Kisah Perawat Cantik yang Terjebak Cinta Segitiga Akibat Struk Parkir Tak Terduga
Babak 1 — Aroma Kopi dan Kebohongan yang Tercium
Gendis menuang air panas ke dalam cangkir keramik bergambar kucing kesayangannya. Uap mengepul, membawa aroma kopi instan yang pekat, sedikit mengaburkan pandangannya. Tangannya sedikit bergetar saat memegang gagang cangkir. Sudah seminggu ini ia merasa ada yang janggal. Bukan dari suaminya, Tegar, yang biasanya selalu pulang tepat waktu setelah jaga malam di rumah sakit. Tegar adalah perawat, profesinya menuntut jadwal yang tak menentu, tapi ia selalu punya cara untuk memberi kabar. Namun, beberapa hari terakhir, kabar itu terasa… berbeda. Lebih singkat, lebih datar. Seolah ada tembok tak terlihat yang mulai dibangun di antara mereka.
Pagi itu, Gendis memutuskan untuk membereskan mobil Tegar yang terparkir di garasi. Ia tidak sedang curiga, lebih kepada niat baik membersihkan remah-remah makanan ringan yang mungkin tertinggal, atau sekadar merapikan botol minum yang berserakan. Garasi rumah mereka yang sempit di kawasan Cinere itu seringkali terasa sumpek, apalagi saat matahari siang mulai menyengat. Ia membuka pintu penumpang, meraih sapu kecil dan pengki dari bagasi. Matanya menyapu sudut-sudut jok, mencari celah yang mungkin kotor. Tiba-tiba, sesuatu terselip di antara jok dan konsol tengah menarik perhatiannya. Bukan kuitansi belanjaan biasa, bukan juga struk ATM. Benda itu terlipat rapi, sedikit kaku.
Ia menariknya keluar. Sebuah struk parkir. Jelas, garasi itu bukan tempat biasa menemukan struk parkir. Tapi yang membuat jantungnya berdebar lebih kencang adalah detail di struk itu. Tertulis jelas: ‘Grand City Mall’. Tegar tidak pernah bercerita pergi ke mall selama seminggu terakhir. Ia bilang selalu langsung pulang dari rumah sakit, lalu terlelap karena kelelahan. Struk itu tercetak tanggal dua hari lalu, jam 22.17 WIB. Di jam segitu, Tegar seharusnya sudah sampai di rumah, atau setidaknya sedang dalam perjalanan pulang. Gendis mencoba mengingat-ingat. Apakah Tegar pernah menyebutkan ada urusan mendadak di area Jakarta Selatan? Tidak. Sama sekali tidak.
Ia memegang struk itu dengan kedua tangan, jari-jarinya terasa dingin. Aroma kopi di tangannya seakan menguar lebih tajam, bercampur dengan bau anyir dari kecurigaan yang mulai merayap. Gendis menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Mungkin saja Tegar pergi membeli sesuatu untuknya? Atau ada keperluan mendadak lain yang lupa ia ceritakan? Logika itu berusaha menenangkan gejolak di dadanya, namun ada sesuatu yang terasa salah. Ia melipat kembali struk itu, memasukkannya ke dalam saku celana rumahnya, dan melanjutkan membersihkan mobil dengan gerakan yang kini terasa kaku. Kopi di cangkirnya sudah dingin, tapi ia tidak punya selera untuk meminumnya.
Babak 2 — Ruang Tunggu yang Terlalu Sunyi
Hari itu jadwal Gendis lebih ringan. Ia bertugas di poliklinik rawat jalan, bukan UGD yang selalu penuh drama. Pukul sebelas siang, ia duduk di ruang tunggu poliklinik, menunggu giliran salah satu pasiennya. Suasana di sana biasanya ramai, diisi suara batuk, tangis anak kecil, dan obrolan pelan keluarga pasien. Namun hari ini, entah mengapa, terasa sepi. Hanya ada beberapa orang yang duduk berjauhan, sibuk dengan ponsel masing-masing. Gendis membuka dompetnya, mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi Gojek, berniat memesan GoFood untuk makan siangnya nanti. Namun, niat itu terhenti saat jarinya tanpa sadar membuka folder galeri foto.
