Cerpen: Suaminya Berkeras Lembur, Tapi Struk Belanja di Tas Ini Bikin Semua Runtuh
Babak 1 ā Senyum Pagi yang Diragukan
Prisma melirik jam dinding di ruang tengah. Pukul tujuh lewat tiga puluh. Cahaya matahari pagi sudah cukup terik menerobos celah gorden motif bunga matahari yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Aroma nasi uduk dari warung Mpok Leha di ujung gang tercium samar, beradu dengan wangi kopi yang baru saja ia seduh untuk dirinya sendiri. Suasana pagi ini begitu normal, begitu tenang. Terlalu tenang, malah. Padahal, semalam suntuk ia bergulat dengan perasaan yang tak keruan. Suaminya, Wibisono, menelepon sekitar jam sepuluh malam. Suaranya terdengar lelah, tapi ada nada tergesa-gesa yang janggal. ‘Maaf ya, Sayang. Kayaknya lembur lagi nih. Ada deadline mendadak dari klien. Kamu tidur aja duluan. Nanti aku pulang langsung ke kamar.’ Begitu katanya. Wibisono memang sering lembur, itu bukan hal baru. Pekerjaannya di firma konsultan memang menuntut dedikasi tinggi. Tapi akhir-akhir ini, lembur itu terasa berbeda. Terlalu sering. Terlalu malam. Dan kadang, tanpa penjelasan detail. Prisma berusaha menepis prasangka buruk itu. Ia bukan tipe istri yang gemar curiga tanpa bukti. Ia percaya pada suaminya. Ia percaya pada rumah tangga mereka yang sudah berjalan lima tahun, dibangun dari nol dengan cinta dan saling pengertian. Ia merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan, meneguk kopinya perlahan. Pahitnya kopi seolah mengingatkan pada rasa pahit yang mulai menyelinap di hatinya. Ia beranjak ke kamar tidur, merapikan tempat tidur yang ditinggal Wibisono semalam. Seprainya sedikit kusut di sisi kiri, seolah ada beban yang menindih semalam. Bantalnya masih sedikit berbekas cekungan. Begitu normal. Tapi matanya menangkap sesuatu yang tersembunyi di bawah bantal. Sebuah kartu nama. Awalnya ia tidak terlalu memikirkannya, mungkin terjatuh dari saku Wibisono. Namun, ketika ia membalik kartu itu, sebuah alamat dan nama seseorang tertera di sana. Nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Dan nomor telepon yang terbilang… tidak biasa. Tidak seperti nomor kantor atau nomor rekan kerja Wibisono pada umumnya. Jantungnya berdebar lebih kencang. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Mungkin ini hanya kebetulan. Tapi kebetulan seperti apa?
Prisma berjalan ke arah meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat sedikit lelah, garis halus di sudut mata tampak lebih jelas dari biasanya. Ia menghela napas panjang. Ini cerita rumah tangga yang tidak pernah ia bayangkan akan ia jalani. Ia yang biasanya ceria dan penuh semangat, kini merasa ada awan mendung yang menggantung di atas kepalanya. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia merasa benar-benar tenang saat Wibisono berkata ‘lembur’. Sudah berapa lama rasa nyaman itu hilang? Ia membuka mata, meraih tas kerja Wibisono yang tergeletak di kursi dekat lemari. Tas itu masih berbau sedikit parfum maskulin yang khas milik suaminya. Mungkin ada dompetnya tertinggal? Atau ponselnya? Tapi saat ia membuka ritsleting utama tas itu, matanya tertuju pada sebuah kantong kecil di bagian dalam yang jarang sekali Wibisono gunakan. Biasanya hanya berisi recehan atau struk parkir yang sudah lecek. Kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Tersembul selembar kertas tipis berwarna putih pucat yang tidak kusut sama sekali. Kertas itu tampak baru saja dilipat.
