Suaminya Bilang Lembur, Tapi Benda Ini yang Ia Temukan Bikin Semua Runtuh

Suaminya Bilang Lembur, Tapi Benda Ini yang Ia Temukan Bikin Semua Runtuh

CERITA PENDEK

Suaminya Bilang Lembur, Tapi Benda Ini yang Ia Temukan Bikin Semua Runtuh

Babak 1 — Jejak Kopi yang Tak Sesuai

Pukul sembilan malam. Rumah terasa senyap, hanya suara dengung kulkas yang sesekali terdengar. Kalina duduk di sofa ruang tengah, layar laptop masih menyala di pangkuannya, tapi matanya tak lagi fokus pada deretan angka dan grafik. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelan pada lengan sofa, sebuah kebiasaan yang muncul saat pikirannya mulai gelisah.

Mas Dirga bilang akan lembur. Ada proyek besar yang katanya harus dikejar sampai tuntas. Kalina sudah terbiasa. Bagian dari memahami kesibukan suaminya sebagai arsitek yang sedang naik daun. Pesen makan malamnya sudah ia siapkan, bahkan ia sengaja membuatkan kopi kesukaan Mas Dirga—dengan sedikit gula aren dan tanpa ampas, persis seperti yang ia minta.

Sudah lewat jam makan malam. Kalina sudah makan sendiri, tak berminat menghubungi suaminya. Biar saja fokus bekerja. Ia hanya berharap Mas Dirga ingat untuk makan. Sepertinya lebih bijak jika ia menunggu saja sampai suaminya pulang.

Ia bangkit, merapikan beberapa bantal yang sedikit berantakan, lalu berjalan ke dapur. Cangkir kopi yang tadi ia buat masih berdiri tegak di meja, masih hangat. Ia menuangnya ke dalam gelas lain, sedikit lebih kecil. Untuknya. Sejak kapan ia minum kopi di malam hari? Tapi entah kenapa, malam ini ia merasa butuh sedikit dorongan.

Saat memindahkan cangkir, tangannya tak sengaja menyenggol sebuah benda kecil yang tergeletak di sudut meja dapur. Benda itu jatuh ke lantai, menimbulkan bunyi ‘klik’ yang nyaring di keheningan malam.

Sebuah kartu memori. Ukuran mini, seperti yang biasa dipakai di kamera atau ponsel.

Kalina memungutnya. Kartu itu tergeletak di antara remah-remah kerupuk dan serbuk gula yang tak pernah ia bersihkan dengan tuntas. Ia mengerutkan dahi. Ini bukan miliknya. Ponselnya memakai memori internal, kamera digitalnya sudah lama tak terpakai dan memakai memori berukuran lebih besar. Memori ponsel Mas Dirga juga pasti sudah ia cek saat menyalin foto-foto liburan mereka.

Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Ini asing. Sangat asing. Di mana Mas Dirga biasa meletakkan barang-barang kecilnya? Terkadang di laci meja ruang kerja, terkadang di kotak kecil di dekat kunci mobil. Tapi di sudut meja dapur? Bersama remah-remah makanan?

Ia membalikkannya. Tidak ada merek, tidak ada label. Hanya sebuah chip coklat polos.

Ia melihat jam. Hampir pukul sepuluh. Seharusnya Mas Dirga sudah bisa pulang kalaupun lembur. Ia masih punya waktu sebelum suaminya datang, dan rasa penasaran itu mulai merayap, menggelitiknya.

Ia tahu ini salah. Memeriksa barang-barang pribadi suaminya. Tapi entah kenapa, instingnya berteriak ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang janggal.

Kalina mengambil laptopnya lagi, memasukkan kartu memori itu ke slot yang tersedia di pinggir laptop. Jari-jarinya ragu sejenak sebelum mengklik ikon drive baru yang muncul.

Ternyata tidak dilindungi password.

Babak 2 — Kepingan Video yang Membekukan Darah

Layar laptop Kalina dipenuhi deretan folder berisikan foto dan beberapa file video. Semuanya diberi nama yang aneh, kombinasi huruf dan angka acak. ‘IMG_20240515_142301’, ‘VID_20240516_091033’. Biasa saja, banyak orang menamai file mereka seperti itu agar mudah diorganisir.

