Cerita Ini Terungkap Karena Sepotong Kue Tart, Bukan Selingkuh Biasa Tapi Pengkhianatan Lebih Dalam

Cerita Ini Terungkap Karena Sepotong Kue Tart, Bukan Selingkuh Biasa Tapi Pengkhianatan Lebih Dalam

CERITA PENDEK

Cerita Ini Terungkap Karena Sepotong Kue Tart, Bukan Selingkuh Biasa Tapi Pengkhianatan Lebih Dalam

Babak 1 — Kejutan di Pagi Hari

Nindya menyibak tirai kamar dengan gerakan khas yang selalu membuat Jatmiko tersenyum. Gerakan itu bukan sekadar membuka tirai, tapi seperti sedang menyingkap tabir dunia baru setiap pagi. Cahaya matahari Jakarta yang biasanya malu-malu menembus celah gedung apartemen mereka, kali ini datang lebih berani, memantul di permukaan meja marmer tempat Jatmiko terlelap semalam. Di sampingnya, bantal Nindya masih tergelar rapi, dingin. Ia lebih sering memilih sofa ruang tengah ketimbang kamar utama jika Jatmiko pulang larut. Nindya punya cara sendiri untuk tidak ‘mengganggu’, atau lebih tepatnya, tidak membuat Jatmiko merasa terganggu.

Hari ini spesial. Jatmiko berjanji akan meluangkan waktu sarapan bersamanya sebelum berangkat ke kantor. Sesuatu yang langka mengingat kesibukan Jatmiko sebagai manajer proyek di sebuah firma konsultan ternama. Nindya sudah menyiapkan sarapan kesukaan Jatmiko: nasi uduk dengan ayam goreng dan sambal kacang. Aroma gurihnya sudah memenuhi seluruh penjuru apartemen. Ia menata piring dengan hati-hati, memastikan setiap helai daun pisang terlipat sempurna. Perfeksionisme Nindya adalah cacat kecil yang ia miliki, sebuah kebiasaan yang selalu membuat Jatmiko gemas sekaligus sedikit was-was. Apa jadinya jika Nindya menemukan sesuatu yang tidak sempurna?

Ponsel di meja bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi bank tertera di layar. Jatmiko baru saja mentransfer sejumlah uang, nominalnya cukup besar untuk ukuran pengeluaran bulanan mereka, tapi Nindya tidak bisa melihat detailnya karena layar terkunci. Ia tak ambil pusing. Mungkin untuk keperluan kantor. Jatmiko adalah tipe pria yang terbuka soal keuangan, tapi terkadang ada hal-hal yang memang harus menjadi ranah pribadinya. Nindya hanya berharap semua kelancaran finansial ini juga dibarengi dengan kelancaran hati Jatmiko. Akhir-akhir ini, ada aura berbeda dari suaminya. Jarak yang kian terasa, meski mereka tinggal serumah.

“Selamat pagi, Sayang,” sapa Jatmiko dengan suara serak khas orang bangun tidur, masuk ke dapur dengan rambut acak-acakan dan senyum yang terasa sedikit dipaksakan. Matanya terlihat lelah, jauh lebih lelah dari biasanya. Nindya hanya membalas dengan senyum tulus. Ia memutar kursi untuk Jatmiko, lalu menuangkan teh hangat. “Tadi ada transfer masuk dari Mas, ya? Lumayan besar,” ucap Nindya santai, mencoba memecah keheningan yang mulai merayap.

Jatmiko mengangguk pelan, mengambil sepotong ayam goreng. “Iya, buat DP renovasi kantor cabang. Kamu tahu kan, proyek baru ini butuh dana cepat.” Ia mengunyah dengan tanpa antusias. Nindya mengerutkan kening. Ia ingat Jatmiko pernah bercerita tentang proyek kantor baru itu, tapi setahunya dana sudah dialokasikan dan tidak perlu ada DP mendadak. Namun, Nindya memilih diam. Mengungkitnya hanya akan membuat Jatmiko merasa ia terlalu ikut campur. Biarlah. Mungkin ada detail yang ia lewatkan. Ia hanya perlu percaya.

Di tengah sarapan yang terasa canggung, Jatmiko tiba-tiba batuk cukup keras. Ia meraih gelas air minum Nindya, meneguknya sampai habis. Nindya segera menawarkan gelasnya sendiri, tapi Jatmiko hanya menggeleng. “Nggak apa-apa, ini aja.” Tangannya menggapai sebuah kotak kecil di atas meja, kotak yang Nindya tidak ingat pernah ia lihat sebelumnya. Kotak itu terbuat dari karton berwarna coklat polos, ukurannya sekitar telapak tangan orang dewasa. Di atasnya tertulis rapi dengan spidol hitam, “Untuk Nindya. Maafkan aku.”


