Ia Kira Itu Cuma Kado Pernikahan Biasa, Sampai Ia Temukan Benda Ini di Dalamnya
Babak 1 — Kado yang Terlalu Sempurna
Nindya tersenyum kecil melihat gunting perak di tangannya. Ujungnya berkilauan di bawah cahaya lampu ruang makan yang temaram. Suaminya, Pradipta, baru saja menyodorkan kotak hadiah berwarna biru dongker yang dibalut pita emas. Kado pernikahan dari sepupu jauhnya yang tinggal di luar kota. ‘Semoga kalian suka ya,’ kata Pradipta menirukan nada suara sepupunya, sedikit dibuat-buat. Nindya tertawa. Mereka sudah menikah setahun, dan hari ini adalah perayaan kecil mereka berdua saja. Tidak ada pesta meriah, hanya makan malam romantis di rumah, ditemani kado-kado yang mulai menumpuk di sudut ruangan.
‘Ini dari Tante Widi, katanya isinya sesuatu yang bisa ‘menerangi rumah tangga kalian’,’ Pradipta membacakan kartu ucapan yang terlipat rapi. Nindya mengambil kotak itu, merasakan beratnya yang pas di tangan. Desainnya elegan, tidak seperti kado ‘biasa’. Ia menatap suaminya, matanya berbinar antusias. Pradipta balas menatap, senyum lebarnya seolah berkata, ‘Ayo kita buka bersama.’ Nindya mulai menggunting pita emas itu dengan hati-hati. Ia selalu membuka kado dengan rapi, tidak suka merobek kertas pembungkusnya. Itu kebiasaannya sejak kecil, sesuatu yang membuatnya selalu dianggap perfeksionis oleh keluarganya. Termasuk oleh Pradipta.
‘Pelan-pelan, Sayang. Jangan sampai merusak kertasnya,’ ujar Pradipta mengingatkan, nadanya bercampur geli dan sayang. Nindya mengangguk sambil tersenyum, tangannya bergerak lincah mengurai pita dan kertas pembungkus. Ia menemukan sebuah kotak kayu jati yang kokoh di dalamnya. Permukaannya halus, dihiasi ukiran sederhana yang indah. Ini bukan sekadar kotak biasa, ini seperti sebuah mahakarya kecil. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya, terbungkus kain beludru hitam, tergeletak sebuah jam dinding antik. Bentuknya bulat, dengan bingkai kayu gelap dan angka romawi yang elegan. Jarum jamnya ramping, berwarna emas, bergerak pelan dengan bunyi ‘tik-tok’ yang halus, nyaris tak terdengar.
‘Wah,’ Nindya terkesiap. Ia memang suka barang antik. Jam dinding itu terlihat begitu menawan, ukurannya pas untuk dipajang di ruang tamu mereka. Warnanya akan sangat cocok dengan interior rumah baru mereka. ‘Cantik sekali, Mas. Kamu yakin ini dari Tante Widi? Kok kayaknya mahal.’ Ia memandang Pradipta dengan takjub. Pradipta mengangkat bahu, tersenyum misterius. ‘Tante Widi memang punya selera unik. Dulu waktu kecil aku pernah lihat jam seperti ini di rumahnya.’
Nindya mengambil jam itu dari kotaknya. Ada rasa dingin yang terasa saat ia menyentuh permukaannya. Ia membaliknya, mencari tahu apakah ada detail produksi atau merek di bagian belakang. Tidak ada. Hanya kayu polos yang halus. Ia lalu mengembalikannya ke dalam kotak, membungkusnya kembali dengan hati-hati. ‘Aku akan pajang di ruang tamu besok pagi,’ katanya mantap. Malam itu, mereka menyelesaikan makan malam mereka dengan obrolan ringan dan tawa. Nindya merasa hari itu sempurna. Sebuah perayaan kecil yang intim, diisi dengan momen-momen hangat bersama suami tercinta dan kado indah yang membuatnya semakin yakin bahwa rumah tangga mereka diberkahi.
Babak 2 — Suara ‘Tik-Tok’ yang Berubah
Pagi harinya, Nindya bangun dengan semangat. Ia segera menuju ruang tamu setelah sarapan ringan. Jam dinding antik itu sudah menunggunya di atas meja. Ia mengambil beberapa foto dengan ponselnya, ingin dikirimkan ke Pradipta yang sudah berangkat kerja lebih dulu. Sambil memegang ponsel, ia memasang jam itu di dinding yang kosong. Ia menyetelnya, memastikan jarum jamnya bergerak searah. Suara ‘tik-tok’ yang halus kembali terdengar, mengisi keheningan pagi di rumah mereka. Rasanya begitu menenangkan.