Ia tidak sengaja membuka foto-foto lamanya bersama Tegar. Foto liburan pertama mereka ke Puncak, foto wisudanya yang dihadiri Tegar dengan bangga, foto perayaan ulang tahun mereka. Senyum Tegar di foto-foto itu begitu lepas, matanya berbinar. Ia ingat betul bagaimana Tegar selalu gemas memeluknya dari belakang saat ia sedang tertawa di depan kamera. Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan muncul di layar. Dari Tegar. Jantungnya sedikit berdetak lebih cepat. Ia membuka pesan itu.
‘Sayang, nanti sore jemput ya. Aku di Grand City Mall, mau beli sesuatu.’
Gendis terdiam. Matanya terpaku pada layar ponsel. Grand City Mall. Jantungnya berdetak lebih cepat lagi, bukan karena senang, tapi karena debaran yang tak beraturan. Struk parkir itu. Pukul 22.17 WIB. Pesan ini dikirim jam 10.30 pagi. Kenapa Tegar mengiriminya pesan ini sekarang, seolah-olah ia baru saja memutuskan untuk pergi ke mall, padahal struk parkirnya menunjukkan ia sudah ada di sana dua hari lalu di malam hari? Kebingungan mulai merayap, bercampur dengan rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia membalas pesan itu dengan singkat, ‘Oke.’
Ia merasa sedikit mual. Ia beranjak dari kursi, berjalan menuju toilet. Di depan cermin, ia menatap pantulan wajahnya. Matanya terlihat sedikit cekung, bibirnya pucat. Ia mengusap lengannya. Ini bukan perasaannya saja. Ada sesuatu yang jelas-jelas disembunyikan Tegar. Tapi apa? Dan kenapa ia harus berbohong tentang pergi ke mall? Struk parkir itu terasa panas di sakunya. Ia tidak bisa mengabaikannya lagi. Kebingungan yang tadinya diam-diam menggerogoti, kini berubah menjadi ketakutan yang nyata.
Babak 3 — Jalan Tikus di Tengah Kemacetan
Sore itu, Gendis memutuskan untuk tidak langsung pulang setelah jam kerjanya usai. Ia memarkir mobilnya agak jauh dari gerbang rumah sakit, di pinggir jalan yang cukup ramai. Ia tidak ingin Tegar curiga jika ia langsung menuju mall. Ia duduk di dalam mobil, memperhatikan lalu lintas Jakarta yang seperti biasa, padat merayap. Ia membuka aplikasi peta di ponselnya, mencari ‘Grand City Mall’. Jaraknya sekitar lima belas kilometer dari rumah sakit, biasanya ditempuh dalam waktu satu jam jika lalu lintas normal. Tapi sekarang, jam menunjukkan pukul empat sore. Kemacetan pasti lebih parah.
Ia teringat saat pertama kali mereka pacaran. Tegar selalu pandai mencari jalan alternatif, bahkan di tengah kemacetan Ibu Kota yang legendaris. Ia pernah sekali diajaknya melewati gang-gang sempit yang bahkan tidak tertera di peta, hanya untuk menghemat waktu sepuluh menit. Gendis tersenyum getir membayangkannya. Senyum itu cepat memudar. Apakah Tegar melakukan itu lagi? Melalui jalan yang tidak ia ketahui?
Ia keluar dari mobilnya, memutuskan untuk naik GoCar saja. Setidaknya ia bisa lebih leluasa memperhatikan jalan dan sesekali bertanya pada driver. Ia memesan GoCar, dan tak lama kemudian sebuah mobil Avanza hitam berhenti di depannya. Gendis masuk, tersenyum pada driver yang tampak ramah. “Grand City Mall, Mas,” katanya. Sang driver mengangguk, lalu membuka aplikasi peta di ponselnya. “Wah, macet parah ini Mbak di jalan utama. Lewat jalan kecil saja ya? Lumayan bisa ngebut dikit.”
