Ia Kira Itu Hanya Kartu Ucapan Biasa, Sampai Dibalik Kata-Kata ‘Selamat Ulang Tahun’ Ia Temukan Sebuah Kunci
Babak 1 — Ulang Tahun yang Tak Terlupakan
Senyum Rengganis mematri di bibirnya saat ia memegang kartu ucapan berdesain minimalis itu. Putih bersih, dengan tulisan kaligrafi berwarna emas yang elegan bertuliskan ‘Untuk Rengganis Tersayang’. Ia suka sekali desainnya. Sederhana, tapi terasa mahal. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-32, dan suaminya, Satriyo, selalu punya cara unik untuk membuatnya merasa spesial, meski kesibukan Satriyo sebagai arsitek ternama di Jakarta seringkali membuatnya nyaris tak punya waktu.
“Buka sekarang, Neng. Abis itu kita sarapan nasi uduk Ibu Karti di depan kompleks, aku pesenin dari semalam biar nggak antre,” ujar Satriyo dari ambang pintu kamar, sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Ada sorot mata yang biasanya ia tangkap sebagai kehangatan, tapi kali ini, entah mengapa, terasa sedikit berbeda. Terburu-buru? Atau hanya perasaannya saja?
Rengganis tersenyum, memeluk kartu itu lebih erat. “Makasih banyak, Mas. Senang banget deh. Ini pasti mahal ya?” Ia mengernyit sedikit saat menyadari pertanyaan itu terdengar sedikit… bergantung. Bukan. Itu hanya karena ia tahu betapa kerasnya Satriyo bekerja.
“Jangan pikirin harga, Neng. Yang penting Neng suka. Cepat buka, nanti keburu dingin nasi uduknya.” Satriyo lalu beranjak pergi, mungkin untuk menelepon supirnya, Rahmat, yang selalu siap sedia mengantar jemput. Rengganis menghela napas panjang, mencoba mengabaikan rasa geliat yang aneh di perutnya. Mungkin ia hanya terlalu bersemangat.
Ia kembali memandang kartu itu. Di dalamnya, di balik ucapan selamat yang manis, tertulis kalimat penutup yang membuat matanya menyipit:
“Semoga kamu selalu bahagia, sayang. Jika ada yang kurang, jangan pernah ragu untuk mencari ‘jawaban’ di tempat yang selalu sama. Aku mencintaimu.”
Rengganis mengerutkan dahi. ‘Jawaban’? Tempat yang selalu sama? Aneh. Satriyo bukan tipe orang yang suka bermain teka-teki, apalagi di hari ulang tahunnya. Biasanya, ucapan selamatnya hanya akan berbunyi, ‘Selamat ulang tahun, sayang. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan makin sayang sama aku’. Sederhana, tulus, dan selalu membuatnya merasa dicintai. Tapi kalimat ini… terasa ada sesuatu di baliknya. Ia membolak-balik kartu itu, berharap menemukan penjelasan, tapi tidak ada. Hanya keindahan desain dan tulisan emas itu.
Perasaan tidak enak itu perlahan merayap. Bukan ketakutan, lebih seperti rasa ingin tahu yang bercampur dengan sedikit kecemasan yang tidak beralasan. Ia mencoba mengingat-ingat, apakah Satriyo pernah membicarakan ‘tempat yang selalu sama’ atau ‘jawaban’ semacam ini sebelumnya? Tidak. Satriyo sangat terbuka dengannya, setiap detail kehidupan mereka, mulai dari pengeluaran bulanan hingga rencana masa depan, selalu dibicarakan bersama. Mereka adalah pasangan yang harmonis, kata orang-orang. Pasangan idaman di kompleks perumahan Cendana Asri, tempat mereka tinggal.
Rengganis menutup kartu itu perlahan. Ia beranjak ke meja riasnya, duduk di depan cermin. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Ia memaksakan senyum, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya lelucon kecil Satriyo. Satriyo memang kadang usil. Tapi ia tidak pernah mengesalkan.