Babak 2 — Pesan yang Tersembunyi

Jantung Nindya berdebar tak karuan. Jatmiko hanya memandangnya sekilas, lalu buru-buru meraih tas kerjanya. “Aku berangkat duluan ya. Ada rapat mendadak. Nanti aku kabari,” ucapnya terburu-buru, menghindari tatapan Nindya yang penuh tanya. Ia bahkan tidak menunggu Nindya menjawab, langsung melangkah keluar apartemen, meninggalkan Nindya dalam kebingungan yang perlahan berubah menjadi rasa was-was.

Tangannya gemetar saat meraih kotak karton itu. Beratnya terasa pas, bukan seperti berisi barang yang ringan. Ia menarik pelan penutupnya yang direkatkan dengan selotip bening. Isi di dalamnya bukan perhiasan, bukan pula surat cinta. Itu adalah sepotong kue tart. Bukan kue tart sembarangan, tapi sebuah kue tart cokelat premium dengan lapisan keju krim yang terlihat lembut di permukaannya. Di atas kue itu, tertulis dengan icing gula berwarna putih: ‘Happy Anniversary, My Dearest Jatmiko’. Tanggalnya tertera jelas di bawah tulisan itu, tanggal yang sama dengan hari ini.

Anniversary? Nindya mengerutkan dahi. Ulang tahun pernikahan mereka masih dua bulan lagi. Sejak kapan Jatmiko merayakan sesuatu yang belum terjadi? Apalagi ini adalah kue yang jelas-jelas ditujukan untuk suaminya, bukan untuknya. ‘Maafkan aku.’ Tulisan di kotak itu kini terasa menusuk. Jatmiko merasa bersalah untuk apa? Untuk ulang tahun pernikahan yang belum datang? Atau… ada sesuatu yang lain?

Nindya merasa mual. Ia meletakkan kue tart itu kembali ke dalam kotak dengan hati-hati, seolah benda itu bisa meledak kapan saja. Ia mengambil ponselnya, jemarinya bergerak liar mencari kontak Jatmiko. Namun, ia berhenti. Pesan di kotak itu jelas. Jatmiko memintanya memaafkan. Ini bukan pengingat ulang tahun. Ini sebuah pengakuan. Pengakuan dosa.

Ia teringat semalam. Jatmiko pulang sangat larut, lebih larut dari biasanya. Ia bilang ada urusan penting dengan klien di luar kota. Nindya tidak curiga saat itu. Jatmiko selalu jujur soal pekerjaannya. Tapi sekarang, ditambah dengan kue tart dan tulisan di atasnya, segalanya terasa seperti puzzle yang mulai tersusun dengan gambaran yang mengerikan. Siapa ‘My Dearest Jatmiko’ yang dituju kue ini? Siapa yang harus Jatmiko minta maafkan?

Nindya membuka aplikasi GoFood di ponselnya, lalu membukanya lagi. Ia membuka aplikasi Tokopedia, lalu menutupnya. Kebiasaan nervousnya kambuh. Jantungnya berdetak lebih kencang dari irama lagu yang diputar di radio. Ia perlu bukti. Bukan sekadar kecurigaan yang dibangun dari sepotong kue dan tulisan icing yang dingin. Ia perlu tahu siapa pemilik ‘My Dearest Jatmiko’ yang lain di hidup suaminya.


Babak 3 — Jejak Digital yang Menyesatkan

Nindya memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Ia tidak bisa menunggu Jatmiko pulang dan mengaku. Keraguan ini terlalu menyakitkan. Ia mulai dari hal yang paling mudah: ponsel Jatmiko. Untungnya, Jatmiko kadang lupa mengunci ponselnya saat ia sedang terburu-buru. Nindya mengambil ponsel Jatmiko yang tergeletak di atas nakas. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi aplikasi pesan singkat yang baru saja masuk. Namanya… ‘Cahyaningrum’.

Nindya menarik napas dalam. Jantungnya kembali berdebar. Nama itu tidak asing. Cahyaningrum adalah salah satu rekan kerja Jatmiko di proyek kantor baru itu. Mereka sering berkomunikasi, tapi Nindya tidak pernah merasa ada yang janggal. Hingga kini. Pesan terakhir dari Cahyaningrum berbunyi, “Terima kasih untuk semalam, J. Kue-nya jangan lupa disimpan baik-baik ya. Jangan sampai ketahuan Nindya.”