Tapi satu folder menarik perhatiannya. ‘BISA DIHAPUS’. Judulnya terasa sarkastik. Siapa yang akan menulis judul seperti itu jika memang ingin menghapusnya?

Dengan tangan yang mulai sedikit gemetar, Kalina membuka folder itu. Ada beberapa file di dalamnya. Tiga file video, dan satu file gambar JPEG.

File gambar itu terbuka lebih dulu karena ia tak sengaja mengkliknya. Sebuah foto. Bukan foto pemandangan, bukan foto gedung. Foto wajah. Wajah seorang wanita.

Wanita itu… cantik. Wajahnya asing bagi Kalina. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam panjang tergerai indah. Ia mengenakan gaun biru muda yang terlihat mahal. Tatapan matanya langsung tertuju pada kamera, dengan senyum tipis yang misterius.

Jantung Kalina terasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Siapa ini? Dan mengapa suaminya menyimpan fotonya di folder dengan nama ‘BISA DIHAPUS’?

Ia menelan ludah. Suaranya tercekat di tenggorokan. Ini bukan seperti dirinya. Ia tidak pernah memeriksa ponsel atau laptop suaminya tanpa izin. Ia percaya pada Mas Dirga sepenuhnya. Tapi benda ini… benda ini ada di mejanya, di dapur, tempat di mana ia kadang meletakkan kunci atau dompetnya sekilas.

Dengan jari yang masih gemetar, Kalina mengarahkan kursor ke salah satu file video. Nama file-nya: ‘Kangen_Banget.mp4’.

Ia mengklik dua kali.

Layar laptopnya tiba-tiba dipenuhi wajah yang sama. Wanita di foto itu. Kali ini ia tidak tersenyum. Ia terlihat sedikit… lelah? Ia sedang duduk di sebuah sofa, mungkin di sebuah apartemen mewah. Di belakangnya terlihat pemandangan malam kota yang gemerlap.

“Mas Dirga…” suara wanita itu terdengar serak, seperti baru saja menangis. “Kamu kapan pulang? Aku kangen banget. Sudah tiga hari nggak ketemu. Kamu sibuk terus, ya? Nggak apa-apa kok, aku ngerti. Tapi… jangan lupa sama aku, ya? Aku nungguin kamu di sini. Selalu.”

Video itu terputus tiba-tiba. Kalina terdiam. Ia menatap layar laptopnya, lalu menatap pintu dapur yang terbuka. Bayangan Mas Dirga melintas di benaknya. Senyumnya. Tawa khasnya. Kejujurannya yang selalu ia banggakan.

Tiga hari? Dia bilang proyeknya baru dimulai minggu ini. Itu berarti… saat ia bilang akan ke luar kota untuk survei lokasi proyek baru di Bandung minggu lalu, itu…?

Ia membuka file video lainnya. ‘Sebentar_Lagi_Ya.mp4’. Kali ini terlihat adegan yang berbeda. Wanita itu sedang berada di sebuah mobil, di kursi penumpang. Ia sedang menelepon, tapi suaranya direkam oleh kamera ponselnya sendiri.

“Iya, Mas… Nggak apa-apa kok. Aku tahu kamu pasti nggak bisa ninggalin acara itu. Nanti aja kita ketemuan kalau sudah selesai. …Iya, aku tungguin. Kamu hati-hati di jalan ya, Mas. Love you.”

Kalina merasa napasnya tersengal. ‘Love you’? Kata itu. Kata yang terakhir kali Mas Dirga ucapkan padanya sebelum berangkat kerja pagi tadi. Kalina membalasnya dengan senyum, karena ia selalu percaya. Tapi mendengar kata yang sama diucapkan oleh wanita lain, dengan nada yang begitu… intim… membuatnya merasa seperti tersiram air es.

Kartu memori ini… bukan sekadar ‘asing’. Kartu memori ini adalah bukti. Bukti yang tergeletak begitu saja di meja dapurnya.

Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan Palsu

Kalina menutup folder ‘BISA DIHAPUS’ itu dengan cepat, seolah isinya bisa meluber keluar dan menghantuinya. Ia lalu membuka folder lain, mencari sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan Mas Dirga. Sejak kapan Mas Dirga mulai menggunakan kartu memori ini untuk menyimpan data proyeknya?

Ia membuka folder ‘Proyek Apartemen Kemang’. Banyak file PDF dan gambar denah. Semua terlihat normal. Tapi saat ia membuka salah satu file yang bertuliskan ‘Desain Akhir_K Manor_Revisi 5.pdf’, ia melihat sesuatu yang janggal di metadata file itu.

Tanggal modifikasi terakhir: tiga hari yang lalu. Dan nama user yang memodifikasi: ‘DIRGA_Mobile’.

Ini aneh. Mas Dirga biasanya memakai laptopnya yang terhubung ke jaringan kantor. Jika ia bekerja dari rumah, ia akan menggunakan laptop pribadinya yang sudah terintegrasi dengan cloud kantor. Mengapa ia menyimpan file penting seperti ini di kartu memori eksternal?

Ia mencoba membuka file lain yang bertanggal sama. Semua berbau proyek. Tapi ada satu file yang membuatnya terdiam: ‘Perjalanan Bisnis_Bandung_20240513.docx’.

Ia membukanya. Isinya adalah ringkasan perjalanan dinas Mas Dirga ke Bandung minggu lalu. Jadwal rapat, nama-nama klien, perkiraan biaya. Semua tampak sangat profesional. Tapi di bagian akhir, ada catatan kaki yang ditulis manual:

*“Pertemuan tambahan dengan Ibu Wulan di cafe daerah Dago pukul 14:00. Konfirmasi ulang jadwal dinner di Restoran Cikini pukul 19:00 bersama klien penting.”*

Ibu Wulan? Siapa Ibu Wulan? Dan dinner di Restoran Cikini? Setahunya, Mas Dirga bilang ia harus makan malam sendiri di hotel karena jadwalnya padat.

Kalina mulai membuka aplikasi chat di ponselnya, mencoba mencari percakapan lama dengan Mas Dirga tentang perjalanan Bandung itu. Ia ingat pernah bertanya apakah ia diizinkan ikut, tapi Mas Dirga bilang tidak perlu repot.

“Mas, jadi gimana perjalanan Bandungnya? Lancar? Udah ketemu klien-kliennya?” ia mengetik waktu itu.

Balasan Mas Dirga datang beberapa menit kemudian: “Lancar banget, Sayang. Udah kelar semua. Aku langsung balik kok, nggak nginep. Nanti malem langsung sampai rumah. Kangen.”

Langsung balik? Tapi catatan kaki itu menyebutkan dinner jam tujuh malam. Dan foto wanita itu… ia baru sadar, gaun biru muda yang dikenakannya sangat mirip dengan deskripsi gaun yang sering dibicarakan teman-temannya untuk acara formal. Restoran Cikini itu kan tempat yang cukup prestisius, cocok untuk makan malam dengan klien penting.

Tiba-tiba sebuah ingatan muncul. Beberapa minggu lalu, Kalina pernah menemani Mas Dirga ke acara networking di sebuah hotel di bilangan Senayan. Di sana, ia melihat Mas Dirga berbincang akrab dengan beberapa wanita. Salah satunya, seorang wanita dengan gaun biru muda yang sama persis dengan yang dikenakan wanita di foto itu. Kalina tak begitu memperhatikan saat itu, ia pikir itu hanya kenalan kerja suaminya.

Kenapa ia tidak pernah curiga? Kenapa ia begitu saja percaya?

Ponselnya bergetar. Notifikasi dari aplikasi GoFood. Pesanan makan malamnya sudah sampai. Kalina menatap layar ponselnya, lalu beralih ke kartu memori di laptopnya. Rasa mual perlahan naik ke tenggorokannya.

Ia tidak bisa makan.