Babak 2 ā Struk Belanja di Kantong Tersembunyi
Perlahan, dengan jari yang sedikit gemetar, Prisma menarik kertas itu keluar dari kantong kecil tersebut. Ternyata itu adalah struk belanja. Bukan struk makanan ringan atau kopi, seperti yang sering ia temukan. Ini adalah struk dari sebuah toko perlengkapan bayi yang cukup terkenal di daerah Kemang. Matanya menyapu setiap detail di struk itu. Tanggalnya tertera jelas: kemarin sore. Pukul empat. Saat Wibisono seharusnya masih berada di kantor, menyelesaikan pekerjaannya. Nama tokonya: āLittle Dream Baby Shopā. Di bawahnya, tertera daftar barang yang dibeli. Susu formula merek X, botol susu Avent, popok newborn ukuran S, selimut bayi motif kelinci, sebuah baju bayi laki-laki berwarna biru muda polos, dan sebuah boneka beruang kecil dengan pita merah muda. Jantung Prisma berdegup semakin kencang, ritme yang tidak karuan. Ia mengulang membaca daftar itu, matanya memindai setiap kata. Susu formula. Popok. Baju bayi. Boneka beruang pita merah muda. Semua itu tidak masuk akal. Siapa yang membeli barang-barang ini? Dan mengapa ada di dalam tas suaminya, di kantong tersembunyi yang bahkan jarang ia periksa?
Ia membolak-balik struk itu, mencari nomor telepon toko atau alamat yang lebih detail. Tidak ada. Hanya daftar barang dan total pembayaran yang cukup fantastis. Ia menatap layar ponselnya, lalu membuka aplikasi belanja online yang biasa ia gunakan. Mencari āLittle Dream Baby Shop Kemangā. Hasil pencarian muncul. Toko itu memang ada. Dan foto-fotonya menampilkan barang-barang yang persis seperti yang tertera di struk. Jari-jarinya bergerak liar di keyboard ponsel, mencari nama Wibisono di daftar kontak. Ia ingin meneleponnya. Ingin bertanya langsung. Tapi bibirnya kelu. Apa yang harus ia katakan? ‘Mas, kamu beli apa kemarin di toko bayi? Kenapa ada struknya di tasmu?’ Kalimat itu terasa konyol, dan juga menakutkan. Ia mencoba mengaitkan ini dengan alasan lembur semalam. Apakah mungkin Wibisono mengurus semua ini saat jam kerja, lalu baru memberitahunya ia lembur karena harus menyelesaikan pekerjaan lain? Tapi kenapa harus disembunyikan? Ada rasa geli yang aneh muncul di perutnya, bercampur dengan mual yang semakin kuat. Ia meletakkan struk itu di atas meja rias, di samping kartu nama yang tadi ia temukan. Dua benda kecil yang membawa kebenaran yang begitu besar.
Babak 3 ā Kebenaran yang Terasa Jauh
Pikiran Prisma berputar tak karuan. Ia mencoba menyusun kepingan puzzle yang hancur. Wibisono lembur semalam. Tapi kemarin sore, ia membeli perlengkapan bayi. Untuk siapa? Mereka belum punya anak. Apalagi punya anak laki-laki dengan boneka beruang berpita merah muda. Kehamilan? Tidak. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda. Mereka sudah mencoba, tentu saja, tapi belum berhasil. Dan jika pun ia hamil, Wibisono tidak akan mungkin melakukan ini tanpa memberitahunya. Terlalu aneh. Terlalu mencurigakan. Ia mengambil ponselnya lagi, kali ini membuka aplikasi pesan singkat. Mencari nama Wibisono. Pesan terakhir mereka adalah ‘Selamat malam, Sayang. Tidur ya.’ sebelum ia pamit lembur. Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. ‘Mas, kamu beneran lembur semalam? Ada kerjaan penting ya?’ Ia menekan tombol kirim. Beberapa menit berlalu tanpa balasan. Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia beralih membuka aplikasi media sosial. Mencari profil Wibisono. Tidak ada postingan baru yang mencurigakan. Foto-foto mereka bersama masih terpajang rapi. Liburan ke Bali tahun lalu, perayaan ulang tahun pernikahan ketiga di restoran Italia di SCBD. Momen-momen bahagia yang terasa begitu jauh sekarang. Tiba-tiba, notifikasi pesan masuk berbunyi. Dari Wibisono. ‘Iya, Sayang. Ada kerjaan penting banget. Kliennya rewel. Kenapa?’ Jawabannya singkat, padat, dan terdengar normal. Tapi Prisma tahu, itu bukan jawaban yang sebenarnya. Rasa dingin menjalar di sekujur tubuhnya. Ia teringat obrolan samar yang pernah ia dengar antara Wibisono dan salah satu temannya beberapa minggu lalu, saat mereka sedang makan malam di luar. Ia tidak terlalu memperhatikan saat itu, tapi ada kata-kata yang terucap seperti ‘situasi sulit’ dan ‘harus dijaga baik-baik’. Ia pikir itu hanya urusan pekerjaan. Ternyata bukan.
