Suaminya Ngaku Lembur Sampai Malam, tapi Struk Transaksi Ini Bongkar Segalanya

Suaminya Ngaku Lembur Sampai Malam, tapi Struk Transaksi Ini Bongkar Segalanya

CERITA PENDEK

Suaminya Ngaku Lembur Sampai Malam, tapi Struk Transaksi Ini Bongkar Segalanya

Babak 1 — Senyum yang Retak di Ujung Senja

Gendis menyeduh teh hangat, uapnya mengepul lembut membentuk pola tak beraturan di kaca jendela yang mulai buram. Jam dinding di ruang tengah berdetak, setiap detiknya terasa seperti jarum yang menusuk perlahan ke dalam hati. Suaminya, Wibisono, masih berjanji akan pulang larut. ‘Rapat penting, Sayang. Mungkin baru selesai jam sebelas lebih.’ Kalimat itu diucapkan dengan nada lelah namun penuh keyakinan, yang selalu berhasil meluluhkan keraguan Gendis selama bertahun-tahun pernikahan mereka. Ia memang punya kebiasaan mudah percaya. Terlalu mudah.

Ia memutar tubuhnya, menatap sofa kulit berwarna coklat tua yang sedikit menganga di salah satu jahitan sudutnya. Benda itu saksi bisu percakapan mereka. Wibisono suka sekali duduk di sana, menekuk kaki, sambil membolak-balik laporan perusahaan. Gendis selalu menyiapkan camilan untuknya, kadang kacang bawang, kadang biskuit kesukaannya. Rutinitas yang begitu nyaman, begitu terprediksi. Sampai hari ini. Ia menghela napas, berusaha menepis perasaan aneh yang menggelitik tenggorokannya. Mungkin hanya kelelahan. Mungkin hanya bayang-bayang rumah tangga yang tak pernah luput dari ujian. Ia meneguk tehnya, rasa pahitnya sedikit membantu menenangkan kerongkongan yang terasa tercekat.

Ponsel di meja bergetar. Notifikasi dari aplikasi bank. ‘Transaksi Pembelian Berhasil.’ Gendis mengerutkan dahi. Ia tidak sedang berbelanja online. Apa lagi ini? Ia meraih ponsel itu, jemarinya yang masih sedikit hangat akibat uap teh mulai bergerak lincah membuka aplikasi. Daftar transaksi muncul, baris demi baris. Hingga matanya tertuju pada satu baris. Tanggal hari ini. Waktu pukul 19.37. Deskripsi: ‘Kasir Moka – Kopi Senja & Roti Bakar’. Jumlahnya tidak sedikit. Jauh dari harga segelas teh dan beberapa biskuit yang biasanya ia siapkan. Kopi Senja? Itu kedai kopi baru di dekat kantor Wibisono, yang sering ia ceritakan ingin ia coba tapi belum sempat.

Gendis merasa dunia di sekelilingnya mendadak hening. Suara detak jam dinding terasa berhenti. Ia membaca ulang deskripsi itu. Kasir Moka. Kopi Senja. Pukul 19.37. Wibisono bilang ia masih rapat. Tapi transaksi ini tercatat setengah delapan malam. Gendis mencoba berargumen dalam hati. Mungkin Wibisono memang mampir sebentar sebelum benar-benar kembali ke kantor untuk rapat yang lebih serius. Mungkin ia memang memesan kopi untuk diminum saat rapat nanti. Tapi sebuah detail kecil menggelitiknya. Wibisono tidak pernah suka kopi. Ia selalu bilang kopi itu pahit dan membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Ia lebih suka teh manis. Sama seperti yang sedang ia genggam kini.

Jemarinya gemetar. Ia membuka kembali aplikasi bank, kali ini ia menggulir lebih jauh ke bawah. Mencari transaksi-transaksi sebelumnya. Ada beberapa. Semuanya atas nama ‘Kasir Moka’. Tanggalnya berdekatan. Kemarin. Lusa. Tiga hari lalu. Dan semua tercatat di jam-jam di mana Wibisono seharusnya berada di kantor, atau dalam perjalanan pulang. Jantung Gendis berdegup kencang. Bukan detak yang biasa saat ia cemas karena tumpukan pekerjaan rumah. Ini detak yang berbeda. Detak yang terasa seperti lonceng kematian bagi sebuah kepercayaan. Ia mencoba menahan napas, berharap ini semua hanya salah paham. Tapi perutnya terasa mual.