Ia tahu harus melakukan sesuatu. Ia harus mengkonfrontasi Mas Dirga. Tapi bagaimana? Dengan bukti ini? Kartu memori yang ia temukan secara kebetulan di meja dapur.

Babak 4 — Kebenaran yang Tersembunyi di Balik Lembaran Kerja

Kalina memutuskan untuk menunggu. Menunggu Mas Dirga pulang. Ia menyusun ulang semua file di kartu memori ke dalam sebuah folder terenkripsi di laptopnya, lalu membuang kartu memori itu ke tempat sampah. Ia tidak ingin melihatnya lagi. Ia ingin menghadapi suaminya dengan kepala dingin, meski hatinya sudah berdarah-darah.

Tepat pukul sebelas malam, suara kunci diputar di pintu depan. Mas Dirga masuk, terlihat sedikit lelah, seperti biasa sepulang kerja.

“Sayang, maaf ya telat banget. Tadi beneran padat banget di kantor,” sapanya sambil meletakkan tas kerjanya di lantai.

Kalina hanya mengangguk. Ia duduk di sofa, menatap suaminya dari kejauhan. Perasaan aneh menyeruak. Pria yang selalu ia cintai, pria yang ia percayai sepenuhnya, kini terlihat seperti orang asing.

“Udah makan?” tanya Mas Dirga sambil menghampirinya, mencoba mengusap rambut Kalina.

Kalina menepis tangan suaminya dengan halus. “Belum.”

Mas Dirga mengerutkan dahi. “Kenapa? Aku kan udah bilang pesen aja. GoFood atau…?”

“Aku nungguin kamu, Mas,” potong Kalina, suaranya datar.

Mas Dirga duduk di sampingnya, tatapan matanya sedikit bingung. “Ya ampun, Sayang. Maaf ya. Lain kali kabarin aja kalau mau ditungguin. Jadi repot kan kamu.”

Ada jeda. Kalina menarik napas dalam-dalam.

“Mas lupa sesuatu ya?” tanyanya pelan.

“Lupa apa?” Mas Dirga balik bertanya, senyum kecil masih tersungging di bibirnya, tapi terlihat sedikit tegang.

“Lupa sama sesuatu yang ada di kartu memori kecil itu?” ucap Kalina, matanya menatap lurus ke mata suaminya. Terlihat sedikit getaran di sudut bibirnya.

Wajah Mas Dirga seketika memucat. Senyumnya lenyap. Matanya membelalak sedikit, lalu ia menunduk, menatap tangannya yang kini dingin di pangkuannya. Kalina tahu ia tidak salah. Kebohongan itu terlihat jelas di ekspresi suaminya.

“Kamu… kamu periksa barangku?” suara Mas Dirga bergetar.

“Aku nemuinnya di meja dapur, Mas. Kamu yang sengaja meletakkannya di sana?” Kalina menahan diri untuk tidak berteriak. Ia ingin semuanya berakhir, tapi ia juga butuh penjelasan.

Mas Dirga menggeleng perlahan. “Nggak… itu… itu bukan… aku…” Ia terdiam, seolah mencari kata yang tepat untuk menyangkal, tapi ia tahu itu sia-sia.

“Siapa dia, Mas?” desak Kalina, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Mas Dirga menghela napas panjang. Keheningan menyelimuti mereka. Suara dengung kulkas terasa semakin keras.

“Dia… dia teman lama, Kal. Teman dari kuliah dulu. Namanya Wulan.” Ia akhirnya berkata, suaranya pelan dan tertahan. Ia masih menunduk, tidak berani menatap Kalina.

“Teman lama? Yang kamu temui diam-diam di Bandung? Yang kamu bilang ‘love you’ sebelum berangkat kerja pagi tadi?” Kalina bertanya, suaranya mulai pecah. Rasa sakit itu menyeruak, menusuknya dalam.

Mas Dirga akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya penuh penyesalan, tapi lebih dari itu, ada kebingungan yang terpancar. “Kalina, dengarkan dulu. Itu… itu rumit.”

“Rumit apanya, Mas? Ini jelas sekali. Buktinya ada di depan mata. Kamu menipuku. Kamu berbohong.”