Selama seminggu ke depan, jam dinding itu menjadi pusat perhatian. Setiap kali ada tamu datang, Nindya akan bangga menunjukkannya. ‘Ini kado pernikahan dari sepupu suami,’ jelasnya, sedikit membusungkan dada. Pradipta hanya tersenyum melihat antusiasme istrinya. Ia tak pernah bertanya lebih lanjut tentang jam itu, seolah ia pun sama terpesonanya seperti Nindya. Namun, beberapa hari kemudian, Nindya mulai merasa ada yang aneh. Suara ‘tik-tok’ itu, yang awalnya terdengar menenangkan, kini terasa… berirama aneh. Terkadang terdengar lebih cepat, lalu melambat lagi. Seolah jam itu sedang batuk.
‘Mas, jamnya aneh deh,’ kata Nindya suatu sore kepada Pradipta. ‘Kadang bunyinya cepat, kadang lambat. Kayak nggak sinkron.’ Pradipta hanya melirik sekilas. ‘Mungkin baterainya mau habis, Sayang. Nanti aku belikan yang baru.’ Ia lalu kembali fokus pada laptopnya. Nindya mengerutkan kening. Jam antik yang sangat mahal ini menggunakan baterai? Ia tidak yakin. Ia mencoba mengabaikan perasaan aneh itu. Mungkin hanya perasaannya saja. Ia terlalu memikirkan detail kecil. Ia punya kebiasaan buruk itu, selalu menganalisis segalanya hingga ke akar-akarnya, sesuatu yang kadang membuat Pradipta merasa jengah.
Suatu malam, Nindya terbangun karena suara aneh di ruang tamu. Bukan lagi ‘tik-tok’ yang halus, melainkan bunyi seperti goresan benda keras di permukaan kayu. Ia bangkit perlahan, mengendap-endap menuju sumber suara. Jantungnya berdebar lebih kencang. Suara itu datang dari arah jam dinding. Ia mengintip dari balik kusen pintu ruang tamu. Pradipta berdiri di depan jam dinding, memegang sebuah obeng kecil. Cahaya bulan yang masuk dari jendela menerpa punggungnya. Ia terlihat sedang mengutak-atik sesuatu di bagian belakang jam dinding itu. Nindya terdiam. Apa yang suaminya lakukan sepagi ini? Bukankah ia baru saja bilang akan mengganti baterai?
Tiba-tiba, Pradipta menjatuhkan obeng itu. Bunyinya berdentang keras di lantai. Ia terkesiap, lalu segera menoleh ke arah pintu ruang tamu. Matanya melebar. Jelas ia terkejut melihat Nindya berdiri di sana, terpaku. Wajahnya pucat pasi. Sesaat kemudian, Pradipta tersenyum kaku. ‘Eh, Sayang. Kamu sudah bangun?’ katanya, suaranya terdengar sedikit serak. Nindya hanya menatapnya, lalu pandangannya beralih ke jam dinding. Ada sesuatu yang berbeda. Goresan di kayu itu… terlihat seperti sebuah ukiran baru yang belum selesai. Ukiran yang sangat halus, hampir tak terlihat. Ia lalu melihat Pradipta lagi. Wajah suaminya terlihat tegang, dan ia tidak bisa membaca ekspresi di matanya. Ada sesuatu yang disembunyikan.
Babak 3 — Jejak Digital yang Tertinggal
Sejak malam itu, suasana di antara Nindya dan Pradipta menjadi sedikit canggung. Nindya tidak berani bertanya langsung apa yang sedang dilakukan Pradipta di depan jam dinding. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin suaminya hanya sedang iseng memperbaiki sesuatu. Tapi perasaan tidak nyaman itu terus menghantuinya. Ia mulai lebih sering memperhatikan Pradipta. Kebiasaannya yang dulu terasa menggemaskan, kini terasa mencurigakan. Seperti ketika Pradipta sering meminta ponselnya saat ia sedang sibuk, dengan alasan ‘ingin mengecek sesuatu’. Atau ketika ia sering mengunci diri di ruang kerja, padahal biasanya ia paling terbuka.
Nindya mulai mencoba mencari tahu sendiri. Ia kembali melihat jam dinding itu. Ukiran baru yang belum selesai itu… seperti sebuah simbol. Ia mencoba mencarinya di internet. Dengan mengetikkan berbagai kata kunci terkait ukiran kayu, seni ukir, dan simbol-simbol kuno. Ia membuka berbagai website kerajinan tangan, museum digital, forum seni ukir. Berjam-jam ia menghabiskan waktu di depan laptop, mencoba membandingkan ukiran di jamnya dengan gambar-gambar yang ia temukan. Nihil. Tidak ada satupun yang mirip.