“Rengganis, Neng! Ini nasi uduknya sudah datang!” Suara Satriyo memecah lamunannya.
“Iya, Mas! Sebentar!” Rengganis memasukkan kartu itu ke dalam laci meja riasnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan kalimat aneh itu. Hari ini adalah hari spesialnya. Tidak boleh ada pikiran buruk.
Ia mengikuti Satriyo ke ruang makan, tempat sepiring nasi uduk hangat, komplet dengan telur balado dan emping, sudah menanti. Aroma gurih nasi dan bumbu tercium menggoda. “Wah, aromanya saja sudah bikin lapar, Mas,” katanya, mencoba menutupi kegelisahan yang masih tersisa.
Satriyo tersenyum, mengambilkan porsi untuk Rengganis. “Makan yang banyak ya, Neng. Biar sehat dan makin bahagia. Apapun yang terjadi, Mas selalu ada buat Neng.” Kalimat itu, yang biasanya sangat menenangkan, kini terasa seperti ada makna ganda yang tersembunyi. Rengganis hanya mengangguk, mengambil sendoknya, dan mulai menyuap nasi uduk itu dengan perlahan, berusaha keras untuk menikmati sarapan di hari ulang tahunnya.
Namun, di dalam hatinya, sebuah pertanyaan terus berputar: Apa maksud Satriyo dengan ‘jawaban’ dan ‘tempat yang selalu sama’?
Babak 2 — Jejak Tak Terduga
Sore itu, setelah Satriyo berangkat ke kantor di Jakarta Selatan untuk rapat penting yang katanya akan berlangsung sampai malam, Rengganis duduk sendirian di ruang tamu. Cuaca di luar mendung, seperti suasana hatinya yang semakin tak menentu. Ia masih memikirkan kartu ucapan itu. Kalimat ‘tempat yang selalu sama’ terus berputar di kepalanya. Apa maksudnya?
Rasa penasaran itu mulai mengalahkan rasa cemasnya. Ia bangkit, berjalan menuju meja rias di kamar mereka. Jari-jarinya bergerak mencari laci tempat ia menyimpan kartu itu. Ia membukanya, dan benar saja, kartu itu tergeletak di sana, di antara beberapa aksesoris rambut dan serum wajah. Ia mengambilnya lagi, membolak-baliknya, mencoba mencari petunjuk tersembunyi.
Ia membayangkan kemungkinan terburuk, lalu segera menepisnya. Satriyo tidak mungkin… kan? Mereka sudah menikah selama tujuh tahun. Tujuh tahun yang penuh cinta, tawa, dan keintiman. Satriyo adalah segalanya baginya. Pekerjaannya sebagai desainer interior lepas membuatnya banyak berinteraksi dengan berbagai macam orang, tapi ia selalu tahu batasannya. Ia tidak pernah merasa cemburu berlebihan, karena ia percaya pada Satriyo.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul. ‘Tempat yang selalu sama’. Apa mungkin maksudnya tempat yang sering mereka kunjungi? Restoran favorit mereka di daerah Kemang? Taman kota tempat mereka pertama kali berkencan? Atau mungkin… kotak surat di depan rumah mereka? Tidak, itu terlalu konyol.
Rengganis meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi catatan. Mungkin ia bisa menuliskan semua kemungkinan yang terlintas di benaknya. “Tempat yang selalu sama…” Ia mengetik kalimat itu, lalu jeda. Ia teringat betapa Satriyo suka sekali memesan kopi dari kedai kecil di dekat kantornya, kedai yang sama setiap pagi. Tapi itu bukan ‘tempat yang selalu sama’ untuk mereka berdua, hanya untuk Satriyo.