Semalam? Nindya membuka kembali percakapan mereka. Ternyata banyak sekali pesan yang terhapus. Nindya mencoba mencari jejak di aplikasi lain. Ia membuka galeri foto, tapi kebanyakan foto pekerjaan. Tidak ada foto mesra atau hal yang mencurigakan. Namun, Nindya tidak menyerah. Ia membuka aplikasi catatan Jatmiko. Di sana, ia menemukan sebuah entri baru yang diberi judul ‘Rencana C’. Isinya cukup singkat dan mengerikan.

‘Rencana C: Ambil dana dari rekening pribadi, transfer ke rekening Nindya untuk DP renovasi kantor. Bohong soal rapat mendadak. Pesan kue tart lewat aplikasi ojol, dikirim pagi sebelum Nindya bangun. Agar Nindya mengira kue itu memang untuknya. Nanti ambil kotak kosongnya kembali, hapus jejak chat sama Cahya. Kalau Nindya tanya soal uang, bilang untuk kantor. Pokoknya jangan sampai Nindya curiga soal kue tart itu.’

Nindya merasa dunia berputar. Jadi, kue tart itu bukan pengakuan cinta yang tulus, melainkan alat untuk menutupi kebohongan lain. ‘My Dearest Jatmiko’ bukan tulisan untuknya, tapi untuk orang lain. Nindya merasa ditipu mentah-mentah. Ia ingat lagi percakapan sarapan tadi pagi. Jatmiko menyuruhnya memaafkan. Ia tidak salah dengar. Tapi bukan untuk kue tart itu. Tapi karena rencananya yang ceroboh.

Nindya tiba-tiba teringat transfer uang tadi pagi. Duit itu bukan untuk DP kantor. Uang itu pasti untuk membayar ‘layanan’ Cahyaningrum. Ia membuka aplikasi DANA Jatmiko, mencoba login dengan password yang ia tebak. Berhasil. Di riwayat transaksi, ia melihat sebuah transfer keluar ke nomor rekening atas nama Cahyaningrum, dengan deskripsi ‘Pembayaran Jasa’. Jasa apa? Nindya tak mau berani membayangkannya lebih jauh. Ia merasa perutnya semakin mual. Ia duduk terpekur di sofa, memeluk lututnya erat-erat. Ia merasa begitu bodoh.


Babak 4 — Konfrontasi yang Tak Terduga

Nindya memutuskan untuk mengkonfrontasi Jatmiko. Ia harus tahu kebenarannya langsung dari suaminya. Ia mengirim pesan singkat, “Mas, aku di kafe dekat kantor kamu. Ada yang perlu kita bicarakan. Segera.” Ia menunggu jawaban Jatmiko dengan napas tertahan. Selang beberapa menit, ponselnya berdering. Jatmiko menelepon.

“Nindya, kamu kok di sana? Kenapa nggak bilang dulu? Aku lagi sibuk sekali…” suara Jatmiko terdengar panik. “Ada apa penting banget sampai harus ketemu sekarang?”

“Bicara soal kue tart, Mas. Dan soal ‘My Dearest Jatmiko’.” Nada suara Nindya datar, mencoba menahan amarah yang mulai membuncah. Keheningan di ujung telepon terdengar jelas. Jatmiko tidak menjawab.

“Siapa dia, Mas? Siapa Cahyaningrum?” Nindya melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. Ia bisa mendengar suara Jatmiko tercekat. “Mas, jawab aku!”

“Nindya… aku bisa jelaskan…” ucap Jatmiko lirih.

“Jelaskan apa? Jelaskan soal ‘Rencana C’? Jelaskan soal uang DP kantor yang ternyata buat bayar ‘jasa’? Jelaskan soal kamu yang nyuruh aku maafin kamu karena kelakuanmu sendiri?” Nindya memejamkan mata, air mata mulai menggenang. “Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku nggak akan tahu?”

Tiba-tiba, Jatmiko terisak. “Nindya… aku… aku terpaksa.”

“Terpaksa apa, Mas? Terpaksa selingkuh? Terpaksa bohongi aku?” Nindya tertawa getir. “Aku nggak percaya kamu.”

“Bukan, Nindya. Bukan itu. Kamu… kamu punya utang… banyak sekali. Dulu… waktu kamu sakit parah dan harus dirawat di Singapura, aku… aku pinjam uang ke rentenir online. Aku pikir bisa lunas cepat. Tapi ternyata… bunganya berbunga…” Suara Jatmiko semakin parau. “Aku nggak mau kamu tahu. Aku nggak mau kamu stres. Aku… aku diancam. Mereka bilang kalau aku nggak bayar dalam waktu dekat, mereka akan… akan menyakiti kamu.”