Babak 2 — Struk di Saku Jaket

Gendis meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan gerakan halus, seolah takut benda itu akan pecah jika disentuh terlalu keras. Matanya masih terpaku pada layar yang kini menampilkan wallpaper foto pernikahannya dengan Wibisono. Senyum mereka terlihat begitu lepas, begitu bahagia. Gendis merasa seperti sedang melihat dua orang asing. Ia menarik napas dalam, mencoba mengendalikan napasnya yang mulai naik-turun tak beraturan. Ada keinginan kuat untuk menangis, tapi ia menahannya. Menangis tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia perlu bukti. Ia perlu kepastian. Atau ilusi kepastian.

Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju lemari pakaian di kamar. Tangannya meraih gantungan jaket kerja Wibisono yang tergantung rapi. Jaket yang selalu dipakai suaminya setiap pagi dan baru kembali tergantung di sana setiap malam. Gendis tidak pernah menggeledah barang-barang suaminya. Itu bukan gayanya. Tapi malam ini, naluri yang tak bisa ia jelaskan mendorongnya melakukan ini. Jemarinya mulai meraba saku dalam jaket berwarna abu-abu gelap itu. Saku yang biasanya hanya berisi kartu nama atau beberapa lembar uang tunai.

Rasa dingin merayapi ujung jarinya. Ia merasakan sesuatu yang terlipat di sana. Bukan kartu. Bukan uang. Ia menariknya keluar perlahan. Selembar kertas yang terlipat rapi. Gendis memegang kertas itu, menatapnya seolah itu adalah bom waktu. Ia membukanya dengan hati-hati. Dan napasnya tercekat lagi.

Sebuah struk belanja. Bukan struk ATM, bukan struk parkir. Struk yang berbeda. Dari sebuah toko kelontong kecil di pinggir kota, ‘Toko Berkah Jaya’. Tertulis di sana daftar barang yang dibeli: Susu formula SGM Enam Plus, popok bayi ukuran M, dan beberapa vitamin anak. Tanggalnya? Tiga hari lalu. Saat Wibisono bilang ia harus lembur seharian penuh karena ada proyek mendesak. Gendis membeku. Wibisono tidak punya adik, tidak punya keponakan yang masih bayi. Mereka belum punya anak. Gendis sendiri belum pernah hamil. Pernah sekali, tapi keguguran. Itu sudah hampir dua tahun lalu. Kenapa ada struk popok bayi dan susu formula di saku jaket suaminya?

Tangannya mulai gemetar hebat. Ia membolak-balik struk itu, mencari detail lain. Nama kasir tidak tertera. Hanya kode transaksi dan jam pembelian: 16.45. Gendis menatap kosong ke depan. Jantungnya berdebum keras di dada. Ia mencoba mengingat. Tiga hari lalu. Wibisono memang pulang agak malam. Ia bilang ada pekerjaan tambahan. Ia terlihat lelah, namun tak ada yang aneh dalam tingkah lakunya. Setidaknya, tidak ada yang Gendis sadari saat itu. Tapi sekarang, semua potongan kecil itu mulai menyatu, membentuk gambaran yang begitu mengerikan.


Babak 3 — Kenangan yang Menusuk

Gendis menjatuhkan diri ke kursi di depan meja riasnya. Matanya masih terpaku pada struk di tangannya. Toko Berkah Jaya. Ia tahu toko itu. Letaknya agak jauh dari kantor Wibisono, tapi tidak terlalu jauh dari perumahan baru di sektor C. Perumahan yang katanya baru saja ditempati oleh salah satu junior Wibisono di kantor. Tapi bukan itu yang terpenting. Yang terpenting adalah barang-barang di struk itu. Susu formula, popok. SGM Enam Plus. Gendis ingat betul merek itu. Ia pernah membelikannya untuk keponakan adiknya saat ulang tahun. Anak itu sudah kelas dua SD sekarang. Jadi, ini bukan untuk keponakan yang itu. Lalu untuk siapa?

Pikiran Gendis berputar liar. Ia teringat beberapa bulan lalu, Wibisono pernah mengeluh tentang ‘masalah kecil’ di kantor. Sebuah ‘kesalahan administrasi’ yang katanya bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Wibisono tidak pernah menjelaskan detailnya, hanya bilang ia harus bertanggung jawab. Gendis saat itu mencoba menenangkannya, menawarkan bantuan sebisa mungkin, meski ia tak mengerti seluk-beluk pekerjaan suaminya. Wibisono hanya tersenyum getir dan bilang, ‘Kamu tidak akan mengerti, Sayang. Ini urusan kantor.’

Dan sekarang, struk ini muncul. Seolah menjadi jembatan antara ‘masalah kecil’ yang Wibisono ceritakan dengan bukti fisik yang tak terbantahkan. Wajahnya terasa panas. Ia mencoba memutar kembali ingatan. Ada satu lagi kejadian yang tiba-tiba terlintas. Sekitar dua bulan lalu. Wibisono pernah meminta Gendis untuk tidak terlalu sering meneleponnya saat jam kerja. Ia bilang, ia sedang menghadapi proyek besar dan harus fokus penuh. Gendis yang pengertian hanya mengangguk. Ia tahu betapa kerasnya Wibisono bekerja untuk mereka. Untuk masa depan mereka.

