Cerita Pengkhianatan: Kenapa Suaminya Tak Pernah Menatap Matanya Lagi Setelah Menerima Amplop Coklat Itu
Babak 1 — Pagi yang Begitu Saja
Reswari merapikan rambut Jatmiko yang sedikit berantakan di tengkuknya. Tangan yang biasanya terampil menjepit dasi atau membetulkan kerah kemeja, kini terasa sedikit gemetar. Ini bukan gemetar karena dingin atau lelah, tapi getaran halus yang tak mampu ia kendalikan. Jatmiko hanya mendengus pelan, matanya masih terpejam, menikmati sentuhan terakhir sebelum kembali terjun ke dunia bising Jakarta. Di luar jendela, fajar masih malu-malu menunjukkan diri, membiarkan lampu jalanan dan neon minimarket di seberang jalan menjadi penerangan utama.
“Jangan lupa makan siang, ya, Mas,” ucap Reswari, berusaha membuat suaranya terdengar ceria, seolah pagi ini sama seperti ribuan pagi lainnya. Ia menyajikan nasi uduk dengan ayam goreng kesukaan Jatmiko, aroma gurihnya menyebar memenuhi dapur kecil mereka. Sejak pindah ke apartemen ini tiga tahun lalu, kebiasaan sarapan bersama menjadi ritual sakral mereka. Rutinitas yang terasa menenangkan, semacam jangkar di tengah lautan kesibukan Jatmiko yang kerap membuatnya pulang larut.
Jatmiko akhirnya membuka mata, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Pasti. Kamu tahu kan, nggak ada nasi uduk seenak buatan Mbak Reswari.” Ia menarik kursi, duduk di hadapan Reswari yang sudah menyodorkan sepiring sarapan lengkap. Reswari tersenyum, merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya, hari dimulai dengan kata-kata manis dan tatapan yang masih bisa ia percaya. Ia mencoba mengabaikan perasaan ganjil yang sejak semalam merayap di dadanya, semacam firasat buruk yang sulit diartikan.
“Hari ini ada rapat penting di kantor?” tanya Reswari sambil menuang kopi untuk Jatmiko. Ia berusaha menjaga percakapan tetap ringan, mengusir bayangan keraguan yang mulai membayang. Ia memang punya kebiasaan buruk ini, mudah sekali merasa cemas berlebihan. Jatmiko mengangguk, menyeruput kopinya. “Ada, tapi nggak akan sampai malam kok. Nanti sore aku coba pulang cepat. Ada… acara yang harus dihadiri nanti malam.” Kalimat terakhir Jatmiko terdengar sedikit ragu, namun Reswari memilih untuk tidak menggali lebih dalam. Mungkin hanya sekadar undangan makan malam klien, pikirnya.
Jatmiko berdiri, mengambil tas kerjanya yang tergeletak di kursi. Ia mengecup kening Reswari sekilas, sebuah gestur yang sudah terasa otomatis baginya. “Aku berangkat dulu ya. Jangan lupa nanti cek email, ada beberapa dokumen yang harus kamu revisi buat proyekku.” Ia mengedipkan mata, lalu melangkah keluar apartemen. Pintu tertutup tanpa suara. Sepi seketika. Reswari berdiri mematung di ambang pintu dapur, memegang cangkir kopi Jatmiko yang masih hangat. Tatapan matanya mengikuti siluet tubuh Jatmiko yang menjauh di lorong apartemen. Ada sesuatu yang berbeda pagi ini, sesuatu yang terasa sangat… berat.
Babak 2 — Sesuatu yang Terselip
Sore menjelang, Reswari masih berkutat dengan laptopnya di meja makan. Revisi dokumen memang bukan hal yang berat, tapi konsentrasinya buyar entah kemana. Sesekali ia melirik jam dinding, menunggu Jatmiko pulang. Pukul empat sore, seharusnya ia sudah bisa menebak jika Jatmiko akan pulang lebih awal. Namun, ponselnya masih sunyi. Pesan singkat dari aplikasi Gojek yang mengabarkan paketnya akan segera tiba menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan apartemen. Reswari memang memesan beberapa buku novel dan beberapa perlengkapan rumah tangga kemarin melalui Tokopedia.