Lalu, ia mengingat sesuatu. Sebuah kebiasaan Satriyo yang mungkin luput dari perhatiannya. Satriyo, beberapa bulan terakhir ini, seringkali membawa pulang map-map proyek. Dokumen-dokumen tebal yang biasanya ia singkirkan begitu saja karena tidak mengerti isinya. Satriyo selalu rapi dalam bekerja, ia akan menyimpan semua dokumen itu di ruang kerjanya, di rak buku yang paling tinggi, di dalam map-map berwarna biru tua.
Rengganis bangkit, berjalan menuju ruang kerja Satriyo yang terasa dingin dan sunyi. Aroma kayu dan kertas menyeruak di udara. Ia menatap rak buku tinggi itu. Ada banyak sekali map di sana. Yang mana yang harus ia cari? Tiba-tiba ia teringat, Satriyo pernah bilang kalau ia menyimpan dokumen-dokumen ‘penting’ di folder berwarna biru dengan label khusus. Tapi ia tidak pernah spesifik memberitahu apa labelnya.
Ia mengeluarkan tangga lipat yang ada di sudut ruangan. Dengan sedikit kesulitan, ia naik. Jantungnya berdebar kencang. Ia mulai memeriksa map-map biru tua itu satu per satu. ‘Proyek Apartemen Senopati’, ‘Renovasi Rumah Pak Wibisono’, ‘Desain Gedung Perkantoran Menteng’… Semuanya terasa seperti pekerjaan Satriyo yang biasa. Tidak ada yang aneh.
Sampai akhirnya, tangannya menyentuh sebuah map yang terasa sedikit berbeda. Di bagian belakangnya, ada stiker kecil berwarna merah. Ia menarik map itu keluar. Label di depannya hanya bertuliskan ‘Dokumen Pribadi’. Tidak ada nama proyek, tidak ada tanggal. Sangat tidak seperti Satriyo yang perfeksionis. Dan di bagian belakang, di sudut yang tertutup stiker merah itu, Rengganis melihat sesuatu. Sebuah nomor seri kecil yang tercetak samar.
Ia menarik map itu lebih dekat. Rasa dingin menjalar di punggungnya. Ada sesuatu di dalam map ini yang tidak seharusnya ada. Ia membuka isi map itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya bukan gambar-gambar denah atau spesifikasi material. Ada beberapa lembar kertas, sebuah kunci kecil berkarat, dan… sebuah foto.
Foto itu menampilkan Satriyo, tapi bukan Satriyo yang ia kenal. Satriyo di foto itu terlihat lebih muda, tersenyum lebar bersama seorang wanita yang tidak ia kenal. Wanita itu memeluk lengan Satriyo dengan mesra, dan di jari manis wanita itu, tersemat cincin berlian. Cincin yang sama dengan yang dipakai Rengganis sekarang.
Babak 3 — Jejak yang Menyesatkan
Dunia Rengganis seakan berhenti berputar. Ia menatap foto itu, lalu ke cincin yang melingkar di jari manisnya, lalu kembali ke foto itu. Jantungnya berdegup kencang, ritmenya kacau, seperti musik yang dimainkan tanpa harmoni. Wanita di foto itu terlihat bahagia, begitu juga Satriyo. Tapi wajah wanita itu… sangat asing. Siapa dia? Dan mengapa ada foto mereka berdua, dengan cincin yang sama, tersimpan di map ‘Dokumen Pribadi’ milik suaminya?
Ia mengambil lembaran kertas yang ada di dalam map itu. Ternyata itu adalah beberapa salinan bukti pembayaran. Bukan pembayaran untuk cicilan rumah atau tagihan kartu kredit. Ini adalah bukti pembayaran untuk sebuah apartemen studio di bilangan Jakarta Pusat, sebuah area yang cukup premium. Pembayaran tersebut dilakukan secara bertahap, dan yang paling mengejutkan, nama di bukti pembayaran itu bukan nama Satriyo. Melainkan nama… ‘Tuan Adi’.
‘Tuan Adi’? Siapa Tuan Adi? Apakah ini nama samaran Satriyo? Tapi mengapa menggunakan nama lain? Dan ‘tempat yang selalu sama’… Apakah maksud Satriyo adalah apartemen itu? Tempat di mana ia mungkin bertemu wanita di foto itu?