Tapi sekarang ia menyadari. Apakah ‘proyek besar’ itu hanya alasan? Apakah ‘fokus penuh’ itu berarti fokus pada ‘masalah kecil’ yang lain? Tiba-tiba, layar ponselnya menyala. Notifikasi chat dari aplikasi perpesanan instan. Nama pengirimnya: ‘Pradipta’. Itu nama junior Wibisono yang baru saja promosi. Gendis biasanya tidak pernah membaca chat suaminya, tapi kali ini ia merasa perlu. Ia membuka chat itu. Terakhir terlihat percakapan tentang pembagian tugas proyek. Lalu ada pesan baru, dikirim satu jam lalu:

‘Mas Wibi, mau dipastikan besok jam 10 pagi ya. Babynya sudah mulai aktif gerak. Jangan sampai telat.’

Gendis terdiam. Babynya? Aktif gerak? Kata ‘baby’ itu bagai petir menyambar di siang bolong. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Ia segera mencari nama kontak ‘Pradipta’ di daftar kontaknya. Ia perlu menanyakan ini. Ia perlu penjelasan. Tapi sebelum ia sempat menekan tombol panggilan, sebuah pesan baru masuk dari Pradipta. Kali ini, pesannya ditujukan untuk Wibisono, tapi Gendis bisa melihatnya karena ia membuka chat mereka.

‘Mas Wibi, tadi istrinya Mas Wibi telepon aku loh. Katanya mau nanyain soal perkembangan janin. Aku jadi bingung. Nanti aku cerita detailnya ya kalau ketemu langsung. Pokoknya tenang aja, aku bakal jaga rahasia ini.’

Gendis memejamkan mata. Kata ‘istrinya Mas Wibi’. Dan ‘perkembangan janin’. Serta ‘jaga rahasia’. Semuanya terangkai menjadi sebuah kalimat mengerikan yang tidak ingin ia dengar. Ia bukan hanya satu-satunya istri Wibisono.


Babak 4 — Pertemuan Tak Terduga di Kedai Kopi

Gendis merasa kakinya lemas. Dunia seolah berputar di sekelilingnya. Kata ‘istrinya Mas Wibi’ itu terus bergema di kepalanya. Ia bukan satu-satunya istri. Ia bukan satu-satunya perempuan yang dipanggil ‘Sayang’ oleh Wibisono. Kepalanya terasa berat, pandangannya mulai kabur. Ia perlu udara segar. Ia harus keluar dari rumah ini, keluar dari jebakan kenyataan yang begitu menyakitkan.

Ia meraih dompetnya, memasukkan ponsel dan struk misterius itu ke dalamnya. Lalu ia keluar rumah, tanpa tujuan pasti. Angin malam yang dingin menyambutnya, tapi itu tidak cukup untuk mendinginkan panas di wajahnya. Ia berjalan menyusuri trotoar, entah kemana kakinya membawanya. Hingga tanpa sadar, ia menemukan dirinya berdiri di depan sebuah kedai kopi yang familiar. ‘Kopi Senja’. Kedai kopi yang tertera di struk transaksi digital suaminya.

Sebuah ide nekat muncul di benaknya. Ia harus melihat sendiri. Ia harus memastikan. Dengan langkah ragu, Gendis mendorong pintu kaca kedai kopi itu. Aroma kopi yang pekat menyeruak. Suara obrolan pelan dan musik jazz lembut mengisi ruangan. Gendis memindai seluruh ruangan. Ada beberapa pelanggan yang duduk di meja masing-masing, ada pula yang sedang mengantre. Matanya tertuju pada satu meja di sudut ruangan, dekat jendela. Seorang wanita sedang duduk di sana, punggungnya menghadap Gendis. Rambut hitam panjang tergerai melewati bahunya. Ia sedang menunduk, fokus pada ponsel di tangannya. Di depannya, ada secangkir kopi yang hampir habis dan sepiring roti bakar yang baru setengah dimakan.

Gendis mendekat perlahan, jantungnya berdebar tak karuan. Semakin dekat, semakin ia merasa yakin. Bentuk punggung itu, cara rambutnya tergerai… terasa begitu familiar. Ia memberanikan diri melangkah lebih dekat lagi. Saat wanita itu mengangkat kepalanya untuk melihat keluar jendela, pandangan mereka bertemu. Gendis terkesiap. Di depannya, duduk seorang wanita muda. Usianya mungkin sekitar awal dua puluhan. Cantik. Dan ia yakin, wanita inilah yang dimaksud Pradipta sebagai ‘istrinya Mas Wibi’.