Kurang dari sepuluh menit kemudian, bel apartemen berbunyi. Reswari bangkit, membukakan pintu dengan senyum yang masih sedikit kaku. Seorang kurir berjaket hijau terang berdiri di depannya, menjinjing beberapa kantong belanjaan. “Paket atas nama Reswari?” tanyanya, memeriksa ponselnya.
“Iya, benar,” jawab Reswari, menerima kantong-kantong itu. “Terima kasih ya.”
Ia menutup pintu, lalu mulai membongkar isi kantong. Buku novel yang ia tunggu-tunggu, beberapa sabun mandi, dan… sebuah amplop coklat. Amplop coklat itu tidak ia kenali. Ukurannya lebih kecil dari amplop surat biasa, terbuat dari kertas yang terasa tebal dan sedikit kasar di ujung jarinya. Tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat yang tertulis. Hanya sebuah inisial kecil yang tertera di pojok kiri bawah: ‘R’. Aneh. Sangat aneh.
Jantung Reswari berdetak sedikit lebih cepat. Ini bukan miliknya. Siapa yang akan mengirim amplop coklat tanpa nama pengirim ke apartemennya? Ia mencoba mengingat-ingat lagi, apakah ia memesan sesuatu yang berbeda? Tidak ada. Ia bahkan tidak pernah memesan barang yang membutuhkan amplop seperti ini. Kebiasaannya adalah memesan segala sesuatu melalui aplikasi belanja online, bukan melalui kurir tak dikenal yang mengantarkan amplop misterius.
Tangannya gemetar saat meraih amplop itu. Inisial ‘R’ itu terasa seperti sebuah teka-teki. Siapa R? Apakah ini kesalahan pengiriman? Reswari membolak-balik amplop itu, mencari petunjuk lain, tapi tidak ada. Ia kemudian mengambil pisau kecil dari laci dapur, membukanya dengan hati-hati. Ia selalu membuka surat atau paket dengan rapi, tidak pernah asal merobek. Tepi potongan itu presisi, seolah dibuka oleh seseorang yang terbiasa melakukan itu dengan teliti. Saat amplop itu terbuka, sebuah kartu kecil jatuh ke atas meja. Reswari menelan ludah, lalu mengambil kartu itu. Tertulis di sana sebuah kalimat singkat, ditulis dengan tinta hitam yang elegan.
Babak 3 — Kilas Balik dan Kebenaran yang Dingin
“Selamat ulang tahun, Jatmiko. Semoga kamu selalu bahagia. Istri Sahmu, R.” Kalimat itu terasa seperti pukulan telak yang tak terduga. ‘Istri Sahmu’. Siapa R? Siapa R yang menulis ini dan ditujukan kepada suaminya? Reswari menatap amplop itu lagi, lalu kartu di tangannya. Inisial ‘R’. Jatmiko. R. Sangat jelas. Tapi tidak mungkin. Jatmiko hanya mencintainya. Jatmiko selalu mengatakan bahwa ia adalah satu-satunya wanita dalam hidupnya. Perkataan itu terngiang di telinganya, terasa kini seperti racun yang perlahan menggerogoti.
Reswari duduk lemas di kursi. Ia ingat beberapa bulan lalu, Jatmiko sering pulang terlambat dengan alasan lembur. Ia juga ingat beberapa kali Jatmiko menolak ajakan makan malam bersamanya karena ada ‘urusan mendadak’. Dulu ia memakluminya, memaklumi kesibukan suaminya. Ia bahkan sering mengingatkan Jatmiko untuk menjaga kesehatannya. Kini, semua itu terasa seperti kebohongan yang disusun rapi. Apakah R ini adalah wanita lain yang selama ini ia kenal? Rekan kerja? Atau… teman lama?
Pikiran Reswari berputar liar. Ia mencoba membuka kembali percakapan lama di aplikasi pesan instan mereka, mencari petunjuk yang terlewat. Ia melihat foto-foto pernikahan mereka, senyum bahagia Jatmiko di hari itu. Segalanya terasa begitu nyata. Bagaimana bisa semua itu dibarengi dengan kebohongan yang begitu besar? Ia teringat saat Jatmiko pernah bercerita tentang seorang teman kuliahnya yang dulu sangat ia kagumi, bernama Rengganis. Tapi Rengganis sudah lama menikah dan tinggal di luar kota. Benarkah itu?