Gadis mengangguk. Ini dia. Jalan yang ia tunggu. Saat mobil mulai memasuki jalan-jalan yang semakin sempit, melewati perkampungan padat penduduk dan pertokoan kecil yang ramai, Gendis mulai merasa gelisah. Ia memperhatikan setiap detail. Bau masakan tercium dari rumah-rumah, suara anak-anak bermain, tawa tetangga yang menyapa dari jendela. Ini adalah Jakarta yang asli, yang jarang dilihat orang-orang yang terbiasa hanya melewati jalan protokol.
Ia mengeluarkan struk parkir dari sakunya lagi. Dibaca detailnya. Tanggal, jam, nomor struk. Ia mencoba mencocokkan dengan ingatan samar tentang tanggal berapa ia merasa Tegar pulang terlalu larut malam, atau kapan ia merasa Tegar sedikit menjauh. Tiba-tiba, sebuah nama terlintas di benaknya. ‘Rengganis’. Salah satu perawat junior di rumah sakit tempat Tegar bekerja. Mereka cukup dekat, sering terlihat mengobrol saat istirahat. Gendis tidak pernah merasa terancam, Rengganis terlihat lugu dan baik-baik saja. Tapi sekarang, nama itu muncul seperti sebuah petunjuk yang mengerikan. Apakah Tegar pergi ke mall bersama Rengganis?
Babak 4 — Pertemuan di Tempat yang Salah
Mobil GoCar akhirnya tiba di area parkir Grand City Mall. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Matahari mulai terbenam, menyisakan semburat oranye di langit Jakarta yang masih diselimuti polusi. Gendis membayar ongkos GoCar, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar. Ia menuju area parkir, berusaha mencari tempat yang sama dengan yang tertera di struk. Di dekat pintu masuk, ia melihat papan penunjuk arah. Area Parkir B1. Gendis berjalan masuk, matanya menyapu nomor-nomor parkir yang berjejer. Ia berhenti di dekat pilar bernomor 17. Ia ingat, nomor di struk itu 17.
Di dekat situ, sebuah mobil Avanza hitam terparkir rapi. Bukan mobil Tegar yang jenisnya Xenia. Tapi entah mengapa, bayangan mobil di struk itu terlintas lagi. Ia berjalan mengitari area parkir, mencari sesuatu yang berbeda. Ia melihat sebuah mobil sedan berwarna putih mutiara, diparkir agak miring, seolah buru-buru diparkir. Jendela samping pengemudi tidak tertutup rapat. Gendis merasa ada dorongan kuat untuk mendekat. Ia berjalan pelan, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Saat ia semakin dekat, ia bisa melihat siluet dua orang di dalam mobil itu. Satu laki-laki, satu perempuan. Laki-laki itu terlihat menyandarkan kepalanya di jok. Perlu waktu beberapa detik bagi mata Gendis untuk beradaptasi dengan cahaya minim di area parkir itu. Lalu, ia mengenali postur tubuh sang laki-laki. Tegar. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Dan perempuan di sebelahnya… rambut hitam panjang tergerai, wajahnya menghadap ke arah Tegar. Gendis merasa lemas. Ia tidak bisa salah. Itu Rengganis.
Tegar terlihat membisikkan sesuatu di telinga Rengganis. Rengganis tertawa pelan, lalu merangkul lengan Tegar. Gendis tertegun. Ia tidak pernah membayangkan ini. Tegar, suaminya, pria yang selalu ia percaya, sedang berduaan di dalam mobil dengan wanita lain, di tempat yang seharusnya menjadi saksi bisu kebohongan mereka. Ia ingin berteriak, ingin menangis, ingin menghancurkan segala sesuatu di depannya. Tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah desahan pelan. Ia mundur perlahan, kakinya terasa berat seperti diangkat dari lumpur.