Prisma beranjak dari kursi, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Ia merasa seperti sedang berada di sebuah film thriller. Siapa wanita di balik semua ini? Apakah ada anak yang tidak ia ketahui? Atau ini hanya kebohongan Wibisono untuk menutupi sesuatu yang lain? Ia kembali menatap struk belanja itu. Boneka beruang kecil dengan pita merah muda. Mengapa pita merah muda? Bukankah itu untuk bayi perempuan? Ia mencoba berpikir logis. Mungkinkah Wibisono membeli ini untuk hadiah? Untuk siapa? Ia mencoba mengingat siapa saja orang terdekat Wibisono yang mungkin akan memiliki bayi. Adiknya? Sepupunya? Tapi tidak ada yang pernah memberitahunya. Dan mengapa Wibisono harus menyembunyikannya? Prisma teringat tentang kartu nama yang ia temukan tadi. Ia mengambilnya lagi. Nama di kartu itu adalah ‘Sari Ramadhani’. Di bagian bawah tertera ‘Psikolog Anak & Keluarga’. Sari Ramadhani. Jantungnya kembali berdegup kencang. Psikolog anak dan keluarga. Dan kemarin, suaminya membeli perlengkapan bayi. Dua hal itu terasa terlalu berkaitan untuk dianggap kebetulan. Ia membuka aplikasi pencarian di ponselnya, mengetik nama ‘Sari Ramadhani’ dan ‘Psikolog Jakarta’. Ratusan hasil muncul. Ia harus mencari yang paling relevan, yang paling mungkin terhubung dengan Wibisono.
Babak 4 ā Konfrontasi yang Tak Terhindarkan
Setelah beberapa menit mencari, matanya tertuju pada sebuah profil online. Foto seorang wanita tersenyum ramah, dan di bawahnya tertera nama ‘Dr. Sari Ramadhani, M.Psi., Psikolog’. Alamat praktiknya berada di sebuah gedung perkantoran modern di kawasan Kuningan. Jantung Prisma berdegup kencang. Ini pasti dia. Tapi kenapa Wibisono memiliki kartu namanya? Dan kenapa ia membeli perlengkapan bayi kemarin? Prisma merasa seperti detektif dadakan. Ia mencoba mengingat lagi detail percakapan samar yang pernah ia dengar. ‘Harus dijaga baik-baik.’ Kata-kata itu berulang di kepalanya. Ia merasa ada sesuatu yang sangat besar yang sedang terjadi, dan ia adalah orang terakhir yang mengetahuinya. Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Ia akan mendatangi praktik Sari Ramadhani. Bukan untuk menuduh, tapi untuk mencari tahu. Ia berpakaian rapi, mengenakan blus berwarna krem dan celana panjang hitam, lalu mengendarai mobilnya menuju Kuningan. Perjalanan terasa begitu panjang dan menegangkan. Setiap lampu merah terasa seperti siksaan. Ia terus membayangkan berbagai skenario. Mungkin Wibisono sedang membantu seorang klien yang sedang berjuang dengan masalah keluarga? Tapi kenapa sampai membeli perlengkapan bayi? Dan kenapa kartu nama itu terselip di tasnya? Di kantong tersembunyi?
Sesampainya di gedung perkantoran itu, Prisma mencari ruangan praktik Sari Ramadhani. Ia mendaftar di resepsionis, mengatakan bahwa ia ingin berkonsultasi mengenai masalah keluarga. Ia menunggu dengan cemas di ruang tunggu yang didesain minimalis dan tenang. Beberapa menit kemudian, seorang wanita dengan senyum hangat keluar dari salah satu ruangan. ‘Prisma?’ panggilnya. Itu Sari Ramadhani. Prisma berdiri, mencoba mengendalikan napasnya. Ia melangkah masuk ke ruangan praktik itu. Ruangannya tenang, diisi dengan sofa empuk dan beberapa rak buku. Sari Ramadhani mempersilakannya duduk. ‘Ada yang bisa saya bantu, Mbak?’ tanyanya dengan lembut. Prisma menarik napas dalam. Ia mengeluarkan kartu nama dan struk belanja dari tasnya, lalu meletakkannya di meja di depan Sari Ramadhani. ‘Saya menemukan ini di tas suami saya,’ ucap Prisma, suaranya sedikit bergetar. Sari Ramadhani menatap kedua benda itu, ekspresinya berubah dari ramah menjadi sedikit terkejut, lalu berubah menjadi kebingungan yang mendalam. Ia mengambil struk itu, matanya membaca daftar barang. Lalu ia menatap Prisma, matanya berkaca-kaca. ‘Mbak… sepertinya ada kesalahpahaman,’ katanya pelan. ‘Suami Mbak… dia memang tidak lembur semalam.’ Prisma menahan napas. ‘Jadi?’ desaknya, suaranya semakin serak. Sari Ramadhani menghela napas panjang. ‘Suami Mbak datang ke sini kemarin sore. Untuk membeli perlengkapan ini. Bukan untuk dirinya sendiri.’ Sari Ramadhani berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang nyaris tak terdengar, ‘Tapi untuk… anak yang akan diadopsinya.’