Rengganis merasa pandangannya mulai kabur. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Ia harus berpikir jernih. Satriyo pernah menyebut nama ‘Adi’ sebelumnya, beberapa kali. Adi adalah rekan bisnis Satriyo di beberapa proyek properti lama. Tapi mereka tidak terlalu dekat. Sampai kapan ia harus menoleransi kebohongan ini?
Ia teringat ucapan Satriyo pagi tadi: “Apapun yang terjadi, Mas selalu ada buat Neng.” Ucapan yang kini terasa hampa. Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya: diam-diam memeriksa ponsel Satriyo.
Satriyo baru saja pergi, dan ponselnya tertinggal di meja ruang kerja, tergeletak begitu saja. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Rengganis mengambil ponsel itu. Ia mencoba menebak kata sandi. Tanggal lahirnya? Tanggal lahir Satriyo? Nama panggilannya? Nihil. Sampai ia teringat sesuatu. Satriyo pernah bercerita bahwa ia menggunakan kombinasi angka yang paling ia benci saat sekolah dulu. Angka urut absensinya.
Ia mengetikkan kombinasi angka itu. ‘Bip’. Ponsel Satriyo terbuka.
Rengganis merasa bersalah, tapi rasa ingin tahu dan kebutuhan untuk mengetahui kebenaran jauh lebih besar. Ia membuka aplikasi pesan. Aplikasi kontak. Ia mencari nama ‘Adi’. Dan di sana ada. ‘Adi Kusuma’. Beberapa pesan terakhir terlihat sangat singkat, seperti percakapan bisnis.
“Apartemen 1201 sudah siap. Kapan bisa dicek?”
“Minggu depan. Pembayaran tahap akhir akan diselesaikan.”
“Oke. Tolong pastikan semua aman.”
‘Aman’? Aman dari siapa? Dari Rengganis?
Lalu, ia melihat sesuatu yang membuatnya terkesiap. Sebuah foto terlampir di salah satu percakapan. Foto yang sama persis dengan yang ada di map tadi. Wanita itu, memeluk Satriyo, dengan cincin yang sama.
Rengganis tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia segera mengunci kembali ponsel Satriyo dan meletakkannya di tempat semula. Ia kembali ke ruang kerja, mengambil map biru tua itu, dan mengembalikannya ke rak yang paling tinggi. Ia tidak bisa membayangkan Satriyo telah menyembunyikan rahasia sebesar ini darinya selama bertahun-tahun. Dan di hari ulang tahunnya pula ia harus menemukan ini.
Ia kembali ke ruang tamu, duduk di sofa empuk yang biasanya menjadi tempatnya bersantai bersama Satriyo. Sekarang, sofa itu terasa asing. Ia memegang kunci kecil yang ia temukan di dalam map. Kunci apa ini? Kunci apartemen itu? Kunci mobil Satriyo? Atau kunci sebuah kehidupan lain yang tidak ia ketahui?
Ia teringat kalimat di kartu ucapan itu: “Jika ada yang kurang, jangan pernah ragu untuk mencari ‘jawaban’ di tempat yang selalu sama.” Mungkin ‘tempat yang selalu sama’ itu bukan apartemennya. Mungkin ‘tempat yang selalu sama’ itu adalah tempat ini. Di dalam ruang kerja Satriyo, di antara tumpukan dokumen-dokumen kerjanya.
Ia mencoba menyusun kepingan teka-teki. Satriyo adalah arsitek sukses. Sangat sibuk. Apakah ia memiliki kehidupan ganda? Apakah wanita di foto itu adalah istrinya yang lain? Tapi mengapa ia masih mempertahankan Rengganis? Dan apa yang kurang dari dirinya sehingga Satriyo harus mencari ‘jawaban’ di tempat lain?