Tiba-tiba, Rengganis menoleh ke arahnya. Matanya membelalak kaget, seolah baru saja melihat hantu. Wajahnya pucat pasi. Tegar juga ikut menoleh, ekspresinya berubah dari santai menjadi panik dalam sekejap. Ia seperti tertangkap basah. Gendis hanya bisa berdiri terpaku, menatap mereka berdua dengan pandangan kosong. Kehangatan kopi pagi itu kini terasa seperti luka bakar yang mendalam di hatinya.
Babak 5 — Pertanyaan Tanpa Jawaban
Gendis tidak pernah sampai ke depan mobil sedan putih itu. Begitu mata Rengganis bertemu dengannya, Gendis berbalik dan berlari. Ia berlari tanpa tujuan, keluar dari area parkir, menembus keramaian mall yang justru terasa semakin asing baginya. Ia tidak peduli pada pandangan orang-orang yang melihatnya terburu-buru dengan wajah basah oleh air mata. Ia hanya ingin menjauh. Menjauh dari kebohongan, dari pengkhianatan, dari wajah Tegar yang panik itu.
Ia akhirnya sampai di pinggir jalan, di depan mall yang ramai. Ia tidak tahu harus ke mana. Pulang? Bagaimana ia bisa menghadapi Tegar? Kembali ke rumah sakit? Bagaimana ia bisa bekerja dengan hati yang hancur seperti ini? Ia hanya berdiri di sana, membiarkan air mata mengalir tanpa hambatan. Ponselnya bergetar di sakunya. Pesan dari Tegar. Ia tidak berani membukanya. Ia tahu apa yang akan tertulis di sana. Permintaan maaf? Penjelasan? Entahlah. Tapi saat ini, semua penjelasan terasa percuma.
Sebuah mobil Xenia hitam melintas pelan di depannya. Gendis refleks mendongak. Di balik kemudi, ia melihat sekilas wajah Tegar. Suaminya terlihat pucat, menatap ke arahnya, namun kemudian ia tancap gas, menghilang di antara lautan kendaraan. Apakah Tegar sengaja menghindarinya? Atau ia hanya kebetulan melintas? Pertanyaan itu menari-nari di benaknya, menambah beban di dadanya yang sudah terasa sesak.
Gendis kembali menarik struk parkir itu dari sakunya. Struk itu kini terasa seperti benda terkutuk. Ia menatapnya lagi. Tanggal dua hari lalu. Jam 22.17. Pukul berapa Tegar akhirnya pulang ke rumah malam itu? Dan jam berapa pesan tentang pergi ke mall pagi ini dikirim? Jika Tegar sudah berada di mall semalam itu, kenapa ia berbohong tentang pulang langsung dari rumah sakit? Kenapa ia terus berbohong?
Ia mencoba menghubungi Rengganis, tapi nomornya tidak aktif. Ia mencoba menelepon nomor rumah sakit, menanyakan apakah Tegar ada di sana, tapi ia ditolak karena bukan jam kerja. Gendis merasa sendirian, dikelilingi lautan manusia tapi tak ada satu pun yang bisa ia mintai tolong. Ia menatap kembali ke arah mall, lalu ke jalanan yang ramai. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Apakah ia harus menunggu Tegar pulang dan menuntut penjelasan? Atau apakah ia sudah cukup tahu?
Gendis melipat struk itu sekali lagi, lalu memasukkannya kembali ke saku. Ia tidak bisa membuangnya. Benda kecil ini telah mengubah segalanya. Ia menatap langit senja yang semakin gelap. Di tengah keramaian Jakarta, Gendis merasa seperti orang asing yang tersesat, tanpa peta dan tanpa arah. Pertanyaan-pertanyaan berputar di kepalanya, namun tak ada jawaban yang terucap. Nasib rumah tangganya kini menggantung, rapuh, seperti uap kopi yang menguap begitu saja di udara pagi.