Nindya terdiam. Ucapan Jatmiko seperti petir menyambar di siang bolong. Utang? Sakit parah di Singapura? Ia memang pernah sakit parah bertahun-tahun lalu, tapi ia pikir itu semua sudah terbayarkan dari tabungannya sendiri. Ia tidak pernah tahu Jatmiko punya ‘jasa’ seperti itu. Cahyaningrum? Siapa dia sebenarnya dalam hidup Jatmiko?

Di tengah keheningan yang mencekam, pintu kafe tiba-tiba terbuka. Seseorang masuk, mengenakan jaket hoodie dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Orang itu terdiam sejenak, lalu pandangannya tertuju pada Nindya. Nindya mengenalinya. Itu adalah Cahyaningrum. Ia terlihat tidak nyaman, matanya berkaca-kaca. Ia berjalan mendekat ke meja Nindya. Nindya siap menghadapi konfrontasi terburuk. Namun, Cahyaningrum hanya berdiri di sana, menunduk, lalu berbisik pelan, “Maafkan aku, Nindya. Aku… aku tidak punya pilihan lain selain membantu Jatmiko.”


Babak 5 — Kebenaran yang Lebih Menyakitkan

Nindya menatap Cahyaningrum, lalu beralih pada ponselnya yang masih tersambung dengan Jatmiko. Jantungnya berdegup kencang. Jatmiko terpaksa? Terpaksa berhubungan dengan Cahyaningrum? Nindya merasa seperti duniaku runtuh berkeping-keping. Ia yang tadinya marah besar, kini dilanda kebingungan dan rasa iba yang bercampur aduk. Ia melirik Cahyaningrum yang masih berdiri canggung di depannya, matanya sembab, tangannya menggenggam erat ujung jaket hoodie-nya.

“Apa maksudmu, Cahya? Pilihan apa yang kamu tidak punya?” tanya Nindya, suaranya nyaris berbisik. Ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Jatmiko terus terisak di telepon, sesekali terdengar suara aneh di latar belakang, seperti orang sedang berbicara dengan nada mengancam.

Cahyaningrum menggeleng pelan, air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku… aku punya utang lebih besar dari Jatmiko. Jauh lebih besar. Rentenirnya sama. Mereka memaksaku… memaksaku untuk melakukan ini agar utangku bisa lunas lebih cepat. Mereka bilang… mereka akan membeberkan semua data pribadiku ke publik kalau aku tidak bekerja sama dengan mereka. Jatmiko tahu itu. Dia… dia sebenarnya tidak mau aku terlibat, tapi… mereka mengancamku, Nindya. Mengancam akan menyebarkan skandal keluargaku. Dia terpaksa… terpaksa memintaku untuk membantunya menutupi jejaknya agar kamu tidak tahu soal utang dia. Kue tart itu… itu semua hanyalah bagian dari rencana mereka untuk membuat semuanya terlihat seperti perselingkuhan biasa agar kamu tidak curiga pada utang yang sebenarnya.”

Nindya mematung. Ia tidak bisa mencerna semua informasi yang baru saja ia dapatkan. Utang besar, rentenir online, ancaman, keluarga Cahyaningrum, dan Jatmiko yang terpaksa… Ini bukan sekadar cerita pengkhianatan sederhana. Ini adalah jaringan kebohongan dan ancaman yang rumit, di mana semua orang menjadi korban sekaligus pelaku. Nindya merasa sangat lelah. Ia membuka aplikasi GoCar, memesan kendaraan untuk pulang. Ia tidak ingin lagi mendengar suara Jatmiko yang terus meratap di telepon.

Saat ia bangkit dari kursi, Cahyaningrum meraih tangannya. “Nindya, tolong… jangan katakan pada siapa pun soal ini. Aku… aku hanya ingin utangku lunas dan hidupku kembali normal. Jatmiko juga begitu. Kami hanya… terjebak.” Cahyaningrum memohon, tatapan matanya penuh harap sekaligus ketakutan.

Nindya menatapnya sejenak, lalu menarik tangannya perlahan. Ia tidak bisa memberikan jawaban. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kebenaran yang terungkap ternyata jauh lebih menyakitkan daripada kebohongan yang ia bayangkan. Ia melangkah keluar dari kafe, meninggalkan Cahyaningrum yang masih berdiri termangu di ambang pintu. Angin malam Jakarta yang dingin menerpa wajahnya, tapi entah mengapa, Nindya merasa hatinya jauh lebih dingin. Ia pulang ke apartemen yang kosong, ke tempat di mana segalanya dimulai, kini terasa seperti sebuah jebakan yang tak berujung.