Merasa frustrasi, Nindya memutuskan untuk mencoba cara lain. Ia ingat bahwa Pradipta pernah menyebutkan sepupu jauhnya, Tante Widi, memiliki ‘selera unik’. Mungkin Tante Widi tahu sesuatu tentang jam ini. Nindya membuka kontak di ponselnya, mencari nama ‘Tante Widi’. Ia ragu untuk menelepon langsung, jadi ia memilih mengirim pesan singkat melalui WhatsApp. ‘Selamat siang, Tante Widi. Maaf mengganggu. Saya Nindya, istri Pradipta. Saya mau bertanya sedikit soal kado pernikahan kemarin. Jam dinding antik yang Tante berikan… apakah Tante ingat di mana Tante membelinya? Atau ada cerita khusus di baliknya?’
Ia menunggu dengan gelisah. Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba, notifikasi pesan masuk. Tapi bukan dari Tante Widi. Itu dari Pradipta. ‘Sayang, aku lupa bawa charger. Boleh minta tolong bawakan ke kantor? Ada di laci meja belajarkuuu…’ Nindya menghela napas. Permintaan yang familiar. Pradipta memang sering lupa membawa barang. Ia bangkit dari kursinya, berniat mengambil charger di meja belajar suaminya. Saat membuka laci, matanya tertuju pada sebuah buku catatan kecil bersampul kulit. Buku itu tergeletak begitu saja, tidak tertutup rapat. Rasa penasaran mengalahkan keraguannya.
Ia membukanya. Halaman pertama berisi coretan tangan Pradipta, sebuah daftar tanggal dan beberapa angka. Lalu halaman berikutnya… tertera nama ‘Widyawati’. Di sebelahnya, tertera sebuah nomor telepon dan alamat email. Di bawahnya, ada tulisan yang lebih besar: ‘Konfirmasi Pembayaran: $5000’. Nindya membeku. Lima ribu dolar? Untuk sebuah jam dinding? Ia membalik halaman berikutnya. Di sana tertulis detail pesanan: ‘Jam Dinding Ukir Motif Bunga Melati’. Bunga melati? Nindya menatap jam dinding di ruang tamu. Ukirannya jelas bukan bunga melati. Ia lalu membuka aplikasi email di laptopnya, mencoba mencari percakapan dengan ‘Widyawati’. Ditemukan. Subjeknya: ‘Re: Pesanan Spesial’. Ia membuka email itu. Terdapat percakapan antara Pradipta dan ‘Widyawati’ yang membahas tentang modifikasi ukiran jam. ‘Saya ingin ukiran yang… lebih personal, seperti inisial kita berdua,’ tulis Pradipta di salah satu email. Lalu ada balasan dari Widyawati, ‘Tentu saja, Pak Pradipta. Ukiran inisial yang tersembunyi akan memakan biaya tambahan, tapi kami bisa melakukannya.’ Nindya menutup laptopnya perlahan. Tangannya gemetar hebat.
Babak 4 — Pengakuan yang Menyakitkan
Malam itu, Nindya duduk di sofa ruang tamu, menatap jam dinding yang tergantung tenang di dinding. Suara ‘tik-tok’ yang halus kembali terdengar, namun kini terasa seperti detak jantung yang mengkhianatinya. Ia merasakan dingin merayap di sekujur tubuhnya. Ia membuka kembali email-email itu. Tanggal pemesanan jam itu… ternyata hanya beberapa minggu sebelum pernikahan mereka. Dan inisial yang tersembunyi itu… ia melihatnya lagi dengan saksama. Di antara ukiran yang ia kira pola bunga melati, kini ia bisa melihat lekukan halus yang membentuk dua huruf: ‘P’ dan ‘A’. Pradipta dan… Anya? Siapa Anya?
Saat Pradipta pulang kerja, suasana terasa lebih tegang dari biasanya. Nindya tidak menyapanya. Ia hanya duduk diam di sofa, menatap lurus ke depan. Pradipta menyadari ada sesuatu yang berbeda. Ia meletakkan tas kerjanya, mendekat dengan hati-hati. ‘Sayang, kamu kenapa?’ tanyanya lembut. Nindya tidak menjawab. Ia hanya memutar kepalanya perlahan, menatap suaminya dengan tatapan kosong. ‘Siapa Anya, Mas?’ tanyanya, suaranya datar namun tajam.
Wajah Pradipta memucat. Ia terdiam sesaat, seolah mencari kata-kata yang tepat. Lalu ia menghela napas panjang. ‘Anya itu… mantan pacarku,’ katanya lirih. Nindya tertawa getir. ‘Mantan? Tapi kenapa ada inisial kalian di jam ‘kado pernikahan’ ini, Mas? Kenapa kamu pesan jam seharga lima ribu dolar dengan ukiran ‘ Anya’ di belakangnya?’ Ia sengaja menggunakan kata ‘ Anya’ dengan penekanan, mencoba mengorek reaksi suaminya.