Babak 5 ā Awal yang Baru, atau Akhir Segalanya?
Dunia Prisma seolah berhenti berputar. Adopsi? Anak? Kepalanya terasa pening. Ia menatap Sari Ramadhani dengan pandangan tidak percaya. ‘Adopsi? Siapa? Kenapa saya tidak tahu?’ tanyanya, suaranya meninggi. Sari Ramadhani terlihat sangat tidak nyaman. Ia menghindari tatapan Prisma. ‘Mbak… ini adalah proses yang rumit. Suami Mbak… dia sangat ingin membangun keluarga lagi. Setelah… setelah kejadian itu.’ Kejadian itu? Prisma mengerutkan kening. Kejadian apa? Ia mencoba mengingat, adakah peristiwa besar dalam hidup mereka yang mungkin berkaitan dengan keputusan seperti ini. Tapi tidak ada. Ia dan Wibisono selalu terbuka satu sama lain. Setidaknya, ia pikir begitu. ‘Kejadian apa yang Anda maksud?’ tanya Prisma, kini suaranya lebih tenang namun penuh ketegangan. Sari Ramadhani menunduk, memainkan ujung jarinya. ‘Suami Mbak… beberapa tahun lalu, pernah punya anak. Dari hubungan sebelum menikah dengan Mbak. Anaknya… sekarang sudah usia sekolah. Tapi ibunya tidak bisa merawatnya lagi. Suami Mbak merasa bertanggung jawab. Dan dia ingin memastikan anaknya punya masa depan yang baik. Ia berencana untuk membawanya tinggal bersama… jika Mbak mengizinkan.’ Mata Prisma membelalak. Suami saya… punya anak sebelum menikah dengan saya? Dan dia berniat mengadopsinya? Tanpa sepengetahuan saya? Rasanya seperti dihantam palu godam. Semua yang ia yakini tentang Wibisono, tentang rumah tangga mereka, kini runtuh berhamburan. Ia merasa dikhianati, dibohongi, dan dipermainkan.
Prisma bangkit dari duduknya, tangannya terkepal erat. Ia menatap Sari Ramadhani dengan sorot mata yang tajam. ‘Terima kasih atas informasinya, Dokter,’ katanya dingin. Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan praktik itu, meninggalkan Sari Ramadhani yang hanya bisa menunduk. Di luar, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Langit Jakarta yang tadinya cerah kini mulai tertutup awan kelabu. Prisma mengendarai mobilnya tanpa arah yang jelas. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi ia berusaha keras menahannya. Ia tidak ingin menangis di depan umum. Ia ingin pulang. Ia ingin menatap Wibisono dan menuntut penjelasan. Tapi apa yang akan ia katakan? ‘Jadi, kamu punya anak lain dan berniat mengadopsinya tanpa memberitahuku?’ Pertanyaan itu saja sudah cukup untuk membakar jembatan yang tersisa. Ia bertanya-tanya, sudah berapa lama Wibisono menyimpan rahasia sebesar ini. Apakah ini semua hanya kebohongan baru? Atau adakah kemungkinan lain? Mungkin Wibisono memang berniat memberitahunya nanti? Tapi mengapa harus melalui seorang psikolog anak dan keluarga? Prisma menginjak pedal gas lebih dalam. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Rumah tangganya berada di ujung tanduk. Benarkah ini adalah awal dari kehancuran, atau justru awal dari pemahaman yang lebih dalam, meskipun menyakitkan? Ia hanya bisa pasrah pada takdir yang kini terasa begitu kejam.