Ia membuka aplikasi galeri ponselnya, mencari foto-foto Jatmiko. Ia menemukan beberapa foto Jatmiko bersama rekan-rekan kantornya saat acara gathering perusahaan tahun lalu. Di salah satu foto, Jatmiko berdiri di samping seorang wanita berkerudung ungu, tersenyum lebar. Wanita itu memegang sebuah buket bunga kecil, dan di tangannya terlihat sebuah gelang yang… sama persis dengan yang ia lihat terpasang di pergelangan tangan wanita itu saat ini. Ya Tuhan. Wanita itu ada di sini, di apartemen mereka, mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun untuk suaminya. Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah Jatmiko yang membawanya kemari?
Reswari mencoba menenangkan diri. Ia tahu ia harus mencari tahu kebenarannya, bukan hanya berasumsi. Ia membuka aplikasi GoFood, memesan es teh jumbo untuk menenangkan diri. Sambil menunggu minuman datang, ia membuka aplikasi navigasi di ponselnya, mencari tahu jadwal kereta KRL Commuter Line yang biasa Jatmiko gunakan. Jika Jatmiko memang ada urusan di luar kota, mungkin ia akan melihat jejaknya di sana. Tapi Jatmiko bilang ia hanya lembur, bukan perjalanan luar kota. Semua semakin membingungkan. Semakin ia mencoba mencari jawaban, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Babak 4 — Keberanian yang Dipaksa
Pukul tujuh malam. Jatmiko belum juga pulang. Reswari tidak tahan lagi. Perasaan cemas yang sedari tadi ia coba tepis kini berubah menjadi keberanian yang dipaksa. Ia harus tahu. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia memegang amplop coklat dan kartu ucapan itu. Ia teringat Jatmiko pernah menyebutkan ada sebuah acara penting yang harus ia hadiri nanti malam. Acara apa? Ia tidak pernah bertanya lebih detail. Sekarang, ia punya alasan kuat untuk mencari tahu.
Reswari memutuskan untuk pergi ke kantor Jatmiko. Ia tahu itu mungkin bukan ide terbaik, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia memanggil taksi online melalui aplikasi GoCar. Sopir datang dalam sepuluh menit, mobilnya bersih dan harum. Perjalanan menuju pusat perkantoran Jakarta Selatan terasa panjang dan menegangkan. Reswari terus memandangi kartu ucapan itu, seolah berharap ada keajaiban yang bisa mengubah artinya.
Sesampainya di depan gedung perkantoran tempat Jatmiko bekerja, Reswari merasa sedikit ragu. Ia berdiri di lobi yang megah, merasakan betapa kecilnya ia di tengah kemegahan itu. Resepsionis wanita yang mengenakan seragam rapi tersenyum ramah padanya. “Selamat malam, ada yang bisa dibantu?”
Reswari menarik napas dalam. “Saya… ingin bertemu dengan Bapak Jatmiko. Apakah beliau masih di kantor?” tanyanya, berusaha menyembunyikan kegugupan. Resepsionis itu memeriksa layar komputernya. “Mohon maaf, Bapak Jatmiko sudah tidak berada di kantor sejak pukul enam sore tadi. Beliau ada acara di luar.”
‘Acara di luar’. Kata-kata yang sama yang diucapkan Jatmiko tadi pagi. Hati Reswari mencelos. ‘Di luar’ kemana? Ia kemudian teringat nama seorang rekan Jatmiko yang pernah ia dengar, Wibisono, yang seringkali menjadi rekan diskusinya. Mungkin Wibisono tahu sesuatu. Ia mencari nomor Wibisono melalui kontak Jatmiko yang ia simpan di ponsel, tapi tidak ada. Ia lalu mencoba mencari di media sosial, menggunakan nama Jatmiko dan nama perusahaan. Setelah beberapa pencarian, ia menemukan profil Wibisono.
Ia mengirim pesan singkat kepada Wibisono, dengan sedikit ragu. “Permisi, Mas Wibisono. Saya Reswari, istri Bapak Jatmiko. Apakah Bapak tahu di mana Pak Jatmiko sekarang? Beliau bilang ada acara penting, tapi sampai sekarang belum pulang.” Beberapa menit kemudian, balasan datang. “Malam, Mbak Reswari. Wah, Bapak Jatmiko sedang di acara peluncuran produk baru kita di Ballroom Hotel Grand Ananta. Mungkin sekarang acaranya sudah selesai. Kenapa, Mbak? Ada masalah?”