Tiba-tiba, sebuah ide muncul. ‘Tuan Adi’. Satriyo bilang Adi adalah rekan bisnis. Tapi bukti pembayaran itu menggunakan nama Tuan Adi. Apakah Satriyo sedang menutupi jejaknya? Mungkin apartemen itu dibeli untuk wanita itu, tapi dengan cara disamarkan agar Rengganis tidak tahu. Dan wanita di foto itu… bukan teman atau selingkuhan biasa. Mungkin ia adalah bagian penting dari masa lalu Satriyo yang ia coba lupakan, atau justru ia coba lindungi.
Rengganis teringat lagi pada supir mereka, Rahmat. Satriyo sering menitipkan banyak hal pada Rahmat, termasuk mengantar jemputnya. Apakah Rahmat tahu sesuatu? Apakah ia yang sering mengantar Satriyo ke apartemen itu? Rengganis merasa otaknya bekerja terlalu keras, memutar semua kemungkinan, semua skenario. Ia hanya ingin menangis dan berteriak sekeras-kerasnya.
Babak 4 — Pengakuan yang Menyakitkan
Malam itu, Satriyo pulang lebih larut dari biasanya. Aroma parfumnya yang khas bercampur dengan bau asap kendaraan dari jalanan Jakarta. Ia terlihat lelah, tapi senyumnya tetap tersungging saat melihat Rengganis duduk di ruang makan, menunggunya. Sepiring nasi goreng tersaji di depannya, masih hangat.
“Sayang, kok belum tidur? Mas kira kamu sudah…” ucapan Satriyo terhenti saat melihat tatapan Rengganis. Tatapan yang dingin, penuh luka, dan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan yang membuat jantung Satriyo berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Mas… kita perlu bicara,” ujar Rengganis, suaranya datar, tanpa emosi. Ia sengaja tidak menyentuh nasi goreng itu.
Satriyo meletakkan tas kerjanya, berjalan mendekat. Ia duduk di seberang Rengganis, mencoba tersenyum. “Ada apa, Neng? Kok kayaknya serius banget?”
Rengganis tidak membalas senyumnya. Ia menarik napas panjang, lalu mengeluarkan kartu ucapan dari saku gamisnya. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di depan Satriyo.
“Ini… punya Mas, kan?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
Satriyo melihat kartu itu, lalu menatap Rengganis dengan bingung. “Iya, sayang. Buat Neng. Kamu suka kan?”
“Suka banget. Apalagi bagian ini.” Rengganis menunjuk kalimat terakhir. “‘Jika ada yang kurang, jangan pernah ragu untuk mencari ‘jawaban’ di tempat yang selalu sama.’” Ia jeda sejenak, matanya tak lepas dari mata Satriyo. “Tempat yang selalu sama itu… apartemen di Jakarta Pusat yang Mas bayar atas nama Tuan Adi itu, ya?”
Wajah Satriyo berubah pucat pasi. Matanya melebar, napasnya tercekat. Ia seperti tertangkap basah, tanpa bisa membantah. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Hanya detak jam dinding yang terdengar.
“Kamu… kamu tahu dari mana?” Satriyo bertanya, suaranya serak.
Rengganis tersenyum getir. Senyum yang seharusnya hanya ada di film-film drama. “Mas pikir aku sebodoh itu? Aku menemukan map-nya di ruang kerja Mas. Foto itu… siapa dia, Mas?” Ia meletakkan foto wanita yang memeluk Satriyo, tepat di sebelah kartu ucapan itu. “Dan kenapa di jari manisnya ada cincin yang sama dengan punyaku?”
Satriyo menunduk, tidak berani menatap mata Rengganis. Tangannya terkepal erat di atas meja. Ia menghela napas panjang, seperti orang yang baru saja selesai berlari maraton. “Neng… ini… ini bukan seperti yang Neng pikirkan.”
