecah, terdengar serak dan dingin. Arga tersentak mendengar nama itu disebut. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Nindya. “Dia… teman kerjaku dulu. Dulu banget,” jawab Arga pelan, suaranya hampir tidak terdengar. “Kenapa kamu transfer DANA atas namanya?” tanya Nindya lagi, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Arga menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali. Ia menatap Nindya, kali ini dengan tatapan yang penuh penyesalan. “Maaf, Nindya. Maaf. Aku… aku khilaf.” Pengakuan itu meluncur keluar dari bibirnya, singkat, padat, dan menghancurkan segalanya. Nindya hanya bisa berdiri diam, memandang pria yang pernah ia cintunya, pria yang kini berdiri di depannya dengan pengakuan yang menghancurkan dunianya. Rasanya seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Ia merasa seluruh fondasi kehidupannya runtuh seketika.


Babak 5 — Sisa Aroma Kenangan

Nindya membiarkan air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Setiap tetes terasa seperti asam yang membakar pipinya. Ia melihat Arga mencoba meraih tangannya, tapi Nindya menariknya menjauh. Ia tidak sanggup disentuh pria itu. Rasanya seperti menyentuh bara api. Arga terdiam, berdiri di depannya dengan wajah tertunduk, ekspresi penyesalan yang tulus terpancar jelas, namun Nindya merasa semua itu sudah terlambat. Terlambat untuk memperbaiki retakan yang kini menganga lebar di antara mereka. Kata ‘khilaf’ yang diucapkan Arga bagaikan pukulan telak yang membuat Nindya semakin sesak napas. Khilaf? Apakah kebohongan yang bertubi-tubi, pertemuan diam-diam, dan transfer uang itu hanya sekadar ‘khilaf’ sesaat?

“Sejak kapan, Arga?” tanya Nindya, suaranya masih terdengar bergetar. Arga menelan ludah. Ia tampak kesulitan menjawab. ‘Sejak kapan.’ Pertanyaan itu menggantung di udara, semakin memberatkan suasana. Nindya tahu, apapun jawabannya, itu tidak akan mengubah kenyataan yang menyakitkan ini. ‘Khilaf’ yang diakui Arga, terasa seperti pengkhianatan yang disengaja. Ia mengingat kembali semua ‘meeting’ yang Arga jalani, semua lembur yang Arga ceritakan, semua perjalanan bisnis yang Arga lakukan. Apakah semuanya hanya ilusi? Apakah ia hidup dalam kebohongan selama ini? Pikirannya berputar liar, mencoba menyusun kembali kepingan masa lalu yang kini terlihat begitu kelam.

Arga akhirnya menjawab, suaranya pelan dan berat. “Sekitar… enam bulan lalu, Nindya. Awalnya hanya teman ngobrol biasa. Lalu… kami semakin dekat.” Enam bulan. Setengah tahun. Waktu yang cukup lama untuk membangun sebuah hubungan terlarang. Nindya merasa seolah-olah waktu berhenti. Ia melihat sekeliling rumahnya, rumah yang mereka bangun bersama, tempat mereka berbagi tawa dan mimpi. Kini, rumah itu terasa asing baginya. Setiap sudutnya seolah menyimpan cerita tentang pengkhianatan. Ia melihat foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding. Senyum mereka terlihat begitu bahagia, begitu polos. Betapa ironisnya semua itu sekarang.

Nindya berjalan perlahan menuju kamar tidur mereka. Ia tidak peduli Arga mengikutinya atau tidak. Ia hanya ingin sendirian. Ia membuka lemari pakaian Arga, meraih salah satu kemeja yang masih tercium samar aroma parfum Arga yang dulu, parfum kayu cendana. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat kembali masa-masa indah mereka. Tapi yang ia rasakan kini hanyalah kepedihan. Ia ingin menghapus semua kenangan itu, tapi entah kenapa, ia justru semakin terikat pada sisa-sisa aroma itu. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk kemeja itu, dan membiarkan dirinya menangis dalam diam. Di luar, lampu jalanan masih menyala, menerangi malam yang semakin larut. Tapi di dalam rumah itu, kegelapan baru saja dimulai. Nindya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya tahu, segalanya telah berubah. Selamanya.