Pradipta menunduk. Ia tidak bisa menatap mata Nindya. ‘Aku… aku minta dibuatkan ukiran itu untuk kenang-kenangan. Dulu Anya suka sekali bunga melati. Aku ingin dia selalu ada di rumah ini, meski aku sudah menikahimu.’ Ia berhenti sejenak, mencari kekuatan untuk melanjutkan. ‘Tapi aku menyesal. Aku sadar itu salah. Aku sudah membuang semua barang-barangnya sebelum menikahimu. Aku hanya… ingin punya sesuatu yang tersisa dari masa lalu kami. Sesuatu yang indah.’
Nindya menggelengkan kepala perlahan. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. ‘Sesuatu yang indah? Mas, ini bukan sesuatu yang indah. Ini pengkhianatan.’ Suaranya bergetar. ‘Kamu memberiku kado yang berisi kenanganmu dengan wanita lain? Kamu membiarkanku memajang ini di rumah kita selama berminggu-minggu, mengaguminya, tanpa kamu merasa bersalah sedikitpun?’ Ia berdiri, menunjuk jam dinding itu. ‘Dan Tante Widi? Apakah dia tahu semua ini? Atau dia hanya perpanjangan tanganmu?’ Pradipta terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Wajahnya semakin pucat. Nindya merasa dunianya runtuh seketika. Perasaan cinta dan kepercayaan yang ia bangun selama setahun terakhir hancur berkeping-keping oleh sebuah jam dinding antik.
Babak 5 — Goresan yang Terus Berlanjut
Pradipta mencoba menjelaskan lagi. ‘Nindya, tolong dengarkan aku. Aku benar-benar menyesal. Tante Widi itu hanya perantara. Aku yang memesan ukiran itu. Tapi aku melakukannya tanpa berpikir panjang. Aku tidak bermaksud menyakitimu.’ Ia berusaha meraih tangan Nindya, namun Nindya menarik tangannya dengan kasar. ‘Jangan sentuh aku!’ bentaknya, suaranya pecah karena tangis yang tak tertahankan. Ia berlari menuju kamar mereka, meninggalkan Pradipta yang berdiri terpaku di ruang tamu, di bawah tatapan jam dinding yang seolah mengejeknya.
Di dalam kamar, Nindya duduk di pinggir kasur, menangis sesenggukan. Ia menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding. Wajahnya yang tersenyum saat itu terlihat begitu naif. Ia merasa tertipu. Semua kebaikan, semua perhatian Pradipta selama ini… apakah itu semua hanya kepura-puraan? Apakah ia hanya pelarian setelah hubungannya dengan Anya berakhir? Pikiran-pikiran buruk terus berputar di kepalanya, bagai jarum jam yang tak henti-hentinya berputar, menggerogoti hatinya.
Ia melihat ke arah lemari pakaian mereka. Ia teringat sebuah kotak kecil yang Pradipta simpan di bagian paling atas lemari. Kotak itu berisi barang-barang pribadi Pradipta dari masa lalu, yang ia minta Nindya simpan baik-baik. Nindya teringat, dulu Pradipta pernah berjanji tidak akan pernah ada rahasia di antara mereka. Namun kini, sebuah jam dinding yang ia kira kado spesial telah membongkar kebohongan besar itu.
Perlahan, Nindya bangkit dari kasur. Ia mengambil tangga kecil dari gudang. Dengan tangan gemetar, ia menaiki tangga itu, meraih kotak kecil di atas lemari. Ia membukanya. Di dalamnya, ia menemukan beberapa surat cinta, foto-foto lama, dan sebuah syal rajutan berwarna biru muda. Syal itu terlihat familier. Sangat familier. Nindya teringat. Dulu, saat mereka pertama kali bertemu di sebuah kafe di daerah Senopati, ia sedang duduk di sana sambil membaca buku. Tiba-tiba ada syal biru muda yang terjatuh di pangkuannya. Ternyata itu milik Pradipta, yang kemudian ia ambil untuk mengembalikannya. Dan ternyata… syal itu dirajut dengan motif yang sama persis dengan ukiran di jam dinding. Motif bunga melati yang tersembunyi.
Nindya menatap syal itu, lalu menatap jam dinding di ruang tamu yang terus berdetak tanpa henti. ‘P’ dan ‘A’. Pradipta dan Anya. Semuanya terasa begitu jelas sekarang. Tapi, apakah itu benar-benar akhir dari segalanya? Atau hanya awal dari sebuah cerita yang lebih rumit? Ia menutup kotak itu perlahan. Ia tahu, ia tidak bisa kembali ke rumah tangga yang dulu. Tapi ia juga belum siap untuk pergi. Ia hanya berdiri di sana, di antara serpihan kepercayaan yang berjatuhan, bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Suara ‘tik-tok’ jam dinding itu terdengar semakin kencang, seolah menertawakan kebingungannya.