“Oh ya? Lalu seperti apa? Jelaskan Mas! Jelaskan kenapa Mas menyembunyikan ini dariku selama ini! Jelaskan siapa wanita itu!” Suara Rengganis mulai meninggi, emosinya yang tertahan mulai meledak.
Satriyo akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya merah, tapi bukan karena marah. Itu adalah tatapan seorang pria yang terpojok, putus asa, dan penuh penyesalan. “Wanita itu… namanya Laksmi. Dia… tunanganku dulu. Sebelum aku bertemu Neng.”
Rengganis terdiam. ‘Tunangan?’. Ia tidak pernah mendengar nama itu.
“Kami sudah bertunangan waktu aku masih kuliah. Kami berencana menikah setelah lulus. Tapi… orang tuaku bangkrut. Aku terpaksa berhutang banyak. Aku harus bekerja keras untuk melunasi semua itu. Dan… Laksmi… dia tidak kuat menghadapi kesulitan itu. Dia pergi.” Satriyo jeda, menelan ludah dengan susah payah. “Aku sudah melunasinya bertahun-tahun lalu. Apartemen itu… itu warisan dari orang tuaku yang dulu terpaksa kami jual saat krisis. Aku membelinya kembali untuk dia. Dia… dia adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Ibunya sakit keras, dan dia tidak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak bisa membiarkannya hidup susah.”
“Jadi… kamu berbohong padaku selama ini?” Rengganis bertanya, suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Tentang semuanya? Tentang ‘Tuan Adi’? Tentang semua pengeluaran itu?”
“Aku tidak tahu harus bagaimana, Neng. Aku takut Neng akan meninggalkanku jika tahu masa laluku yang kelam. Aku takut Neng akan merasa aku tidak pantas untukmu. Aku… aku mencintai Neng lebih dari apapun. Aku hanya ingin melindungi kebahagiaan kita.” Satriyo meraih tangan Rengganis, tapi Rengganis menariknya dengan kasar.
“Melindungi kebahagiaan kita? Dengan cara berbohong? Dengan cara menyembunyikan seorang wanita yang masih kamu sebut ‘tunanganmu’? Mas, aku bukan anak kecil. Aku berhak tahu. Dan cincin itu… kenapa cincinnya sama?”
Satriyo menatap cincin di jari Rengganis. “Cincin itu… itu cincin peninggalan nenek buyutku. Dulu, aku memberikan itu pada Laksmi sebagai tanda pertunangan. Setelah dia pergi, aku mengambilnya kembali. Aku berniat memberikannya pada wanita yang akan menjadi pendamping hidupku kelak. Dan itu… itu adalah Neng.” Ia menatap Rengganis dengan tatapan memohon. “Aku tidak pernah mencintai siapapun selain Neng. Laksmi… dia hanyalah masa lalu yang harus aku urus. Aku janji, aku tidak akan pernah lagi menyembunyikan apapun darimu.”
Rengganis menatap Satriyo. Air mata mengalir di pipinya. Ia melihat keputusasaan di mata suaminya. Ia melihat penyesalan yang mendalam. Tapi ia juga melihat sebuah pengkhianatan yang begitu besar. ‘Tempat yang selalu sama’… itu adalah tempat di mana ia bisa kembali bertemu dengan masa lalunya yang belum sepenuhnya ia lepaskan.
Babak 5 — Di Persimpangan Jalan
Keheningan kembali menyelimuti ruang makan. Rengganis menatap Satriyo, lalu menatap kartu ucapan dan foto yang masih tergeletak di atas meja. Kata-kata Satriyo berputar di kepalanya, seperti kaset rusak. Tunangan lama. Hutang keluarga. Warisan yang dibeli kembali. Semua terdengar seperti alasan yang berusaha menutupi kebenaran yang lebih menyakitkan: Satriyo tidak sepenuhnya jujur kepadanya.