Namun, yang mengejutkan Gendis adalah tatapan mata wanita itu. Bukan tatapan bangga seorang istri. Bukan pula tatapan curiga seorang selingkuhan. Mata wanita itu dipenuhi kesedihan yang mendalam, keputusasaan yang begitu nyata. Ada jejak air mata yang mengering di pipinya. Ia seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya. Wanita itu balas menatap Gendis, ekspresinya berubah menjadi campuran antara terkejut dan ketakutan. Ia terlihat seperti tikus yang terpojok. Tanpa berkata-kata, wanita itu buru-buru meraih tasnya, meninggalkan cangkir kopinya yang masih tersisa, dan bergegas keluar dari kedai itu, menyisakan Gendis yang terpaku di tempat.

Gendis tertunduk. Ia menatap kursi kosong yang baru saja diduduki wanita itu. Pemandangan itu begitu kontras dengan foto pernikahannya yang penuh senyum bahagia. Siapa wanita itu? Mengapa ia terlihat begitu hancur? Dan pesan Pradipta tadi pagi. ‘Babynya sudah mulai aktif gerak’. Apakah wanita muda ini hamil? Hamil anak Wibisono? Tapi jika benar, mengapa ia terlihat begitu sedih? Gendis merasa semakin tenggelam dalam lautan kebingungan.


Babak 5 — Keheningan yang Memekakkan

Gendis akhirnya meninggalkan kedai kopi itu, meninggalkan secangkir kopi yang tak sempat ia pesan dan aroma pahit yang kini terasa mencekik. Ia kembali berjalan tanpa arah, namun kali ini langkahnya terasa lebih berat. Setiap jejak kakinya di trotoar terasa seperti beban yang menghimpit dadanya. Ia merasa hampa. Pertemuan dengan wanita muda itu tidak memberikan jawaban, malah menimbulkan seribu pertanyaan baru. Wajah wanita itu, tatapan matanya yang dipenuhi kesedihan, terus terbayang di benaknya.

Apakah wanita itu juga korban? Apakah ia juga terjebak dalam jaring kebohongan Wibisono? Gendis mencoba mengingat kembali detail di struk toko kelontong itu. Susu formula, popok. Itu semua adalah kebutuhan bayi. Dan pesan Pradipta tentang ‘babynya yang mulai aktif gerak’. Tapi mengapa wanita muda itu terlihat begitu putus asa? Mengapa ia menangis?

Gendis sampai di depan rumahnya. Lampu teras menyala, menandakan rumah itu masih kosong. Gendis memutar kunci di lubang pintu, membukanya perlahan. Masuk ke dalam. Keheningan menyambutnya. Keheningan yang terasa semakin memekakkan. Ia berjalan ke dapur, ke tempat ia tadi menyeduh teh. Cangkir tehnya masih tergeletak di sana, dingin dan tak tersentuh. Di sebelahnya, ada secarik kertas kecil. Bukan struk. Bukan pesan. Hanya selembar kertas kosong yang dilipat rapi.

Gendis meraihnya. Ia membukanya perlahan. Tidak ada tulisan. Tidak ada gambar. Hanya sehelai kertas putih polos. Ia membolak-baliknya. Kosong. Ia hampir saja membuangnya, menganggapnya sampah tak berarti. Namun, di sudut kertas itu, ia melihat sesuatu. Sebuah bekas. Bekas lipatan yang begitu halus. Seperti bekas yang dibuat oleh kuku. Dan di sana, ia samar-samar bisa melihat sesuatu yang sangat tipis. Terukir di sana. Dengan sangat samar, seolah berusaha bersembunyi dari pandangan.

Gendis mendekatkan kertas itu ke matanya, lalu ke lampu meja. Ia menghela napas panjang. Terukir samar di sana, seperti sebuah guratan, adalah sebuah inisial. ‘R’. Hanya satu huruf. Tapi bagi Gendis, huruf itu terasa seperti pukulan palu yang menghancurkan sisa-sisa harapan terakhirnya. Inisial itu bukan inisialnya. Bukan inisial Wibisono. Tapi ia tahu, ia pernah melihat inisial itu sebelumnya. Di sebuah cincin emas tua peninggalan almarhumah neneknya, yang pernah ia berikan pada Wibisono sebagai hadiah kejutan ulang tahun beberapa tahun lalu. Cincin yang kini entah ada di mana. Inisial ‘R’ yang tertulis di sana adalah inisial mendiang neneknya. Dan Gendis tahu, hanya ada satu orang di dunia ini yang pernah sangat dekat dengan Wibisono dan punya hubungan dengan cincin itu. Seseorang yang mungkin memiliki ‘babynya’ yang sedang aktif bergerak.