“Aku tidak bermaksud menipumu… Sebenarnya…” Mas Dirga berhenti lagi, terlihat seperti orang yang terjebak. “Dia itu… dia punya anak. Dan anaknya itu… anaknya sakit parah. Membutuhkan biaya besar.”

Babak 5 — Pilihan yang Tak Terucap

Kalina terdiam. Kata-kata ‘anaknya sakit parah’ menggantung di udara. Ia menatap suaminya, mencoba mencerna informasi baru itu. Apakah ini alasan Mas Dirga yang sebenarnya? Alasan yang ia gunakan untuk menutupi perselingkuhannya?

“Anaknya sakit?” bisik Kalina, suaranya hampir tak terdengar. “Terus hubungannya sama video dan foto-foto itu apa?”

Mas Dirga memejamkan mata sejenak. “Wulan itu… dia sedang dalam situasi yang sangat sulit, Kalina. Dia sendirian. Sangat membutuhkan dukungan. Dia menghubungiku lagi beberapa bulan lalu, cerita soal kondisinya dan anaknya. Aku merasa… kasihan. Aku ingin membantunya.”

“Membantu seperti apa, Mas? Dengan mengiriminya uang? Dengan bertemu diam-diam di Bandung? Dengan bilang ‘love you’?” Kalina menggeleng, air matanya kini mengalir deras. “Kamu pikir aku bodoh, Mas?”

“Bukan itu maksudku!” Mas Dirga mencoba meraih tangan Kalina lagi, tapi Kalina menarik tangannya.

“Terus apa? Apa yang ingin kamu katakan? Bahwa kamu ‘membantu’ dia dengan… memacari dia? Dengan memberinya harapan palsu?”

“Tidak! Aku tidak memacarinya! Aku hanya… memberikan dukungan emosional. Membantunya untuk tidak merasa sendirian. Video-video itu… foto-foto itu… itu semua terjadi saat dia sedang sangat rapuh. Aku hanya ingin dia tahu ada seseorang yang peduli.” Mas Dirga bersikeras, nadanya sedikit meninggi, menunjukkan frustrasinya.

Kalina menatapnya lekat. Ia melihat keputusasaan di mata suaminya. Tapi ia juga melihat kebohongan yang terselubung. Bagaimana ia bisa membedakannya?

“Jadi kamu tidak merasa bersalah sama sekali?” tanya Kalina dingin. “Kamu merasa tindakanmu itu benar? Menemui wanita lain, mengucapkan kata-kata intim, hanya karena ‘kasihan’?”

Mas Dirga terdiam. Ia tidak bisa menjawabnya. Ia tahu ia salah. Ia tahu ia telah melanggar batas. Tetapi ia juga merasa terjebak dalam situasi yang tidak ia duga.

“Aku… aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Kalina,” katanya akhirnya, suaranya serak. “Aku hanya… ingin membuat semuanya baik-baik saja. Untuk semua orang.”

Kalina berdiri dari sofa. Ia berjalan menuju kamar tidur, meninggalkan Mas Dirga yang masih terduduk di sana, dengan ekspresi bingung dan bersalah. Ia membuka laci meja riasnya, mencari amplop yang ia simpan beberapa waktu lalu. Amplop berisi surat lamaran kerja yang ia tolak karena Mas Dirga bilang ia tidak perlu bekerja lagi setelah menikah. Surat itu masih tersimpan rapi.

Ia memegang surat itu. Menatapnya. Apakah ia harus mengambil ‘kesempatan’ itu lagi? Kembali bekerja? Memulai hidupnya sendiri, terlepas dari semua kebohongan ini?

Di luar, suara Mas Dirga memanggil namanya terdengar samar. “Kalina… Kalina, tolong jangan begini…”

Kalina tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, memegang surat lamaran kerja itu, menatap ke luar jendela yang gelap, dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di kepalanya. Apa arti ‘baik-baik saja’ yang sebenarnya? Dan apakah ia masih bisa mempercayai pria yang duduk sendirian di ruang tengahnya itu?