Hotel Grand Ananta. Ballroom. Peluncuran produk baru. Tiba-tiba semuanya menjadi sangat jelas. Jatmiko berbohong padanya. Dia tidak lembur. Dia tidak ada rapat penting. Dia justru bersama wanita lain, di acara yang mewah. Kartu ucapan itu bukan dari sembarang orang. Itu adalah kartu dari seorang wanita yang tampaknya juga memiliki hubungan istimewa dengan Jatmiko, wanita yang berani menulis ‘Istri Sahmu’. Reswari merasakan dunia berputar. Ia melihat ke arah pintu keluar hotel, kemudian ke arah pintu ballroom yang sedikit terbuka, terdengar suara tawa dan alunan musik samar.
Babak 5 — Di Ambang Perpisahan
Reswari melangkah masuk ke dalam ballroom. Suasana mewah, lampu kristal berkilauan, dan ratusan orang yang lalu lalang membuatnya merasa semakin kecil. Ia berjalan menyusuri sisi ruangan, matanya mencari sosok Jatmiko di antara kerumunan. Dan ia menemukannya. Jatmiko berdiri di tengah sekelompok orang, tertawa lepas. Di sebelahnya, berdiri seorang wanita berkerudung ungu yang sama, yang memegang buket bunga kecil itu. Wanita itu, Rengganis, tersenyum manis sambil menatap Jatmiko. Jatmiko merangkul pinggang Rengganis dengan santai, seolah itu hal yang paling wajar di dunia.
Melihat pemandangan itu, dunia Reswari seakan runtuh. Kartu ucapan itu, inisial ‘R’, semua terangkai menjadi sebuah gambaran yang menyakitkan. Ia teringat semua kebohongan Jatmiko, semua penolakan halus saat ia meminta waktu lebih banyak. Jatmiko tidak hanya berselingkuh, tapi ia seperti terbagi dua. Ada dirinya, ‘istri sah’ di rumah yang ia layani dengan tulus, dan ada Rengganis, wanita yang ia pamerkan di depan umum. Pukulan itu terasa lebih perih dari apapun. Ia ingin berteriak, ingin menghancurkan segalanya, tapi kakinya terasa terpaku di lantai.
Tiba-tiba, Jatmiko menoleh ke arahnya. Matanya membelalak kaget, tawa di wajahnya lenyap seketika. Rengganis mengikuti arah pandang Jatmiko, wajahnya pun menunjukkan ekspresi yang sama. Keheningan tercipta di antara mereka, sebuah momen yang terasa seperti abadi. Reswari tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap Jatmiko, lalu beralih menatap Rengganis. Rengganis terlihat canggung, ia tidak menatap mata Reswari, justru memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia hanya berdiri di sana, tangannya menggenggam erat buket bunga itu, seolah ia juga terjebak dalam situasi yang tidak diinginkan.
Reswari menarik napas panjang. Ia melangkah perlahan mendekati mereka. Jatmiko mencoba memanggil namanya, “Reswari…” tapi suaranya tercekat. Ia tidak membalas panggilan itu. Ia hanya terus menatap Jatmiko, lalu pada Rengganis yang kini mulai menunduk. Di sudut ruangan, seorang pelayan restoran yang tidak sengaja melihat kejadian itu hanya berdiri diam, wajahnya menunjukkan ekspresi datar seolah sudah terbiasa melihat drama seperti ini. Reswari kemudian menatap amplop coklat di tangannya, lalu ke arah Jatmiko. Ia tidak tahu harus berkata apa, ia hanya tahu bahwa pagi ini, sebuah kebenaran yang dingin telah terungkap, dan ia tidak yakin bisa memaafkan apapun yang telah terjadi. Ia berbalik, lalu melangkah keluar dari ballroom itu, meninggalkan Jatmiko dan Rengganis dalam keheningan yang memekakkan telinga. Ia tidak tahu kemana ia akan pergi, tapi ia tahu satu hal, rumah tangganya tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.