Ia melihat Satriyo yang terdiam, wajahnya memelas, penuh harapan yang tertahan. Pria yang ia cintai, pria yang membangun rumah tangga bersamanya selama tujuh tahun. Pria yang kini berdiri di depannya dengan luka tersembunyi yang dalam. Ia bisa melihat rasa bersalah yang begitu besar di mata Satriyo, tapi juga rasa takut yang tak kalah besar. Takut kehilangan Rengganis.
“Jadi… semua ini… hanya karena Mas takut aku akan meninggalkannya?” Rengganis bertanya, suaranya sudah kembali tenang, namun terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Satriyo mengangguk pelan. “Aku tidak ingin kehilangan Neng. Neng adalah segalanya bagiku.”
Rengganis menarik napas panjang. Ia mengambil kartu ucapan itu, dan foto Laksmi. Ia melipat foto itu dengan rapi, lalu memasukkannya kembali ke dalam map biru tua. Kunci kecil itu ia genggam erat di telapak tangannya, terasa dingin. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan kunci itu.
“Mas,” Rengganis memulai lagi, “Aku… aku tidak tahu harus percaya yang mana lagi. Mas bilang Mas mencintaiku. Mas bilang aku segalanya. Tapi kenapa Mas tega membuatku meragukan segalanya yang sudah kita bangun bersama? Kenapa Mas tidak pernah berpikir untuk bicara jujur sejak awal?”
“Aku… aku salah, Neng. Aku sangat salah.” Satriyo menatap lantai, tidak sanggup lagi menatap wajah Rengganis yang penuh kesedihan.
Rengganis menghela napas. Ia melihat piring nasi goreng yang sudah mendingin di depannya. Ia tidak punya nafsu makan sama sekali. Pernikahan mereka, yang ia kira kokoh bagai baja, ternyata memiliki retakan tersembunyi. Dan ia baru saja menemukan retakan itu.
“Aku… butuh waktu, Mas,” ucapnya lirih. Ia bangkit dari kursinya, meninggalkan Satriyo yang masih tertunduk. Ia berjalan menuju kamar mereka, menutup pintu perlahan di belakangnya.
Di dalam kamar, ia duduk di tepi ranjang. Jemarinya membuka kembali map biru tua itu. Ia mengeluarkan kunci kecil itu lagi. Apa yang harus ia lakukan dengan kunci ini? Mengembalikan kunci itu ke Satriyo? Atau… pergi ke apartemen itu dan melihat sendiri ‘jawaban’ yang tersembunyi di sana? Ia memandangi cincin berlian di jarinya. Cincin yang sama dengan yang pernah dipakai Laksmi. Cincin yang kini terasa berat, simbol dari sebuah kebohongan yang besar.
Pagi sudah mulai menjelang. Cahaya matahari mulai menembus celah tirai jendela, namun bagi Rengganis, kegelapan masih menyelimuti hatinya. Ia memegang erat kunci itu. Ia tahu, keputusannya akan menentukan masa depan rumah tangganya. Tapi saat ini, ia hanya merasa kosong. Seperti rumah yang baru saja ditinggalkan penghuninya, menyisakan jejak-jejak kenangan yang kini terasa pahit.
Ia melirik ponselnya. Tertera nama ‘Rahmat’ di layar. Supir mereka. Satriyo sering menitipkan pesan pada Rahmat. Apa Rahmat tahu tentang apartemen itu? Apa Rahmat pernah mengantarnya ke sana? Pikiran Rengganis berpacu liar. Mungkin, ia harus bicara dengan Rahmat. Mungkin Rahmat bisa memberinya sedikit gambaran. Tapi apakah ia siap mendengar lebih banyak lagi?
Ia memejamkan mata, mencoba mencari kekuatan. Pintu di depan matanya kini terbelah menjadi dua jalan. Satu jalan menuju perbaikan, dengan kejujuran yang menyakitkan. Satu jalan lagi menuju kehancuran, dengan luka yang mungkin takkan pernah sembuh. Dan di tangan Rengganis, tergeletak kunci kecil yang bisa membuka salah satu dari pintu itu.
